
Yoshi POV
"Tentu aku memikirkan Shian An, kau dan anak kita tidak pernah hilang dari pikiranku sedetikpun," ucapku lirih sambil menatap kepergian istriku dari ruangan ini.
Aku kembali menyelesaikan pekerjaanku. Ini sungguh gila, bagaimana bisa semua clients mengajukan reaktualisasi sistem pada perangkat lunak di perusahaan mereka secara bersamaan.
Dan mereka mengancam akan menghentikan segala bentuk kerja samanya dengan Lubyware group. Jika aku gagal menuntaskan permintaan mereka dalam seminggu. Bukannya aku tak mampu, aku hanya tidak menyangka saja, jika apa yang kukira 'sudah selesai' saat itu, ternyata masih menyisakan akar.
Baiklah, mari kita babat habis akar kepar*t itu. Hingga tak ada yang tersisa di muka bumi ini baik pohon, daun dan apa pun bagian darinya yang masih menyisakan masalah untuk keluarga Luby.
Sungguh wanita ular yang malang, aku akan meladenimu. Mari kita lihat siapa yang sedang dibodohi dalam drama ini. Aku bahkan harus berdebat hebat dengan istriku karenamu. Kau harus membayarnya, jangan salahkan diriku jika nanti Lanthana tak menyisakan sehelai rambutpun di kepalamu.
Ingatan tentang kemarahan Ana begitu merusak konsentrasiku. Seandainya saja aku bisa menjelaskan semuanya padanya. Jika saja ia bisa bersabar sedikit dan berhenti menarik kesimpulan berdasarkan egonya.
Sungguh An, aku hanya sedang dalam masa yang sulit untuk dijelaskan, aku tak ingin semua rencanaku gagal. Tapi, satu yang pasti, aku, kau, Yoshianno dan keluarga kita semua akan selalu baik-baik saja.
Flashback
Hari itu kepala personalia datang ke ruanganku untuk menunjukkan CV sekretaris baru. Sebab David meminta ijin cuti selama sebulan demi menyelesaikan urusan pribadinya di Bali.
"Pak Yoshi, sekretaris yang baru sudah melakukan wawancara dengan saya hari ini. Dan ini laporannya," ucap staff personalia itu.
"Apa kau yakin dia bisa bekerja sebaik David?" tanyaku.
"Saya harap seperti itu Pak, sebab seseorang yang seharusnya datang tidak dapat hadir, sehingga saya memutuskan untuk mengambil kandidat kedua yang kebetulan hari ini datang dan memberikan surat lamaran."
"Tidak dapat hadir? Jadi maksudmu gadis ini adalah cadangan?"
"Benar Pak, saya rasa kandidat ini cukup bagus, jika dilihat dari background edukasinya," ucap staffku dengan yakin. Akhirnya aku pun menyetujuinya. Meskipun ada sedikit kecurigaan di benakku, bagaiman mungkin kebetulan seperti ini bisa terjadi begitu saja."
Keesokan harinya staff baruku itu datang dan memperkenalkan dirinya padaku. Sungguh, kesan pertama yang buruk. Aku bahkan sangat tidak nyaman melihat penampilannya. Hampir saja aku memecatnya sebelum masa kerjanya dimulai.
"Selamat pagi Pak," ucapnya dengan nada dibuat-buat. Dia memakai blazer ketat dengan kemeja dalam yang kancingnya terbuka. Rok sepaha dengan belahan yang mencolok mata.
Sungguh, jika untuk mata lelaki hidung belang, dia sangat menggoda. Bahkan orang tak perlu melihatnya dua kali hanya untuk menyatakan dirinya seksi. Dia sangat seksi karena penampilannya. Bukan karena tubuh aslinya.
Aku tak bisa membayangkan jika Ana yang memakai pakaian ini, aku bersumpah hanya Tuhan yang bisa menolongnya dari seranganku.
(candunya kumat genk 🤣🤣🤣)
"Selamat pagi, silahkan duduk," ucapku dan kami pun bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing.
"Pak, jadi kapan saya bisa mulai bekerja?" tanyanya sambil memainkan rambutnya, sungguh ini membuatku risih.
"Hmm jadi, ini pengalaman pertamamu bekerja Sarah?"
"Benar Pak."
"Saya harap, Kau tidak berkecil hati karena saya harus membatalkan perekrutan ini," ucapku dengan tegas.
"Tapi Pak, apa masalahnya? Saya mohon berikan kesempatan untuk bergabung di perusahaan ini," jawabnya memelas.
"Maaf Sarah, sejujurnya attitude dan penampilanmu ini sangat tidak memenuhi kriteria untuk bekerja di perusahaanku."
"Pak, saya mohon beri saya kesempatan, saya berjanji akan merubah penampilan dan tingkah laku saya demi bergabung bersama perusahaan ini."
