
Hari berikutnya.
Arend dan Syeira berpamitan dengan Zico, Cellin dan Kakak Cellin. Mereka akan pulang ke tanah air.
"Aku akan menunggu mu di rumah.!"
Ucap Syeira lembut menyentuh pipi Cellin lalu mengecup kedua pipinya. Dan memeluk Cellin.
Telah di putuskan setelah keadaan Cellin membaik, dan bisa melakukan penerbangan, Zico dan Cellin juga akan kembali ke tanah air dan melanjutkan pengobatan di sana.
Dan mereka akan tinggal di apartemen yang sama dengan Arend dan Syeira. Biar rame, gak sepi.
"Semua akan baik-baik saja kan, Arend.?"
Zico memeluk Arend seakan meminta kekuatan dan kepastian jika semua pasti akan baik-baik saja. Zico sangat takut kehilangan Cellin.
"Pasti.!" Jawab Arend sambil menepuk punggung Zico yang memeluknya erat.
Syeira dan Arend pun pergi dari sana dengan perasaan sedih dan penuh haru. Meninggalkan Cellin dan Zico yang tengah berjuang.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Zid menjemput Arend dan Syeira di bandara. Ada Meldy juga di sana. Syeira dan Arend duduk di jok belakang, sedangkan Zid menyetir dan Meldy yang mengaca sedari tadi duduk di samping Zid.
Arend menyenderkan punggungnya, ia mendongak dan memejamkan mata. Sangat lelah.
Syeira hanya duduk diam. Menatap depan.
"Babe.? Apa aku cocok pakai lipstik ini.?"
Tanya Meldy manja pada Zid. Yang hanya di balas anggukan oleh Zid tanpa menoleh ke arah Meldy.
"Rasanya berbeda, seperti ada manis-manisnya.!"
Seru Meldy sambil tangannya menggerayang ke arah paha Zid semakin dalam, Membuat Syeira yang melihatnya membulatkan mata, bahkan Syeira langsung menelan salivanya kasar.
"Kau mau mencobanya.? Beneran ada manisnya.!"
Suara Meldy semakin mendayu khas wanita penggoda. Sangat mahir. Tersungging senyum di bibir Zid.
Meldy sudah semakin mendekat ke arah Zid, ia mencondongkan wajahnya untuk semakin mendekat ke wajah Zid. Syeira hanya terbengong melihat tingkahnya.
"Tunggu, Babe.? Aku akan mencobanya nanti, atau Tuan CEO akan menurunkan kita lagi dijalan.!"
Ucap Zid yang membuat Syeira menahan tawanya kembali teringat kejadian waktu itu. Meldy cemberut, menoleh ke belakang menatap Syeira yang menahan tawa dengan tidak suka.
"Bagaimana semuanya, Zid.?" Arend membuka suara tanpa membuka mata.
"Ada sedikit masalah.!"
"Kita bicarakan besok, aku ingin segera pulang sekarang.!"
Syeira menatap Arend dengan tatapan kasihan, mungkin Suaminya memang sangat kelelahan.
'*Akan aku pijit nanti setelah sampai di rumah*.' Batin Syeira.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Arend membukakan pintu, Syeira tersenyum dan masuk ke dalam apartemen lebih dulu. Lalu Arend menutup kembali pintunya.
Mereka langsung masuk kedalam kamar.
"Kau mau mandi dulu.? Biar lebih segar.!"
Syeira berbicara pada Arend yang duduk di tepian ranjang. Dia sangat terlihat lelah.
"Setelah kamu, gantian.!" Jawab Syeira sambil mengambil handuk untuk Arend yang terus menatapnya.
"Mandilah, nanti ku pijit.!"
Syeira mengulurkan tangan memberikan handuk itu pada Arend. Arend tersenyum licik, dan dengan gerakan cepat, langsung menarik tangan Syeira hingga kini tubuh Syeira menutup tubuh Arend yang terjerembab di atas ranjang.
"My L.?" Teriak Syeira karna kaget.
"Aku tidak mau di pijit, aku ingin kamu.!"
Syeira menatap manik Arend yang sudah menatapnya sayu. Syeira merasa malu, pipinya bersemu merah.
Arend membelai lembut wajah Syeira, ia merapikan anak rambut Syeira yang jatuh di wajahnya.
Arend mendekatkan wajahnya pada wajah Syeira semakin dekat. Pelan-pelan ia menautkan bibir nya pada bibir Syeira.
