
Nampak seorang pria paruh baya berjalan di sepanjang koridor sekolah miliknya.SMA JAYA PUTRA.Ia adalah pemilik dari sekolah itu yang tak lain adalah Ardi Bramana.Para guru dan staf di sekolah itu menyambutnya dengan antusias kepada tuan Ardi Bramana.
"Selamat pagi pak Ardi Bramana".sambut Kepala Sekolah yang bernama Renald.
"Pagi pak".jawab Ardi Bramana dengan ramah.
"Mari silahkan masuk pak Ardi".sambung pak Renald sambil mempersilahkan masuk.
"Makasih pak".sambung Ardi Bramana.
"Oiya pak,kalo boleh tau maksud kedatangan bapak ke sini ada apa yaa?tanya pak Renald dengan penuh kebingungan.
"Hmm begini pak saya di panggil ke sini karena anak saya yang bersekolah di sini mendapat masalah".jawab Ardi Bramana.
"Emangnya bapak punya anak yang bersekolah di sini?"tanya pak Renald itu lagi.
"Iya pak saya punya anak yang bersekolah di sini.Ia bernama Aina Khanza Bramana".jelas Ardi Bramana.
"Owhh jadi itu anak bapak.Kami baru tau pak".sambung pak Renald dengan penuh keheranan.
"Iya pak itu anak saya.Makanya saya datang ke sini karena katanya dia mempunyai masalah kemarin dan ia di suruh memberitahukan orangtuanya untuk datang ke sekolah".jawab Ardi Bramana.
"Kemarin ada foto yang tersebar dan memperlihatkan anak bapak Aina sedang bermesraan dengan om-om yang terpaut jauh dengan usianya.Dan tidak hanya itu pak dua hari sebelumnya ada juga foto yang tersebar,ia juga bersama om-om itu lagi di sebuah mall".jelas pak Renald dengan panjang lebar.
"Fotonya boleh saya lihat tidak pak?tanya Ardi Bramana.
Kepsek itu pun menyodorkan handphonenya kepada sang pemilik sekolah itu.
"Saya mempunyai satu permintaan pak?tanya Ardi Bramana kepada Kepsek itu.
"Permintaan apa itu pak?tanya kembali Kepsek itu.
"Tolong pak jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Aina itu anak saya.Dan masalah ini saya minta tidak usah lagi di perpanjang pak biar saya yang mencari tau semuanya".jawab Ardi Bramana dengan penuh permohonan.
"Oke pak kalo itu mau bapak,saya tidak akan perpanjang masalah ini lagi".sambung pak Renald itu.
"Terima kasih pak atas pengertiannya.Kalo begitu saya pamit dulu pak".ketus sang pemilik sekolah kepada pak Renald dan ia bergegas meninggalkan sekolah itu.
Lalu ia memasuki mobil Sport Aston Maritin DB11 salah satu merek pengeluaran terbaru dari Sport.Di perjalanan ia terus memikirkan permasalahan yang di timpa oleh putri angkatnya itu.Ia mengambil handphonennya dan terlihat ia menghubungi seseorang yang entah itu siapa.
"Halo bisa kita ketemu sekarang?ucap pria paruh baya itu di handphonennya.
"Terima kasih atas waktunya.Nanti tempat pertemuannya saya shareloc".ujar lagi pria paruh baya itu dan mematikan handphonennya.
Di salah satu Restoran mewah di kawasan Jakarta terlihat seorang Ardi Bramana sedang menunggu seseorang.Sembari memainkan handphonennya,akhirnya seseorang yang ia tunggu datang.Seorang lelaki yang mungkin hampir seumuran dengan putri angkatnya yang memiliki poster tubuh yang tegap.Terlebih lagi raut wajahnya yang terus mengukir senyuman yang indah.Ya seorang lelaki itu bernama Bagas Wijaya.Ia merupakan detektif kepercayaan keluarga Ardi Bramana.
"Selamat siang Bagas".sapa Ardi Bramana sambil mempersilahkannya duduk.
"Siang juga om Ardi Bramana".balas sapaan Bagas Wijaya yang sudah akrab dengan keluarga Bramana dan tak lupa dengan senyumannya itu yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Mau pesen apa Bagas?tanya pria paruh baya itu.
"Orange jus aja om".jawab Bagas dengan ramah.
Pria paruh baya itu pun memanggil pelayan dan langsung memesannya.Sambil menunggu pesanan,mereka berdua nampak sibuk dengan handphonennya masing-masing.
Keadaan menjadi hening.Keheningan itu terpecah sembari seorang pelayan datang membawa pesanan mereka.
"Kamu bisa aja sihh Gas.Orang udah tua kek gini masih aja di bilang ganteng.Emang ya sifat humoris kamu tuh ka gak hilang-hilang juga.Padahal kalo di pikir papa kamu orangnya sangat cuek dan dingin.Berbanding terbalik dengan sifat kamu"..jawab Ardi Bramana itu sambil tertawa.
