LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 124





Arend dan Syeira berada di dalam mobil, mereka telah check out dari hotel dan segera pulang kembali ke apartemen.



"Mau beli makanan dulu?." Arend bertanya.



"He em!." Jawab Syeira mengangguk.



Mereka pun membeli makanan siap saji lewat aplikasi *dine in your car*. Tanpa harus turun dari mobil. Arend dan Syeira menunggu di halaman restoran.



"Terakhir kali kamu mens kapan, sayang?."



"Hah?." Syeira terbengong kaget, Arend menanyakannya satu hal yang sedikit membuatnya merasa malu dan canggung.



"Kapan ya?. Kok aku lupa!."



Syeira menang benar-benar lupa kapan terakhir tamu bulanannya itu datang. Arend malah tersenyum mendengar jawaban Syeira.



"Kamu tidak merasakan apa-apa gitu? Suatu perubahan? Atau mungkin ada yang aneh sama diri kamu?."



Syeira nampak berpikir, lalu menggeleng. Arend kembali tersenyum.



Makanan datang, Syeira menerima dan mengucapkan terimakasih, lalu mereka pergi.



Arend teringat dengan kehamilan aunty nya Ineke dulu yang begitu sangat merepotkan. Dan juga mengingat cerita dari aunty nya dulu mengenai kehamilan mamanya Ayla yang tengah mengandung dirinya tapi sama sekali tak merasakan apa-apa. Dan Arend semakin mengembangkan senyumnya. Entah kenapa dia merasa begitu senang.



Sedangkan Syeira lebih banyak terdiam. Pertanyaan Arend mengenai tamu bulanannya tadi membuat Syeira jadi berpikir ke arah sana.



'*Apa mungkin aku hamil? Tapi aku tidak pernah mual, aku juga tidak nyidam. Hanya saja itu memang sudah lama aku tidak mens*!.'



Syeira membuka tasnya cepat, ia lantas mengambil ponsel dan memainkannya. Arend memperhatikan tingkah Syeira yang seperti sedang panik.



"Ada apa, Ra?."



'*He he*!' Syeira nyengir kuda dan menggeleng. Ia melihat kalender di ponselnya yang mungkin ada catatannya tentang terakhir ia mens.



"Ya Tuhan?." Syeira tidak sadar ia berteriak.



"Apa apa?." Jelas Arend merasa kaget. Syeira lekas menoleh pada Arend. Ekspresinya seperti takut, panik atau entahlah, sulit tuk di artikan.



"Kamu kenapa sih?." Arend kembali bertanya sambil fokus menyetir.



"2 bulan yang lalu." Lirih Syeira.



"Apa?." Arend masih bingung pada awalnya. Tapi ia akhirnya mengingat pembicaraan mereka tentang tamu bulanannya Syeira. Dan membuat Arend tersenyum seketika.



"Apa itu artinya? aku?"



"Kita periksa ke Rumah Sakit besok ya?." Arend sangat antusias. Sedangkan Syeira mungkin sedikit merasa takut.



"Tapi aku tidak merasakan apapun? Bukankah ibu-ibu hamil itu harusnya muntah-muntah? Atau ngidam? Aku tidak merasakan apapun!."



Arend tertawa mendengar ucapan Syeira yang terdengar lucu baginya.



"Itu karna dia adalah anak ku, dia tidak mau menyusahkanmu." Arend mengusap perut rata Syeira. Ia begitu yakin jika ada kehidupan baru yang mulai tumbuh dan berkembang di dalam sana. Syeira pun akhirnya tersenyum setelah melihat Arend yang terus tersenyum bahagia. Semoga.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Zico tidak pulang ke apartemen Arend. Ia bermalam di mension Aryan. Tubuhnya cukup kedinginan kemarin.



Mereka tengah sarapan pagi bersama. Mikaila lebih banyak diam. Ia merindukan Rain.



'*Kemarin kita masih sarapan bersama, Uncle*?.'



Mikaila hanya memutar-mutar sendoknya. Tatapannya kosong ke arah meja.



"Sayang? Apa makanannya tidak enak?." Ayla bertanya, Aryan dan Zico memperhatikan.



Mikaila tersenyum lalu menggeleng.



"Enak kok Mah!"



"Bagaimana kalau kamu ikut Zico saja hari ini?." Aryan berbicara.