Aku tak menjawabnya dan meminta security untuk membawa wanita ini keluar. Namun dengan tiba-tiba, dia mengejutkanku.
"Kak Ricko, tolong beri saya pekerjaan..."
"Kau? Kau tau nama itu?" ucapku selama ini hanya orang-orang tertentu yang biasa memanggilku dengan nama Ricko atau Ikau.
"Aku Sarah Kak, adik kelasmu di SMA dulu. Aku pun teman sekelas Ana," jawabnya. Aku tak percaya jika gadis penggoda ini ternyata mengenalku dan Ana.
"Benarkah? Maafkan aku Sarah, aku benar-benar tidak mengenalimu, bahkan kau juga teman istriku," Ana akan sangat bahagia jika mengetahui ini.
Akhirnya karena rasa kasihan aku pun menerima Sarah untuk bekerja di kantorku dengan catatan ia harus merubah penampilannya dengan lebih sopan.
Awalnya aku tak menaruh curiga padanya tetapi saat mataku tanpa sengaja melihatnya sedang berbincang dengan seseorang misterius di Lobby kantor. Saat itu juga aku memutuskan untuk mengawasi gerak-gerik gadis ini.
Hari berlalu, aku belum menceritakan tentang Sarah kepada Ana sebab aku masih memantau gadis itu, terlebih sikap Sarah kepadaku sangatlah meresahkan, beberapa kali ia mencoba menggodaku.
Keesokan harinya tiba-tiba saja ribuan email dari clients masuk dan memintaku untuk mengadakan meeting darurat. Mereka ingin agar meeting itu diselenggarakan di Bandung. Aku pun menyetujuinya dan meminta Sarah untuk menemaniku.
Aku masih curiga, bagaimana mungkin para clients itu secara bersamaan memintaku untuk mengupgrade software dengan waktu singkat. Ini sangat tidak masuk akal. Kulihat komputerku dan memeriksa data penting di sana.
Tercatat ada tiga puluh kunjungan pada data yang berisikan daftar nama clients di perusahaanku, ini mulai tidak beres, bahkan sejak kemarin aku belum mengunjungi data ini. Itu berarti seseorang sedang mempermainkanku.
Segera kuperiksa CCTV ruangan. Sial, kamera telah dimatikan. Aku tak bodoh, aku selalu selangkah lebih maju dari pada musuhku. CCTV lain yang terpasang tersembunyi masih aman.
Dalam rekaman itu, kulihat Sarah masuk ke ruanganku dengan mengendap. Dia tampak sibuk mengotak-atik komputerku, kemudian ia mengambil ponselnya dan menasukkan semua data pada folder berisi daftar klienku.
Oh, jadi kecurigaanku benar. Ada yang tak beres pada gadis ini. Entah apa yang akan Dia lakukan. Mari kita beradu acting, ular betina!
gumamku
Siang hari tiba, Ana menelepon dan memberitahuku jika baby deman. Aku pun panik, pasalnya ini kali pertama anakku mengalami demam. Pikiranku mulai kalut, aku takut jika baby mengalami gejala virus yang sedang tenar itu.
Aku tak dapat mengontrol emosi saat mengetahui Ana terlalu menyepelekan kesehatan anak kami. Pikiranku terbagi menjadi dua, satu masalah ular betina kiriman musuhku itu dan yang lain karena anakku yang sedang sakit.
Dalam kekalutan, David mengirimkan pesan padaku.
...Saya tau siapa Sarah, tuan. Penyelidikan menyatakan Sarah adalah orang suruhan Albertus Lee. Putera pertama Nathan Lee, berhati-hatilah tuan. Perusahaannya sedang di ambang kebangkrutan dan dia sedang mencari celah untuk menghancurkan anda...
...David...
Albertus Lee, itukah namanu? ular kirimanmu itu begitu payah. Kau tak tau bagaimana seleraku dan malah memilih penggoda sampah sepertinya untuk menjeratku.
Saat itu juga aku meninggalkan mansion untuk kembali ke kantor, aku tau Ana bisa merasakan ketegangan yang sedang kualami, tapi aku belum bisa menceritakan semuanya padanya, jika sampai Ana tau, tentu ia akan menceritakan semuanya pada ayahnya.
Terakhir kali BIN telah memanfaatkanku dan Ana demi menjebak Nathan. Sekarang pun mungkin hal itu akan kembali terjadi, dari pada si kepar*t itu kabur seperti ayahnya dulu. Lebih baik aku menjebaknya dengan caraku.
Mata Ana berkaca saat menatapku pergi meninggalkannya, aku tak bermaksud mengacuhkan istriku itu, aku hanya sedang fokus menyusun rencanaku.
***
Tiba di kantor.
