
Bulan ini aku mendapat promosi dari Maitre D. Tentu saja aku sangat bahagia. Karena jabatanku yang naik itu, secara otomatis gajiku pun juga ikut naik menjadi tiga kali lipat dari sebelumnya. Semakin cepat hutangku pada Yoshi akan lunas. Semakin cepat juga aku bisa terbebas darinya.
Mulai saat ini aku ditugaskan untuk berjaga di Tamarind Restaurant. Yaitu sebuah restoran casual yang menyajikan menu makanan Asia.
Seragamku pun berganti dari kemeja dan rok bahan berwarna hitam menjadi dress panjang semata kaki berwarna hitam lengkap dengan belt coklat berkilauan di pinggangku.
Nama dadaku juga berubah dari Lido Steward menjadi Tamarind Steward. Restoran yang mengusung tema Asia ini memiliki desain interior yang unik. Atmosfir Asia tenggara sangat terasa di sini meskipun ukurannya tidak begitu luas tetapi hanya tamu eksklusif yang biasanya memilih untuk menikmati hidangan di tempat ini.
Padahal aku sudah berencana untuk membalas perbuatan tak senonoh yang Yoshi lakukan kemarin tetapi sampai saat ini sepertinya dia belum tau jika tempat kerjaku sudah berpindah.
Kantor Yoshi berada di lantai satu depan. Bejajar dengan kantor-kantor para officers yang lain. Jika dihitung, jaraknya cukup jauh dari restoran tempatku bekerja saat ini yang berada di lantai sebelas tengah.
Bagus sekali. Semakin sulit juga untuknya untuk bertemu denganku. Namun ada rasa sedih juga di hati karena sejak berpindah dari Lido. Aku jarang sekali bertemu dengan Jenny, Evelyn dan Dian.
Meskipun sebenarnya aku juga sedang menghindari mereka, lebih tepatnya menghindar dari pertanyaan-pertanyaan tentang hubunganku dengan Yoshi sejak kejadian di pagi hari itu.
***
Ini hari ketigaku berada di sini, tak banyak yang kulakukan, tamu atau guest yang datang tidak begitu banyak. Untung saja gajiku tidak bergantung pada banyak sedikitnya tamu yang datang. Sangat menyenangkan meskipun bekerja dengan sangat santai tetapi gaji yang kuperoleh tidak main-main.
"Ciee dipromote lu An?" terdengar suara Reza dari arah pintu Restoran.
"Eh Za, apa kabar? Lama banget nggak ketemu ya." Jawabku dengan santai.
"Kangen ya? Haha." Kata Reza, dengan gurauan seperti biasanya.
"Iya, tapi sedikit." Jawabku serampangan. Tentu saja hanya becanda.
"Eh An, lu dicariin sama trio gembel tuh !" Kata Reza, pastilah yang dimaksud olehnya adalah Jenny, Evelyn dan Dian.
"Iya nih, dari kemarin emang belum ketemu sama mereka sih." Jawabku.
"Katanya mau ngomongin hal penting sama elu. Emang hal penting apaan sih An?" tanya Reza.
"Oh. Itu tentang gaji Za, " jawabku asal. Tentu saja aku tidak akan menceritakan tentang Yoshi pada Reza.
"An, lu mau kue nastar nggak?" Tanya Reza, yang entah bagaimana bisa dia menawariku kue nastar yang tentu saja tidak mungkin ada di kapal.
"Nastar? Jangan bercanda Za, emangnya lebaran ada nastar segala." Tanyaku, tentu saja aku sangat ingin. Mengingat itu adalah kue yang sudah sangat lama tidak kumakan.
"Yee ngeremehin. Apa sih yang ngga bisa Reza dapetin." Jawabnya dengan kesongongannya.
"Alah, mana coba kalo emang bener kamu punya nastar?" tanyaku.
"Dih nggak percaya. Ntar kalo beneran ada gimana?" Tanya Reza menggodaku.
"Kalo beneran ada, ya buat akulah, buat siapa lagi? Kayak punya pacar aja kamu Za, " jawabku menggodanya juga.
"Lah bukannya kita pacaran An? Haha, " kata Reza. Yang tentu saja sedang bercanda.
"Dih, bisa digorok sama Jenny, aku ntar." Ucapku ambil tertawa. Entah mengapa raut wajah Reza seperti berubah menjadi datar.
"Yaudahlah, nih nastarnya, dimakan ya. Awas kalo nggak." Ucap Reza sambil menyodorkan kotak bening berpita merah dengan berjajar nastar glowing di dalamnya. Terlihat begitu menggoda lidahku.
"Beneran nih buat aku?" tanyaku berpura-pura.
