
Hari itu aku sedang berada di kantor untuk memimpin meeting dan juga masih mengotak-atik data yang beberapa waktu lalu berhasil dicuri orang.
Aku terus memperhatikan file itu, beberapa kali kucoba untuk membukanya namun selalu saja gagal, aku sangat penasaran mungkinkah ini ada kaitannya dengan para penjahat yang selalu mencoba mengikutiku selama ini.
Password, selalu saja password yang menjadi masalahnya. Entah kode apa yang papa gunakan untuk mengunci file ini. Aku terus mencoba, bahkan pembobol kunci sekelas jailbreak yang telah kuciptakan hanya mampu membuka satu lapis pertama.
Sial, masih ada dua lapis kunci lagi. Batinku.
Aku mulai stress, kupandangi pantulan wajahku pada layar laptop. Sejenak kuberfikir. Bukankah seketsa wajah dapat digunakan sebagai password. Mungkinkah papa menggunakan sketsa wajahku.
Tanpa pikir pajang segera kucoba untuk membuat sketsa wajah menjadi beberapa kode melalui aplikasi pemindai. Dalam beberapa menit kode itu pun tercetak. Dan segera kugunakan untuk membuka file tersebut.
Dan hasilnya ..
Password tetap tidak sesuai atau salah. Kuhela nafas panjang sambil mengetuk-ngetukkan jemariku pada meja. Hingga terlintas di fikiranku mungkinkah papa menggunakan sidik jari sebagai kode pengunci file ini.
Ya, itu mungkin saja. Tidak ada salahnya aku mencobanya. Aku pun segera memproses hasil cetak sidik jariku ke dalam bentuk kode. Segera kugunakan kode tersebut.
Dan..
Berhasil, dua lapis kunci pelindung itu terbuka semuanya. Ternyata selama ini papa menggunakan sidik jariku sebagai password file rahasia ini yang entah diambilnya sejak kapan.
Folder terbuka, begitupun dengan file bernama secret itu. Kupelajari deretan angka-angka yang tertulis di sana. Bukankah seorang hacker memang sangat terikat dengan ribuan angka dan simbol.
Hingga mataku tertuju pada sebuah nama Nathan Lee. Di sini tertulis bahwa papa sedang mengerjakan proyek perangkat lunak untuk orang itu.
Aku terus mempelajari software jenis apakah ini, semakin lama semakin rumit sistem pengerjaannya. Namun papa berhasil membuatnya. Ternyata ini adalah semacam aplikasi untuk hijacking suatu data yang memiliki tingkat sistem perlindungan yang tinggi.
Di lembar file berikutnya menyatakan bahwa seseorang bernama Nathan Lee tersebut telah membeli aplikasi tersebut tanpa mengganti lisensinya, sehingga hak cipta tetap diatas namakan nama papa.
Tanpa sepengetahuan papa, orang tersebut telah menyalahgunakan penggunaan aplikasi itu. Yang berarti dia juga menggunakan data diri papa untuk membobol data penting milik negara lalu menjualnya ke negara lain. Sungguh dia juga telah mengingkari segala perjanjian yang ada.
Astaga, misteri itu kini terpecahkan. Penjahat itu adalah Nathan Lee, dia telah mencuri data ini beberapa hari yang lalu, dan karena tidak bisa membukanya akibatnya sekarang dia juga mengincarku untuk membuka kunci data itu yang notabene adalah barang bukti tindak kejahatannya.
Mungkin saja dia tau bahwa kode password itu adalah sidik jariku, itulah sebabnya dia selalu mengincarku. Untuk menghilangkan barang bukti. Aku harus menyerahkan barang bukti ini kepada polisi sekarang juga.
Aku tersadar, ternyata selama ini dia juga yang telah menciptakan kekacauan antara diriku dan Pramuja selama bertahun-tahun. Dan selama ini Pramuja juga sengaja menggunakan diriku sebagai pemancing dengan berpura-pura sakit karena ulahku, agar Nathan Lee menampakkan diri.