"Hehehehe....kalo di pikir iya juga sih om".ujar Bagas dengan sedikit tertawa.
"Oiya Gas.Ngomong-ngomong kamu masih belum punya pacar?tanya Ardi Bramana sambil meminum Teh hangatnya itu.
"Belum om.Mungkin aku jelek jadi sampai sekarang masih jomblo".jawab Bagas.
"Siapa bilang kamu jelek. Kamu itu laki-laki pekerja keras,bertanggung jawab.Apalagi kamu punya sifat yang sedikit humoris gitu.Masa iyaa kamu gak bisa naklukin hati cewek".sambung pria paruh baya itu dengan sedikit ledekan kepada lelaki di hadapannya itu.
"Udah banyak om cewek yang aku deketin tapi malah lari semua".ketus Bagas dengan sedikit lawakannya.
"Hahahaha Bagas...Bagas..Oiya om punya anak cewek yang mungkin hampir seumuran denganmu".jelas Ardi Bramana dengan senyumannya.
"Maaf sebelumnya om kalo saya lancang.Emang om udah punya anak?Perasaan saya sudah lama bekerja sama keluarga om tapi setahu saya om belum punya anak."tanya Bagas dengan sedikit gugup.
Bagas Wijaya memang sudah sangat lama bekerja di keluarga Bramana.Ia tahu semua seluk-beluk keluarga tersebut.Bahkan Bagas Wijaya sudah menganggap mereka sebagai keluarganya.Tapi masalah seorang Ardi Bramana mempunyai seorang anak ia belum ketahui karena akhir-akhir ini ia melanjutkan kuliahnya di luar negeri.
"Iya Gas om sudah punya anak mungkin sekitar seminggu om membeli anak dari temen om karena mereka membutuhkan uang".jelas pria paruh baya itu dengan datar.
"Orang tua macam apa coba itu yang tega ngejual anaknya sendiri.Saya masih gak bisa ngebayangin om kalo orang tua seperti itu masih ada".sambung Bagas dengan raut wajah yang tidak percaya.
"Om juga pertama gak percaya Gas tapi emang gitu sudah kenyataannya".jelas Ardi Bramana.
Bagas hanya mengangguk ucapan pria paruh baya itu sambil meminum orange jus nya.
"Gas kamu mau tidak om kenalin sama anak om.Dia cantik loh dan juga mungkin umur kalian cuma beda empat tahun deh.Anak om itu umurnya 18".ucap Ardi Bramana kepada sang detektif muda dan berbakat itu.
"Hehehehe..om bisa aja dehh.Tapi boleh juga sih om,saya pengen kenal anak om itu.Siapa tau dia cocok sama aku".celetuk Bagas sambil tertawa.
"Gas om panggil kamu ke sini itu karena om mau minta tolong sama kamu".jelas Ardi Bramana kepada Bagas.
"Mau minta tolong apa om.Kalo mau mecahkan masalah kasih tau aja ke detektif muda ini om".ketus Bagas sambil tertawa terbahak-bahak.
Pria paruh baya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak yang ada di hadapannya itu.
Ia pun menceritakan semua kejadian yang menimpa putri angkatnya itu kepada sang detektif muda kepercayaan keluarganya yang tak lain adalah Bagas Wijaya.
"Masalah ini biar saya yang tangani.Om tenang aja dalam waktu yang dekat ini saya akan menemukan pelaku yang ngejebak putri om itu yang juga akan menjadi istri saya om.hahahahhahaha".ucap Bagas Wijaya dengan penuh tawanya.Ia memang merupakan sosok lelaki yang humoris. Walaupun biasanya seseorang berbicara kepadanya dengan serius tapi ia tetap membalasnya dengan sedikit candaan.Sifatnya yang satu itu membuat orang-orang yang berada di dekatnya sangat terhibur termasuk pria paruh baya di hadapannya itu Ardi Bramana.
"Om percaya sama kamu Gas.Jadi masalah ini saya serahkan semuanya kepada kamu".sambung Ardi Bramana.
"Siap om".ucap sang detektif muda itu dengan mengacungkan jempolnya.
"Oke kalo begitu om pamit dulu yaa".ujar Ardi Bramana lalu meninggalkan detektif muda itu di Restoran.
2 hari kemudian setelah pertemuan Ardi Bramana dan sang detektif Bagas Wijaya
"Halo om saya sudah menemukan pelaku yang ngejebak anak om itu".ucap pria itu di telponnya yang tak lain adalah Bagas.
"Coba kirimkan foto si pelakunya Gas.Om mau lihat".ujar pria paruh baya itu.Yaa Ardi Bramana.
°Think°sebuah notifikasi masuk.
Setelah melihat foto si pelaku pria paruh baya itu tidak percaya dengan apa yang ia lihat.Ia tak tau apa yang harus ia katakan kepada putrinya itu.Mungkin putrinya itu tak akan mempercayainya.Entahlah sampai kapan hal ini ia sembunyikan.