LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 97





Syeira telah siap dengan gaun putih yang sangat cantik. Ia terlihat begitu sangat mempesona. Aura nya keluar bak seorang ratu.



Syeira merasa sedikit bingung dengan yang terjadi. Meldy membawanya ke sebuah hotel bintang 5 dan tiba-tiba beberapa orang mendandaninya.



Dan Meldy membawa Syeira ke tengah aula yang sudah terdekorasi menjadi sebuah pesta yang mewah. Semuanya bernuansa putih.



Begitu banyak orang-orang penting yang menjadi tamu undangan mereka. Dan bahkan para reporter yang sudah berbaris rapih di tempatnya untuk menyorot setiap detail acara. Termasuk ada Bim disana dari Channel *Melavers*.



"Meldy.? Ini ada apa.?"



Jelas Syeira merasa sangat bingung, ia datang kesebuah pesta megah tanpa terencana.



Syeira membulatkan mata ketika melihat ibu panti dan saudara-saudaranya beserta adik-adik kecilnya yang duduk di kursi-kursi sambil melambai ke arahnya. Syeira lekas membalas lambaian tangan mereka dan tersenyum.



Lampu-lampu Flash kamera berkelebat seperti kilap ke arah Syeira ketika ia datang. Syeira sampai harus menutup mata menerima silaunya cahaya-cahaya itu. Dan Meldy yang terus menuntunnya memegang nya semakin erat.



"Kau ini bagaimana.? Kau ini mantan Reporter.? Bagaimana bisa tidak tahan dengan flash kamera.?"



Meldy menggerutu karna Syeira semakin tegang. Dan bahkan memalingkan muka.



"Bersikaplah anggun, kalau tidak, gambarmu akan terlihat jelek nanti di laman berita.?"



Meldy terus bercekcok memarahi Syeira.



Syeira sudah berdiri di depan stage. Ia melihat Cellin yang duduk di kursi roda, Cellin terlihat sangat cantik, Zico berada di belakangnya. Mereka tersenyum dan melambai. Syeira membalasnya.



Keluarga dan kerabat Cellin juga ada disana. Entahlah, ada begitu banyak para tamu undangan.



Ada dua layar LED yang terpampang, yang pertama menunjukkan video Aryan dan Ayla yang berada di Brazil. Itu adalah sambungan video Call. Dan layar LED yang kedua menunjukkan gambar Syeira dan Arend saat mereka menikah. Tapi beberapa karangan bunga besar bertuliskan Happy Birthday Syeira. Happy Birthday my wife.



Meldy menuntun Syeira naik keatas stage yang berkarpet merah tapi nuansa backgroundnya serba putih. Bunga-bunga indah menghias seluruh ruang.



Tiba-tiba Arend datang dengan begitu gagah dan tampannya. Naik ke atas stage menghampiri Syeira.



Arend memainkan sebuah alat musik biola. Dengan nada lembut dan membuat candu telinga yang mendengarnya. Itu adalah nada dari sebuah lagu penuh cinta.



Syeira merasa sangat kaget dan terharu, matanya sudah berkaca-kaca, tangannya menutup mulutnya yang terperangah. Ini luar biasa. Suatu kejutan yang megah, mewah dan romantis.



Arend telah selesai memainkan biolanya. Meldy mengambil alih biola dari tangan Arend. Ia lantas turun dari stage berdiri di dekat Zico.



"My L. I Love You, Aku tahu kau pasti tahu itu. Tapi aku ingin mengatakan itu di depan semua orang, aku ingin memberitahu seluruh dunia bahwa kau adalah cinta dan hidupku. Kau adalah istriku.!" Suara Arend menggema di seluruh ruang, ada sebuah Clip on di jasnya.



Semua orang bertepuk tangan. Syeira sudah meneteskan air matanya haru.



Arend mendekatkan wajahnya pada wajah Syeira. Kedua tangannya menyentuh lembut wajah Istrinya itu, Syeira memegang pinggang Arend. Dan dengan pelan dan lembut Arend menautkan bibir nya dengan bibir Syeira di depan semua orang.



"Happy Birthday My L.? I Love you.?"



Kembali semua orang bertepuk tangan.



"I Love you too.!"



Syeira dan Arend saling berpelukan. Tak lama kemudian. Musik di putar, DK datang menyanyikan sebuah lagu ulangtahun di depan stage.



Syeira lekas menoleh. Ia sedikit heran. Tapi ia merasa senang. Ternyata hubungan DK dan Arend semakin membaik.



Semua orang bertepuk tangan.



4 pelayan pria datang mendorong meja roda yang terdapat kue ulang tahun di atasnya.



Saatnya memotong kue. Ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Syeira. Hari yang bersejarah penuh cinta.



Arend menyatakan cintanya didepan seluruh dunia. Memperkenalkannya sebagai istrinya. Dan bahkan kejutan pesta ulang tahun yang mewah. Syeira merasa sangat senang.