"Yaiyalah. Masak buat Pak Lurah? Mau bikin KTP emangnye?" jawab Reza sambil terkekeh. Menunjukkan wajah blasteran nya yang mempesona.
"Makasih ya Ezaaa seyeeng.. !" Kataku menirukan gaya Jenny saat memanggil nama Reza.
Reza pun berlalu. Dan aku kembali ke station ku. Hari berlalu dengan sangat cepat hingga waktu off pun tiba.
Sepulang kerja aku memutuskan untuk tidak langsung pulang ke kabinku. Kapten mengumumkan bahwa saat ini Bow sedang di buka, yaitu bagian depan kapal seperti yang ada pada adegan terpopuler pada film Titanic.
Aku pun pergi ke tempat itu mengingat ini adalah momen langka. Tidak setiap waktu Kapten memutuskan untuk membukanya jika bukan karena kapal sedang melewati tempat estetik sehingga tamu dapat dengan leluasa menikmati pemandangan yang disuguhkan melalui Bow.
Tiba di koridor lantai 5, aku berjalan menuju pintu keluar. Ternyata suasana di tempat itu cukup sepi mengingat malam ini kapal akan docking atau sandar.
Udaranya pun tak begitu dingin karena saat ini kami sedang berada di Sydeny Australia. Aku berjalan ke tepi dan berpegangan pada rails. Kuhirup udara dalam-dalam.
Dari tempat ini aku bisa melihat Sydney Opera House, sebuah bangunan ikonik milik Australia. Seandainya saja Luna ada di sini. Pasti dia akan sangat kegirangan. Rasa rindu pada rumah ini sangat menyiksaku.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menghampiriku. Sepertinya suara seorang pria yang sedang berbicara di telepon. Dan aku masih belum melihat ke arahnya.
Hingga telingaku menangkap beberapa obrolannya dengan sesorang di seberang sana.
"Baik Nak Yoshi, Ibu tutup dulu teleponnya ya. Sehat-sehat di sana. " ini suara yang kudengar dari berbincangannya di teleponnya.
Seketika kuarahkan pandanganku padanya. Benar saja, tidak salah lagi. Yoshi si brengsek itu sedang menghampiriku ke sini. Benar-benar waktu yang tepat untuk membalaskan perbuatannya padaku pada malam itu.
"Hai future wife. Sedang apa di sini? Apa kau Ingin membuat adegan Titanic denganku?" Tanyanya mulai mendekat kepadaku.
"Adegan Titanic kepalamu! jadi kau masih punya nyali untuk menemuiku ternyata, ha?" ucapku mulai menggebu-gebu. Ingatan tentang tanda merah di punggungku menyebabkan darahku naik saat melihatnya saat ini.
"Memangnya apa yang sudah kulakukan?" tanyanya dengan memasang wajah polos yang membuatku semakin kesal.
"Berhenti berpura-pura, aku menyesal telah sedikit lengah terhadapmu." Jawabku.
"Bicara yang jelas sayang." Katanya, kini dia berdiri di sampingku.
"Jangan panggil aku sayang! aku bukan sayangmu! Apa yang kau lakukan padaku waktu itu sebenarnya? Ha? Kau sangat kurang ajar. Aku akan melaporkanmu. Lihat saja! " kataku. Entah mengapa aku bisa seemosi ini.
"Lengah bagaimana? Bukankah kita melakukannya dengan penuh kesadaran kemarin?" Ucapnya lagi. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu.
"Kau memanfaatkan ketidakberdayaanku!"Ucapku penuh penekanan.
"Tapi dalam ketidaksadaran itu kau sangat menikmatinya sayang. Atau jangan-jangan saat itu kau memang pura-pura tidak sadar. Jadi kaulah yang memanfaatkanku dalam kasus ini. Ah Ana, kenapa aku baru menyadarinya sekarang. " Ucapnya lagi-lagi membuat emosiku tersulut.
"Kau! Kau benar-benar! Aku akan melaporkanmu pada HRM Yoshi." ucapku, aku sungguh akan mengadukannya pada HRM jika dia terus saja menggangguku.
"Apa kau pikir HRM akan menerima laporanmu begitu saja? Tanpa menyelidiki hubungan kita yang sebenarnya? Sedangkan Ibumu saja sudah menganggapku sebagai menantunya saat ini. Pikirkan itu Ana, jangan buang-buang tenagamu." Ucap Yoshi dengan penuh kemenangan.
Aku menghela nafas panjang. Yoshi memang sudah sangat dekat dengan ibuku saat ini. Bahkan ia sering menelepon ibuku tanpa sepengetahuanku.
