My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Panik Nggak?



Ana POV


Aku sangat bahagia akhirnya suamiku yang sangat kurindu itu kembali, entah mengapa dia terlihat lebih tampan setelah dua minggu lebih tidak bertemu.


"Jangan melihatku terus An," ucapnya saat mataku terus menatap wajahnya dengan intens.


"Kenapa mas?"


"Tidak apa-apa," jawabnya singkat.


"Aku hanya ingin berlama-lama menatapmu saja, apa kau malu?"


"Aku? malu? yang benar saja An,"


"Lalu kenapa ?"


"Aku hanya sedikit khawatir saja."


"Khawatir apa? bicara yang jelas Mas!"


"Khawatir padamu."


"Apa maksudmu?"


"Kau tau, kau akan membuatnya berdiri tegak jika mata indahmu terus saja menatapku seperti itu. Jadi, hentikan sebelum terlambat!" jawaban Yoshi benar-benar membuatku ingin tertawa.


"Mas, tapi aku ingin terus bersamamu," ucapku manja sambil memeluknya.


"Iya-iya, sayang. Aku mandi dulu ya,"


"Iya sudah, aku tunggu di meja makan ya."


"Tidak ingin ikut ke kamar mandi?" tanyanya terseyum jahil.


"Kau ini, Mas!"


"Katanya ingin bersamaku terus?"


"Iya, tapi bukan seperti itu juga!" kataku.


Aku pun keluar kamar, kulihat mama dan ibu sedang duduk di ruang keluarga sementara bapak sedang duduk di teras, dan Luna entah ada di mana.


"Eh Mbak, sini deh aku kasih liat sesuatu," ucap Luna dari balik pintu kamarnya.


"Apa Lun?"


"Sini Mbak, ada surprise!" ucap adikku itu dengan antusias dan aku pun masuk ke kamarnya.


"Ini Mbak! boneka shinbi kesukaanmu!" ucap Luna menunjukkan sebuah boneka hijau favoritku.


"Wah! besar sekali Lun, ih lucu deh!" seruku menatap boneka raksasa itu, lalu muncul di benakku bagaimana Luna bisa mendapatkan boneka goblin ini, bukankah ini hanya di jual Bali.


"Lun, kamu dapat dari mana?"


"Bukan Luna mbak, tapi pangeran tak berkudamu itu yang sudah membawakannya pagi-pagi buta tadi."


"Ah jadi Kak Yoshi yang membawanya dari Jakarta?" tanyaku pada Luna.


"Yess sayang!" sahut Yoshi menjawab pertanyaaanku dan memasukki kamar.


"Ah manisnya, tapi bagaimana kau mendapatkannya Mas?"


"David, yang telah memberikannya padaku. Aku bahkan tidak tau jika kau memesan ini dari Dianna,"


"Siapa yang bilang Mas?" tanyaku ragu.


"David, dia bilang kau akan marah jika aku tidak membawanya kemari,"


"Apa? aku tidak pernah berkata seperti itu, aku bahkan tidak memesan ini dari Dianna, meskipun ia tau jika aku sangat menyukai Shinbi."


"Ah, sial David mengerjaiku lagi rupanya," ucap Yoshi lirih tetapi aku masih bisa mendengarnya.


"Kenapa mas?" tanyaku.


"Tidak sayang, ya sudah biar di kamar Luna saja bonekanya ya, karena akan memakan tempat jika ini diletakkan di kamarmu,"


"Oh iya Mas. Luna, titip shinbi ya," ucapku pada Luna yang sedang bermain ponsel.


"Siap Lovebirds!"


"Eh tapi, ini kan gede banget Kak. Apa Kak Yoshi gak repot tadi bawanya di bandara?" tanya Luna dan aku baru sadar bagaimana Yoshi membawanya kemari.


"Oh mudah saja Lun, aku menggendongnya di punggungku kemarin."


"Apa Kak?"


"Sayang, apa kau tidak malu?" tanyaku.


"Tidak sayang, meskipun banyak mata yang mentapku di sepanjang area bandara."


