
Zico dan Meldy baru menyadari tingkah konyol mereka yang teriak, lompat-lompat dan bergandengan tangan. Mereka akhirnya berhenti dengan rasa canggung dan sungkan. Hingga keduanya hanya tersenyum aneh satu sama lain. Zico menggosok tengkuknya yang tak gatal.
"Selamat, kamu udah jadi Uncle sekarang!" Meldy mengulurkan tangannya pada Zico. senyumnya terlihat manis dan sangat tulus.
"Eeehh? Bukan Uncle. No." jawab Zico tegas yang membuat Meldy dan Zid mengernyit, bingung. Sedangkan Aryan dan Kei sudah pergi, mereka memiliki nadzar yang harus segera mereka laksanakan.
"Daddy Zic. Itu adalah panggilan yang terbaik, dia juga anakku." Ucap Zico bangga. Gigi-giginya yang berderet rapi hampir terlihat semua saking lebarnya senyum Zico yang memproklamirkan diri sebagai Daddy Zic. Membuat Meldy tertawa terpingkal memukul-mukul bahu Zid di sampingnya. Meldy tak begitu sadar dengan apa yang sedang dilakukan.
Senyum Zico yang tadi mengembang lenyap kala melihat Meldy menepuk-nepuk pundak Zid. Sedangkan Zid pun menatap Meldy penuh harap, seakan menyiratkan bahwa ia begitu menginginkan wanita itu agar bisa kembali kepadanya.
"Aaaiihh,,, ayo masuk!" Zico menarik tangan Meldy yang menepuk bahu Zid dengan cepat. Membawanya masuk ke dalam ruang persalinan Syeira. Zid hendak ikut melangkah. Tapi\_
"Eehh? Kamu tunggu disini, jangan masuk dulu, Syeira baru saja melahirkan, bisa saja saat ini sedang memberi ASI pada anakku." Meldy dan Zid terbengong.
"Terus kamu sendiri ngapain ikut masuk?" Meldy berseloroh.
"Nanti kalo aku pengen. Aku minta asi sama kamu!" jawab Zico nakal menggoda Meldy sambil menggandeng tangannya masuk ke dalam
"Aassuww!" umpat Meldy pelan dengan nada panjang sambil berjalan gontai karena Zico yang sudah menarik tangannya.
"Baby L?" Kepala Zico nongol dari balik tirai putih gading yang menutup ranjang Syeira. Membuat Syeira, Arend dan Ayla menoleh bersama. Baby L tengah berada di pangkuan Syeira. Tidak sedang \*\*\*\*\*\*\*.
"Hi hi hi hi!" senyum Zico aneh saking bahagianya. Meldy ikut masuk melewati tirai lalu menutup kembali tirainya.
"Wooaaahh? Anak pintar? Semua yang melekat di wajahnya milik bapaknya. Tahu saja kalo emak nya kurang cantik?" seloroh Zico sembarangan yang sukses membuat Syeira melempar bantal di sampingnya tepat kena muka Zico. Arend justru berbangga mendengar apa yang diucapkan Zico barusan.
"Zico? Jangan menggoda Syeira?" Ayla memperingati.
"He he he. Iya iya? Maaf?"
Kehadiran Baby L ke tengah-tengah keluarga mereka membuat semua orang merasa sangat bahagia. Sangat.
"Selamat ya, Ra? Putrimu sangat cantik, sungguh. Selamat Tuan CEO?" Meldy menyampaikan ungkapan selamatnya sambil memegang tangan mungil Bab L. Bayi itu malah menggenggam erat telunjuk Meldy.
"Waaahh? Baru ketemu udah Deket aja sama aunty Dy?" seru Syeira memperhatikan tangan putrinya yang menggenggam erat telunjuk Meldy.
"Iih, jangan deket-deket, sayang? Nanti kamu diajarin yang enggak-enggak sama dia." seloroh Zico sambil melepas tangan Baby L yang menggenggam telunjuk Meldy.
"Zic?" hampir saja Meldy berteriak, namun sejurus kemudian terhenti mengingat Baby L terlelap, jangan sampai kaget dan nangis. Meldy pun akhirnya menginjak kaki Zico dengan keras.
"Aaauuww?" teriak Zico kesakitan sambil memegangi kakinya hingga berdiri pincang.
"Rassaain." umpat Meldy yang mengundang gelak tawa Syeira dan Aryan.
"Ah, cantik banget Ra. Beneran deh. Gak bakalan tega kalo ntar udah gede terus jadi rebutan cowok-cowok di sekolahnya." Zico memang ngadi-ngadi orangnya. Bayi yang baru lahir pun sudah ia bayangkan bagaimana nasibnya saat remaja nanti.
"Akan ku bunuh semua anak yang berani mengganggunya." sahut Arend menggebu dengan nada kesal. Dan tawa Syeira, Meldy juga Ayla semakin kencang.
'*Uuuwweekk*!' Baby L merintih.
"*Huussssss*!"
"Berisik sih kalian?" protes Ayla sang Grandma. Padahal tadi dia juga ikut tertawa.
"Nanti akan aku buat anak-anak cowok yang akan melindungi dan menjaga Baby L kita Daddy Arend. Tenang saja. Jadi kau tak perlu cemas dengan keselamatannya." lagi-lagi Zico mengatakan hal di luar nalar, dan Syeira yang sudah kembali tertawa tubuhnya sampai bergetar.
