
Para pengawal melarikan Aryan dan Aaron kerumah sakit pusat kota segera, sisa yang mereka tinggalkan di gedung pusat perbelanjaan itu kini menjadi ramai dan beritanya viral di media sosial, lagi, kasus itu menambah panjang daftar kejahatan kriminal yang terjadi di tempat umum di kota Brasilia. Bahkan pada orang penting yang sudah di kelilingi oleh para pengawal.
Mikaila terus menangis sepanjang perjalanan. Mereka telah sampai di rumah sakit, Karna syok Aryan pun kehilangan kesadaran, ia jatuh pingsan.
Semua bekerja cepat. Para dokter ahli bedah menangani Aryan dan Aaron dengan sigap, Mikaila menghubungi Gylda, satu jam kemudian, Gylda dan beberapa kerabatnya datang menemui Mikaila yang tengah menangis histeris di Rumah Sakit.
Aaron menjalani operasi darurat, sedangkan Aryan telah usai menjalani perawatan, luka Aryan terbilang ringan, itu sayatan panjang yang menggores dadanya, tidak mengenai organ dalam. Tapi tetap harus di jahit dan di tangani dengan benar.
Salah seorang pengawal kepercayaan Aryan menghubungi Arend yang ada di tanah air, bagaimanapun juga. Dia harus melaporkan kejadian buruk yang terjadi pada atasannya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Malam ini Ayla merasa tidak tenang, entah apa yang membuatnya susah tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ayla masih juga terjaga. Ia tidur seorang diri di kamar Zico.
Zico berada di rumah sakit menemani Cellin. Dan besok adalah hari Cellin terbang ke Australia untuk menjalani pengobatan.
Ponsel Arend yang berada di atas nakas terus saja berdering, entah sudah berapa puluh kali. Arend sama sekali tak mendengarnya, ia begitu lelah setelah olahraga panasnya yang panjang bersama sang istri hampir selama 3 jam tadi. Dan dia baru saja tertidur. Membuat Arend benar-benar terlelap dan tak mendengar deringan ponselnya yang terus berbunyi.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Di Brazil**.
"Bagaimana Uncle.? Apa Arend mengangkatnya.?" Mikaila bertanya pada pengawal kepercayaan Aryan yang terus mencoba menghubungi Arend sejak tadi, namun hasilnya nihil.
Di Brazil baru jam 2 siang.
Pengawal itu menggelengkan kepala sebagai jawaban pertanyaan Mikaila.
"Mungkin dia sudah tidur, disana pasti tengah malam sekarang.!" Lirih mikaila yang masih berderai air mata.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Ayla sangat merindukan Aryan, ia tidak bisa tidur meski sudah berusaha mencoba memejamkan matanya.
Ayla lantas duduk bersila di atas ranjang, ia meraih ponselnya, memainkan jarinya pada benda pipih itu. Ayla akan menghubungi Aryan.
Sambungan telepon terhubung, tapi belum juga terangkat.
Ponsel Aryan berada di tangan Pengawal yang tadi menghubungi Arend saat ini. Pengawal itu merasa cemas. Bukan ide yang baik jika dia memberitahu Ayla tanpa seizin Aryan, karna sedikit saja kecemasan Ayla akan berakibat fatal pada emosi Aryan yang pasti akan diluapkan oleh Aryan padanya.
'*Bagaimana ini.? Haruskah aku mengangkatnya*.?'
Karna keraguan yang besar, pengawal itu memilih untuk mengabaikan panggilan yang masuk dari Ayla. Orang pertama yang harus ia kabari adalah Arend. Sang Putra Mahkota. Dia adalah orang yang selalu bisa bersikap bijak sejak kecil.
Tak putus asa, Pengawal Aryan kembali menghubungi ponsel Arend. Dan kini Arend mulai mendengar suara yang berisik mengganggu tidurnya.
Arend menyipitkan mata menerima edaran pandangan. Ia melihat Syeira yang berbaring menghadap dirinya dan berbantalkan lengan kanan Arend. Arend tersenyum senang, ia menyempatkan untuk mengecup kening sang istri dengan lembut sebelum ia meraih benda pipih miliknya yang terus berdering di atas nakas.
Arend mengambil ponsel itu dengan tangan kirinya, tanpa menggeser kepala Syeira yang berada di atas lengan kanannya. Arend tak ingin mengganggu tidur sang istri. '*Dia pasti sangat lelah setelah melayani ku yang bermain sangat nakal padanya tadi*.'
"Iya, Uncle.?"
Arend membaca nama kontak yang menghubungi sebelum ia mengangkatnya.
