
Ana POV
Aku lega setelah mendengar perkataan David, ternyata benar jika ia sedang tidak berada di kantor karena suatu urusan penting. Meskipun sempat terfikir olehku jika Yoshi masih marah dan ingin balas dendam atas sikap acuhku selama ini.
"Mbak, ayo kita jalan-jalan," suara Luna memasukki kamarku.
"Eh, tumben udah bangun Lun?" tanyaku tak biasanya dia bangun sepagi ini.
"Udah dong mbak, Luna gak enak sama Bu Annelis kalo bangun kesiangan,"
"Haha, jadi karena mama ada di sini kamu jadi berubah ya,"
"Iya Mbak, soalnya ibuk juga ngomel terus kalo Luna bangun kesiangan, bikin malu aja katanya."
"Lagian kamu sih, melawan terus sama bapak ibuk," ucapku.
"Iya nih Mbak, Luna juga lagi bingung," ucap adikku itu sambil merenung.
"Bingung kenapa Lun?"
"Kemarin, Luna kan udah masuk semester dua kuliahnya, terus bapak bilang suruh lanjutin aja ke sekolah kedinasan."
"Kak Yoshi tuh gara-garanya," dengusnya kesal membawa nama suamiku.
"Kak Yoshi kenapa emang?"
"Kak Yoshi ngusulin gitu ke bapak pas kemaren kita ngobrol bertiga,"
"Oh, ya udah sih. Kan bagus tuh kamu jadi belajar di dua bidang,"
"Tapi kan lama mbak, Luna males mikir tau!"
"Luna udah males banget belajar, pengen kerja aja!"
"Dasar males! emang disuruh ngambil dimana sekolah kedinasannya Lun?"
"Perkapalan Kak, jurusan mesin," ucap Luna tampak malas.
"Udah ah mbak, yuk jalan keburu keriput nih aku nunggunya."
Aku pun bersiap dan Luna menungguku di depan kamar, setelah memilih baju yang sesuai dan super nyaman, kini aku dan Luna siap untuk pergi hangout.
Sebuah pesan kukirimkan pada Yoshi, agar ia tau jika aku sedang berada di luar.
Aku : Mas, aku pergi keluar sebentar sama Luna ya.
Aku : Cuma sebentar kok. Love you suamiku 😘
Tanpa menunggu balasan dari Yoshi aku pun keluar kamar dan menutup pintu.
"Eh, mau kemana itu bumil?" tanya ibu saat mengetahui aku dan Luna sudah berpakaian rapi.
"Mau jalan-jalan Buk, cuma sebentar kok !" jawab Luna dengan santai.
"Kemana An, ntar diomelin Mas Yoshi lagi," ucap ibuku sebab ia tau jika kemarin aku menangis seharian karena Yoshi tak membalas pesanku.
"Aduh sayang, nanti kami semua bisa kena semprot sama si posesif itu!" sahut mama sambil menghampiriku.
"Mending jangan keluar Nak, bapak juga takut kena omel sama Mas Ikaumu itu," bapak pun ikut melarangku pergi. Jika dipikir-pikir benar juga perkataan mereka, lagi pula aku juga baru berjanji pada Yoshi untuk mengikuti segala perintahnya.
"Umm ya udahlah Lun, mbak gak jadi ikut aja ya," ucapku pada Luna.
"Ah, terus Luna pergi sama siapa dong?" ucap Luna kesal.
"Ajak temanmu saja, Lun," ucapku.
"Sama bule kemarin juga boleh. Haha," kata bapak mengingatkan kejadian kemarin.
"Ah bapak ah!"
Setelah mendengar ucapan bapak, Luna pun pergi meninggalkan kami semua dengan kesal.
"Luna jangan terlalu sore pulangnya ya!" pesan bapak mengikuti Luna ke luar
"Iya-iya bawel!"
"Jadinya mau pergi sama siapa Lun?" tanya bapak lagi.
"Sama Mas bule kemarin lah Pak!" ucap Luna sambil menjurkan lidahnya. Sungguh lucu melihat tingkah mereka berdua.
Aku pun kembali ke kamar, meskipun bosa tetapi sudahlah. Aku lelah harus terus berdebat dengan si posesif itu. Aku pun kembali menulis pesan untuknya.
Aku : Mas, aku tidak jadi pergi.
Suamiku sayang ❤: Kenapa sayang? bukannya tadi katanya mau pergi sama Luna? Kenapa tidak jadi?
