
Author POV
Satu tahun kemudian.
Sepasang suami istri sedang berjalan menyusuri koridor Bandara Vancouver, Canada. Sang suami dengan pelan mendorong stroller bayi berwarna pink sedangkan istrinya menggandeng putra kecil mereka yang kini hampir berusia dua tahun.
Keluarga kecil itu sedang dalam perjalanan menuju Pier atau pelabuhan dimana kapal yang akan membawa mereka berlibur selama satu bulan itu bersandar, dengan para nanny yang berjalan di belakang mereka membawakan barang bawaan yang menumpuk.
Yoshi sesekali melihat ke arah stroller, untuk memastikan bahwa putri kecilnya masih tertidur pulas, bayi cantik dengan bulu mata lentik itu bagaikan perhiasan untuk ayahnya. Yoshi sangat menyayanginya, sama seperti ia menyayangi putra pertamanya, Shian.
Anak laki-laki tampan dan menggemaskan itu bahkan belum dapat berbicara dengan lancar tetapi entah mengapa dia sangat mengerti jika dirinya adalah seorang kakak. Shian jarang sekali menangis, ia hampir tak pernah rewel sama sekali, tapi jangan tanyakan bagaimana ibunya. Ana masih sering menangis terharu saat Shian menunjukkan afeksinya kepada adiknya.
"Mas, apa little masih terlelap?" tanya Ana pada suaminya.
"Masih sayang, dia nyaman dan aman bersama papanya," jawab Yoshi tersenyum.
"Baby, apa kau lelah sayang?" tanya Ana pada putranya yang sejak tadi berjalan kaki tanpa mengeluh.
Namun, bukannya menjawab, balita itu hanya menggelengkan kepalanya. Suhu dingin membuat pipi gembulnya semakin merona merah. Menambah kesan chubby pada kedua pipinya.
"Anak ganteng, mau papa gendong?" Yoshi juga menawarkan diri pada putranya.
Tanpa mendengar jawaban sang anak, Yoshi langsung meraih tubuh kecil itu dan membopongnya sambil tangan kananannya tetap mendorong stroller.
"Mas, biar aku yang membawa strollernya," ucap Ana.
"Jangan sayang, biar aku saja,"
"Mas, kau akan kerepotan jika seperti itu," kata Ana.
"Tidak apa, aku tidak repot sama sekali," Yoshi masih bersikukuh untuk tetap membawa dua anaknya sekaligus.
"Mas, aku saja yang membawa strollernya! lagi pula aku juga tidak sedang membawa apa-apa!"
"Tidak sayang, aku tidak ingin kau lelah!"
"Astaga, hanya mendorong stroller saja. Apa lelahnya?" akhirnya Ana langsung saja menarik stroller itu, tetapi Yoshi malah menahannya.
"Mas, aku saja!"
"Aku saja An! nanti kau lelah!" bentak Yoshi.
(Astogee akulah yang lelah liat kalian ribut🤧perkara kereta dorong doang, ntar lama-lama bayinya bangun terus jalan sendiri gimana? apa gak kaget sebandara liat bayi umur tiga bulan udah bisa jalan🤣)
"Jangan keras kepala Mas!"
"Jangan keras kepala An! atau aku yang akan membuatmu lelah nanti malam," ancam Yoshi.
Akhirnya Ana pun diam dan masalah receh ini selesai. Sementara samar-samar suara cekikikan terdengar di antara para nanny yang sejak tadi menyaksikan tingkah laku konyol kedua majikannya itu.
Waktu satu tahun tak mengubah Yoshi, pria itu tetap sama, sering bertindak sesukanya dan tidak bisa dibantah dalam hal apapun, ia mencintai istrinya dengan caranya sendiri. Meskipun tak jarang hal itu malah membuat Ana kesal.
Tiba di Pier, terlihat seonggok kapal pesiar megah dengan kapasitas kurang lebih 2000 pax atau sekitar dua ribu penumpang. Staff kapal datang untuk membantu membawakan luggage yang sejak tadi dibawakan oleh nanny.