Lebih sedihnya lagi, Ana juga ikut menjadi korban. Sebagai korban balas dendamku dan sebagai korban kepentingan Ayahnya. Ya Tuhan, aku telah banyak melakukan kesalahan tetapi bukankah Pramuja lebih kejam dariku. Terlepas dari tugas negara yang sedang ia emban.
Dia membohongiku dan juga Ana, bahkan uang yang dulu kupinjamkan untuk keluarga Ana, segala perjanjian konyol yang kubuat dan segala drama yang kuciptakan. Semua itu telah diketahui oleh Pramuja, dia sengaja tidak melawanku, dia sengaja untuk bersembunyi agar si brengsek Nathan Lee ini menunjukkan diri.
Kini saatnya aku membalasmu, Nathan Lee. Kau harus membayar semuanya! kematian papa, koma menahun opa dan depresi berat mama. Dan yang lebih penting adalah Ana, karenamu aku telah membuat gadis yang sangat kucintai itu menderita selama ini, kau yang membuat rasa cintaku pada Ana menjadi benci dan dendam selama bertahun-tahun. Gumamku sambil menatap foto dan data diri pria yang usianya kira-kira seusia papa itu.
Aku beranjak bangun dari kursi kerjaku dan bergegas menuju kantor polisi namun tiba-tiba saja Mama menelepon dan menyatakan jika Ana hampir saja diculik.
Sial, mereka sudah datang, ucapku.
Aku pun meminta David untuk membawa barang bukti ini kepada polisi cyber. Tentu saja dengan pengawalan yang ketat. Sepanjang perjalanan pikiranku terus tertuju pada Ana.
Awas saja jika sampai penjahat itu melukai istriku sedikit saja, kupastikan tangannya akan terpisah dari tubuhnya. Dengan kecepatan maksimal, aku pun sampai di area mansions.
Kulihat para penjaga dan Reza sedang melawan komplotan penjahat itu. Tapi, bagaimana Reza bisa berada di sini. Tanpa pikir panjang kulayangkan pukulan dan serangan hasil taekwondoku pada mereka.
Polisi datang bersama dan meringkus anak buah Nathan tersebut.
"Yosh, Ana pingsan," ucap Reza dengan beberapa pukulan di wajahnya.
"Za, lu gimana bisa berada di sini?" tanyaku.
"Jenny nelpon gue pas mereka di serang tadi."
"Oh, makasih Za. Sorry, kemarin-kemarin gue kasar sama lu." Ucapku, tidak enak.
"Iya, gak apa Yosh, gue balik dulu ya. Salam buat Ana." Ucapnya sebelum menghilang dari pandangan. Sepertinya aku telah salah dalam menilai Reza selama ini.
Aku pun masuk ke mansion dan kulihat mama tengah panik mencoba menghubungi dokter.
"Ma, Ana mana?" tanyaku.
"Di kamar Yosh," ucap mama dan kami pun masuk ke kamar. Ana sedang terbaring lemah di atas tempat tidur lalu aku mencoba memeriksa denyut nadinya, dan sepertinya masih normal.
"Yoshi, sepertinya dokter sedang sibuk. Bagaimana ini?"
"Ma, tidak apa. Sepertinnya Ana hanya terlalu ketakutan hingga membuatnya pingsan. Biar Yoshi saja yang mengurusnya. Mama istirahat aja." Ucapku, aku tau mama juga sudah sangat tertetkan hari ini.
Aku pun mengambil minyak kayu putih dan membalurkannya pada tubuh Ana. Beberapa kali ia mengernyitkan keningnya. Hingga akhirnya Ana pun tersadar.
"Apa kau yakin dia akan tertangkap Yosh?"
"Tentu sayang, aku sudah mengerahkan semua detektif terpercaya untuk melacak jejaknya." Ucapku, sungguh jika sampai dia tertangkap aku tak akan membiarkannya mati dengan mudah.
"Yosh, aku lelah berada dalam situasi seperti ini. Perasaanku masih tidak enak," ucap Ana lirih.