Aku : Jangan pura-pura tidak tau Mas.
Suamiku sayang ❤: Pura-pura apa sayang?🤔
...Cih.. Aktingnya sangat bagus. Tumben sekali dia memakai emoticon seperti itu pada obrolan kami. Ucapku sambil membaca chat darinya. Biasanya tidak pernah....
Aku : Kau kan yang mengatakan pada semua orang untuk melarangku pergi, kau sangat meresahkan mas!"
Suamiku sayang ❤: Sayang, aku tidak mengerti. 😥
Aku : Heleh, kau membuat bapak, ibu dan mama takut akan omelanmu dengan melarangku untuk keluar.
Suamiku sayang ❤: Ya, memang aku berpesan seperti itu, karena aku mengkhawatirkan dirimu An.
Aku : Cukup katakan saja padaku mas. Tidak perlu membuat heboh semua orang seperti itu.
Suamiku sayang ❤: Iya, tetapi kemarin-kemarin kan kau tak pernah mendengarkanku sayang.
Aku : Jadi, kapan kembali kesini mas?
Suamiku sayang ❤: Belum tau sayang, kangen ya?
Aku : Tidak, aku hanya bosan harus 24 jam memegang ponsel seperti ini. 😪
Suamiku sayang ❤: Saat aku kembali, kupastikan bukan ponsel lagi yang kau pegang selama 24 jam.
Aku : Lalu apa?
(mulai lagi nih si encum Yoshi🤧🤧)
Aku pun menutup percakapan itu, dan kudengar ada suara beberapa orang di ruang tamu. Seperti sedang meributkan sesuatu.
Tiba di ruang tamu, mataku terbelalak saat mendapati Luna terbaring dengan beberapa luka di kakinya.
"Ya ampun, Luna. Kenapa kok luka-luka begini?" tanyaku.
"Habis jatuh, nabrak orang katanya," ucap bapak.
"Ya ampun, gimana Lun? parah gak?" tanyaku.
"Gak mbak, cuma luka ringan di mata kaki saja. Tapi, vespanya bapak yang parah,"
"Ah, untung kamu gak apa-apa,"
"Untung tadi bumil tidak jadi ikut kalau jadi, wah gimana jadinya coba?" ucap bapakku.
"Gimana jadinya kita juga pak," balas ibuku
"Maksudnya Bu? tanya mama sambil melihat keadaan Luna.
"Ya, gimana jadinya kita semua kalau Mas Ikaunya tau Ana kenapa-kenapa, haha."
"Wah Bu, mungkin Ikau langsung membawa pulang istrinya ke mansions dan kita akan menjadi kakek dan nenek-nenek yang malang," ucap mama menanggapi candaan ibuku.
"Dan cucu yang paling kita nanti pun semakin jauh dari pandangan gara-gara tantenya," bapak pun ikut membalas candaan itu sambil melirik ke arah Luna.
"Dih bapak, Luna pasti hati-hati dong kalau tadi jadi bawa Mbak Ana," dengus Luna kesal.
"Ceroboh kamu Luna, terus gimana itu nasib vespa bapak ha?"
"Ya, iya besok Luna servisin deh. Orang emang motornya aja yang udah tuwir kek yang punya!" ucap Luna tertawa.
"Dasar kamu ya, tadi gimana ceritanya?" tanya bapak
"Eh iya Lun? Gimana tadi kronologinya?" aku pun juga ikut penasaran.
"Oh, tadi Luna sama Sandra lagi ada urusan di area Pertamina sana,"
"Terus pas mau belok gitu tiba-tiba ada mobil yang berenti mendadak. Ya udah deh, karena aku juga ngeremnya mendadak akhirnya gak sempat mrnghindar. Dan mobil itu penyok bagian belakangnya," jelas Luna.
"Sandra gak apa-apa?" tanyaku.
"Wah Sandra yang duduk di belakang terpental jauh banget Mbak, aku aja pas kejadian itu sampek bingung. Kemana si Sandra ya,"
"Lalu?"
"Dia jatuh di gundukan pasir mbak! kira-kira 2 meter dari TKP dan Sandra mendarat dengan aman, untung saja di pasir coba kalau di koral?" jelas adikku itu sambil menghela nafas panjang.
"Iya kalau sampai Sandra kenapa-kenapa kamu diusir dari kampung ini Luna!" ucap bapak, mengingat Sandra adalah putri Pak camat.
