
Yoshi POV
Dalam kepanikan, aku terus berdo'a semoga Ana dan baby akan baik-baik saja. Awalnya aku sangat santai saat mengetahui jika mungkin Ana sedang mengalami kontraksi seperti apa yang sudah dijelaskan oleh dokter kemarin.
Namun, saat melihatnya kesakitan dan sesekali memegangi pinggangnya seketika membuatku khawatir bagaimana jika ini bukan proses pembukaan melainkan hal lain.
Aku pun memasukkan segala macam keperluan ke dalam tas. Sedangkan Ana masih terduduk di tempat tidur dengan dress yang sudah kupilihkan untuknya. Astaga, wajahnya semakin terlihat seperti sedang menahan sakit.
"Sayang, apakah sakit sekali?" tanyaku.
"Sakit Mas, rasa ini cukup mengganggu," ucapnya.
Aku pun bertambah panik. Mengapa semua menjadi seperti ini. Padahal aku tidak berniat untuk menyakitinya tadi. Beberapa perlengkapan bayi sudah masuk ke dalam tas. Dengan sigap aku pun mengagkat tubuh istriku itu dan membawanya menuju mobil.
"Mas, jangan panik. Aku tidak apa-apa," ucap Ana dengan tenang tetapi aku tau ia sedang menahan rasa sakit. Aku tak menjawabnya sebab pikiranku sedang berkeliling entah kemana saat ini. Rasa takut dan bersalah itu mulai mengganggu logikaku.
"Mas, apa kau sudah membawa ponselmu?" tanyanya lagi.
"Astaga, aku lupa sayang," ucapku.
"Ya sudah, ambil dulu Mas, aku juga ingin ke kamar mandi sebentar."
"Ah kau ingin ke kamar mandi ya? Aku akan mengantarmu?" ucapku.
"Iya, tidak apa. Turunkan aku di sini saja."
Akhirnya aku pun masuk ke kamar untuk mengambil ponselku, sedangkan Ana masib berada di kamar mandi, saat itu juga kuperhatikan lagi barang bawaan kami. Sepertinya tidak ada yang tertinggal.
Aku pun masuk ke mobil dan meletakkan tas besar tadi di jok sebelahku, kemudian segera melajukan mobilku ke tempat dokter. Aku tak ingin membuat Ana menunggu lebih lama lagi. Bayangan tentang raut wajahnya saat kesakitan itu terus terbayang di benakku.
"Sayang sabar ya, kita akan segera sampai di rumah sakit," ucapku. Aku ingat jika dokter telah menunggu kami di rumah sakit swasta tempat ia bertugas.
"Sayang, bagaimana? Apa semakin sakit rasanya?" tanyaku pada Ana, tetapi ia tidak menjawabnya.
Ah, sudahlah mungkin Ana sedang berbaring, kemudian kuingat-ingat lagi kira-kira mengapa seperti ada yang masih kurang, mungkinkah ada keperluan lain baby tertinggal di rumah atau mungkin keperluan Ana. Sungguh aku tak dapat berfikir jernih saat ini.
Aku terus melajukan mobilku, semoga saja tidak ada yang tertinggal di rumah.
"Sayang, bagaimana keadaanmu? Katakan sesuatu agar aku tau," ucapku namun Ana tetap tidak menjawabnya.
Drrrtt
Drttt
Drrtt
Ponselku bergetar dan aku pun mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon sebab mataku terfokus pada jalanan yang kulalui.
"Halo Mas, kau di mana?" terdengar suara Ana di telepon. Mengapa Ana menelepon bukankah dia sedang duduk di jok belakang
Seketika aku menoleh ke arah jok dan ternyata Ana tidak ada di sana. Ana tertinggal di rumah.
Astaga, bodohnya diriku ini. Pantas saja sejak tadi aku merasa ada yang tertinggal ternyata istriku lah yang tertinggal di rumah. Gumamku seketika memutar balik dan kembali ke rumah.
(Nah kan kumat bego'nya si Yoshi wkwk. Untung belom nyampe rumah sakit. Coba kalo udah? Apa gak bingung dokternya. Yang ada dia yang dibawa ke ruang bersalin🤣🤣🤣)
"Sayang, maaf ya. A-aku akan segera menjemputmu," ucapku pada Ana tanpa mengatakan jika aku telah meninggalkannya.
"Iya Mas, cepatlah!" ucap Ana.
Sepuluh menit kemudian aku pun sampai di halaman depan rumah dan istriku itu sedang menungguku di teras.
"Mas, dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi."
"Sayang, maafkan aku. Aku masih ke pom bensin baru saja," ucapku berbohong. Bisa-bisa Ana mengamuk jika tau aku telah meninggalkannya.
"Oh, ya sudah. Ayo berangkat Mas, aku juga sudah mengabari bapak, ibu dan Luna," ucap Ana, aku pun meraih tubuh itu lalu mendudukannya di jok belakang agar dia bisa meluruskan kakinya.
"Sayang, bagaimana sekarang? apa yang kau rasakan?" tanyaku.
"Perutku masih kram Mas, tetapi hanya sesekali saja,"
"Oh, apa sangat menyiksa?" tanyaku memastikannya.
"Tidak mas, aku masih bisa menahan rasa sakit itu," balas Ana.
"Baiklah, katakan jika kau memerlukan sesuatu ya." Ana pun mengangguk menanggapi ucapanku.
Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata. Namun tiba-tiba kulihat dari kaca, Ana sedang mengernyitkan dahinya.
"Sayang sakit ya?" tanyaku.
"Iya Mas, kali ini lebih terasa sakitnya," ucap Ana sambil meremas lenganku dari belakang. Ya ampun, seharusnya aku memesan taksi saja hari ini agar aku bisa menemani Ana di belakang.
