
"Neng sama Aden ini mau ke pernikahan Cellin, Ya.?" Tanya wanita itu langsung pada intinya, karna melihat penampilan Arend, Zico dan Syeira yang nampak sangat rapi.
"Iya, Bu. Saya temannya. Apa acaranya sudah dimulai ya Bu.?" Syeira menjawab sekaligus bertanya.
Ibu itu tersenyum sendu, sorot matanya sayu. Ia bersikap ramah, namun jelas terlihat dari gambaran ekspresinya ia juga tengah bersedih.
"Pernikahannya di batalkan sepihak oleh pihak mempelai pria, mereka tidak datang, dan menghubungi keluarga mempelai wanita lewat telepon. Membatalkan pernikahan.!"
"Apa.?"
"Apa.?"
Zico dan Syeira berteriak serentak, ada rasa bahagia karna pernikahan Cellin yang di batalkan, tapi justru pihak pria yang membatalkannya, itu adalah satu hal yang tak terduga. Bukankah Faisal begitu ingin menikahi Cellin agar ia segera bisa mendapatkan hak-hak nya mengenai harta keluarganya.? Lantas kenapa malah di batalkan.?
"Apakah Cellin masih ada di rumah.?" Arend bertanya dengan ramah pada ibu itu.
"Masih, mereka semua masih di dalam rumah. Tapi suasananya sedang tidak baik, mungkin kalian sebaiknya kembali saja."
Ibu itu menjelaskan. Ia lalu permisi karna harus ikut membantu beres-beres.
"Kita pulang.?" Syeira bertanya.
Arend menatap Zico dalam, seakan memberikan keputusan ditangan Zico.
"Aku ingin bertemu dengan Cellin."
Mereka akhirnya memutuskan untuk tetap bertamu ke rumah sederhana itu. Syeira mengucap salam, pintu sudah terbuka lebar sejak tadi. Seseorang yang membereskan kursi menghentikan aktifitasnya bergegas masuk ke dalam rumah memanggil sang Tuan Rumah.
Kakak ipar Cellin datang. Ia keluar menemui Syeira, Arend dan Zico yang tetap nekat untuk bertamu.
Terlihat dari raut muka Kakak ipar Cellin jika ia habis menangis.
"Kalian siapa.?"
"Kami teman nya Cellin, nama saya Syeira, ini suami saya, Arend, dan ini adik saya, Zico."
Syeira memperkenalkan diri.
Kakak Cellin hanya diam mendengarkan.
"Apa kalian datang untuk menghadiri pernikahan Cellin.?"
Syeira mengangguk ragu.
"Sebaiknya kalian pulang, pernikahannya telah di batalkan. Tidak ada lagi pernikahan. Pulanglah."
Kakak ipar Cellin dengan terang meminta Syeira dan keluarga untuk pergi dari Rumahnya.
"Saya ingin bertemu dengan Cellin, hanya sebentar, saya mohon."
Zico melangkah ke depan, ia sudah tak bisa lagi bersabar.
"Cellin tidak menemui siapa-siapa. Dia.?"
Kakak nya hendak menolak. Namun tiba-tiba Cellin datang dari dalam.
"Zico.?"
"Cellin.?"
Kakak iparnya kembali menangis.
"Bicaralah sebentar, lalu kembali masuk. Ibu masih belum juga sadar.!"
Kakak ipar Cellin memperingatkan. Ibu Cellin sampai jatuh pingsan saat keluarga Faisal menghubungi memutuskan untuk membatalkan pernikahan putranya dengan Cellin.
Ikatan kedua keluarga yang sudah di rencanakan telah di gagalkan. Dan anak gadis yang batal menikah adalah satu hal yang sangat memalukan. Ibu Cellin tidak kuat menerima kenyataan.
"Silahkan duduk."
Cellin mempersilahkan Syeira dan keluarga untuk duduk di kursi kayu di teras rumahnya, seorang perempuan mengenakan kebaya membawakan mereka minuman dan camilan khas di pernikahan.
"Ada apa.?" Syeira bertanya sangat halus pada Cellin. Cellin malah tersenyum cerah, ia berusaha menampakkan raut muka yang bahagia. Tapi jelas terlihat jika matanya juga baru saja menangis.
Cellin menarik nafas dalam. Ia lalu menceritakan segelintir kisah pembatalan pernikahannya.
"Bukankah ini semua adalah takdir Tuhan.?"
Cellin mengakhiri ceritanya.
Zico terus memandang Cellin dengan tatapan penuh cinta, ia merasa begitu bangga pada wanita yang dicintainya ini, sudah menjalani kisah yang sangat rumit sekalipun dalam hidupnya ia masih tetap tersenyum dan tegar.