Arend membulatkan mata mendengar satu kabar buruk yang di disampaikan oleh Uncle Pengawal. Raut mukanya langsung terlihat tegas mendengarkan penjelasan dan rangkaian cerita dari pengawal itu.
"Siapkan jet pribadi untuk ku Uncle. Aku akan ke Brazil sekarang juga.!"
Arend lekas menutup telepon. Ia dengan terpaksa membangunkan Syeira sang istri.
Setelah beberapa lama, Syeira bangun juga. Arend dengan cepat memberikan pengertian. Dan meminta Syeira untuk menyiapkan segala kebutuhannya seperti pakaian, sepatu, dan laptopnya.
Arend menghubungi Zid, ia membebankan semua urusan perusahaan pada Zid dan Meldy.
Arend meminta Syeira dan Zid untuk merahasiakan semua ini dari Zico dan Mamahnya, sampai ia memutuskan waktu yang tepat untuk memberitahu mereka.
Zico tengah menghadapi masalah rumit akan kesehatan Cellin, dan Ayla yang mudah panik takutnya akan berdampak pada kesehatannya.
Arend keluar dari kamar, ia berniat untuk pergi secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ayla. Namun siapa sangka jika Mamahnya itu kini tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Arend.? Syeira.? Kalian mau kemana.?" Jelas Ayla merasa bingung, di tengah malam seperti ini, Arend sudah berpenampilan rapi, dan Syeira menyeret sebuah koper di tangannya.
"Ada apa.?" Ayla kembali bertanya, Putra dan menantunya hanya diam saja.
Arend bukanlah pembohong yang handal di depan Ayla. Dia pun terpaksa memberitahu Ayla yang sebenarnya.
Tubuh Ayla hampir terjatuh mendengar Arend yang bercerita, ia terduduk kembali di sofa itu. Ayla menangis deras. Takut jika sesuatu yang buruk sampai terjadi pada suami.
"Mah.?" Arend memeluk Ayla, mencoba menenangkannya. Syeira pun turut mengelus punggung Ayla dan lekas membawakan segelas air putih untuk mamah mertuanya.
"Mamah ikut.!" Syeira berseru, ia sudah mengambil keputusan. Arend sudah berusaha untuk melarangnya, tapi siapa yang bisa melawan Ayla.? Hanya aunty Ineke lah yang dulu bisa mengendalikan emosi sang mamah.
"Kalau mamah ikut, aku juga ikut. Aku tidak mau jika harus disini seorang diri. Itu akan membuatku semakin merasa khawatir, dengan berada jauh dari kalian. Aku ikut.!"
Arend menunduk memegangi kepalanya yang terasa berat tiba-tiba. Kedua wanita yang di cintai nya bersikeras untuk mengikuti perjalanan yang sudah pasti dirasa akan berbahaya.
"Baiklah, kalian cepat bersiap, perjalanan ke negara itu memakan waktu 24 jam. Kita harus segera berangkat." Arend tak memiliki pilihan lain selain mengizinkan mereka berdua.
Ayla dan Syeira bangkit dan segera bersiap. Arend kembali memainkan ponsel menghubungi Uncle pengawal. Ia meminta untuk di tambahnya personil penjagaan. Arend tidak peduli kalaupun itu harus melibatkan para petugas berseragam.
Dan Uncle Pengawal memahami perintah yang Arend berikan. Ia akan menyiapkan pengawalan ketat semenjak jet pribadi yang akan di tumpangi Arend sekeluarga landing di tanah Brasilia.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Zico dan Cellin berada di bandara, mereka tengah berpamitan pada seluruh keluarga dan kerabat Cellin yang ikut mengantar mereka yang akan melakukan perjalanan pengobatan ke Australia.
Zico menyampaikan maaf pada Cellin karna keluarganya tidak bisa ikut mengantar, ada urusan penting yang menghalangi keluarganya untuk bisa hadir, dan tentu saja Cellin merasa tidak apa-apa. Yang terpenting baginya adalah Zico sang suami.
Zico sendiri merasa bingung dengan Arend, Ayla maupun Syeira, kemana mereka pergi.? Urusan penting apa yang membuat mereka tidak bisa ikut serta mengantar kepergian Cellin untuk berobat? Tapi ia tak ingin terlalu memikirkannya. Zico harus lebih fokus dengan pengobatan dan kesembuhan sang istri tercinta.
Ayah, ibu, Kakak ipar, keponakan, dan para kerabat yang juga tetangga Cellin semuanya memanjatkan doa, lalu melambaikan tangan mengiringi kepergian Cellin yang duduk di kursi roda di dorong oleh Kakak nya. Dan Zico berjalan disampingnya.
'*Semoga Allah memberikanmu kesembuhan dan kesehatan, Cellin. Berjuanglah*.!'
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...