
Yoshi POV
Lidahku kelu mendapati Ana yang kian menjadi-jadi, seharusnya aku yang menyerangnya terlebih dulu. Awalnya aku merasa ini seperti bukan Ana, tetapi aku salah nyatanya akulah yang merasa ini bukan diriku.
Aku bahkan tak mampu menggerakkan tubuhku karena terpesona dengan perlakuan Ana, ia mirip seperti wanita penggoda tetapi berwajah polos sungguh lucu untuk didiskripsikan. Istriku yang lurus sekarang sedang mencoba berbelok. Tapi tak apa, saat ini dia sedang menggoda suaminya sendiri.
Jika ini hanya mimpi, maka aku rela untuk tidur sepanjang masa. Agar momen ini tidak berakhir. Dia semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku.
Ayolah Yosh, bergeraklah!
Bukankah ini momen langka? Serang dia Yosh! ah, kau bodoh sekali, lihatlah betapa indahnya makhluk di hadapanmu itu! Dasar lemah!
gumanku dalam hati.
Ana menampakkan kaki jenjangnya di hadapanku, ini sungguh menyiksa 'benda itu' sebab keteganggannya sudah di ambang batas. Tak hanya itu belahan dada itu pun semakin nampak di depan mata nakalku.
Ana mendekat, memperjelas wajah cantik yang berbalut make up bold itu.
Ah, gadisku yang lugu. Apapun yang kau kenakan atau tidak kenakan, dirimu selalu membuatku menginginkanmu.
Hingga satu kalimat mencengangkan keluar dari bibirnya.
"Mas, bolehkah?" Bisik Ana.
(Aduh genk! kaku perutku ngetik kalimat ini. 🤣🤣)
"Bo-boleh kah?" ucapku terbata, bodohnya aku malah balik bertanya.
"Hmm..." Ana mengangguk dan kini ia berpindah tempat duduk dari meja kerjaku ke pangkuanku. Entah ia merasakan sesuatu yang mengeras itu atau tidak.
(Aaa tidak!!🤣)
Seketika ketegangan di seluruh area sensitif mulai tak terkontrol, aku mulai gugup. Pasalnya Ana tak pernah seperti ini. Beberapa kali dirinya pernah menggodaku tetapi tidak segila ini.
Aroma perfume berbahan white rose dan vanilla dari tubuhnya mulai memabukkanku. Membuatku ingin segera menelannya hidup-hidup.
Sementara tangan kanannya ia lingkarkan ke leherku. Kini mata kami saling bertemu. Tangan kirinya pun membelai dadaku dan memainkan dasiku, melilitkan kain itu pada genggaman tangannya.
Dan dengan kuat dia menariknya ke arah wajahnya, hingga membuat jarak wajah kami semakin intim, aku bisa merasakan hembusan nafas itu. Nafas yang memburu.
Bulu mata lentiknya sesekali menyentuh kulit pipiku saat matanya berkedip. Saat itu pula sensasi geli menyerang. Bukan hanya di area wajahku tetapi juga area yang lainnya.
Dia nyaris menempelkan bibirnya ke bibirku sebelum akhirnya bunyi telepon menggagalkan adegan dramatis ini. Haha, entah ini dramatis atau romantis aku tak tau yang jelas ini sangat menegangkan tapi menguntungkan.
"Sayang, aku angkat telepon dulu ya," ucapku dengan posisi yang tak berubah. Ana tidak mengucapkan sepatah katapun. Namun, ia melonggarkan lilitan dasiku pada tangannya agar aku bisa menerima panggilan yang mengganggu itu.
"Halo, selamat pagi tuan," ucap David dari telepon.
"Ya David, ada apa?" tanyaku sambil menatap Ana yang kini bersandar di dadaku. Dan mulai menciumi leherku dengan lembut, hingga membuatku mendesaah kecil.
"Tuan, anda kenapa?" tanya David khawatir mendengar desahaan itu.
"Ah, tidak apa David. Apa ada masalah?" tanyaku. Ah, jika saja dia tau apa yang sedang terjadi di ruangan bosnya saat ini.
"Tuan, lima menit lagi presentasi akan dimulai?"
Aku ingat jika sebentar lagi aku harus memimpin meeting. Tapi, bagaimana dengan Ana.
Dia tidak selalu seperti ini. Bukankah akan sangat disayangkan jika ini harus kulewatan.
"Mas, ada meeting ya?" tanya Ana menghentikkan kecupannya di leherku.
"Iya sayang," kataku sambil membetulkan posisi duduk kami.
"Ya sudah, Mas pergi meeting saja," ucap Ana bibirnya berkata untuk melepasku tetapi tidak dengan tangannya yang mulai menuruni kancing kemejaku. Jemari lentik itu semakin merayap ke bawah dan ke bawah. Hingga tepat di pusat benda itu.
Lagi-lagi bibirku mendesis tanpa sadar.
"Tuan, sejak tadi anda memekik. Apa anda baik-baik saja?" tanya David, dasar bodoh ia tak bisa membedakan antara pekikan dan desahaan.
"Emm David, sepertinya penyakit gerd-ku kambuh. Apa kau bisa memimpin rapat?" mau bagaimana lagi, aku tak ingin kehilangan kesempatan emas ini.
