
"Dokter.?" Aryan membuka suara.
Para Dokter itu hanya diam, dan salah satu dari mereka menggelengkan kepala. Menepuk pundak Aryan agar kuat menghadapi kenyataan.
"Papaaa\_\_\_hh.?" Mikaila berteriak histeris memanggil nama Papahnya yang kini telah tiada.
Ayla memeluknya erat, ia sendiri menangis begitu deras. Aryan jatuh pingsan, satu nyawa kembali pulang demi menyelamatkan hidupnya, setelah dulu Dion yang telah pergi dengan cara yang serupa.
"Pah.?" Arend menopang tubuh Arend. Uncle Pengawal bertindak cepat, membopong tubuh Aryan segera masuk ke ruang rawat, Dokter dan para perawat segera datang menangani Aryan.
"Papah.?" Mikaila berlari masuk ke dalam ruang operasi. Ayla mengikuti Mikaila. Gadis itu lebih membutuhkannya saat ini. Sedangkan Arend dan Syeira menemani Aryan.
"Pah, bangun.? Papah jangan tinggalin Aila Pah.? Bangun Pah...? Aila tidak mau hidup sendirian pah..? Papah bangun.?" Mikaila menggoyang bahu Aaron. Berusaha untuk membangunkannya,
Aaron terlihat sangat tampan dengan muka pucat dan mata yang terpejam sempurna.
Mikaila terus menangis memanggil nama Papahnya, ia merasa sangat sedih dan terpukul. Dunia nya serasa hancur. Hanya Papahnya yang bisa ia andalkan, dan sekarang Pahlawan nya itu tak lagi bernyawa.
Mikaila merasa frustasi dan benci. Ia lantas berlari keluar dari ruangan yang terasa sangat menyesakkan dada itu. Mikaila lari begitu kencang.
"Kei.?" Ayla berteriak memanggil nama Mikaila. Namun Mikaila yang Frustasi tak lagi ingin mendengarkan siapa-siapa.
Ayla hendak mengejar, namun Arend yang melihat melarangnya, dia yang akan mengejar Mikaila yang terus berlari. Syeira melihat kepergian Arend yang mengejar Mikaila dengan tatapan nanar, air matanya lolos begitu saja membasahi pipinya.
Mikaila terus berlari sampai dia merasa lelah, pandangannya buram tiba-tiba. Tubuhnya lemah, dan semuanya menjadi gelap seketika.
Seorang Pria berkaca mata hitam, memakai masker hitam, dan setelan pakaian jas dengan warna senada menangkap tubuh Mikaila yang hampir jatuh ke lantai. Dia adalah Bos Mafia Klan Cosa. Tuan Rain Cosa.
Mikaila jatuh pingsan di pelukan Rain. Rain mengernyitkan kening melihat wajah gadis cantik yang kini berada dalam pelukanya, wajah ini seperti tidak asing. Rain seakan pernah melihatnya. Tapi ia lupa pastinya.
"Kei.?" Arend yang melihatnya berteriak memanggil nama Mikaila yang sudah jatuh pingsan.
Arend berlari cepat hingga berada tepat di depan mereka.
Rain terpaku melihat kedatangan Arend. Bocah Genius yang dikaguminya dulu ini kini telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang tampan, gagah dan terlihat luar biasa. Auranya sangat kuat.
'*Arend*.?' Batin Rain mengingat jelas semua bayangan tentang Arend. Keponakan kebanggaan dan kesayangan Ineke.
"Kei.? Kei.?" Arend menepuk pelan pipi Mikaila. Tapi gadis itu masih diam dalam lelap.
Tanpa permisi Arend mengambil alih tubuh Mikaila, Arend menggendong nya ala Bridal Style. Rain hanya diam tanpa kata.
Arend tidak menyadari pria yang telah menangkap tubuh Mikaila itu. Selain Arend yang sedang dalam keadaan panik, Rain juga menggunakan kaca mata dan Masker hitam. Namun langkah Arend yang menggendong Mikaila terhenti, ketika ia mengingat tato di tangan Rain.
'*Tuan Rain*.?'
Arend berbalik. Beberapa pengawal datang, mengambil alih Mikaila yang berada di gendongan Arend. Pengawal itu berlari membawa Mikaila untuk segera di bawa ke ruang rawat.
Kini tinggallah Arend dan Rain yang berdiri dengan gagah saling berhadapan. Mereka saling memandang tajam dalam diam.
"Arend.?"
Syeira memanggil nama Arend dari belakang. Arend menoleh mendengar suara lembut dari wanita yang sangat dicintainya itu. Syeira berlari menghampiri Arend dan langsung menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Arend setelah berada di depannya, untuk sesaat tadi Syeira merasa takut kehilangan Arend dan cemburu pada Mikaila.