"Bagaimana kau bisa membuatnya, Daddy Zic? Istri saja tidak punya." Ayla sengaja mengatakannya karena sampai 7 bulan ini Zico tak kunjung memiliki hubungan spesial dengan seorang wanita. Dan dia tak bersedia untuk menikah dengan Kei.
"Ada Mah, sebentar lagi. Mama doakan saja!" lirih Zico sambil menatap dalam Meldy yang juga menatapnya dalam diam, membuat jantung keduanya berdegup kencang. Meldy jadi merasa salah tingkah. Tidak nyaman tiba-tiba. Tatapan Zico yang sendu dan dalam saat menjawab cuitan mamahnya sukses membuat Meldy Ge-Er.
Hubungan mereka sangat dekat selama ini. Hanya saja tersembunyi dalam kemasan kata \*Teman\*. Meski sering bertengkar, namun nyatanya keduanya saling melengkapi dan menginginkan.
"Cepatlah Daddy Zic? Keburu calonnya lelah nungguin, sampai diembat sama orang lain." Syeira bicara sambil mengelus wajah cantik Baby L tanpa menoleh pada Zico yang saling menatap dengan Meldy.
Mereka menghabiskan waktu hampir 2 jam mengobrol dan bercanda. Hingga Meldy harus kembali ke kantor. Karena ada panggilan darurat. Dan tentu saja Zico yang bergerak dengan gentle akan mengantarnya.
Saat mereka keluar dan bertemu Zid. Barulah Zico mempersilahkan Zid masuk menjenguk Syeira. Itu sengaja ia lakukan agar Meldy sedikit ada jarak dengan Zid. Rasa was-was yang wajar. Mereka adalah mantan. Dan semua orang juga tahu betapa Meldy dulu begitu sangat mencintai Zid. Cemburu pada masa lalu.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Ayla memutuskan agar Syeira dan Arend tinggal di mension Aryan. Ia tak mempercayai orang lain untuk membantu menjaga Baby L. Jadi mau tidak mau, Arend pun kembali pindah ke mension Aryan, Zico juga sudah pasti. Mereka tinggal satu atap yang sama pada bangunan mewah nan megah, menjadi satu keluarga besar yang bahagia.
Malam ini adalah tepat acara pemberian nama bagi Baby L yang baru berusia 1 Minggu, aqiqahan dan potong rambut.
Mension Aryan dipenuhi para tamu, anak-anak panti. Keluarga Cellin. Dan selebihnya para bodyguard dan petugas keamanan.
**Lucya Narendra Al-aryan**. Nama panjang Baby L.
Lucya berarti cahaya atau pembawa terang. Yang memang dengan kehadirannya rumah dan keluarga besar Aryan penuh dengan cahaya cinta dan cahaya kehidupan penuh kebahagiaan. Nama panggilannya Lucy.
Acara berlangsung khidmat dan meriah. Energi positif begitu terasa kental.
Acara selesai pukul 10 malam. Para tamu sudah pulang, termasuk Zid. Meldy kembali ke apartemen diantar Zico. Meski ia belum juga bisa menyatakan cinta dan rencananya menikahi Meldy. Tapi Zico sangat gencar menunjukkan rasanya dengan perbuatan-perbuatan, perhatian-perhatian kecil yang disertai kejailan dan tingkah konyolnya untuk mendekati Meldy.
Syeira, Arend dan putri kecil mereka sudah masuk ke kamar istirahat. Ayla tidur di kamar mereka. Dia yang akan membantu sepenuhnya mengurus sang mantu dan sang cucu.
Kei dan Aryan juga sudah masuk ke kamar masing-masing. Semua orang butuh istirahat untuk melepas lelah.
Tinggal para petugas yang membereskan semua sisa-sisa acara.
Meldy dan Zico tengah berada dalam perjalanan, tiba-tiba Zico memutar kemudinya memasuki sebuah mal yang buka hingga pukul 12 malam.
"Kenapa kesini?" tanya Meldy heran.
"Mau beli sesuatu dulu. Ayo temani aku!"
Zico sudah menggandeng Meldy untuk melangkah bersamanya. Mereka memasuki pusat perbelanjaan itu menuju satu toko perhiasan ternama yang ketat dengan penjagaan.
"Mau beli perhiasan?" Tanya Meldy.
"Buat hadiah Syeira? Atau Lucy? Kenapa baru mau beli?" Meldy terus menebak karena Zico hanya diam.
"Tidak. Mereka tidak membutuhkan ini semua." jawab Zico.
"Lantas?"
"Aku ingin membeli untuk melamar wanitaku. Tolong kau pilihkan." ucap Zico sambil melihat-lihat perhiasan yang di pajang.
"Kau akan melamar seorang gadis?" tanya Meldy dengan hati yang bergetar, ada cemburu. Dan rasa sedih.
"He em. Aku harus melamarnya sebelum menikahinya, bukan?" jawab Zico santai.
'*Kau memiliki wanita lain dalam hidupmu, Zico? Aku telah salah memiliki rasa padamu. Ternyata kau pun sama, akan pergi meninggalkanku*.' hati Meldy berdenyut sakit. Ia merasa patah hati meski tak pernah memiliki.
"Hei? Jangan diam saja? Ayo pilihkan sesuatu? Apa cincin? Apa kalung? Gelang? Anting? Atau ku borong saja semuanya? Hem? Bagaimana?" Zico menatap serius pada Meldy yang mulai terlihat sedih. Tapi senyum yang Meldy paksakan mengembang di bibir sensualnya itu sedikit menyembunyikan hatinya yang sedang patah.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Detik-detik **TAMAT 🤧**