Author POV End
***
Ana POV
Ms. Eurodam
Itulah nama kapal ini. Kulihat cerobong asap raksasa, warna badan kapal biru tua, hingga deretan sekoci yang tergantung di sisi kanan kiri badan kapal, semuanya masih sama. Tak ada yang berubah sejak terakhir kali aku meninggalkan profesiku di sini dulu.
Seonggok besi mewah terapung itu mungkin saja terlihat tua tetapi kenangan di dalalmnya tidak akan pernah menua. Dan akan selamanya berada di hati dan pikiranku.
Masih kuingat jelas, bagaimana kapal ini menjadi tempat pelarianku dari rentenir kejam yang sekarang telah menjadi suamiku.
Masih kuingat jelas bagaimana kapal ini dulu membantuku untuk melunasi hutangku pada lintah darat ini.
Masih kuingat jelas dimana saat aku benar-benar melunasi hutang keluargaku padanya, dengan tiba-tiba keadaan malah berbalik, kukira diriku telah terbebas darinya, namun aku salah karena takdir malah membawa kami pada satu ikatan suci pernikahan.
Sungguh di luar logika, dan sekarang aku kembali ke kapal ini lagi sebagai tamu bersama dengan pria yang sama yang dulu sangat kuhindari dan sekarang sangat kucintai.
Hidup memang penuh dengan kejutan dan misteri, kita tak pernah tau apa yang akan terjadi di hari esok dan apa pun yang telah digariskan Tuhan untukmu, itulah yang tebaik meskipun terkadang memerlukan waktu untuk dapat memahaminya.
"Sayang, coba tebak kabin kita ada di deck berapa?" tanya Yoshi masih dengan kerempongannya membawa kedua anak kami.
"Jangan bilang di deck B ya Mas, kabinku dulu itu sangat keci!"
"Itu tidak mungkin sayang, apa kau ingat kamar VVIP tempat IT manager dan staff F&B melakukan hal-hal menyenangkan dulu?" Yoshi tersenyum sambil menggiigit bibiir bawahnya.
"Bukankah itu menyenangkan?!" Yoshi tertawa sambil beberapa kali membetulkan posisi Shian yang sedang tertidur di pundaknya.
"Mas, sini biar aku saja yang membawa baby."
"Tidak, biar aku saja sayang," Dia masih saja tidak mau kubantu.
"Terserah padamu!" Aku pun berjalan meninggalkan bapak-bapak rempong itu.
"Yang.. Tunggu!!"
Ana POV End
Yoshi POV
Kini aku dan keluarga kecilku tengah berada di kapal pesiar tempat gadis sasaran pembalasan dendamku melarikan diri dari cengkramanku dulu.
Aku masih tak percaya bagaimana aku bisa membuatnya begitu bekerja keras hanya untuk mengembalikan uangku yang sebenarnya hanyalah bahan untuk membuat keluarga semakin tertekan.
Aku menghukum gadis tak berdosa ini karena kesalahan yang tidak pernah ia lakukan, mungkin permintaan maaf seumur hidupku pun tak akan pernah bisa menutup segala perbuatanku padanya.
Tuhan begitu menyayangi monster sepertiku, dia telah menghapus segala kesalahpahaman di antara kami berdua, gadis itu pun kini menjadi istriku, ibu dari anak-anakku yang menggemaskan ini.
Aku sangat mencintainya meskipun rasa cintaku harus ternodai dengan dendam yang tak masuk akal. Faktanya Lanthana adalah cinta pertamaku, dan apa pun yang terjadi dia akan selalu menjadi cinta sejatiku.
Kini kusadari bahwa bukanlah dendam yang telah membawa kami pada posisi rumit seperti saat-saat kemarin, melainkan karena 'rasa kehilangan yang mendalam' pada diri kami masing-masing.
Aku kehilangan gadisku karena ia tak pernah tau siapa diriku yang sebenarnya.
Dan dia kehilangan diriku karena dia tak pernah tau siapa ayahnya yang sebenarnya.