"Hahaha jelas saja, mereka memperhatikanmu Kak, badan sixpack gitu bawa-bawa boneka uwu!" celetuk Luna.


"Apapun demi cinta Lun!" sahut Yoshi sambil melirikku.


"Percaya deh sama Mas Ikau!" kata Luna.


"Ya udah, sarapan yuk. Aku lapar Mas," ucapku mengajak Yoshi dan Luna ke ruang makan.


Di ruang makan.


"Capek ya Nak Yoshi, baru sampai tadi pagi-pagi buta?" tanya ibuku sambil mengambilkan sarapan untuk Yoshi.


"Tidak bu, saya malah sangat bersemangat!" ucap Yoshi.


"Ya iyalah semangat kan mau ketemu istri tercinta," ucap mama.


"Mama gak nyangka, kirain kamu gak bakal kuat dua minggu pisah sama Ana,"


"Kuat ma, meskipun engap. Haha." Dan kami pun tertawa.


Bapak yang sedang berada di teras pun ikut tertawa mendengar percakapan kami.


"Buk, hari ini bapak mau ke bengkel ya lihat vespanya sudah betul apa belum," ucap bapak menghampiri kami.


"Oh iya Pak, ibu ikut ya. Ibu mau beli bahan untuk membuat kue," kata ibuku.


"Wah Bu, saya ikut juga deh!" sahut mama.


"Aku ikut juga dong !" Dan ini suara Luna keluar dari kamarnya.


"Iya bagus Luna, kamu harus bertanggung jawab!" kata bapak.


"Wah, kalau gitu Ana ikut juga deh," ucapku. Seketika Yoshi langsung melirik tajam ke arahku.


"Sayang, kamu di rumah saja ya. Takut kecapean nanti," ucap mama.


"Nak Yoshi, tolong stand by di rumah ya. Takutnya Ana kenapa-kenapa kalau ditinggal," ucap ibuku.


"Tentu Bu, Yoshi tidak akan kemana-kemana kok!" ucap Yoshi tersenyum.


(Iyaiyalah gak kemana-mana. Kesenengan mlh kan Yosh? 🤧🤧)


***


Setelah semua orang pergi, aku pun masuk ke kamar. Merebahkan diri di kasur, rasanya ingin sekali terus bermalas-malasan mengingat tubuhku yang sudah sangat berat ini.


Ceklek


Suara pintu tertutup, aku pun melihatnya dan ternyata itu Yoshi sudah berada di kamar.


"Mas, bukannya tadi masih sarapan?" tanyaku.


"Sudah selesai sayang dan sekarang ingin memakanmu."


"Ih Mas, aku ..."


Tanpa mendengar perkataanku, Yoshi langsung saja menindih tubuhku yang sejak tadi berbaring.


"Sayang, kau semakin cantik saja," ucapnya dengan suara parau. Mata kami bertemu dan rasanya aku seperti kembali terhipnotis oleh sorot mata penuh na*su itu.


"Aku sangat rindu padamu," ucapnya masih dengan suara parau itu.


"Mas, a-aku juga merindukanmu," ucapku, kini ia mulai mengecuup bibirku. Sapuan hangat itu seketika membuatku memejamkan mata. Mungkin rasa rindulah yang membuat kami begitu menikmatinya.


Yoshi mulai menggenggam erat kedua tanganku, dan hembusan nafasnya pun mulai terasa panas dan memburu, sesekali kurasakan perih pada bibirku karena gigitan darinya.


Kini tangannya mulai beralih ke area dadaku, berputar di sana menyusuri setiap kancing pada bajuku, dalam sekali tarikan pakaianku pun terlepas begitu saja.


"Sayang, ini sangat indah. Apakah kehamilan membuatnya semakin berisi?" tanya Yoshi sambil terus menatap dada dan tubuhku dari atas hingga ke bawah.


"Mas, jangan melihatku seperti itu. Aku malu dengan tubuhku," ucapku sambil menarik selimut.


"Malu kenapa sayang?" tanyanya.


