
Saat ini aku memasukki tahun ke-dua kuliahku dan aku mengalami beberapa perubahan dari segi fisik dan psikis dan penampilanku pun bisa dibilang berubah drastis . Aku banyak melatih kekuatan fisikku seperti mengikuti Taekwondo, karate dan beberapa jenis olahraga bela diri lainnya.
Aku sadar bahwa lawanku bukanlah orang biasa, semua ini hanya untuk berjaga-jaga saja jikalau suatu hari nanti kami perlu beradu fisik.
Mungkin tak banyak yang berubah dari wajahku. Tetapi dari segi postur, tubuhku ini berkembang pesat karena aku rutin mengikuti Gym .
Sejak aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia, dan meneruskan pendidikanku di Jakarta aku mulai belajar banyak hal tentang pengembangan bisnis.
Sementara itu mama memutuskan untuk tetap tinggal di London, bersama opa yang masih terbaring sakit di Ruang ICU. Entah ini sampai kapan, yang pasti aku yakin opa akan kembali pulih seperti sedia kala.
Kini bisnisku tidak hanya berkembang di bidang IT tetapi juga di bidang lainnya, aku juga melakukan investasi di beberapa bidang usaha.
Salah satunya adalah bidang Perhotelan dan Pariwisata, bahkan kafe-kafe kecil pun tak luput dari sasaran investasiku.
Tujuanku hidupku sekarang hanyalah belajar, bekerja dan juga balas dendam. Kadang aku merasa ini bukan diriku, aku bukan orang yang kejam dan jahat, namun keadaan lah yang memaksaku untuk melakukannya.
***
"Tuan, saya ingin mengabarkan bahwa Nona saat ini sedang melanjutkan pendidikannya di Jogja, di salah satu Universitas Pariwisata dan Perhotelan," kata David sambil menyerahkan kertas berisi laporan tersebut lengkap dengan foto Ana di sana.
"Dari mana Dia dapatkan uang untuk mendaftar?" tanyaku.
"Untuk itu Saya kurang tahu Tuan, yang jelas biaya administrasi di kampus ini cukup terjangkau ," jawab David,
"Pantas saja Ana bisa masuk ke sana," batinku
Aku memeriksa laporan tersebut, Kupandang foto Ana sedang berada di sebuah kafe, terlihat Dia sedang bekerja sebagai Barista di sana.
Meskipun dia terlihat lebih kurus dari sebelumnya tetapi aura kecantikannya tak pernah memudar.
"Kafe ini sepertinya sangat familiar, apa kau tau tempat ini?" Aku bertanya pada David sambil menunjuk foto Ana di kafe tersebut.
"Tentu saja Tuan, ini adalah Kedai Kopi Kopitayo salah satu Kafe tempat Tuan berinvestasi di Jogjakarta" Kata David, mengingatkanku.
Benar saja, aku hampir lupa karena saking banyaknya tempat usaha yang menerima investasi dariku
Kupikir Ana sedang berusaha menghindariku tetapi kenyataannya dia masih saja berada dalam lingkaran hitam buatanku, bahkan masuk ke sana atas kemauannya sendiri dan membuatku tak perlu repot-repot lagi untuk menjebaknya.
Mari kita lihat bagaimana responnya setelah mengetahui siapa aku sebenarnya.
Entah mengapa aku merasa sedikit bersalah padanya, seharusnya bukan Ana yang harus di hukum untuk kesalahan Ayahnya, tetapi mau bagaimana lagi, hatiku sudah terlampau sakit menanggung semua ini sendiri.
Aku memutuskan untuk terbang ke Jogjakarta hari ini. Aku inginkan melihat bagaimana perkembangan bisnisku di Kota Klasik itu.
****
Setibanya di Bandara Adisucipta Jogjakarta , aku menginap di sebuah hotel bintang empat. Jujur saja sebenarnya Hotel ini sudah hampir bangkrut dahulu , karena penilik saham utamanya menawarkan untuk menjual hotel ini, Aku pun tertarik untuk membelinya lalu merenovasi Hotel ini, namanya pun telah berganti dengan Y.A Luby Hotels Dan Resort tentu saja ini sesuai dengan namaku.
"David, setelah ini bawa aku ke Kedai Kopitayo " kataku pada David yang sedang menyetir mobil.
"Baik Tuan, apakah Tuan ingin bertemu dengan Nona Ana? " tanya David kepadaku, sungguh Asisten yang sangat kepo.
