
Yoshi POV
"Bagaimana? masih sakit sayang?" tanyaku pada Ana tetapi dia malah menutup wajahnya.
"An, masih sakit atau sudah lebih baik?" tanyaku lagi sambil membetulkan bajunya.
"Dasar modus!" ucap Ana malah mengataiku modus. Ya, mungkin memang modus tetapi tidak sepenuhnya.
"Dih dari pada kau harus kesakitan seperti tadi? memangnya aku tega?"
"Iya-iya Mas," ucapnya kesal.
"Yang satunya masih penuh itu!" ucapku menggodanya.
"Biarkan saja, baby sudah bangun Mas,"
Ana pun meraih baby dan menyusuinya kembali. Aku lega setidaknya ia tak lagi menahan sakit. Sesekali ia melihat ke arahku, seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi ia tahan.
Aku masih ingat saat aku membantunya tadi, wajahnya begitu merah padam menahan malu karena melihatku dengan semangat menggantikan baby. Ana pun bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
"Shian, sudah bangun?" ucapku sambil menggendong anakku.
"Apa kau sudah tidak ngambek lagi, Nak?"
"Dengar, jangan sia-siakan air susu ibumu lagi ya," bisikku pada telinganya.
Aku terus mengajaknya mengobrol hingga Ana selesai mandi.
"Mas, mau makan?" tanyanya.
"Tidak sayang. Aku sudah kenyang," jawabku. Sungguh aku benar-benat kenyang.
"Aku akan mengambilkan minum untukmu ya."
"Tidak usah sayang, aku bisa kembung jika harus minum lagi. Hehe," ucapku dan perkataan itu sukses membuat pipi istriku merona.
"Dasar kamu, Mas!" ucap Ana sambil memukuli tubuhku.
"Kenapa memangnya? yang penting sekarang kau sudah jauh lebih baik sayang."
Aku pun berhenti membahas adegan tadi, aku tau istriku cukup malu. Untuk mengingatnya bagaimanapun Ana masih belum terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Padahal jika dipikir dengan akal sehat, memangnya apa masalahnya? bukankah aku suaminya.
Kami pun turun ke bawah untuk makan malam. Terlihat mama sedang duduk di sana dengan beberapa makanan di depannya.
"Ma, sudah sehat? Niluh bilang mama sedang sakit?" tanyaku.
"Sudah sehat Yosh, tadi mama hanya sedikit pusing," ucap ibuku.
"Eh, anak ganteng, sini sama oma." Ibuku meraih baby dari gendonganku.
"Ma, masih pusing?" tanya Ana sambil mengambilkan nasi untukku.
"Sudah mendingan sayang, dan kau, apa baby sudah mau menyusu lagi?" tanya ibuku pada Ana.
"Sudah Ma, baby sudah mau menyusu lagi seperti biasanya."
"Mama pikir dokter akan datang tepat waktu ternyata ia berhalangan untuk hadir. Nanti kita kompres saja An, jika ASI-mu penuh lagi."
"Tidak usah, Ma. Masalah sudah terselesaikan," ucapku pada mama.
"Benarkah?" tanya mama heran.
"Yoshi sudah menyelesaikan masalah ASI berlebih itu!"
(ππππ)
"Baiklah, bagus. Karena mama yakin Ana pasti sangat tersiksa tadi, menahan rasa sakit karena pembengkakan."
Ana terus saja menatapku dengan tatapan tajam, aku tau ia sangat malu saat ini, khawatir jika aku menceritakan apa yang sudah kulakukan padanya kepada mama.
Aku pun kembali menyantap makananku. Padahal jika saja kegiatan tadi tidak terhentikan, sudah pasti Ana yang akan menjadi makan malamku saat ini.
(Ampun deh, masih aja π€§π€§π€§)
Malam pun tiba, kali ini Ana tidur lebih dulu, dan berpesan padaku untuk menjaga baby, aku tau sepertinya seharian ini ia sangat lelah belum lagi harus merasakan nyeri pembengkakan tadi.
Awalnya baby tertidur pulas. Namun menjelang tengah malam ia terbangun dan malah mengajakku bermain.
"Sayang, kok bangun? pipis ya?" ucapku sambil melihat diapersnya yang ternyata masih kering. Aku pun menimangnya hingga berberapa menit namun baby boy ini tetap saja tidak mau memejamkan matanya.
Akhirnya kurebahkan tubuhnya di atas bed, tetapi ia malah menangis.
"Hey, sayang. Jangan menangis atau mama akan terbangun," ucapku sambil menggendongnya lagi, mataku benar-benar sudah mengantuk saat ini.
Aku membawa baby keluar kamar karena ia terus saja menangis, sungguh inikah yang selalu dialami Ana setiap harinya saat aku sedang tidur atau sedang berada di kantor.
"Sayang, jangan menangis ya Nak, katakan apa yang kau inginkan?"
"Cup.. baby, anak papa, diamlah sayang," ucapku tetus menenangkannya.
"Apa kau marah pada papa karena masalah tadi? salah siapa ha? kau yang tak mau minum ASI-mu?"
Baby terus saja menangis, aku mulai frustasi. Apa yang harus kulakukan sekarang.
