My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Kasih Judul Sendiri



Warning 18+ 21+ !!!


Yoshi POV


"Mas, udah ah," rengek Ana kesal karena dari semalam aku terus mengerjainya dengan terus mengusapkan wajahku pada ceruk leher Ana.


"Mas! aku teriak nih!" dia semakin kesal saja padaku. Tetapi aku tidak memperdulikannya. Aku begitu menyukai aroma tubuh Ana.


"Yoshi ah, risih tau!" ucapnya sedikit menaikkan intonasi karena aku yang terus saja menempel pada tubuhnya.


Ceklek kamar terbuka.


"Astaga, ini mama udah pakai headset loh tapi mama masih bisa denger suara kalian!" tiba-tiba mama datang memasukki kamar kami.


"Dih mama nih kebiasaan! gak sopan banget main masuk-masuk kamar orang!" dengusku kesal sementara Ana langsung beranjak dari tempat tidur membebaskan diri dariku.


"Kamu pikir mama tidak tau kalo kamu terus saja mengganggu Ana?" bentak mama padaku, ternyata mama tau tentang aksiku dari semalam.


"Betul ma, Yoshi terus aja mengganggu Ana!" ucap Ana berlindung dibalik punggung mama.


"Sayang, jadi kau ada di pihak mama sekarang?" tanyaku.


"Kau keterlaluan Yosh, awas ya. Ana itu butuh cukup istirahat," ucap Mama kepadaku.


"Ma, kami tidak melakukan apa-apa semalam," ucapku.


Ana memang menolakku semalam, sebab ia tidak ingin mama dan Luna mendengar suara kami dari kamar sebelah.


"Tapi, Yoshi terus menggangguku ma!" ucap Ana, sambil mengejekku.


"Awas kau An!" Ana pun berlari keluar kamar.


"Yoshi, kenapa masih di kamar? ayo siap-siap!" ucap mama.


"Siap-siap kemana ma?" tanyaku.


"Kita akan jalan-jalan sekeluarga hari ini," ucap mama.


"Jalan-jalan kemana?"


"Kemana saja Yosh, yang penting bukan ke kebun binatang." Kata mama sambil berjalan keluar kamar.


Aku pun beranjak dari tempat tidur dan mandi, namun sejenak terlintas di pikiranku. Untuk apa pergi jalan-jalan, di saat Ana sedang hamil tua. Aku khawatir jika nanti terjadi sesuatu di jalan bagaimana.


Yoshi POV End


***


Ana POV


Kesal sekali rasanya dari semalam Yoshi terus saja menggodaku dan membuatku tidak bisa tidur, sudah tau sekecil apa pun suara yang ditimbulkan di kamarku pasti akan terdengar dari luar tetapi dia selalu saja tidak mau tau dan tidak tau malu.


Aku pun keluar dari kamar dan meninggalkan Yoshi bersama mama di dalam.


"Eh mbak, hari ini kita mau piknik loh!" ucap Luna yang sedang membantu ibu menyiapkan sarapan.


"Piknik kemana?" tanyaku heran.


"Ke kebun stroberi mbak, mau gak?"


"Wah, udah lama kita gak ke sana Lun!" ucapku dengan antusias.


"Iya, ajak Kak Yoshi sama Ibu Annelis juga Mbak." Kata Luna menyebut nama suami dan ibu mertuaku. Aku pun sangat antusias.


"Pasti Lun!"


Kami pun sarapan bersama, tetapi aku tidak melihat Yoshi di meja makan. Mungkin saja ia masih mandi pikirku. Namun ibu memintaku untuk memanggilnya agar sarapan bersama kami.


"An, panggil Nak Yoshi, ajak sarapan. Ini sudah pukul 07.30." Kata ibu.


"Iya An, sebentar lagi kita berangkat," sahut bapak.


Aku pun masuk ke kamar dan kulihat Yoshi sedang berbaring di tempat tidur.