"Jangan banyak tanya, lajukan saja mobilnya dengan benar! " kataku, jujur saja aku malu untuk mengangkui jika aku memang ingin bertemu dengan Ana.
Sungguh aku tak bermaksud membentaknya tetapi entah mengapa beberapa tahun terakhir ini emosiku sangat mudah sekali tersulut.
***
Setelah beberapa menit berselang, tibalah kami di Kedai kopi bernama Kopitayo. Sebuah Kedai yang kecil tetapi unik, bahkan nama Kafe tersebut diambil dari bahasa Tagalog yaitu Bahasa Nasional Filipina.
Pemilik kafe ini bernama Natalia Rodrigo, seorang blasteran Jawa-Filipina, Awalnya aku menawarkan investasi pada satu kafe ini saja untuknya ,tetapi investasi berlanjut hingga aku berhasil membukakan cabang Kedai Kopi miliknya itu ke beberapa Kota-Kota besar di Indonesia.
Lia pun sangat bahagia dengan semua itu, dan tak henti-hentinya berterima kasih kepadaku, dengan pembagian laba yang adil dan seimbang , usaha Kafe ini pun semakin berkembang pesat, mengingat banyaknya Coffee Lovers di Indonesia.
Aku berjalan memasuki area kafe itu, kulihat Ana sedang sibuk meracik kopi pesanan customers.
Sungguh malang, demi untuk meluniasi hutang kedua orang tuanya, dia harus bekerja paruh waktu seperti ini, belum lagi tugas kuliah yang harus dikerjakannya.
"An, jika saja ayahmu tidak berulah kau pasti tidak akan sengsara seperti ini," gumamku dalam hati, namun amarahku kembali memuncak jika mengingat kondisi mama dan opa, rasa belas kasihanku pada Ana pun menghilang.
Aku berjalan menghampiri stand Coffee Maker nya , dengan masih mengenakan masker dan kacamata hitam.
"Buatkan aku cappuccino dengan Art " perintahku, sejenak dia memandangku namun hanya padangan biasa, tetapi sorot mata indah itu tidak pernah hilang dari wajahnya yang cantik.
Dia pun menanyakan siapa namaku, dan aku menjawabnya dengan singkat.
"Yoshi" jawabku, aku sengaja menyebutkan nama singkatku. Tetapi sepertinya dia belum menyadari siapa diriku.
Setelah menyebutkan namaku, Aku pun kembali ke tempat dudukku.
Beberapa menit kemudian......
Seorang waitress datang mengantarkan cappuccino pesananku, aku tidak ingin wanita ini yang mengantarkan kopiku.
Akhirnya aku berhasil membuat keributan, aku menelepon Lia dan memarahinya habis-habisan dengan alasan pelayanan di Kafe ini cukup buruk.
Lia datang ke Kafe dan langsung meminta maaf kepadaku, setelah itu dia langsung berlari ke arah Supervisor Kafe ini.
Aku memarahi Lia dan Lia memarahi Alex, akhirnya mereka akan memarahi Ana, Barista Kafe ini yang tentu saja tidak bersalah sama sekali. Ini sungguh Pemandangan yang luar biasa menyenangkan untukku.
Tanpa menunggu lama gadisku itu pun datang dengan membawa cappuccino pesananku. Sangat anggun, bagaimana bisa seorang Barista meninggalkan stand Coffee maker nya demi untuk satu pelanggan konyol sepertiku.
"Maaf Tuan, ini kopi pesanan anda, apakah ada hal lain yang bisa saya lakukan untuk anda? " katanya sambil menyodorkan secangkir cappuccino ke mejaku.
"Duduk, temani aku " jawabku sambil kulepas masker dan kacamata yang kukenakan.
Dia tampak, mengernyitkan dahinya ketika melihat wajahku, aku sempat berfikir apakah Ana mengenaliku.
"A-apa Tuan? " tanyanya dengan masih mengernyitkan dahinya, membuat mata cantiknya itu semakin menggemaskan.
Aku bernafas lega, ternyata Ana tidak mengenaliku, jika saja dia tahu bahwa aku adalah Ikau, tentu saja semua persiapanku ini akan sia-sia.
Aku tak peduli, dengan apa anggapan Ana terhadapku, di matanya aku hanyalah seorang Rentenir yang sedang menghisap darahnya dan darah Ibunya karena kenaikan bunga pinjaman yang terus kulakukan setiap bulannya, tak apa inilah tujuanku yang sesungguhnya.