"Nak, dengar jika kau berhenti menangis, papa akan memberimu satu adik perempuan," ucapku lirih.
"Ya sayang, besok katakan pada mama jika kau mau adik perempuan!" ucapku sambil menciuminya.
Tetapi tak berapa lama,baby kembali menangis dan semakin kencang. Astaga, anak ini apa maunya sebenarnya. Haruskah aku membangunkan Ana, tetapi aku kasihan padanya.
Aku pun terus menimang si gendut ini. Hingga lenganku terasa pegal. Ya tuhan, lelah sekali rasanya. Tiba-tiba saja Niluh datang dan menghampiri kami.
"Ah Niluh, kau datang juga akhirnya," ucapku.
"Ya tuan, ada apa dengan bos kecil?"
"Tidak tau, dia terus saja menangis. Aku tidak ingin membangunkan nyonya."
"Biar saya coba tenangkan tuan," ucap Niluh sambil meraih baby dari dekapanku.
Baby masih saja menangis. Hingga kini mama pun datang menghampiri kami.
"Yosh, ada apa? mengapa baby terus menangis?" tanya mama.
"Yoshi tidak tau ma, padahal awalnya baby hanya mengajakku bermain,"
"Yosh, coba kau ambilkan ASI yang ada di freezer, tetapi hangatkan dulu dan berikan pada baby," ucap mama, akupun bergegas ke dapur.
Ada banyak sekali ASI di sini, tanpa pikir panjang, aku pun memanasinya dengan warmer. Setelah itu kumasukkan ke dalam botol.
"Mana sini biar mama yang berikan susunya," ucap mama sambil menggendong baby dan memberinya minum.
"Shian sayang, kesayangan oma. Minum susunya ya, haus ya Nak?" ucap mama sambil memberinya susu.
"Apa Ana masih sakit, Yosh?"
"Sepertinya masih terasa nyeri pada dada kirinya," ucapku.
"Kiri? bukankah yang bengkak dua-duanya?" tanya mama.
"Dua-duanya Ma, sampai bra-nya tidak muat."
"Lalu bagaimana caramu mengatasi yang kanan jika yang kirinya saja masih bengkak?" tanya mama, sedikit bingung.
"Masalahnya Ana tidak mengijinkan Yoshi untuk melakukan pada keduanya Ma, hanya yang kanan saja."
"Tunggu, mama sedikit bingung di sini,"
(π€£π€£π€£)
"Jangan bilang, kau yang sudah meminum asi-nya, Yosh!"
"Apa yang bisa Yoshi lakukan lagi ma? semua botol penuh, baby tidak mau minum dan Yoshi harus diam saja melihat Ana kesakitan hingga tubuhnya panas dingin seperti itu?"
"Kau meminum asi-nya?
"Ma, silahkan pikir sendiri, jangan pura-pura tidak mengerti!"
"Ya ampun anak ini!" ucap mama sambil menonyor kepalaku.
"Ma, sudahlah jangan berisik. Baby sudah hampir tertidur," ucapku.
"Katakan, kau benar minum ASI istrimu?" bisik mama, astaga nenek ini pura-pura bodoh atau bagaimana. Mengapa masih terus membahasnya.
"Iya mama, bahkan langsung dari pabriknya!" ucapku kesal.
(Aduh detil sekali π€£π€£π€£)
"Astaga Yoshi, papamu akan terkejut jika mengetahui hal ini."
"Memangnya apa yang aneh? Yoshi tidak semesum itu Ma, please!" ucapku, kesal sekali melihat ibuku terkejut seperti itu sungguh sangat lebay.
"Dengar, sejak bayi kau bahkan tidak pernah mau meminum ASI mama, kau selalu muntah dan alergi," ucap mama.
"Apa?"
"Sungguh Yosh, ini sangat langka entah bagaimana kau bisa alergi pd ASI, akhirnya dokter menyarankan untuk memberimu susu formula saja," jelas mama. Aku pun terkejut mendengarnya.
"Dan sekarang kau baik-baik saja? tidak mual? tidak merasa gatal-gatal?" tanya mama masih dengan kebingunan.
"Tidak ma, Yoshi baik-baik saja."
"Apa kau minum banyak?" astaga ibuku ini kenapa sebenarnya.
"Banyak ma, bayangkan saja dari ukurannya yang membesar dua kali lipat hingga Yoshi bisa membuatnya kembali ke ukuran normal lagi. Bukankah itu banyak?"
"Astaga, banyak sekali. Dan kau baik-baik saja? luar biasa. Haha!" ucap mama sambil tertawa. Entah apa yang lucu sebenarnya.
"Lalu, kalau Yoshi dulu tidak mau meminum ASI Mama, siapa yang meminumnya agar tidak bengkak seperti Ana, ma?"
"Papamu tentu saja! Haha!" kali ini mama tertawa lebih keras lagi.
Aduh, beginilah yang terjadi jika Novel mau tamat tapi tidak boleh ditamatkan. Authornya jadi kurang bahann genkkkπ€§π€§π€§π€£
Promo promoo promo. Yuk mampir ke karya kece temanku ini.
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1637304&\_language\=id&\_app\_id\=2