"Mas, sarapan yuk. Kita akan pergi piknik setelah ini," ucapku tetapi Yoshi masih saja berbaring dengan selimut menutupi tubuhnya.


"Mas..." Aku pun mendekatinya.


"An, aku tidak enak badan," ucap Yoshi lirih.


"Apa? bukankah tadi baik-baik saja mas?"


"Kenapa sekarang jadi sakit?" ucapku sambil memegang keningnya.


"Mas gak demam kok,"


"Aku kedinginan sayang, biarkan aku istirahat saja, kau pergi saja bersama yang lain. Aku tidak apa-apa," ucap Yoshi, aku pun mulai mengkhawatirkannya.


"Ya gak bisa begitu dong mas," ucapku sambil terus memeriksa keadaan Yoshi.


"Tidak apa An, pergi saja. Aku akan baik-baik saja. Kau butuh refreshing sayang," ucap Yoshi masih saja memintaku untuk meninggalkannya.


"Tidak mas, aku akan merawatmu di rumah."


"Mbak sudah siap belum?" tanya Luna memasukki kamar.


"Kak Yoshi sakit Lun, mbak di rumah aja ya nemenin Kak Yosh," ucapku.


"Wah sakit apa nih Kak Yosh?" Luna pun menghampiri Yoshi.


Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak dapat mendengarnya.


"Kenapa mas? butuh sesuatu? biar aku ambilkan ya?" tanyaku pada Yoshi.


"Tidak sayang, aku hanya berpesan pada Luna untuk menjagamu saat piknik nanti," jawab Yoshi.


"Mas, aku tidak akan meninggalkanmu, mengertilah."


"Umm ya udah deh mbak, Luna bilang orang-orang dulu ya."


Aku pun mengangguk, beberapa menit kemudian bapak, ibu dan mama datang dan bertanya padaku.


"Sayang, Yoshi kenapa?" tanya mama.


"Ini tiba-tiba tidak enak badan dia ma," ucapku pada mama.


"Yah, kasihan Nak Yoshi. Apa kita batalkan saja acara pikniknya ya?" tanya ibu.


"Iya bu, lebih baik kita tunda dulu acara hari ini," ucap bapak menyetujui pendapat ibu.


"Yah, jangan dong Buk, Pak. Luna kan udah pengen healing dari kemaren. Masa cancel sih?" ucap Luna mencebikkan bibirnya.


"Lun, kakak iparmu sedang sakit. Tau tidak? Masih saja memikirkan hiling-hiling atau entah apalah itu," dengus ibu kesal pada Luna.


"Pak, Buk, Luna dan mama pergi saja, Yoshi hanya butuh istirahat saja kok," ucap Yoshi.


"Iya Buk, Ana akan di rumah saja bersama Yoshi," aku pun meyakinkan mereka.


"Tuh kan Buk, kak Yoshi itu cuma butuh Mbak Ana saja bukan kita. Yuk pergi, udah siang nih!" ucap Luna.


Dan mereka pun pergi meninggalkan rumah, padahal aku sangat ingin ikut tetapi apa daya, suamiku ini sangat membutuhkanku saat ini. Kini hanya tinggal kami berdua di rumah.


"Mas, mau aku ambilkan sesuatu?" tanyaku pada Yoshi yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Tidak sayang," ucapnya lirih dan aku pun menghampirinya.


"Mas, kenapa bisa jadi sakit begini sih?" tanyaku heran.


"Aku kurang belaianmu sayang," ucapnya manja.


"Kau ini masih saja Mas, coba sini aku pijitin ya,"


"Boleh sayang," jawabnya.


Aku pun memijit punggungnya namun tanganku merasa jika tubuh Yoshi hanya tertutupi selimut saja, sepertinya ia sedang tidak memakai pakaian.


Karena penasaran aku pun membuka selimut itu. Ternyata benar, Yoshi tidak memakai baju.


"Mas, mana kaosmu? Kau ini, katanya kedinginan malah gak pakai baju begini!" ucapku saat melihat punggung polosnya.


