
Arend kembali ke kantor dengan perasaan gamang, ia sedikit tidak tenang, terdengar jelas dalam pendengarannya tadi suara Syeira yang bergetar dan menangis. Dan sikap Syeira yang tiba-tiba pergi sambil berlari. Kejadian itu terus berputar-putar di kepala Arend.
Arend terus memainkan ponselnya menghubungi Syeira, namun tak ada jawaban. Bahkan Syeira menonaktifkan ponselnya.
"Ada apa dengan mu, Syeira.? Kau tiba-tiba datang, dan kau tiba-tiba pergi.?"
Arend geram. Kepalanya terasa pusing. Ia lantas memerintahkan Zico untuk mencari Syeira di apartment dan tempat kerjanya. Zico sangat bingung namun ia hanya menurut saja. Bukankah memang selalu percuma bertanya pada saudaranya itu.? Tidak pernah mendapat jawaban.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Zico tidak mendapatkan apa-apa.
Bim mengatakan jika Syeira keluar dari kantor sejak jam makan siang, dan belum kembali. Apalagi ini juga sudah memasuki jam pulang kerja. Di apartment juga kosong. Syeira tidak pulang.
Zico dan Arend berada di ruang Arend saat ini. Memikirkan kemana perginya Syeira.
"Kau cari ke rumah Mamah, dan aku akan cari ke rumah panti."
Arend membagi tugas dengan Zico untuk mencari Syeira. Mereka berdua bergegas. Hari semakin sore. Dan sebentar lagi gelap. Arend mengkhawatirkan Syeira.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Syeira duduk di kursi depan meja bartender. Dia sudah begitu banyak minum sejak tadi ia datang. Tapi minuman yang memabukkan sepertinya tidak cukup untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya. Ia masih saja bersedih dan menangis.
Tapi kesadarannya yang sudah semakin berkurang membuatnya kacau. Syeira menangis dan tertawa bergantian. Terkadang suaranya terdengar lirih begitu sedih, sesaat kemudian itu menjadi teriakan dan kemarahan.
Beberapa pria yang datang mendekat ia usir. Dan untunglah berhasil. Syeira tidak ingin berurusan dengan para pria itu. Dia hanya ingin menghilangkan rasa sakit dan beban di hati.
"Aaaaaahhh.!" Syeira berteriak keras. Sempat menarik perhatian beberapa orang namun kembali mengabaikannya. Suara musik DJ lebih kencang dan hiruk pikuk tempat itu meredam kekacauan Syeira.
Syeira menjatuhkan kepalanya di atas meja. Menghadap menyamping menatap gelas minumannya. Jari-jari lentiknya memainkan gelas itu dan juga mengajaknya berbicara.
"Kau sangat beruntung tercipta sebagai sebuah gelas yang cantik. Kau tidak perlu merasakan sakitnya jatuh cinta, dan kau juga tidak perlu merasakan sakitnya hati yang patah."
Syeira berbicara dengan nada yang parau pada gelas minumannya. Air matanya terus berlinang dari sudut mata membasahi pipi dan wajahnya. Bahkan mata Syeira sudah bengkak.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Arend dan Zico kembali bertemu di Kantor *N~A Cell* setelah tak menemukan Syeira dimana-mana.
"Bodoh."
Satu kata yang Arend ucapkan menarik perhatian Zico dan menoleh ke arahnya. Arend tengah memainkan ponselnya dengan gerak jari yang cepat.
"Zid. Segera datang kemari."
Arend menghubungi orang kepercayaannya.
"Kenapa kau memanggil Zid.?"
"Kau yang memberikan Syeira ponsel itu.? Code berapa.?"
Arend sudah menebak sejak awal jika Syeira mendapatkan ponsel nya dari Zico. Karna Zico pernah meminta benda itu dari dirinya. Dan itu ponsel yang hanya di produksi beberapa saja.
Karna panik, Arend tidak terpikirkan sebelumnya untuk melacak keberadaan Syeira lewat ponselnya.
Zid datang. Ia memang tinggal di perusahaan *N~A Cell* ini di suatu ruang rahasia.
Zid datang dengan membawa sebuah laptop. Itu adalah laptop pribadinya yang menggunakan sistem-sistem canggih ciptaanya sendiri. Inilah salah satu rahasia kesuksesan Arend. Selain dia yang genius. Juga masih ada lagi Zid yang lebih genius dari dirinya.
Zid duduk di sofa bersebelahan dengan Zico. Sedangkan Arend masih berdiri mondar-mandir tidak tenang. Zid menggerakkan cepat jari jemarinya memainkan laptop di depannya. Zico sangat mengaguminya.
"Dapat."
Satu kata Zid langsung menarik Arend untuk mendekat dan melihat layar laptop Zid.
"**Syeiraaa**."
Suara Arend terdengar berat menahan amarah. Istrinya tengah berada di tempat yang tidak semestinya.
Arend segera melangkah keluar dengan cepat, jelas terlihat jika ia telah marah sempurna.
Zico tak memilki kesempatan untuk mengikutinya. Arend pergi sangat cepat.
"Habislah kau, Syeira. Kau telah menggali kuburan mu sendiri."
Ucap Zico sambil menggelengkan kepala.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Syeira mendongakkan kepala, kembali duduk dengan benar, ia meraih gelas dan meminum Vodka itu sekali tenggak.
"Hei,,, tambah lagi...?" Suara Syeira mendayu karna mabuk memanggil bartender.
Seorang pria tampan datang dan duduk di sebelah Syeira. Ia pun meminta bartender menuangkan minuman untuknya.
Dia adalah sopir taksi yang tadi. Tapi ia sudah tak lagi mengenakan baju kerjanya. Dia memakai kaos, celana dan jaket kulit berwarna hitam. Sangat tampan.
