My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Siapa sebenarnya gadis itu?



Aku terduduk dengan bersandar pada sandaran bed mewah itu, masih dengan selimut yang menutupi tubuh terbukaku. Sementara Yoshi yang masih berpakaian lengkap dengan lembut menaikkan daguku untuk menatap wajahnya.


Aku masih tertunduk, tak berani melihat wajah tampan itu. Aku terlalu sibuk dengan perasaanku. Haruskah aku membahas semua ini dengannya, jujur aku sangat malu untuk melalukannya tetapi. Jika terus seperti ini, aku juga tidak akan tahan.


Bukankah dalam sebuah rumah tangga harus mengutamakan kejujuran, terlepas dari bagaimana pun hubungan kami selama ini. Yang ada di benakku saat ini adalah Yoshi dan aku sudah terikat dalam satu janji suci pernikahan.


"Yoshi, maafkan aku. Bisakah aku bertanya padamu?" tanyaku kini aku mulai menatap wajah teduh itu. Aku tau ada sebersit kekecewaan di sana.


"Kenapa minta maaf terus sayang? kenapa kau selalu saja bertanya" ucapnya lirih.


"Aku tidak tau apa yang harus kukatakan dan kutanyakan padamu. Aku hanya merasa semua ini seperti mimpi. Apa yang kau harapkan dari pernikahan ini sebenarnya?" Tanyaku pada Yoshi.


Dia mulai merubah posisinya dengan duduk di sebelahku dengan tangan yang diselipkannya melewati punggung polosku. Dia memegang erat lenganku dan mengelusnya dengan lembut.


Aku bisa melihat wajahnya dari samping. Seperti biasa dia selalu tampan, dan akhir-akhir ini urat kehijauan yang sering kulihat dahulu mulai tak nampak lagi. Mungkinkah ia mulai bisa mengontrol amarahnya sekarang, atau mungkin hidupnya mulai tenang.


"Sayang, katakan padaku apa yang ada di pikiranmu saat ini?" tanyanya sambil meraih tanganku.


"Apa yang kau harapkan dari pernikahan kita Yosh?" tanyaku, mengulanginya lagi.


"Tentu saja untuk hidup bahagia bersamamu Ana. Apa kau masih ragu padaku?" tanya Yoshi.


"Tetapi bagaimana dengan perasaan di antara kita?" tanyaku, jujur saja aku sangat malu saat menanyakan ini padanya.


"Apa maksudmu? Bukankah kita saling mencintai selama ini?" tanya Yoshi sambil tersenyum.


"Yoshi, tolonglah aku benar-benar serius." Ucapku sambil menatap wajahnya.


"Aku serius An, aku mencintaimu." Jawab Yoshi,


rasanya bagaikan tersengat aliran listrik saat kudengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Aku tak tau mengapa itu bisa terjadi padahal selama ini aku selalu kesal padanya. Dan yang aku tau Yoshi tak pernah sedikitpun menyukai atau bahkan mencintaiku.


"Kau bohong." Ucapku singkat. Terlihat ekspresi heran di wajahnya.


"Aku tidak bohong An, bukankah selama ini perjuanganku untuk mendapatkan dirimu tidak diragukan lagi?" tanyanya.


"Bukankah selama ini kau mengejarku karena memang ingin segera mendapat uangmu kembali?" tanyaku dengan serius.


"No sayang, kau salah paham. Aku sungguh mencintaimu An," ucapnya sambil mencium tanganku yang sejak tadi digenggamnya.


Ya ampun rasanya ini seperti adegan di mimpiku saat Mas Ikau mencium tanganku seperti ini, debarannya sama. Rasa menggelitik di perutku pun juga sama. Bagaimana ini bisa terjadi.


"Lalu bagaimana dengan gadis itu Yosh? Saat itu kau bilang bahwa kau akan menikahinya, tetapi mengapa kau malah menikahiku pada akhirnya?" tanyaku. Aku mulai mengeluarkan sedikit demi sedikit dari ribuan pertanyaan di benakku.


"Astaga An, aku masih tak habis pikir jadi ini yang membuatmu ragu?" Jawabnya, yang entah mengapa dia malah tertawa mendengar pengakuanku.


Rasanya aku ingin menangis karena menahan malu. Sekarang aku merasa seperti pengemis cinta yang sedang mengharapkan cinta dari suamiku sendiri.


"Tentu saja Yoshi, benarkah kau akan menikahi gadis itu suatu saat nanti?" tanyaku aku masih menanyakan hal itu padanya. Aku sangat penasaran dibuatnya, bagaimanapun ini menyangkut masa depanku nantinya.


"Sayang, kenapa kau begitu menggemaskan ha? Membuatku semakin ingin memakan habis tubuhmu." Ucapnya, tentu saja dengan senyuman mesum di bibirnya.


"Jawab aku Yoshi atau aku akan pulang ke rumah orang tuaku sekarang juga." Jawabku, mencoba mengancamnya.


"Jangan sayang, baiklah aku akan mengatakannya. Sebenarnya kaulah gadis itu An. Kaulah orangnya An." Katanya dengan mantap tapi sayangnya aku tak percaya padanya.


"Kau pikir aku akan percaya padamu ha? itu tidak mungkin. Kau bilang gadis itu adalah teman SMAmu dulu sedangkan kita baru bertemu setelah aku lulus sekolah." Ucapku dengan kesal.