Sungguh tragis, aku mengira Ana tak pernah mencintaiku saat itu. Aku mengira ia tak datang saat aku memintanya untuk datang ke tempat yang telah tentukan. Nyatanya, juga memendam perasaannya padaku, dan saat itu ia juga datang ke tempat dimana kami akan betemu sepuluh tahun yang lalu. Dimana saat itu kami masih mengenakan seragam putih abu-abu.
Kesalahpahaman telah menyesatkan segalanya. Seharusnya kisah kami tidak perlu menjadi serumit kemarin jika aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya lebih awal.
Sungguh, Tuhan memang Maha Tau, Dia tau apa yang terbaik untukmu sedangkan kamu tidak mengetahuinya. Ujian hanya datang untuk menguatkan kita bukan untuk membuat kita berburuk sangka kepada Yang Maha Esa.
"Mas, ayo cepat jalannya! Kau ini lelet sekali!" Ana berjalan memdahuluiku, dia terus saja mengomel sejak tadi karena aku menolak bantuannya untuk membawa salah satu malaikat kecil ini.
"Sayang tunggulah!"
Dia tetap saja berjalan menyusuri koridor lantai tujuh tempat kamar VVIP kami berada, sesekali ia menatapku hanya untuk menyaksikan keremponganku.
"Jadi Yoshi Aricko Luby, kapan kita akan menikah?" tiba-tiba saja Ana berkata demikian.
Ingatan tentang saat itu kembali menyeruak di otakku. Saat aku baru saja berhasil menemukan Ana di kapal ini. Pertanyaan itulah yang terlontar dari mulutku dan membuatnya shock selama beberapa detik.
Saat itu dia sedang membawa tray besar berisi makan siang untuk diantar ke kamar penthouseku. Saat itu juga kejadiannya pun terjadi di lantai ini dan di koridor ini. Persis seperti saat ini, jika waktu itu Ana keberatan membawa tray besi, saat ini aku yang keberatan membawa dua buah cinta kami.
Keadaannya berbalik sekarang, dialah yang menjadi rentenir kejam yang menyiksaku.
"Dasar lintah darat cantikku!"
"Baiklah Yoshi, jika kau tak mau menjawabnya maka aku akan menikahimu sekarang juga!" ucap Ana terbahak-bahak dan berlari menuju stateroom penuh kenangan itu. Dia sedang membalasku rupanya.
"An tunggu! aku akan memakanmu sekarang juga!"
Dia benar-benar memancingku, seketika kuserahkan kakak-beradik gemas ini kepada para nanny. Dan aku pun mengejar drakula penghisap hatiku itu.
Bersambung.....
Haloo genk akhirnya sampai juga di Epilog Novel My Husband is My Secret Lover. Aku sedih sekali karena ini Episode terakhir cerita Yoshi dan Ana.
Jujur saja aku ngetik ini sambil menangis lho 😭😭😭. Kalo gak percaya belahlah dadaku. 😩🤧
Banyak sekali dukungan dari kalian yang membuatku mampu untuk tetap melanjutkan kisah Yoshi (CEO bertopeng rentenir) dan Ana (Puteri dari seorang Agen Intelligent Negara bertopeng gadis biasa) gadis pujaan hatinya itu sampai di titik ini. Buat kakak-kakak yang selalu meluangkan waktunya untuk membaca Cerita recehku, aku Lady Meilina Author bronze baperan dan tidak tau diri mengucapkan ribuan terima kasih🙏💖
Kak, jangan bosen-bosen ya mendukung karya para Author di Noveltoon karena kami sangat menyayangi pembaca budiman seperti kalian. uh-huh pelukk virtual pleaseee 🤗🤗🤗
Jangan di unfave dulu ya Kak Yoshananya karena masih ada bonus chapters di bab berikutnya. 🤗🤗🤗
I Love You Readers kesayangan 😘
Oh iya mau promoin novel temen aku ya, boleh gak sih? Lagi mengsed malah promo thor!! 🤧🤧
Ini Novel keren temanku ya genk, sedang ikut lomba. Mohon dukungannya. Terimakasih 😘😘
CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER KARYA KAK COVIEVY💖