"Aku tidak bermaksud untuk mengusir kalian, tapi seperti yang kalian lihat, suasananya sedang sedikit kacau."
Syeira mengangguk, ia mengerti dengan keadaan rumah dan keluarga Cellin. Ia pun memutuskan untuk pamit.
Zico meminta waktu sebentar untuk berbicara berdua dengan Cellin, Arend dan Syeira melangkah terlebih dulu meninggalkan rumah Cellin. Mereka berdua menunggu Zico di mobil.
"Apa.? Sekarang aku sudah memiliki kesempatan.?"
Zico bertanya dengan hati yang gemetar. Ia memang lebih suka berterus terang,
"Eemmhh.??" Cellin terlihat sedang berpikir.
Zico menunggu jawabannya dengan perasaan gamang.
"Ku rasa tidak. Aku jadi tidak ingin menikah setelah kejadian ini.!"
Jawaban Cellin yang di ucapkannya secara ringan membuat Zico membulatkan mata dan raut mukanya berubah kesal seketika.
"Apa maksudmu tidak ingin menikah.? Aku sudah berjuang, berusaha. Dan kau tahu kalau aku benar-benar mencintaimu.! Kenapa kau malah mengatakan tidak ingin menikah.?"
Suara Zico sangat keras. Ia kesal dan tak bisa menahan emosi.
"Ssuuuutt..!" Cellin rasanya ingin membungkam mulut Zico yang berteriak menarik perhatian orang-orang yang ada disana.
"Pulang. Cep_ _pat pulaaang.!"
Cellin mendorong tubuh Zico, dan Zico melangkah dengan berat, kepalanya masih terus menoleh ke belakang.
"Haaaahh.!" Zico masuk kedalam mobil dengan perasaan lega. Senyumnya mengembang sempurna.
Syeira menoleh kebelakang menghadap Zico yang bersandar pada punggung Jok dan raut mukanya tergambar jelas jika ia tengah bahagia.
"Bagaimana katanya,.?"
Syeira bertanya penasaran.
"Dia bilang tidak mau menikah.!"
Jawab Zico dengan nada suara sumbang. Syeira mengernyitkan kening. Arend sudah melajukan mobilnya.
"Maksudnya.?"
"Iya, dia bilang tidak mau menikah. Tapi siapa yang peduli,? Lihat saja nanti, akan aku taklukkan dia, dia akan berada di gendongan ku, dan memanggilku, Suamiku...!"
Zico berfantasi, dia mengucapkan kalimat itu di sertai dengan tangannya yang memperagakan sedang menggendong pengantin baru, dan ekspresi wajahnya di manis-maniskan. Dengan suaranya yang mendayu kala mengucapkan kata Suamiku.
Zico benar-benar jatuh cinta. Dan ia sangat bahagia karna pernikahan Cellin akhirnya di batalkan, dia memilik kesempatan dan peluang sekarang.
"Ha ha ha ha." Syeira dan Zico tertawa bersama membayangkan apa yang di katakan Zico barusan jika sampai terjadi di masa depan. Pasti sangat lucu. Bahkan Arend pun sampai tersenyum simpul mendengar pernyataan saudaranya Zico.
...****************...
Arend melajukan mobil membelah jalan kota yang ramai lancar, ia mengendarai mobilnya menuju sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota. Hari ini Arend akan mengajak Istri dan saudaranya bersenang-senang.
Mereka sudah sampai di salah satu Mall di pusat kota. Zico dan Syeira bertingkah seperti anak TK yang begitu senang karna di ajak ke tempat itu untuk bermain dan belanja.
Arend terkadang sampai harus berdecah kesal dengan tingkah keduanya.
Pertama yang mereka lakukan adalah makan siang, Zico sangat lapar, ia belum makan sejak tadi pagi, Selera makannya hilang ketika hatinya patah karna Cellin akan menikah.
Dan kini nafsu makan itu kembali datang dan serasa bertambah, ia merasa semua menu makanan yang di pesan rasanya begitu nikmat, ia makan dan tak hentinya berbicara. Syeira pun sama halnya. Terkadang mereka berdua berdebat karma berebut makanan yang sama.
"Kau harusnya mengalah.? Aku ini Kakak ipar-mu..?"
Syeira berteriak kesal dengan raut mukanya yang terlihat galak pada Zico. Tapi kalimat yang mengakui jika dirinya adalah Kakak ipar Zico sontak membuat Arend terpana melihatnya.
Jelas Arend merasa senang mendengarnya, jika Syeira mengakui dirinya sebagai Kakak ipar Zico. Itu artinya dia mengakui Arend sebagai suaminya. Dan Arend menahan senyumnya yang ingin mengembang, Arend sampai harus memalingkan muka untuk menahan senyum itu.