Arend membalas pelukan Syeira. Dan dia kembali menoleh ke arah Tuan Rain berada. Namun Arend tak melihat siapa-siapa disana. Tuan Rain yang tadi dilihatnya tak lagi ada disana. Rain telah pergi ketika Arend berbalik menoleh dan memeluk seorang gadis yang datang kedalam pelukannya.
'*Tuan Rain*.?'
**Hari Berikutnya di Brazil**.
Arend menghubungi Zico menceritakan dengan detail semua kejadian. Sudah saatnya saudaranya itu kini tahu tentang situasi yang terjadi. Sepasang saudara itu saling bertukar kabar.
Aaron akan di kuburkan di Brazil, sesuai keputusan seluruh kerabat dan keluarga yang ada disini, Mikaila juga setuju, apalagi dia yang ingin melanjutkan hidupnya di negara ini.
Pemakaman telah usai di lakukan. Ayla dan Aryan selalu menemani Mikaila yang rapuh di apartemennya. Arend dan Syeira juga akan berada di negara ini sementara waktu sampai Mamah dan Papahnya kembali bersamanya ke tanah air. Arend tidak ingin meninggalkan Negara ini untuk kembali ke Tanah air tanpa mereka.
Dan kehadiran Tuan Rain waktu itu, membuat Arend memiliki keinginan untuk mencari tahu dan juga bertemu dengan-Nya. Entah untuk alasan apa. Tapi dorongan itu terasa kuat di dalam hati.
Syeira melihat Arend yang hanya diam berdiri di dekat jendela apartemen melihat pemandangan pusat kota Brasilia. Kedua tangan Arend ia masukkan kedalam saku celana.
Arend menyewa apartemen di dekat apartemen Mikaila, agar berada dekat dengan Mamah dan Papahnya.
Syeira tidak berani mendekat, ia tidak tahu apa yang di pikirkan suaminya saat ini. Tapi yang jelas. Syeira merasa takut kehilangan Arend.
Arend merasa jika seseorang memperhatikannya dari belakang, dan benar saja, Syeira tengah berdiri sedikit jauh darinya. Syeira kaget ketika Arend menoleh dan melihatnya.
Arend melangkah, mendekat ke arah Syeira. Tak ada segores pun senyum di bibir Arend, membuat Syeira merasa tegang dan gugup. Kenapa cintanya pada Arend membuat Syeira justru merasa begitu lemah?.
"Ada apa.?" Tanya Arend pelan setelah berada di hadapan Syeira yang raut mukanya nampak seperti menyimpan kecemasan.
Syeira menggeleng cepat, ia tidak mungkin mengatakan pada Arend tentang ketakutan hatinya yang merasa takut jika Arend akan berpaling pada Mikaila karna merasa kasihan.
*Bolehkah dia menjadi wanita egois untuk melindungi hatinya sendiri.? Dengan mengabaikan kesedihan wanita lain demi menjaga kebahagiaannya*.?
Arend akhirnya tersenyum meski sangat tipis. Ia lantas merengkuh tubuh Syeira hingga menempel sempurna pada tubuhnya.
Arend dan Syeira saling bertatapan dalam. Mata Arend semakin sayu menatap manik Syeira, Syeira mengerti tatapan macam apa itu. Lagi, Arend pasti akan memulainya.
Arend mendekatkan wajahnya pada wajah Syeira, ia lantas mendekatkan bibirnya pada bibir Syeira.
Arend menautkan bibirnya pada bibir Syeira. Ia mengecup, menyesap, m3lum4t, membelikan lidah pada lidah Syeira, mengeksplor bagian dalam mulut Syeira, semakin lama semakin dalam, semakin Arend tidak puas.
Tangan Arend bekerja tanpa bimbingan. Berjelajah menggerayangi punggung Syeira, lalu menelusup masuk dari bawah baju naik keatas hingga kini bermain nakal di d4. d. 4. Syeira.
"Aaahh..!" Syeira m3nd3$4h. Syeira memejamkan mata menikmati aksi nakal Arend yang membuat tubuhnya serasa terbang melayang.
Arend kembali menautkan bibirnya pada bibir Syeira dengan tangannya yang masih lihai bermain di d4. d.4 Syeira.
'*Tok tok tok*..!'
Suara ketukan pintu membuyarkan aksi g!l\_4 mereka.
Arend dan Syeira gelagapan, melepaskan tautan mereka. Arend mengusap bibirnya yang terasa basah. Sedangkan Syeira mengusap wajah dan merapikan bajunya.
"Sshh!!\_..t. t!." Arend mengumpat kesal, yang di bawah sana sudah sangat keras. Dan siap melakukan perang, namun semua harus terganggu karna suara ketukan pintu.
Arend menuju dapur untuk minum, berharap libidonya segera kembali turun. Syeira melangkah membuka pintu.
Ayla dan Aryan datang.