"Lihatlah perutku yang membesar ini, sungguh tidak indah bukan?"


"Sayang, kau tetap cantik asal kau tau saja. Bahkan dengan kondisimu yang seperti ini telah membuatku semakin tergoda," ucap Yoshi sambil memulai aksinya.


Dia yang sudah sejak tadi menahan segala gejolak yang ada, kini telah berhasil melancarkan aksinya dengan sekali hentakaan saja benda itu sukes membuatku terbang ke dunia yang penuh dasahaan.


Gerakkannya sangat lembut, aku tau ia takut membahayakan baby, tetapi durasinya cukup lama. Dan aku merasa sudah beberapa kali mencapai *******.


"Mas, pinggulku mulai sakit," ucapku menahan rasa pegal yang tiba-tiba datang.


Yoshi sama sekali tidak menanggapi ucapanku, dia hanya sibuk dengan aktifitasnya di atas tubuhku, padahal rasa nyeri di area perut bawahku mulai terasa.


"Mas, sepertinya perutku terasa kram," ucapku sambil memegangi lengan kekarnya.


"Ya sayang, biarkan saja."


"Mas, biarkan saja bagaimana. Ini mulai sakit," ucapku semakin mengeratkan genggamanku.


"Mungkin saja, jalan lahirnya sudah mulai terbuka," ucapnya terbata karena mengimbangi gerakannya.


"Astaga mas, cepatlah aku takut," ucapku, sungguh suamiku ini tau apa tentang jalan lahir.


Yoshi pun mempercepat gerakannya hingga ia juga mengalami pelepasaan. Ia masih saja mengungkungku dan sesekali menciumiku.


"Terima kasih sayang," ucapnya penuh cinta setelah dua jam yang panas berlalu.


"Mas, perutku terasa aneh."


"Aneh kenapa sayang? apa aku terlalu kasar?"


"Bukan, kau bahkan sangat pelan melakukannya tetapi, pinggulku seperti mau terlepas rasanya,"


"Benarkah? apa sakit sekali?" tanya Yoshi mulai panik.


"Tidak terlalu sakit tapi rasanya sangat mengganggu."


"Sayang, kita harus ke dokter sekarang juga!" ucapnya sambil berlari dan memakai pakaian.


"Mas, aku mau mandi dulu."


"Jangan sayang, tidak akan sempat. Sudah pakai baju ini saja," perintahnya sambil memakaikan dress tanpa lengan padaku.


"Mas, aku ingin baju yang lain!" ucapku, aku tidak ingin dokter melihat kissmark di area leher dan lenganku.


"Sayang, sudahlah ini cukup nyaman untukmu," ucap Yoshi, memaksaku untuk tetap memakai baju itu saja.


"Akhhh!" pekikku, kini perut bawahku mulai kram kembali.


"Sayang, kenapa? sakit ya?" tanya Yoshi yang sedang mempersiapkan segala keperluan.


"Iya Mas, sakit!"


Kram pada perutku pun mulai sangat terasa, dan membuatku beberapa kali memejamkan mata karena rasa itu.


"Ya ampun, bagaimana ini!" Yoshi mulai kebingungan.


"Mas! rasa sakitnya bertambah!" ucapku tak kuasa menahannya.


"Ya, sayang! iya. Kita ke dokter sekarang!"


Lengan berotot itupun mengangkat tubuhku keluar kamar menuju ke tempat dokter yang biasa mengontrol kondisiku.


Panik kan Yosh, mana gak ada orang lagi di rumah. Sukurin wkwk. Pake acara buka jalan tol segala sih. Dasar! 🤣🤣🤣


Halo mau promo lagi boleh ya. Yuk mampir ke karya temanku satu ini.


Romansa Bias dan Zee karya Kak Bubu.id❤❤


https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1703712&\_language\=id&\_app\_id\=2&\_share\_channel\=whatsapp



Sama satu nih yang keren. Salah Pengantin karya Kinnosan. ❤❤


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, SALAH PENGANTIN, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1628540&\_language\=id&\_app\_id\=2