"Kau hanya minum sendiri, Nona.? Kenapa tidak mengajak ku.? Dengan senang hati akan ku temani."
Syeira menoleh ke arah pria itu, matanya menyipit hampir tertutup sempurna. Syeira benar-benar mabuk.
"Kau.? Siapa kau.? Tunggu, Aku masih mengingatmu, iya.. Aku mengingatmu, kau adalah sopir taksi tadi kan.?"
Suara Syeira terdengar parau.
Pria itu tersenyum, ternyata gadis cantik yang tengah mabuk ini masih mengingatnya dengan baik.
"Aaahh,, lihatlah aku, gadis bodoh yang hanya lulusan SMA ini mengingat wajah sopir taksi. Sedangkan dia.? Dia yang lulusan universitas luar negri. Tidak mengingat wajah gadis yang di tolongnya. Aaahh..? Dia memang tidak tertarik padaku."
Syeira meracau dan menangis.
"Darren, Nama saya Darren."
Pria itu memperkenalkan diri.
"Ouuhh,,, nama yang sangat keren.. Dan wajah mu juga sangat tampan, Tuan.? Tapi sungguh sayang,? Nasib justru menjadikanmu hanya sebagai seorang Supir Taksi. Harusnya kau bisa menjadi artis Dengan wajah seperti ini...?"
Suara Syeira yang ngelantur membuat Darren tersenyum lebar mendengarnya. Syeira memang gadis yang sangat cantik. Tidak peduli meski dalam keadaan kacau seperti saat ini. Hidung dan pipi yang merah. Wajah yang sembab, mata yang bengkak. Menangis dan mabuk, tetap saja dia terlihat sangat cantik.
"Apa kau sedang memiliki masalah.?" Darren bertanya. Ia lalu menenggak minumannya.
"Masalah.?? Tentu saja,\_\_ Ha ha ha, orang hidup memang penuh dengan masalah, kalau di penuhi keju dan kacang itu namanya martabak."
Jawab Syeira yang seketika membuat Darren tertawa lepas. Dan Syeira tersenyum manis melihatnya. Tapi sedetik kemudian raut muka Syeira sudah berubah. Ia kembali menangis, dan kali ini suara tangisannya lebih kencang, membuat Darren panik. Ia takut orang yang melihatnya akan salah paham.
"Nona, kenapa kau menangis.? Nona, tolong hentikan tangisanmu, atau orang-orang akan salah paham padaku."
Darren mencoba berbicara, meminta Syeira untuk menghentikan tangisnya yang meraung.
"Aku sudah menunggu nya, aku selalu berharap untuk bisa bertemu dengannya. Aku mencintainya sejak lama. Tapi dia tidak merasakan hal yang samaaa. Haaaahh.?"
Syeira berbicara sambil menangis.
"Siapa.? Siapa yang kau tunggu dan kau cinta.? Nona kumohon lebih tenang lah."
Darren semakin panik. Syeira yang mabuk menangis semakin kencang dan meracau.
Syeira lantas menggerakkan tangan. Mengambil kalung yang ada di balik baju nya.
"Dia, dia orang nya. Dia yang sudah mematahkan hatiku, dia yang datang membawa cinta, namun pergi meninggalkanku dengan begitu saja. Dia tidak mempedulikan ku, tidak pernah."
Syeira menunjukkan bandul cincinnya pada Darren, jelas Darren tidak mengerti, ia hanya menganggap jika Syeira dalam keadaan tidak sadar karna mabuk. Karna itu dia ngelantur.
"Iya baiklah. Aku mengerti."
Ucap Darren menjawab agar Syeira cepat tenang.
"Dia sangat jahat kan, Tuan.?"
"Iya, dia memang jahat."
Syeira memasukkan kembali kalungnya. Ia lantas berdiri, namun tubuhnya terhuyung karna tidak seimbang. Syeira sangat mabuk.
"Nona."
Darren menangkap tubuh Syeira. Seperti sebuah adegan romantis dalam film, dimana sepasang kekasih tengah berpeluk mesra.
Arend datang melihat Syeira berada dalam pelukan pria lain. Hatinya membara, matanya merah, rahangnya mengeras, Urat wajah, leher dan tangannya yang sudah mengepal jelas terlihat karna ia menahan amarah.
Arend menarik tangan Syeira dengan keras. Hanya dalam sekali tarik tubuh Syeira yang lemas lunglai berpindah kedalam pelukannya.
Darren hendak menarik kembali Syeira namun dengan kuat Arend menahan dada Darren menggunakan sebelah tangannya. Hanya tekanan dari satu tangan Arend mampu membuat dada Darren merasa sakit yang luar biasa. Darren sampai mengernyit karna merasa sakit. Ia akhirnya memilih diam. Memahami jika pria yang datang ini bukanlah lawannya.
Arend menatap wajah Syeira yang sudah tak sadarkan diri. Matanya terpejam sempurna. Bau alkohol begitu kuat dari aroma nafas dan wajah Syeira. Arend memejamkan mata menahan amarah, ia tidak menyukai itu. Tapi Syeira tengah terlelap. Arend memilih untuk meredam emosinya.
Arend lantas meraih tas Syeira yang berada di meja sebelahnya. Ia lantas menggendong tubuh Syeira dengan gaya bridal style.
Darren hanya menatap Syeira yang telah di bawa pergi oleh pria yang ia kenal wajahnya itu.
..."Dia adalah CEO *N~A Cell. Narendra Putra Aryan*. Siapa gadis itu.? Bukankah dia di kabarkan telah menikah.? Dan istrinya adalah wanita rahasia. Apakah gadis tadi adalah istrinya.?"...
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...