"Tenang sayang. Kita tidak sendiri."
"Maksudmu Yosh?" tanya Ana heran.
"BIN juga sedang berusaha meringkus penjahat itu." Ucapku.
"Benarkah? seandainya saja bapak sudah sehat pasti beliau akan ikut dalam misi pengejaran itu."
"Ya, sayang. Jangan terlalu memikirkan ini ya, yang penting besok kita harus menemui dokter untuk memeriksa keadaanmu dan baby."
Sebenarnya aku ingin menceritakan tentang Nathan Lee pada Ana, tetapi ceritaku nanti pasti akan berujung pada kebohongan pramuja juga. Aku tak ingin membuatnya bertambah stress untuk saat ini karena memikirkan ayahnya.
Karena selama ini yang Ana tau keluargnya hanya menutupi identitas ayahnya saja, bukan tentang diriku dan dirinya yang telah digunakan sebagai umpan untuk menangkap Nathan Lee.
Sungguh aku bersumpah akan menemukan Nathan dimanapun dia berada. Keesokan harinya aku dan Ana pergi menemui dokter kandungan untuk memeriksa kondisinya tentu saja dengan pengawalan yang ketat.
***
"Dokter bagaimana kondisi bayi kami?" tanyaku.
"Bisa saya lihat hasil pemeriksaan sebelumnya Pak?" tanya dokter dan Ana pun menyerahkan selembar foto hasil USG saat usia kandungannya masih empat bulan lalu.
Dia bilang perkembangannya cukup pesat jika dibandingkan sebelumnya.
"Nafsu makan saya sangat meningkat akhir-akhir ini Dok." Ucap Ana.
"Itu bagus Bu. Mengingat pada usia dua bulan lalu kandungan anda sangat kurang nutrisi. Dan lihatlah sekarang. Gizinya sudah sangat cukup.
Kami pun berpmitan untuk pulang pada dokter itu. Dan aku menawarkan Ana untuk membeli sesuatu yang ia inginkan.
"Sayang, kau ingin membeli sesuatu?" tanyaku.
"Tidak Yosh, aku hanya ingin makan masakanmu saja di rumah." Ucapnya manja membuatku gemas saja.
"Aku ingin makan seblak Yosh."
"Baik, kita akan mencari bahannya dulu ya." Ucapku sambil melajukan mobil ke grocery.
Di pusat perbelanjaan kami pun menuju area sayur dan buah. Aku mengambil beberapa bahan untuk membuat seblak.
"Yosh, aku ke toilet sebentar ya." Ucap Ana.
"Aku akan mengantarmu sayang."
"Tidak usah Yosh, toilet wanita tidak untuk lelaki." Ucap Ana keras kepala.
"Baik, aku akan menunggumu di depan toilet saja." Sungguh aku harus sangat waspada mulai sekarang.
Ana pun masuk ke dalam toilet, sedangkan aku duduk di bangku di area itu sambil menunggunya.
Beberapa detik kemudian Ana keluar, namun tidak sendiri. Dia bersama wanita yang berjalan di dekatnya
"Yoshhh.."Ucap Ana dengan suara bergetar sambil menatapku.
"Sayang...?" Ucapku tertahan. Saat kulihat wanita itu tengah menodongkan pisau ke arah pinggang Ana.
"Kau ?! Kau ..!" aku segera menarik Ana namun wanita itu juga menariknya hingga ujung pisau mengenai kulit tangan Ana. Ana pun memekik kesakitan.
"Dengar, aku akan benar-benar menusuk istrimu jika kau tidak mau menurut." Ucapnya.
"Ja-jangann!" sial, aku mulai gemetar aku tak kuat melihat Ana dalam keadaan terancam seperti itu.
"Ikuti aku, kita akan menemui bos besar." Ucapnya lirih, sambil menggiring Ana menyusuri keramaian sedangkan aku mengikutinya dari belakang.
David, ikuti GPS ini dan lapor polisi. Aku pun mengaktifkan GPS pada ponselku dan mengirimkannya pada David.