
Syeira kembali membuka selimutnya, hampir 3 jam dia diam dalam posisi seperti itu, akhirnya Syeira merasa pengap juga.
"Haah,, hah\_\_ hah\_\_"
Syeira menghirup oksigen sebanyak-banyak nya. Hatinya lebih tenang, Syeira menyentuh dadanya lagi. Ia diam merasakan detak jantungnya.
"Sudah normal kah.? Ku rasa sudah.!"
Syeira kembali duduk. Ia merasa haus, tenggorokannya terasa kering, ia menoleh ke arah nakas, botol minum yang biasa tersedia disana dalam keadaan kosong.
Syeira bangkit lantas meraihnya. Ia melangkah untuk mengisi botol minumnya di dapur, tapi saat berada di depan pintu memegang handle langkah Syeira kembali terhenti.
"Bagaimana kalau dia masih disana.? Bagaiman kalau aku bertemu dengannya.? Aaahh,,\_\_ Nanti jantung Ku tidak normal lagi.!"
Syeira nampak berpikir, antara keluar atau tidak, tapi tenggorokannya benar terasa kering, ia haus dan ingin minum.
Syeira akhirnya membuka pintu secara perlahan, sangat pelan, mendongakkan kepala sedikit keluar melihat keadaan. Arend maupun Zico tidak nampak dalam penglihatannya. Syeira pun tersenyum tipis sambil keluar lalu menutup kembali pintunya secara hati-hati.
Ia melangkah ke dapur, mengisi air di botolnya, dan juga minum.
Saat Syeira hendak kembali ke kamar. Pandangannya tak sengaja tertuju ke arah sofa, rambut hitam dan tangan yang berkulit putih bersih ber urat nampak di pinggiran sofa. Syeira mendekat.
Arend tertidur di sofa, komik detektif keluaran terbaru berada di dadanya. Syeira tersenyum manis melihatnya. Arend tetap terlihat sangat tampan meski dalam keadaan tertidur sekalipun.
Terdengar suara pintu kamar di tutup. Syeira menoleh kaget, Zico keluar kamar sambil menggaruk kepalanya, mukanya terlihat seperti orang yang sangat mengantuk, dan dia juga menguap. Zico melihat Syeira berdiri di dekat sofa, Zico hendak bersuara. Namun dengan jurus kilat Syeira segera mendekat dan memberikan kode untuk diam dan tidak berisik.
"Ssuuuutt..! Dia lagi tidur.!"
Bisik Syeira sambil jari telunjuknya ia letakkan di bibirnya sendiri. Zico mendongak, matanya melebar.
"Ooughh." Zico hanya ber 'oh' sambil tersenyum.
"Mau apa.?" Tanya Syeira pada Zico
"Laper\_!"
"Tadi kan baru makan.?"
"Kapan.? Tadi gua gak sempet makan.!"
Syeira mengernyitkan kening, ia memang tidak memperhatikan orang-orang yang lain tadi, pandangannya selalu saja terfokuskan kepada Arend.
Sedangkan Zico, ia juga tidak bisa makan dengan benar, Cellin selalu menarik perhatiannya hingga ia tak selera untuk makan.
Zico melewati Syeira melangkah ke dapur. Syeira kembali melihat ke arah sofa. Ini sudah malam. Mungkin Arend akan tertidur disana sampai pagi.
Syeira pun melangkah ke kamar, ia kembali keluar sambil membawa selimut tebal, Syeira mendekat ke arah sofa, tersenyum manis dan meletakkan benda lembut yang di bawanya itu untuk menyelimuti tubuh suaminya.
Arend merasakan ada gerakan, keningnya mengernyit dan tangannya bergerak cepat, Arend menangkap tepat di lengan Syeira, Syeira yang kaget hanya bisa membulatkan mata, dan karna tarikan Arend yang kuat, ia sampai terjatuh dan kini wajahnya sudah berada tepat di hadapan Arend.
Arend membuka matanya pelan, menyadari pemilik aroma tubuh itu, ini adalah aroma tubuh Syeira istrinya.
Syeira membulatkan mata menatap Arend yang menatapnya sayu, keduanya hanya terdiam. Zico yang mendekat sambil makan tidak mengetahui jika Syeira kembali kesana dan sudah dalam posisi ambigu bersama Arend saat ini.
"*Brruuhh*"
Zico tidak sengaja menyemburkan semua makanan di mulutnya ketika kaget melihat Arend dan Syeira yang lagi-lagi ber adegan layaknya anak ABG sedang pacaran.
Syeira dan Arend sontak menoleh ke arah Zico serentak. Syeira hendak bangkit, tapi kini Arend memegang lengannya kuat, hingga Syeira tidak bisa bergerak, Syeira kembali mencoba melepaskan cengkraman Arend, namun Arend malah memegangnya semakin kuat, sambil tersenyum licik.
"Aaahh,,,, Lanjutkan\_ Lanjutkan. Aku yang akan pergi, kalian sepertinya memang lebih suka bermain di luar ruangan. Apa gunanya punya kamar,? hancurkan saja!. Itu tidak ada gunanya."
Ucap Zico nyolot dengan ekspresi yang jengkel dan kesal. Zico lantas berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar.