Ular betina itu langsung mengajakku berangkat ke Bandung, cara kerjanya sangat licik. Dia dan Albert telah menghasut para klienku itu untuk membuatku kelabakan. Tapi sayangnya mereka tidak berhasil.
Aku pun melanjutkan drama ini. Beberapa kali Sarah menggodaku dengan berpura-pura kedinginan di tengah guyuran air hujan, sungguh menjijikkan. Seandainya saja Ana yang seperti ini. Sudah pasti bukan hanya kehangatan yang kuberikan.
Akhirnya aku memberikan jasku padanya, untuk menghentikan aksinya. Dia tampak kecewa karena aku sama sekali tidak tertarik olehnya, sungguh bodoh.
Kau sama sekali bukan tipeku, Ular jelmaan!! batinku.
Malam semakin larut, dan aku harus tetap pulang, aku tak ingin Ana mengkhawatirkan diriku, malam itu juga aku dan istriku harus mengalami keributan lagi.
Sejak hari itu kami selalu saja bertengkar. Berulang kali kukatakan jika aku dan Sarah tidak memiliki hubungan apa-apa, aku pun menjelaskan jika saat ini aku dan David sedang merencanakan sesuatu demi keluarga kami.
"Mas, aku ingin bekerja!" ucap Ana.
"Untuk apa sayang? Apa uang dariku kurang?" tanyaku heran.
"Aku hanya sedang mempersiapkan diri untuk menjadi istri tua!
(😆😆😆)
"An, apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura tidak tau! bukankah kau berencana menikahinya?"
"Astaga sayang, jangan berfikir macam-macam." Aku pun pergi meninggalkannya, tak ingin pertengkaran semakin menjadi.
Hari berganti, aku masih sibuk berdrama dengan gadis bayaran itu. Aku ingin mengorek informasi tentang Albert darinya dengan berpura-pura manis kepada siluman itu.
Bahkan dia juga mengajakku untuk makan siang di sebuah restoran Asia, aku pun menurutinya, ini kesempatan bagus untuk segera menjalankan misiku.
"Sarah, aku tau siapa dirimu sebenarnya," ucapku.
"Apa maksud Pak Ricko?" jawabnya gugup. Dia mulai menunjukkan ketakutannya.
"Kau adalah suruhan Albertus bukan?"
"Saya tidak mengerti apa yang sedang bapak bicarakan," Dia masih saja berkilah.
"Aku bisa melaporkanmu kepada pihak berwajib jika kau masih saja tidak mau mengaku!"
"Ba-baik Pak, saya mengaku. Pak Albert memang telah membayar saya untuk menggoda anda. Tetapi jujur sebenarnya saat ini sayalah yang sedang tergoda oleh anda," ucapnya dengan jelas, sambil meraih tanganku.
Sial, ular ini bahkan lebih berbisa dari yang kukira. Baiklah jal*ng, aku akan menunjukkan jika aku lebih beracun darimu.
"Tentu saja, bukankah aku lebih mapan dari pada Albert?" ucapku menanggapinya.
"Pak, apa bapak juga menyukai saya?" katanya dengan wajah berbinar.
"Haruskah aku menjawabnya? jika kau memang tertarik padaku, harusnya kau bisa membuktikannya," ucapku memulai permaianan.
"Kak Ricko, aku akan memberikan apapun yang kupunya untukmu."
"Benarkah? coba katakan apa yang sedang direncanakan oleh Albertus padaku?"
Ia tampak ragu untuk menjawabnya, sungguh wanita murahan.
"Sarah sayang, coba katakan padaku semua yang kau tau. Agar kita bisa memulai hubungan ini segera," bujukku.
Dia tersenyum manja mendengar rayuanku. Akhirnya ia menceritakan semua rahasia dan rencana busuk Albertus dan perusahaannya.
Aku tersenyum dalam hati. Umpan dari musuhku ini kini telah berbalik menyerang dirinya sendiri.
Sementara tanganku di bawah meja sibuk merekam apapun yang ia katakan.
Kami terus mengobrol hingga seorang pelayan menumpahkan air ke pakaian Sarah. Sarah sangat marah dan meminta untuk bertemu dengan manager restoran itu.
Manager mendatangi meja kami. Sekilas aku tak asing dengan sosok wanita cantik itu. Hingga dia semakin mendekat. Senyuman itu, bibir tipis itu langsung terasa mencekik leherku.
Perempuan berpakaian formal dan elegan itu dengan nama dada
...Lanthana...
...Maitre D'Hotel...
Kini berada di hadapan kami.
"Selamat siang Bapak dan Ibu, saya Lanthana Manager restoran ini, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya dengan santai tetapi aku bisa melihat tangannya mengepal 'dan bergetar.
Astaga, Ana benar-benar bekerja, jadi dia tidak sedang main-main saat itu.