"Biar cepet sayang," ucap Yoshi sambil membalikkan badanya lalu meraih tubuhku.


"Biar cepet apa maksudnya ha?"


"Biar cepet saja, jadi bisa langsung dapat hadiah darimu, haha." Kata Yoshi tertawa dan aku pun sadar jika sejak tadi dia hanya mengerjaiku saja.


"Oh jadi kau membohongiku mas? Kau mengerjaiku ha?"


"Pantas saja sejak tadi kau memaksa orang-orang untuk tetap pergi, jadi ini rencanamu? kau tau jika aku tidak akan tega untuk meninggalkanmu sendiri di rumah," tanyaku kesal.


"Sayang, please jangan marah. Apa lagi yang bisa kulakukan? Sejak bapak membawamu kabur kemarin, aku sangat merindukanmu, jika kau tau," ucap Yoshi.


"Aku kesal padamu mas," ucapku sambil memukuli dadanya.


"An, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!" ucapnya dan langsung menarikku kedalam selimut.


"Mas, kenapa kau sangat menyebalkan?" aku benar-benar tidak habis pikir jika Yoshi secerdas ini.


Tanpa memperdulikan ucapanku ia memulai aksinya dengan menanggalkan pakaianku satu persatu.


"Baby, pinjam mama sebentar ya," ucapnya sambil mencium perutku yang membuncit itu.


"Akhh.." Pekikku, saat kurasakan tendangan kecil dari dalam perutku.


"Sayang, kenapa? aku bahkan belum memulainya tetapi kau sudah mendessah seperti itu," tanya Yoshi.


"Mas, baby menendang. Coba lihatlah,"


"Itu artinya dia juga sedang ingin dikunjungi papanya, wkwk." Kata Yoshi.


Pagi yang panjang pun dimulai dan Yoshi sangat berhati-hati, suasana rumah yang sepi menjadi saksi kegiatan panas ini.


"Sayang, keluarkan suaramu. Tidak akan ada yang mendengar sekarang," ucap Yoshi dengan keringat yang mulai membasahi tubuhnya.


Aku tak sanggup menanggapi ucapannya, aku hanya sibuk mengikuti ritme gerakan suamiku ini. Meskipun beberapa kali desahaan keluar dari mulutku tanpa sengaja.


"Mas, jangan lama-lama. Aku takut nanti orang rumah akan segera pulang," ucapku lirih mengingat sudah satu jam lebih kami berpacu hingga beberapa kali aku mengalami pelepasan.


"Sebentar lagi sayang," balasnya sambil tetap melanjutkan aksinya.


Yoshi pun mencapai puncaknya sambil memelukku dengan erat, seperti melupakan jika perutku yang buncit ini sangat menghalanginya.


"Terima kasih baby, terima kasih istriku ," ucapnya sambil menciumiku berkali-kali.


Aku masih terbaring di tempat tidur dengan selimut menutupi tubuh polosku, sementara Yoshi sangat terlihat segar setelah mandi.


"Sayang, istirahatlah. Aku akan mengambil minum untukmu." Kata Yoshi dan pergi ke luar kamar.


***


Aku pun tertidur karena kelelahan, tetapi tiba-tiba Luna datang dan memasukki kamar menghampiriku.


"Lah mbak, kok jadi mbak Ana sih yang tiduran sekarang? Mas Yoshi sudah sehat memangnya?" ucapnya mengagetkanku.


"Luna, sudah pulang?" tanyaku sambil menggenggam erat selimut itu khawatir Luna akan melihat jika aku sedang tidak memakai baju.


Yoshi pun datang dengan segelas susu dan air putih di tangannya. Lalu berbisik pada Luna.


"Luna, misi berhasil !" ucapnya pelan tetapi aku masih bisa mendengarnya.


"Wah, kak Yoshi sudah mendapatkan obat rupanya?"


"Dan sekarang gantian Mbak Ana yang tepar karena sudah mengobati penyakit Kak Yosh, haha!"