My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Pinjaman Misterius



"An, Bapak harus segera dioperasi !!! " Kata Ibuku ambil memasukki kamarku, terlihat buliran bening keluar dari sudut matanya.


"A-apa Buk?" Tanyaku, perkataan Ibu itu seketika membuatku terbangun dari tidurku.


"Iya, Bapak harus segera menjalani operasi bypass jantung, untuk itu kita memerlukan biaya yang besar, " kata Ibu tertunduk lemah di tempat tidurku.


Aku mengerti ibu sangat tertekan saat ini, ibuku yang biasanya terlihat kuat, disiplin dan galak, saat ini terlihat seperti seekor harimau yang kehilangan taringnya.


"An, kamu lagi mikirin apa?" tanya Ibuku seakan bisa menebak apa yang aku pikirkan tentangnya.


"Gak ada kok Buk, hehe." Jawabku sambil menggaruk tengkukku yang tak gatal.


"Jangan bilang kamu lagi membayangkan Ibu jadi seekor Harimau tanpa taring ya," kata Ibu, astaga Ibu benar-benar bisa menebak isi pikiranku.


"Buk, terus gimana ya caranya biar kita bisa membiayai operasi Bapak?" tanyaku kembali mengkhawatirkan tentang dana untuk operasi Bapak.


"Sebenarnya, kemarin ada seseorang datang kesini menawarkan pinjaman uang, waktu kamu sedang tidak di rumah An." Kata ibu sambil mengingat ingat sesuatu.


"A-apa Buk? yang benar saja dari mana orang itu tau kalo kita sedang butuh uang." Kataku, aku tak yakin dengan pemberi pinjaman itu.


"Sebenarnya ibu juga tidak yakin, tetapi mau bagaimana lagi, mungkin ini adalah cara Tuhan membantu kita." Kata Ibu terlihat mulai tertarik dengan tawaran itu.


"Tapi Buk, apa Ibuk yakin? Gimana kalo orang itu punya niat jahat pada kita? " tanyaku, jujur aku tidak ingin ibu salah langkah.


"Kalaupun Dia berniat jahat, pastilah niatnya hanya untuk meminjami uang dengan bunga yang tinggi kan?," kata Ibu seakan bisa menebak apa yang akan terjadi.


"Ana nurut Ibuk ajalah, lagi pula Bapak harus segera memperoleh penanganan yang tepat " kataku mulai tertarik dengan pinjaman itu juga.


"Baik, besok Ibu akan menelepon orang itu, untuk tanda tangan peminjaman uang," kata Ibu dengan yakin.


"Buk, memang seperti apa tampang Rentenir itu?" Kataku tanpa basa basi menyebutnya Rentenir, pemberi pinjaman uang dengan Bunga besar apa lagi namanya kalau bukan Rentenir


"Sepertinya dia hanya anak buah dari pemberi pinjaman yang sesungguhnya An, itu tak penting yang penting sekarang adalah nyawa Bapak bisa segera tertolong." Jawab ibu.


Aku pun menyetujui keputusan Ibu, sebagai anak yang masih berusia belia dan tanpa pekerjaan, apa lagi yang bisa kulakukan selain menyetujuinya.


****


Keesokan harinya.


Seseorang berpakaian serba hitam, dengan rambut rapi dan badan tegap terawat, aku yakin dia ini pasti semacam bodyguard


"Selamat pagi, saya David asisten Tuan muda, saya dengar Anda ingin mengambil pinjaman uang dari kami?" tanyanya sambil duduk di kursi ruang tamu.


"Benar Pak, saya Larissa. Saya ingin mengetahui apa saja persyaratan yang harus saya penuhi untuk melakukan pinjaman," kata Ibu to the point.


"Baik, Ibu Larissa silahkan di periksa dulu berkas persyaratannya." Kata pria itu sambil menyodorkan beberapa lembar kertas.


"Pak, ini maksudnya bagaimana ya? Poin nomor 3, tertulis


"*Ji*ka peminjam dana tidak dapat mengembalikan dana dalam waktu yang ditentukan maka kami selaku pemberi pinjaman akan mengajukan persyaratan lain sesuai keinginan kami"


"Iya Bu, jadi intinya persyaratan dan peraturan akan berubah sewaktu waktu sesuai keinginan kami selaku pemberi pinjaman." Kata pria itu.