Arend mengeksplore bibir Syeira penuh n4f$u, ia menautkan lidahnya dengan lidah Syeira, menyesap, mengulum, membelit, membuat gerakan yang memabukkan.
Mata Syeira sudah terpejam sempurna merasakan gelanyar tubuhnya yang sudah tidak normal.
Syeira merasakan bagian tubuh Arend yang mengeras bersentuhan dengan pahanya membuat Syeira semakin mengg!la.
D3$4h4n demi d3$4han terdengar dari mulut mereka berdua.
Arend dan Syeira masih bermain saling membelit dengan posisi yang sama.
Semakin lama serasa semakin tidak puas, Arend berpindah menciumi leher Syeira, aroma itu begitu menjadi candu untuknya, Arend mengeksplor leher Syeira dengan kelembutan, menyesap, meninggalkan jejak-jejak kepemilikan.
Syeira hanya bisa menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, menerima perlakuan nakal sang suami.
Entah bagaimana Arend sudah membuka kaos yang di pakai Syeira, ia melemparnya sembarangan, meninggalkan br4 hitam yang begitu kontras dengan warna kulit Syeira yang putih bersih.
Arend bermain di d4. d4. Syeira, dengan posisi Syeira yang masih menutup tubuh Arend. Saling berhadapan terbaring di atas ranjang.
Tangan Arend bergerilya di punggung Syeira. Membuka kaitan kecil di punggung istrinya. Kepala Syeira jatuh di leher Arend, memberikan pelayanan disana, menyesap menggigit memberikan tanda-tanda merah ke unguan.
Pengait kecil sudah lepas, Arend lantas menarik dan melempar benda pembungkus D4. d4 itu ke sembarang tempat.
Kembali Arend memainkan salah satu bagian tubuh Syeira yang paling ia suka. Syeira semakin mend3$4h, meracau, dan m3n93r4ng, membuat Arend semakin bersemangat, Arend memang sangat menyukai 3r4ng4n Syeira ketika bermain, itu suatu kebanggaan bagi Arend dan juga kepuasan tersendiri membuat wanitanya mengg!l\_a.
Arend membalik tubuh Syeira, kini Syeira terbaring menghadap atas, Arend berdiri di tepi ranjang, ia membuka dan menarik c3l\_4na yang Syeira kenakan. Dan Arend melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri.
Arend meneruskan aksinya. Yang di sambut antusias oleh Syeira. Mereka saling merindu dalam cum. bu. Kini saatnya pembalasan dendam.
Arend melakukan penyatuan. ia memejamkan mata dan mulutnya menganga merasakan kelembutan istrinya. Syeira terpejam sambil menggigit sendiri bibir bawahnya.
Terasa sangat n!km4t, sesuatu yang luar biasa, membuat seluruh tubuh merasakan setruman dahsyat penuh Ken!km4t4n.
Arend mengangkat kaki kanan Syeira ke atas pundaknya, dan dia mulai bergerak maju mundur teratur, menggoyang tubuh Syeira ke atas dan kebawah, d4. d4. Syeira bergerak seirama. Tangan Arend menangkup salah satunya. Me. r3m4s dan mencengkeramnya lembut.
Syeira semakin menggelepar. Sangat nikmat. Suara-suara saru mereka memenuhi seluruh ruangan.
Arend menarik tubuh Syeira, membangunkannya, mengangkatnya, kini ia yang berada di bawah, dan Syeira di atas. Kedua lutut Syeira bertumpu di atas ranjang, ini untuk pertama kalinya Syeira melakukan cara ini. Dia rada kaku, tapi di bisa cepat belajar, hingga membuat Arend tak kuat untuk tidak m3ng3r4n9.
Entah sudah berapa lama waktu mereka melakukannya, hingga Arend kembali merubah posisi, membungkukkan tubuh Syeira dan dia melakukan dengan gaya ini, Arend memaju mundurkan dirinya, menambah tempo kecepatannya. Hingga mereka melepaskan ledakan mereka secara bersama-sama.
Tubuh keduanya jatuh lunglai di atas ranjang. Telungkup. Buliran keringat mengalir membasahi tubuh, hawa dingin AC tak mampu menyejukkan mereka yang panas habis berolahraga membakar kalori.
Arend mengecup tengkuk Syeira dari belakang.
"I love you, My L.!"
Bisik Arend di telinga Syeira yang terdengar sangat merdu. Syeira seakan tak mampu tuk berbicara, ia sungguh lelah, hanya senyuman manis yang bisa ia berikan. Hingga mata keduanya terpejam sempurna, membawa mereka pada lelap istirahat.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...