Sepertinya aku lah yang bodoh di sini. Ya, Yoshi memang bodor tetapi aku lebih bodoh lagi. Tentu saja HRM tidak akan memprosesnya jika aku melapor.
"Kenapa kau begitu brengsek ha?" kataku ambil mendorongnya.
"Berengsek apa maksudmu? Kemarin Kau pergi ke pesta dengan mengenakan pakaian seperti itu. Dengan mengekspos tubuhmu yang indah apa kau pikir aku akan diam saja, dan dalam keadaan mabuk, kau tergeletak di lantai bagaimana jika ada pria yang memanfaatkanmu." Kata Yoshi, aku bisa merasakan aura kemarahan pada wajahnya.
Seperti seorang suami yang memarahi istrinya. Aku tau ada sedikit kepedulian dalam amarah itu. Tapi haruskah dia melakukan itu hanya untuk memberiku pelajaran.
"Ya, dan pria itu adalah dirimu! Kau orangnya! Haruskah kau melakukan itu hanya untuk memberiku pelajaran?" tanyaku padanya.
"Memangnya pelajaran apa lagi yang bisa menyadarkan gadis keras kepala sepertimu. Masih bagus hanya cupangan, bagaimana jika aku tak dapat mengontrol diri saat itu. Mungkin benih-benih cucu idaman mama sudah tertanam di sana saat ini." Ucapnya sambil menunjuk ke arah perutku. Astaga pria ini sangat tidak sopan.
"Dasar Lintah! Beraninya kau!" Ucapku semakin kesal dan tak tau lagi harus berkata apa hingga membuatku menhentak-entakkan kakiku.
"Jangan An! berhati-hatilah," ucapnya memasang wajah khawatir. Tentu saja itu hanya acting.
"Hati-hati apa maksudnya?" Kataku, aku benar-benar tak mengerti.
"Jangan hentakkan kakimu seperti itu atau kau akan melukainya." Jawab Yoshi masih dengan acting tak jelasnya.
"Bicara yang jelas Yoshi" kataku.
"Atau kau akan melukai calon anak kita, karena setelah kuingat-ingat, sepertinya aku telah khilaf melakukannya padamu. Maafkan aku An," katanya dengan wajah menunduk. Benar-benar seperti orang gila.
"Kau pikir aku bodoh ha? Dasar pria bodoh. Aku tak akan percaya padamu lagi." Kataku sambil melangkahkan kaki.
"An, aku sungguh-sungguh. Maafkan aku." Ucapnya lagi tetapi tidak kuhiraukan. Dasar penipu. Aku pun melangkah pergi meninggalkannya.
Dalam langkahku, aku terus mengumpatinya. Dan tanpa terasa kakiku menginjak sesuatu, sebuah dompet berwarna hitam.
Aku memungut dompet itu, dan membukanya perlahan untuk mengetahui siapa pemiliknya. Ada tiga sekat di dalam dompet ini. Yang pertama berisi beberapa kartu ATM, sekat yang kedua isinya identitas pemilik. Tetapi mataku lebih terfokus pada sekat ketiga.
Ada sebuah foto anak lelaki. Hey, sepertinya ini Yoshi, dengan seragam SMAnya. Tetapi sayang wajahnya tidak begitu jelas, mungkin karena ini foto lama. Dan ada seorang gadis di sampingnya. Ketika aku berusaha membuka lipatan itu, tiba-tiba sebuah tangan menarik paksa dompet itu.
Greepp ..
"Nooo Ana! Jangan! " katanya dengan ekspresi seperti ketakutan.
"Itu milikmu ?" Tanyaku sambil masih terap menatap dompet itu.
"Ya sayang. Terimakasih ya telah menemukannya, " Ucapnya dengan gugup sambil mengelap dahinya yang mulai berkeringat.
"Kau aneh Yoshi,!" Ucapku. Baru kali ini aku mendengar mulutnya berkata terimakasih.
Aku pun pergi. Meninggalkannya yang masih mematung di sana. Entah apa yang terjadi, dia sangat aneh. Tetapi tak bisa dipungkiri aku sangat penasaran dengan foto yang ada pada dompetnya tadi.
Rasanya sosok itu sangat tidak asing di mataku. Dan gadis itu, meskipun hanya nampak tangannya saja tetapi aku yakin kalau itu adalah seorang gadis.
Mungkinkah itu gadis yang diceritakan Yoshi hari itu, bahwa dia pernah menyukai seorang gadis di masa remaja namun tak terbalaskan. Sungguh tragis, sama seperti kisahku dan Mas Ikau yang tak pernah membalas perasaanku. Entah bagaimana nasib kami bisa sama seperti ini.