"Bagaimana bisa seperti itu Pak? Bukankah kami telah memberikan sertifikat tanah dan bangunan toko kelontong milik kami sebagai jaminan," kata Ibu sedikit berontak.


"Benar Bu, Ibu mengambil nominal yang lumayan besar sehingga sertifikat tanah dan bangunan tersebut tidak dapat menutup nominal pinjaman yang Ibu ajukan." Kata pria bernama David tersebut yang jika kupikir-pikir ada benarnya juga.


"Lalu tentang bunganya, di sini tertulis bahwa bunga bisa naik sewaktu-waktu sesuai keinginan pemberi pinjaman, benarkah demikian?" Tanya ibuku lagi, kali ini dengan sedikit emosi.


"Benar Bu, semua persyaratan ini dibuat oleh Atasan saya, jadi keputusan ada di tangan Ibu mau menyetujui atau tidak, saya hanya mengingatkan bahwa suami Ibu saat ini sudah sangat membutuhkan pertolongan." Kata David, seolah sangat mengerti kondisi keluarga kami saat ini.


Ibu tampak ragu dan khawatir dengan semua ini, takut jika suatu saat hal tak diinginkan akan terjadi, tetapi meski bagaimanapun saat ini bapak tidak dapat menunggu terlalu lama.


Pihak Rumah Sakit berulang kali menelepon kami, untuk segera mengkonfirmasi kapan kami akan melunasi administrasi pengobatan bapak.


Dengan berat hati, akhirnya Ibu menandatangani perjanjian konyol itu, sebab kami juga sudah benar-benar tidak dapat berfikir lagi, tak ada pilihan lain, aku tau setelah ini pasti akan ada masalah baru, tapi tak apa aku akan mencoba mencari pekerjaan sampingan lain agar hutang kami bisa secepatnya lunas.


Hari berganti, sebuah kabar dari Rumah Sakit datang, operasi bapak berjalan dengan lancar, penyumbatan pada arteri jantung bapak sudah teratasi namun masa pemulihan akan berlangsung lama.


Aku dan ibu tetap dengan rutinitas kami, ibu berjualan dan aku juga bekerja, sesorang menelepon kami tentang uang pinjaman itu.


Sebenarnya kami cukup tertib dalam membayar hutang tersebut tetapi tiba-tiba saja rentenir itu menaikkan bunganya, tentu saja itu sangat memberatkan kami.


Awalnya kami mampu membayar pokok pinjaman beserta bunganya tetapi karena kenaikan bunga tersebut, menyebabkan kami hanya mampu membayar bunganya saja.


Aku ingin sekali bertemu dengan rentenir itu untuk memprotes tindakannya tetapi Ibu melarangku sebab walau bagaimanapun Ibu sudah menandatangani pejanjian itu yang berarti kami telah menyanggupi apapun yang akan terjadi nantinya.


"Buk, kalau kita tidak sanggup membayarnya bagimana ya? " tanyaku.


"Ya terpaksa kita harus merelakan toko kelontong kita itu An," kata Ibu.


"Tapi, kalo itu belum cukup apa lagi yang akan mereka ambil lg Buk?" tanyaku, sebenarnya aku sangat mengkhawatirkan jika Rumah yang kami tinggali ini akan di ambil oleh mereka juga pada akhirnya.


"Sudah, tenang ya biar ibu yang memikirkan semua ini," kata Ibu mencoba menenangkanku padahal aku tahu bahwa Ibu juga terbebani dengan semua ini hanya saja beliau tidak menampakkannya saja.


Hampir setiap hari si Asisten Rentenir itu menelepon ke Rumah kami, hanya untuk mengingatkan bahwa hutang harus segera dilunasi


Benar-benar menyebalkan dulu dia yang datang kemari dan memaksa agar kami mau melakukan pinjaman, namun setelah kami setuju untuk meminjam uang,lihatlah betapa cerdiknya dia. Dengan paksaan juga dia meminta uangnya kembali.


Sangat memanfaatkan kelemahan orang demi kepentingannya sendiri, jika saja aku bisa bertemu langsung dengan dengan Bos Rentenir itu, aku pasti akan memaki-makinya dengan sepenuh hati, lihat saja.