Cellin, Zico. Meldy, Zid dan DK, semua ikut merasa senang dalam suasana acara ini.




Saatnya ke acara selanjutnya.



Arend mengulurkan tangan pada Syeira. Ia mengajak istrinya itu untuk berdansa di altar yang sudah tersedia di tengah-tengah mereka. Dan tentu Syeira menerimanya.



"Sayang.? Bolehkah aku juga berdansa.?" Cellin bertanya pada Zico. Menurutnya ini adalah acara yang luar biasa. Cellin tak kan menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin ini akan menjadi salah Satu kenangan terindah nantinya untuk Zico saat Tuhan sudah memanggilnya kembali.



"Kau ingin berdansa.?" Zico bertanya lembut. Dan Cellin mengangguk.



"Tapi nanti kalau kau sudah merasa lelah, kau harus bilang ya.?"



"Em em.!" Cellin mengangguk. Zico dan Cellin pun ikut menyusul Arend dan Syeira yang sudah terlebih dulu berdansa.



Meldy berdiri seorang diri. Senyumnya sangat lebar dan tulus melihat sahabat-sahabat nya yang sudah begitu bahagia dengan kisah cinta dan pasangan mereka.



"Mau dansa bersama ku.?" ***DK***.



"Berdansalah denganku.!" ***Zid***.



DK dan Zid secara bersamaan menghampiri Meldy dan mengajaknya untuk berdansa. Meldy terdiam.



'*Apa-apa an ini*.?'



Zid dan DK saling menatap. Zid menatap DK tajam penuh kekesalan. Ada amarah dalam sorot matanya. Sedangkan DK begitu santai menanggapi sorot mata Zid padanya yang seperti ingin membunuh.



Meldy bergerak. Ia akhirnya memilih untuk menerima uluran tangan DK yang mengajaknya untuk berdansa.



Hati Zid sangat sakit, Meldy benar-benar telah mengabaikannya. Zid menatap nanar pada Meldy yang kini berada dalam pelukan Pria lain, tepat di depan matanya. Zid terus menatap mereka dengan kekalahan.



"Kau jangan salah paham, Tuan DK.? Aku hanya terpaksa melakukan ini.!"



Meldy berbisik di telinga DK. Ia tak ingin ada salah paham. Dan Meldy menegaskannya.



DK tersenyum sinis.



"Diamlah, Nona.? Dan nikmati permainannya. Kau mungkin belum tertarik padaku saat ini. Tapi kita tidak pernah tahu. Mungkin kau akan jatuh hati padaku esok hari.!"



DK membalas ucapan Meldy sangat pede dengan berbisik di ceruk lehernya.



Tapi itu semua justru terlihat seperti sebuah pelukan erat yang sangat mesra di mata Zid. Hingga membuat Zid merasakan sakit yang begitu parah. Hati Zid serasa berdarah-darah. Itulah rasa cemburu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Cemburu yang mampu membunuh tanpa menyentuh. Menyiksa tanpa luka.



Zid pergi dari sana dengan kesal. Ia meninggalkan gedung acara itu di iringi tangisnya yang pilu karna kehilangan orang yang sangat dicintainya.



Zid baru menyadari betapa ia sangat mencintai Meldy, betapa kini ia telah kehilangan sosok wanitanya yang centil. Wanitanya yang ceria. Wanitanya yang agresif dan mendominasi.



Zid menyesali semuanya. Ingin rasanya Zid mengulang kembali masa-masa indah yang lalu saat bersama Meldy. Zid terpuruk dalam luka dan rindunya.



Meldy melihat Zid yang pergi. Jantungnya berdetak hebat. Cinta itu memang masih singgah dan bertahta begitu megah dalam istana hatinya yang telah hancur porak poranda akibat pengkhiatan Zid. Meldy terus menatapnya.



"Berhenti menatapnya. Ia bahkan mendesah dibawah $3!\_4n9kan94n wanita lain di depanmu.!"



'*Deg*.'



Meldy spontan mendorong tubuh DK yang berdansa dengannya. Jantung Meldy serasa berhenti berdetak ketika DK mengatakan kalimat itu. Mengingatkan kembali akan bayangan kehilangan Zid dan Zizi.



Meldy mundur dan berhenti berdansa. Ia memilih untuk duduk di kursi. Meminum sedikit minuman dan DK mengikutinya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Zid naik kelantai gedung hotel paling atas. Melihat pemandangan pusat kota dimalam yang terasa kelam.



Di kedua tangannya ia sudah memegang 2 botol minuman. Zid mabuk. Zid ingin menghilangkan rasa sakit di hatinya. Dalam kesepian. Kesendirian. Kesunyian. Dan minuman.



"**Aku mencintaimu, MELDY**.?"



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...