"Sabar ya sayang, kita akan segera tiba di rumah sakit," ucapku sambil menggenggam erat tangannya pada lenganku.
Ana menyandarkan keningnya pada jok. Aku yakin sekali jika ia benar-benar tengah merasakan sesuatu. Mungkinkah sesakit itu rasanya ketika seorang wanita akan melahirkan.
"Sayang, kuat ya! baby kuat ya!" ucapku sambil tetap fokus mengemudi.
"Masss!" pekik Ana membuatku bertambah panik.
Aku menambah kecepatan. Rasanya jarak rumah sakit lebih jauh dari biasanya. Seandainya saja ada karpet Aladin atau awan Kington Sungokong tentu saja kami sudah tiba di rumah sakit sejak tadi.
"Mass, sakit!" ucap Ana kini ia lebih mencengkram lenganku lebih kuat lagi.
Aku berusaha untuk tetap menenangkannya. Namun, lagi-lagi ia menunjukkan jika rasa itu begitu begitu menyiksa.
Astaga, siapa lagi ini. Apa ia tidak tau jika aku sedang buru-buru. Aku bersumpah akan menghajarnya setelah ini, ucapku dalam hati.
"Ya, halo! siapa?" tanyaku mengenakan headset.
"Jangan mengganggu jika tidak penting!"
"Yosh, ini mama!"
"Kau di mana? bagaimana keadaan Ana?" ternyata mama yang sedang meneleponku padahal aku sudah bersumpah untuk menghajarnya.
"Ma, ini masih di jalan."
"Kenapa lama sekali kau mengemudinya ha?" tanya mama.
"Ma, please jangan mengganggu ya."
"Katakan bagaimana keadaan Ana?" ucap mama masih saja tidak mau menutup teleponnya.
"Ana kesakitan Ma!"
Aku pun menutup telepon itu dan terus memantau keadaan istriku.
"Sayang, sabar ya. Aku akan menambah kecepatan!"
"Yosh, pelan-pelan aku takut!" ucap Ana lirih, namun sepertinya wajahnya mulai terlihat normal kembali.
"Sayang, apa masih terasa sakit?"
"Sudah berkurang Mas, jangan khawatir."
Namun, baru beberapa saat ia mengatakan hal itu, kini raut wajah cantiknya menunujukkan tekanan kembali.
"Akkhhh!" pekik Ana, kembali mencengkram lenganku.
"Sayang, mengapa sangat tidak jelas. Kenapa sakitnya hilang muncul seperti itu?" tanyaku.
"Mas, jangan bertanya lagi. Cepat bawa aku ke rumah sakit. Sebelum baby lahir di sini!"
"Astaga, iya sayang! sabar ya, tahan dulu jangan melahirkan di sini. Kasihan baby!" ucapku serampangan, yang benar saja. Bagaimana mungkin anakku akan dilahirkan di mobil.
"Mas! ayo cepatlah!" kini Ana mulai panik. Sejak tadi ia cukup tenang.
Aku pun mengelus perutnya sambil tetap fokus pada kemudi.
"Sayang, perutmu sangat keras dan mengencang!" ucapku.
"Makanya Mas, cepatlah rasanya baby sudah sangat turun!"
Tanpa memperdulikan keadaan jalan yang begitu ramai aku pun menambah kecepatan. Hingga dalam lima menit kami tiba di plataran rumah sakit.
"Suster! cepat tolong istri saya!" ucapku sambil mengangkat tubuh istriku.
"Sus! apa kau tuli!" kataku, mencoba memecah kesunyian saat para perawat itu hanya memperhatikan diriku bukannya membantu.
"Maaf pak, bapak sangat mirip dengan aktor Thailand. Jadi kami sempat terkejut saat melihat anda,"
"Cepat bantu istriku sekarang juga!" ucapku, bisa-bisanya di saat genting seperti ini tetapi mereka malah bercanda.
"Ba-baik Pak,"
Ana pun dibawa ke ruang bersalin dan dokter kepercayaanku sudah menunggu di sana.
"Mas, aku takut," ucap Ana lirih.
"Jangan takut sayang, aku bersamamu," ucapku sambil terus menggenggam tangannya.
"Dok, apa saya boleh ikut masuk?" tanyaku kepada dokter.
"Sebentar ya Pak, saya coba periksa ibu Ana dulu. Setelah itu saya akan mengabari bapak lagi. Silahkan tunggu di ruang tunggu Pak!" ucap dokter.
Aku pun pergi ke ruang tunggu. Pikiranku sangat kacau memikirkan kondisi istri dan anakku.
Lima menit kemudian, dokter datang dan menghampiriku.
"Dok, bagaimana? apa saya boleh ikut masuk?" tanyaku.
"Pak Yoshi bisa menemani Ibu Ana, sepertinya ia sangat membutuhkan dukungan anda saat ini."
Tanpa pikir panjang aku pun segera menghampiri ruangan bersalin. Kulihat Ana terbaring namun, raut wajahnya biasa saja seperti tidak merasakan sakit.
"Akhh!" teriaknya, astaga baru saja aku mengatakan bahwa rasa sakitnya telah menghilang tapi kini sudah kembali lagi.
Lagi kesakitan masih bisa gaya ya An? wkwk. Semua ini gara-gara Yoshi. 🤣🤣
Promo genk!!!
Rekomendasi novel hari ini. Datang dari kak Chika SSI dengan Judul Love is gone. Semoga suka ya. 💕🙏🙏**
https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1679686&\_language\=id&\_app\_id\=2&\_share\_channel\=whatsapp