
Kami berjalan menyusuri halaman rumahku, dengan Yoshi yang terus saja menggenggam tanganku. Dan kemudian bapak datang menghampiri kami lalu memberikan kue tart kepada Yoshi.
"Selamat ulang tahun, Nak. Semoga menjadi pribadi yang lebih baik lagi ya," ucap bapak
sambil menepuk pundak Yoshi.
Yoshi tampak gugup namun dia berusaha senormal mungkin, aku mengerti perasaannya pasti sulit untuknya. Pasalnya ini pertama kalinya ia berhadapan langsung dan sedekat ini pada bapak yang selama ini selalu dianggapnya musuh.
"Terima kasih Pak," ucap Yoshi.
"An, ayo berikan kue ini untuk suamimu, kamu nih suami ulang taun kok malah lupa!" ucap Ibuku dari belakang.
"Ciee Mbak Ana sama Mas Ikaunya akhirnya bersatu juga, tanpa halangan dan rintangan lagi," ucap Luna sambil melirik bapak.
"Apa maksud kamu Luna? Jadi kamu pikir selama ini bapak yang sudah menjadi rintangan bagi mereka ha?" tanya bapak.
"Dih, apaan sih James Bond ini, suka baperan deh!" Luna menjulurkan lidahnya pada bapak. Sungguh menggemaskan.
Mama dan Ibu pun mengucapkan selamat ulang taun kepada Yoshi,
"Selamat ulang tahun sayang, semoga bisa menjadi seorang suami dan papa yang baik ya," ucap mama lalu memeluk Yoshi.
"Selamat ulang taun Nak Yoshi, ibu do'akan semoga ke depannya keluarga kecil kalian akan semakin bahagia," kata ibuku.
"Terima kasih Mama dan Ibu," balas Yoshi.
"An, ayo dong kasihin kuenya malah bengong," ibu mengagetkan lamunanku. Aku hanya masih tidak percaya dengan keakraban keluarga ini.
"Selamat ulang taun sayang," ucapku sambil memberikan kue itu pada Yoshi.
"Terima kasih istriku," balas Yoshi sambil menyuapiku sepotong kue.
"Dih, dunia serasa milik berdua kalo udah begini. Yok pasukan bubar yokk!" ucap Luna sambil melangkah pergi.
"Ya udah sayang, kalian nikmati aja ya acara hari ini berdua, mama sm ibu mau belanja dulu ya," ucap mama yang juga melangkah pergi bersama ibuku.
"Yoshi, Ana. Bapak juga mau istirahat dulu ya," ucap bapak namun, kemudian Yoshi menghentikan langkahnya.
"Bapak, tunggu. Bisa kita bicara sebentar?" tanya Yoshi.
"Ada apa Nak? Sudah, lupakan ucapan bapak kemarin, itu hanya beracanda saja."
"Tapi pak, saya ingin mengatakan sesuatu," jawab Yoshi dan mereka pun duduk bersama saat ini.
"Pak, saya ingin meminta maaf kepada anda, selama ini sungguh apa pun yang telah saya perbuat hanyalah karena kekhilafan dan keegoisan saya semata. Maafkan saya Pak," ucap Yoshi sambil mencium tangan bapak.
"Nak, bapak sudah memaafkanmu bahkan tanpa perlu permintaan maaf darimu seperti ini. Bapak juga minta maaf kepadamu dan Ana ya,"
"An, bapak dan ibu minta maaf karena selama ini kami sudah membohongi dan menutupi fakta yang ada dari kalian semua," ucap bapak sambil menatapku.
"Benarkah bapak telah merestui hubungan kami?" tanya Yoshi.
"Tentu saja, bahkan sejak dulu. Bapak tau bahwa kau sangat mencintai Ana."
"Bagaimana bapak tau?" tanyaku.
"Bapak tau sejak dulu, Yoshi sering mengkuti kita saat bapak mengantarmu ke sekolah dan dia juga yang sering membantumu saat kau berada dalam kesulitan," ucap bapak kepada Ana sambil tersenyum.
"Benarkah pak?" lagi-lagi aku bertanya sedangkan Yoshi hanya pura-pura tidak mendengar karena ia malu padaku.
"Dan satu lagi fakta penting yang harus kalian ketahui."
"Bapak dan Permana adalah teman dekat bahkan sejak kalian masih bayi. Kau tau, Yoshi itu dua tahun lebih tua darimu An, dan dulu kami bertiga yaitu bapak, ayah mertuamu Permana dan Alex si bule asal Belanda berencana untuk menjodohkan anak-anak kami," ucap bapak, tampak buliran bening menetes dari sudut matanya. Namun ia segera menghapusnya.
Mungkin beliau sedang bersedih karena mengenang sahabat-sahabatnya itu. Jujur saja aku cukup terkejut saat mengetahui ayahku dan ayah Yoshi adalah sahabat dan mereka ingin menjodohkan kami sejak dulu.
Ah senangnya..
"Jadi papa dan bapak adalah teman lama?" tanya Yoshi terkejut.
"Benar nak, sebenarnya saat itu Alex juga ingin menjodohkan putranya dengan Ana tetapi ayahmu lebih ambisius dari kami semua, akhirnya kami ikuti saja alurnya,"
"Sungguh tak mudah perjalanan yang telah kalian lalui selama ini. Jadi berjanjilah untuk tetap saling menjaga satu sama lain."