"Hei, itik Bar-Bar.? Harus nya kau yang mengalah. Aku ini hanyalah adik kecilmu.!"
Zico nyolot dan menarik mangkuk yang di pegang Syeira.
"Apa kau bilang..?"
Mereka berdua terus saja ribut, sampai Arend yang harus berdiri untuk kembali memesan menu yang di perebutkan itu. Dan Arend memberikan mangkuk yang masih utuh pada Syeira.
"Ha haha. ha " Syeira Tertawa lepas. Ia menjulurkan lidahnya pada Zico karna merasa menang, miliknya sekarang isinya lebih penuh. Zico berdecah kesal dan menendang pelan Kaki Arend yang kembali duduk di dekatnya.
Mereka melanjutkan perjalanan, berhenti di sebuah toko perhiasan. Zico melihat-lihat antusias. Tidak peduli dengan saldo yang 0 Rupiah. Saudaranya Tuan CEO ada bersamanya.
Zico memilih sebuah kalung permata, dan Cincin Couple untuk pasangan. Ia akan memberikan itu pada Cellin di waktu yang tepat.
"Kau tidak ingin membeli sesuatu.? Mau ambil kalung.?"
Arend berbicara pada Syeira yang sedari tadi hanya sibuk membantu Zico.
Syeira tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Tidak, aku tidak ingin.!"
"Biar ku belikan untuk mu."
Arend melihat-lihat kalung.
"Tidak, aku sudah memiliki kalung, ini lebih berharga dari semua perhiasan yang ada di sini."
Syeira menolak. Ia memegang tali kalung mainan yang melingkar di lehernya. Bandul Keramat itu ada di dalam dress yang dikenakannya.
Ekspresi Syeira sudah berubah, hatinya terasa sakit saat mengucapkannya tadi, matanya langsung berkaca-kaca. Arend hanya diam dengan muka datar, ada rasa bahagia dalam hatinya, namun rasa bersalah juga ikut serta. Syeira ternyata begitu mencintainya, dan itu sejak dulu. Sedangkan dia.?
Zico sudah selesai. Ia melangkah senang sambil menggandeng tangan Syeira, meninggalkan Arend yang masih membayar.
Arend menunjuk sesuatu disana. Dan dia menunggu sedikit lebih lama hingga barang yang di pilihnya di bungkus. Lalu Arend memasukkan barang yang di belinya kedalam saku jas.
Syeira dan Zico berhenti di Sebuah Toko pakaian dalam. Dengan nakal Zico mengambil pakaian dalam bagian atas milik wanita dan ia serahkan pada Syeira untuk mencobanya, sontak Syeira kaget dan membulatkan mata, rasanya ia ingin menggeplak Zico yang tidak sopan padanya. Namun suaminya yang posesif lebih pengertian. Ia memukul kepala Zico secara pelan dari belakang.
"Aauuwwhh." Zico berteriak kaget dan lekas menoleh. Arend sudah berdiri dan menatapnya tajam. Zico pun hanya bisa nyengir dan meletakkan kembali br4 merah yang di pegangnya. Syeira tertawa lepas melihat raut muka Zico.
Hari ini terlewati dengan kesenangan yang luar biasa.
...****************...
Mereka lantas kembali pulang ke apartment setelah lelahnya hari yang mereka lalui hingga langit berubah malam.
Zico sudah masuk kamar, Syeira pun sama. Ia masuk kedalam kamarnya, menutup tanpa mengunci pintunya.
Syeira duduk bersila di atas ranjang membuka tas-tas belanjaan. Rasanya seperti hidup di surga dengan belanjaan segini banyaknya. Pintu di ketuk.
"Masuk.!" Syeira sibuk melihat baju-baju yang tadi di beli.
Arend masuk kedalam kamar Syeira, ia lantas menutup kembali pintu nya.
"Ada apa.?" Syeira berhenti, ia melihat Arend yang sudah berdiri gagah di sana.
Sebenarnya Arend ingin memberikan barang yang di belinya tadi, tapi dia bingung bagaimana cara memberikannya.
Arend mendekat, dia naik ke atas ranjang Syeira. Lalu berbaring telungkup di sampingnya Syeira. Jelas saja Syeira merasa kaget, bahkan sampai mundur. Arend bersikap tidak seperti biasa.
"Aku lelah.!" Ucap Arend pelan namun tegas.
Syeira menelan salivanya kasar, hatinya bergetar, dan jantungnya memompa dengan tidak benar.
'Apakah? Dia meminta untuk di pijit.?'
...****************...