"Baiklah tuan, apa anda perlu sesuatu?" tanyanya lagi.
"Tidak, aku tidak perlu apa pun. Hanya pastikan saja tidak ada yang menggangguku. Aku sedang ingin beristirahat."
"Baik tuan."
Dengan beberapa kancing terbuka. Kutatap wajah istriku, saat aku ingin menciumnya ia malah mengalihkan bibirnya ke telingaku.
"Mas, jangan di sini... "
Suara itu begitu lembut dan penuh gair*h
(silahkan dibayangkan sendiri 🤣)
Aku pun menahan tangannya dan menggenggamnya.
"Iya, aku tau sayang. Di sini ada CCTV," ucapku. Tentu saja aku akan mematikannya, tapi sepertinya Ana risih jika melakukannya di sini.
Aku pun membawanya ke ruang kecil di dalam ruanganku. Semacam cabin minimalis untukku beristirahat jika tidak sempat pulang. Ada bed lengkap dengan amenitiesnya.
Ana mendorong tubuhku ke tempat tidur dengan kasar. Hingga membuatku semakin bersemangat, sepertinya istriku itu sedang diselimuti kekhilafan.
Dia menindihku dan mulai membuka kancing bajuku satu-persatu. Hingga dadaku terekspose jelas, Ana pun membelainya mengikuti setiap lekukan di perutku.
"Mas, kau sangat seksi," ucapnya lirih. Dia terus bermain di sana hingga membuatku mulai terhanyut.
"Ya sayang, aku milikmu seutuhnya," ucapku sambil membelai pipi bersemu merah itu.
"Benarkah? Lalu apa saja yang telah kau lakukan dengan Sarah kemarin?" Pertanyaan Ana membuatku tersentak.
"Tidak ada sayang,"
"Tapi ia menyandarkan kepalanya di lenganmu seperti ini Mas," ucapnya sambil merebahkan kepalanya di dadaku. Kedua bukit kencang itu pun sukses menempel pada dadaku yang telanjaang.
"Iya sayang, hanya itu. Itu hanya sandiwara," jawabku sambil menikmati sentuhan jarinya yang berputar di area dadaku.
"Apa dia juga menciummu seperti ini?" tanya Ana sambil mencium pipiku mesra.
"Apa dia juga mencium bibirmu seperti ini?" Dia pun menciuum bibirku, aku tak sabar ingin membalasnya. Namun dia terlalu cepat melepasnya.
"Aku akan menghapus semua jejaknya dengan jejakku Mas," ucap Ana dengan suara parau. Aku menahan sensasi geli dan hangat saat ia benar-benar mencetak noda kebiruan di leher dan sekitar dadaku.
Astaga, aku sudah tidak bisa lagi menahannya. Segera kurengkuh tubuh ramping itu dan kini akulah yang berganti menindihnya.
"Giliranku sayang," ucapku sambil membelai kulit mulus itu.
Tangan ini dengan sigap membuka kancing baju Ana. Tetapi dia menahan tanganku. Sial, sejak tadi pemandangan indah ini hanya bisa dilihat tanpa bisa kusentuh.
Ana kembali merengkuh tubuhku dan dia pun kini kembali menindihku. Mengunciku agar tidak bisa bergerak. Ya ampun, sepertinya dugaanku benar. Istriku ini sedang kerasukan setan mesum.
"Mas, pejamkan matamu. Biarkan aku melepaskan segala keinginan terpendamku. Setelah itu, kau bebas, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan padaku," ucap Ana.
Tentu saja, dengan senang hati aku menurutinya, aku ingin membuktikan bagaimana Ana memimpin permainan karena setelah itu akulah yang akan menguasai penggoda manis ini.
"Mas pejamkan matamu, sayang," ucapnya lagi.
Dalam mata tertutup, aku bisa merasakan sentuhan tangannya di area bawahku. Entah apa yang ia lakukan di sana. Tetapi hembusan nafasnya mulai terasa mendekat ke wajahku.
"Mas, aku mencintaimu," bisiknya sambil mencium pipiku dengan lembut.
Sepersekian detik, tiba-tiba terdengar suara pintu tertutup.
Ceklek
Aku pun membuka mata. Dan tak kudapati sosok istriku. Dia menghilang..
"Sayang," kataku sambil bangkit dari tempat tidur.
"Lanthana, kau ingin bermain rupanya ya?" ucapku geram.
Ana benar-benar kabur dan meninggalkanku yang telah ternoda tanpa terpuaskaan ini.
Kupandangi tubuhku yang dipenuhi dengan noda-noda ciptaannya. Leher dan wajahku pun penuh dengan lipstik. Oh, jadi ini alasannya ia memakai lipstick merah menyala tadi.
Ah sial, kancing kemejaku pun lepas entah kemana, untung saja ada beberapa baju ganti di ruangan ini.
Awas kau An, aku akan membalasmu!
Kini aku siap untuk mengejarnya, namun saat hendak meraih kunci mobil dan dompet di saku celanaku. Semuanya hilang, beserta kartu debit dan segala macam kartu penting milikku.
An, kau benar-benar mengujiku hari ini. Aku bisa saja memberikan semua milikku untukmu tanpa syarat, tetapi kau harus menyelesaikan apa yang kau mulai hari ini sebagai 'penggoda manisku'