"Pak, siapa Om Alex itu?" tanyaku penasaran.
"Dia adalah sahabat kami juga, namun beberapa tahun belakangan ini dia berada di Belanda hingga saat ayah Yoshi meninggal pun ia tidak tau,"
"Pak, sekarang saya tau jika selama ini bapak melakukan semuanya bukan hanya demi negara juga demi papa. Terima kasih pak," ucap Yoshi dan matanya kembali berkaca-kaca mengenang ayahnya.
"Sudahlah Yosh, lupakan semua setidaknya ayahmu kini telah tenang karena cita-citanya untuk meringkus Nathan Lee sudah terwujud sekaligus kalian berdua telah bersama sekarang, Permana pasti sangat bangga padamu Yoshi,"
"Ini dia Yoshi kecil dan Ana kecil, lihatlah bahkan wajah kalian tidak pernah berubah dari tahun ke tahun," ucap bapak sambil menunjukkan beberapa lembar foto dari kamarnya.
"Wah, sangat lucu. Kau sangat lucu Yoshi. Lihatlah wajahmu saat masih bayi," ucapku sambil memperhatikan foto itu.
"Kau juga An, pipimu sangat menggemaskan sejak dulu," balas Yoshi.
"Akankah wajah baby seperti ini? Akan cantik seperti diriku waktu masih bayi ini? Haha," ucapku.
"Tentu saja tidak, ia akan setampan papanya," balas Yoshi.
"Tidak Yosh, entah baby laki-laki atau perempuan yang jelas wajahnya akan mirip denganku!" dengusku kesal.
"An, bagaimana mungkin itu terjadi. Tentu saja anak pertama akan dominan lebih mirip ayahnya," bantah Yoshi, masih saja tidak mau mengalah. Sementara bapak yang melihat perdebatan tidak penting ini pun pergi meninggalkan kami sambil menggelengkan kepalanya.
"Yosh, aku tidak mau tau! pokoknya baby akan mirip denganku," ucapku bertambah kesal, bagaimana mungkin akulah yang telah mengandung baby selama sembilan bulan dan ketika ia lahir nanti wajahnya tidak akan mirip denganku? yang benar saja."
"Tidak masalah sayang, jika memang nantinya wajah baby akan mirip denganku, maka tinggal buat saja lagi adiknya, pasti akan mirip denganmu," ucap Yoshi jail.
"Kau masih saja mesum Yosh!"
"Hey, tapi coba pikirkan sayang. Bukankah apa yang kukatakan ada benarnya?" tanya Yoshi menggodaku.
Kami pun masuk rumah dan aku membereskan baju Yoshi dan meletakkannya di lemari kamarku.
***
Malam hari.
"Sayang, ini kamarmu?" tanya Yoshi saat pertama kali memasukki kamar mungilku.
"Iya Mas, memangnya kenapa?"
"Ini sangat kecil bahkan lebih sempit dari pada kamar Niluh," ucap Yoshi sambil memperhatikan setiap detil ruangan ini.
"Memangnya apa masalahnya mas? Aku suka kamar ini sejak kecil aku sudah tinggal kamar ini,"
"Tetapi kenapa tidak meminta bapak untuk membuatkan kamar yang lebih luas?"
"Mas, ini sudah cukup nyaman untukku. Apa kau benar-benar tidak bisa tinggal di kamar seperti ini?" tanyaku. Aku tau sejak kecil Yoshi terbiasa dengan kehidupan mewahnya.
"Bukan seperti itu, tetapi pasti pergerakkan sedikit saja akan terdengar dari luar jika dilakukan di kamar ini," ucap Yoshi sambil menaikturunkan alisnya.
"Pergerakkan apa maksudnya?" tanyaku.
"Sayang, kau belum memberikan hadiahku hari ini, bahkan kau lupa jika ini ulang tahunku. Menyebalkan," ucap Yoshi.
"Maaf ya mas, aku benar-benar lupa," ucapku menyesal dan entah bagaimana aku bisa lupa jika hari ini suamiku berulang tahun.
"Mana sini hadiahnya?"
"Belum ada, besok ya aku janji akan memberikanmu hadiah spesial."
"Tidak mau, maunya sekarang!" ucap Yoshi sambil mendekapku.
"Mas, aku sangat lelah hari ini, bukankah akan sangat berisik?" kataku, mengingatkannya.
"Aku tidak perduli, bukankah aku yang akan bekerja?" kini dia semakin mengeratkan dekapannya dan memulai permainan.
Hingga membuatku memekik karena rasa geli.
"Akhh mas, geli tau!"
"Maas!!" beberapa kali aku mencoba menghentikkannya tetapi dia tidak memperdulikanku.
Hingga terdengar suara mama dari kamar sebelah.
"Ehmm sedang terjadi apa ya di kamar sebelah ini?" teriak mama dan kami pun saling berpandangan.
"Tuh kan, bukankah sudah kubilang pergerakan sedikit saja pasti akan terdengar An," ucap Yoshi.
"Sudah tau begitu, tapi kau masih saja mas," jawabku kesal
"Jadi bagaimana ini? mau dilanjutkan atau tidak sayang?" tanya Yoshi.
"Ya, lanjutkan saja Yosh, mama akan memakai headset!" teriak mama lagi, astaga ini sungguh memalukan.