"Sayang sudahlah jangan membahasnya lagi, sepertinya kau mulai mencintaiku sehingga membuatmu terbakar api cemburu seperti ini." Jawabnya, menahan tawanya.


"Tidak, aku tidak mencintaimu." Kataku sambil memalingkan wajahku darinya.


"Benarkah? Lalu siapa yang kau cintai jika bukan aku? Mas Ikau kah orangnya?" tanyanya. Sontak aku sangat terkejut mendengar nama Mas Ikau diucapkan olehnya.


"Kau sering menyebutnya dalam tidurmu An. Ceritakan padaku apa kau mencintainya hmm?" tanya Yoshi. Jika aku mengatakan padanya bahwa aku sangat menyukai Mas Ikau. Bukankah itu tidak benar, mengingat status kami saat ini.


"Tidak Yoshi, aku sudah melupakan Mas Ikau sejak lama." Kataku dengan jelas, meskipun hatiku merasa teremas saat mengucapkan itu. Aku sudah memutuskan untuk menjadi istri yang baik untuknya sejak ijab kabul itu terucap.


Sementara Yoshi tidak menjawab pernyataanku dan tubuhnya terlihat sedikit bergetar. Sepertinya dia sedang menahan amarah.


"Ja-jadi kau tidak pernah mencintainya? Sedikitpun itu?" tanya Yoshi, aku merasa dia sangat terbawa serius dengan percakapan kami.


"Tidak Yosh, bisakah kita tidak membicarakan masa lalu?" tanyaku.


"Kau yang memulainya terlebih dulu An." Katanya tanpa menatap wajahku, aku merasa Yoshi sedang memikirkan sesuatu yang tidak kuketahui.


"Maafkan aku Yoshi, bisakah kita memulai semuanya dari awal?" tanyaku.


"Baiklah, aku akan memulainya lagi." Ucapnya dengan semangat sambil masuk ke dalam selimut yang sejak tadi kugunakan untuk menutupi tubuhku.


"Yosh, hey bukan itu maksudku !!" kataku sambil berusaha menghindari serangannya dari dalam selimut.


"Lalu apa yang kau maksud dengan memulai semua dari awal hmm?"katanya sambil menyembulkan kepalanya dari dalam selimut.


"Hubungan kita Yoshi... " Ucapku lirih, sementara tangannya mulai bergerilya lagi.


"Yosh.... " kataku lagi, aku mencoba meraih tubuhnya dan menghentikan aksinya.


"Kau sangat menggangguku Ana." Ucapnya sepertinya dia mulai terselimuti dengan gairah yang sejak tadi ditahannya.


"Tolonglah.. Aku masih takut Yosh," kataku pelan sementara jantungku terus berdegup kencang.


"Apa yang kau takutkan sebenarnya?" Tanya Yoshi yang saat ini merebahkan kepalanya di dadaku. Di atas kedua bukitku yang tak tertutupi oleh apapun.


Hembusan nafasnya, sentuhan kulitnya di area sensitifku itu sangat membuatku gugup.


"Aku tau kau sudah sangat ingin menuntut hakmu atas diriku." Kataku sambil mengelus rambutnya, aku tak tau, tangan ini begitu reflek melakukan itu.


"Lalu hmm? mari kita lakukan jika kau sudah tau itu" ucapnya sambil memainkan pucuk bukit kembali membuatku semakin merasa geli dan mendesah kecil.


"Bagaimana jika aku hamil Yosh?" tanyaku. Astaga aku sangat kacau, aku tau ini pertanyaan bodoh. Entah mengapa sejak pernikahan kami, rasanya aku seperti kehilangan kekuatan untuk melawannya.


"Itu bagus! Lalu apa masalahnya?" Tanyanya dengan semangat, aku merasa sapuan hangat pada dadaku, sangat lembut hingga hisapan-hisapan kecil itu membuatku mulai terbuai.


"Apa kau akan mengakui anak itu dan tidak akan meninggalkan kami berdua?" terpaksa aku menanyakan hal itu.


"Ya ampun, kau sangat mengujiku An, mana mungkin aku meninggalkanmu?" ucapnya tanpa menghentikan aksinya.


"Lalu bagaimana jika gadis itu kembali padamu suatu saat nanti?" Ucapku lirih, mendengar perkataanku itu semakin membuatnya tak terkendali.


"Aku akan benar-benar menggigitmu jika kau terus saja menanyakan hal itu An." Katanya masih dengan suara parau.


"Kenapa kau masih saja menutupinya Yosh? Aku hanya takut di saat aku mulai memiliki rasa untukmu tetapi kau malah meninggalkanku nantinya." Kataku lirih, aku semakin mempermalukan diriku sendiri saat ini.


"Akkhhh. sakit! " pekikku menahan rasa sakit karena gigitan.


"Rasakan! Sayang please hentikan pertanyaan-pertanyaan konyol ini. Aku tidak akan meninggalkanmu apapun alasannya. Dan gadis itu, gadis itu sudah menjadi milikku saat ini." Katanya sambil menatap mataku dengan intens.


Deggg..


Serasa ribuan panah Arjuna sedang menghujam jantungku mendengar ucapannya baru saja.


"Ga-gadis itu sudah berada di hidupmu saat ini? " Ucapku lirih, aku berusaha keras menahan air mataku. Entah mengapa ada rasa sakit yang tak bisa kuungkapkan saat ini. Bagaimana pun Yoshi adalah suamiku meskipun belum ada rasa cinta di antara kami. Tetapi bukan berarti aku rela membaginya dengan wanita lain.