"Ih bapak ah! orang Sandra gak kenapa-kenapa kan buktinya."
Ana POV End
***
Author POV
Flashback on
Hari itu di rumah Rengganis, teman Luna. Kakak Ganis yang bernama Reza (masih ingat Reza si sad boy kan genk? saingannya Yoshi itu loh, hihi) tiba-tiba saja pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Loh Kak, udah di Jakarta lagi?" tanya Ganis terkejut.
"Iya nih Nis, kakak harus ke Surabaya hari ini juga," ucap Reza.
"Ngapain sih Kak?"
"Ini ada perlu di Pertamina, kakak harus ambil sertifikat BST (semacam sertifikat tentang pelatihan dasar keselamatan di tengah laut) di sana dan minggu depan dokumen itu harus segera dikumpulkan," jelas Reza.
"Kak, kan di Jakarta ada Pertamina juga?"
"Tapi, terakhir kakak ambil pelatihannya di Surabaya bukan di Jakarta," ucap Reza sambil mempersiapkan segala keperluan untuk perjalanan ke Jawa Timur.
"Kak, Ganis ikut ya. Ada temanku di Surabaya," ucap Ganis pada kakaknya.
"Aduh, kapan-kapan aja ya, kakak naik mobil sendiri soalnya. Tiket pesawat full booked semua Nis,"
"Oh ya udah deh!" ucap gadis itu sambil membantu kakaknya.
Hari itu juga Reza memulai perjalanannya dari Jakarta ke Surabaya, sungguh perjalanan yang panjang. Dia begitu terburu-buru sebab lusa dirinya harus sudah berada di Belanda lagi.
Tiba di Kota tujuan, setelah menempuh perjalanan sehari semalam. Dia pun tiba di area Pertamina tersebut. Namun, karena rasa kantuk yang menyerang tiba-tiba saja ia memberhentikan mobilnya secara mendadak.
Brukk!
Terdengar suara motor menabrak mobilnya. Dengan panik Reza pun keluar dari mobil dan menghampiri pengendara motor vespa itu.
"Astaga, gue nabrak orang? atau ditabrak orang ya? Tapi, gue sih yang salah," ucapnya sambil menatap motor retro yang tergeletak itu.
"Tapi, kemana pengemudinya ya?" ucapnya kebingungan.
"Ya ampun, dua gadis remaja itu terlempar jauh sekali!" gumamnya menyaksikan seorang gadis muda sedang menolong temannya terbangun dari gundukan pasir."
Author POV End
Haloo genk, ini pertemuan kedua Luna dan jodohnya ya, hihi. Habis ini mereka akan bertemu lagi di masa depan, setelah 5 tahun kemudian
Ada rekomendasi novel lagi nih. Karya temanku. Mampir yuk, semoga suka ya✨
Judul Satu Atap Tiga Hati karya Kak Angela R.
Alana si gadis menyedihkan dan tidak pernah dianggap oleh orang tuanya. Terlahir dari hasil perselingkuhan, Alana begitu di benci keluarga nya. Hanya Lily, kakak satu-satunya, orang yang menyayangi Alana. Hingga suatu hari, Lily yang sudah menjalani rumah tangga nya selama bertahun, mengalami kecelakaan hingga membuat nya tidak bisa menjadi seorang ibu lagi. Di desak oleh mertuanya untuk segera memberikan keturunan, Lily mengalami stres berat hingga suatu hari satu ide muncul di pikirannya. Lily mendatangi Alana, adiknya yang saat itu masih duduk di bangku SMA untu menikahi suaminya dan melahirkan anak untuk nya. Alana tentu saja dengan tegas menolak, tidak hanya karena masih sekolah, tapi Alana dan Arun si Abang ipar saling membenci, tidak akan mungkin bisa menikah. Tapi karena desakan dari orang tua mereka, agar membantu Lily,dan juga mengingatkan Alana untuk membalas jasa mereka karena sudah memeliharanya sejak kecil, dengan berat hati Alana menerima keputusan mereka. Perjanjian nya hanya sampai Alana melahirkan anak untuk Lily dan Arun, setelahnya Alana diminta untuk pergi. Bagaimana kelanjutan kisah Alana dan pengorbanan nya? Akan kah Arun, yang awalnya sangat membenci Alana berubah mencintai gadis itu?
https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1552206&\_language\=id&\_app\_id\=2