"Aaahh,, lepaskan.!"
Syeira menarik tangannya. Arend akhirnya melepaskan genggaman tangannya pada lengan Syeira dengan kasar, Syeira terjerembab jatuh kebelakang.
Arend berdiri dengan santai, seakan tidak terjadi apa-apa ia melangkah melewati Syeira yang terduduk di lantai. Senyum Arend semakin mengembang. Dengan. gaya dinginnya ia meninggalkan Syeira yang menganga tidak percaya, jelas Syeira merasa begitu kesal dengan sikap Arend yang se enaknya.
"Iiiiihhh,,, Dasar CEO Kejam.!" Pekik Syeira pelan, takut jika sampai terdengar oleh Arend yang baru masuk ke dalam kamarnya Zico.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Pagi yang tenang, di luar sedang gerimis, belum memasuki musim penghujan, tapi gerimis tiba-tiba datang.
Gerimis yang datang di waktu pagi, membawa hawa dingin dengan Angin sepoi menyejukkan jiwa. Aromanya yang mencengangkan hati, dan lembabnya kaca karna embun yang dingin. Menambah suasana semakin romantis.
Syeira enggan bangun, jam sudah menunjukkan pukul 7. Ia masih begitu setia dengan guling dan selimutnya. Sangat nyaman.
Zico sudah berangkat, ia tengah berusaha menaklukkan hati Cellin, Zico pun berniat menjemput Cellin terlebih dulu, seorang Cassanova belajar menjadi pria sejati, berjuang demi mendapatkan sang pujaan hati.
Arend sengaja berlama-lama. Ia bahkan belum sarapan. Arend ingin bisa mengantar Syeira ke kantornya, tapi ia merasa sungkan jika harus berterus terang.
'*Kenapa dia suka sekali tidur sampai siang*.?'
Arend masih menunggu Syeira yang tak kunjung keluar dari kamar.
'*Apa aku harus membangunkannya*.?'
Arend gelisah, melihat jam sudah menunjukkan pukul 8.
'*Kenapa dia belum bangun juga.? Apa dia tidak bekerja*.?'
Arend masih menunggu, Jam 8 lewat 15 menit, ia tak sabar lagi, Arend segera bangkit, melangkah ke arah kamar Syeira, dia ragu, tapi sudah jenuh begitu lama menunggu.
Arend membuka pintu kamar Syeira pelan. Ia menggelengkan kepala, menghembuskan nafas kasar, melihat Syeira yang masih tidur dengan terlentang, menggunakan baju tidur setelan lengan pendek dan celana panjang.
Selimutnya berada di bawah tubuhnya, gulingnya teronggok di lantai. Bahkan mulutnya terbuka, terdengar dengkuran halus dari nya.
Arend mendekat dan tersenyum, ingin rasanya ia tertawa sekarang, ini momen yang lucu dan sangat langka.
Arend mengambil ponsel dari saku celana, ia mengambil gambar Syeira dalam posisi itu, berkali-kali, dengan angle yang berbeda, Bahkan ada satu foto dimana dia menggunakan kamera depan dan Arend ikut Selfi tersenyum cerah di dekat wajah Syeira. Sangat lucu.
Syeira menggeliatkan tubuh, Arend panik, menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, Syeira terus bergerak pelan, sepertinya ia akan segera bangun.
Arend lekas keluar, ia kembali ke kursi meja makan, duduk dengan tenang, bahkan Arend sudah memegang sendok dan garpu memasukkan makanan kedalam mulutnya dengan tenang.
Syeira keluar dari kamar sambil mengucek matanya, sesekali ia menguap bebas. Arend menahan senyumnya. Ia melanjutkan makan tanpa menoleh ke arah Syeira yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Kau belum berangkat, Tuan.?"
Suara Syeira terdengar serak khas orang yang baru bangun tidur.
"Heemm.." Arend hanya ber *hemm* ria.
"Huuwaah.!"
Syeira kembali menguap, ia lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Syeira bahkan memukul-mukul bahu dan menggerakkan lehernya karna terasa pegal.
Arend meletakkan sendoknya, meminum air putih di gelas. Lalu berdiri. Ia sudah selesai makan.
Arend melangkah, Syeira pikir Arend akan kembali ke kamar, betapa kagetnya Syeira ketika Arend justru berhenti di belakangnya, memijit bahu dan leher Syeira. Syeira membulatkan mata terdiam. Matanya berkedip berkali-kali memastikan jika ini adalah kenyataan. Syeira menoleh ke belakang mendongakkan kepala melihat Arend yang masih memijitnya. Tapi dengan gerakan cepat Arend memutar kepala Syeira agar kembali menghadap depan.
Syeira hanya bisa diam mematung mendapat perlakuan hangat seperti itu. Setelah itu, Arend mengacak rambut Syeira.
"Buruan mandi, aku antar kamu kerja.!"
Ucap Arend pelan namun tegas sambil berlalu menuju kamarnya meninggalkan Syeira.
Syeira kembali menatap Arend yang sudah menghilang. Ia hanya bisa diam sambil mengedipkan mata berkali-kali tidak percaya.
"Apa dia salah minum obat.? Atau dia sedang berbaik hati.? Sepertinya ada yang salah dengan kepalanya.!"
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...