"Aaahh? Aku tidak ke kantor hari ini Pah? Aku mau ketemu sama Arend." Zico menolak.



"Ya gak papa kalau mau kesana ya ajak Kei sekalian." Ayla yang membuka suara, membuat Zico merasa tidak enak jika harus menolak mamahnya.




"Kei udah sarapannya. Kei pergi ya Mah, Pah?."



Mikaila mengecup Ayla dan Aryan bergantian. Dan dia bergerak melangkah hendak meninggalkan mereka. 4 Body guard sudah siap, berdiri dengan tegap.



Ayla menendang kaki Zico pelan, matanya melotot beberapa kali, memberi kode.



'*Ck, aah*?' Zico berdecah. Tapi dia pun menurut, Zico tidak pernah bisa menolak jika yang memintanya adalah sang mama.



Zico lekas berjalan cepat, dan setelah dia sampai di halaman utama mension Aryan, Zico meraih tangan Mikaila, menghentikan langkah Kei yang ingin masuk kedalam mobil.



"Zico?." Mikaila kaget, Zico sudah menariknya agar Kei ikut bersamanya.



"Kalian bisa mengikuti mobilku dari belakang!." Ucap Zico pada para Bodyguard.



'*Brack*.' Pintu mobil di tutup. Mikaila masih bingung tapi Zico bergerak cepat.



Zico lantas menginjak gas mobilnya. Ia akan membawa Mikaila untuk ikut bersamanya.



"Aku gak mau kalo ikut kamu ke *N~A Cell*." Mikaila protes.



"Gak usah bawel." Zico membalas santai ucapan Mikaila.



Sebenarnya Zico juga tidak ingin pergi ke *N~A Cell* ataupun bertemu Arend, itu hanyalah alasannya saja pada Ayla.



Zico ingin berkunjung ke makam Cellin, ia sangat merindukan mendiang sang istri sejak kemarin. Dan dia membawa Mikaila ikut bersamanya sekarang.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Akan ada ajang Celebrity award terbest beberapa waktu kedepan.



DK tengah mempersiapkan penampilan terbaiknya. Karirnya tengah berada di puncak popularitas.



Hari ini, ia akan di pertemukan dengan single dancernya yang terbaru. Publik membutuhkan wajah yang baru. Dan dia dengan beberapa orang dari agensinya termasuk manager dan assistannya tengah berada di sebuah gedung tempat latihan dance.



"Dia Zizi, penari yang akan menjadi partner mu nanti." Salah seorang dari agensi menunjuk seorang wanita cantik yang tengah berlatih menari.



DK membulatkan mata. Ia begitu mengenal wajah wanita itu.



'*Dia adalah wanita yang terlibat skandal dengan Zid. Bagaimana dia bisa berada disini sekarang*?'



DK tersenyum *Smirk*. Suatu kejutan, bisa bertemu dengan orang yang luar biasa tanpa di sengaja seperti ini.



Zizi menari dengan energik, gerakannya luwes dan dia terlihat berbakat.



DK mendekat, ia meraih lengan Zizi yang tengah memutar badannya. Membuat Zizi berhenti dan berhadapan dengan DK. Mereka saling menatap tajam.



"Tuan DK?." Lirih Zizi kaget. Ia juga mengingat dengan baik, maskot utama dari *N~A Cell*. Meski cukup lama mereka tidak bertemu.



DK memutar lengan Zizi, menggerakkannya agar ia kembali berputar, dan dia terus melakukan gerakan menari bersama dengan Zizi.



"Kita di pertemukan takdir disini, Zizi."



DK berucap pelan, ia mendorong tubuh Zizi lalu menarik lagi tangannya hingga kini tubuh Zizi menempel pada tubuhnya. Dan DK menggerakkannya lagi agar tubuh Zizi berputar.



"Aaah?." Zizi sebenarnya sedikit merasa sakit, DK menarik ulur tubuhnya dengan kasar.



DK merengkuh pinggang Zizi dan mendaratkan wajahnya pada leher Zizi untuk mengakhiri gerakan dansa mereka.



Dan gemuruh tepuk tangan dari orang-orang disana terdengar mengapresiasi mereka berdua.



Nafas Zizi tersengal, dadanya naik turun, selain ia merasa lelah karna menari, ia juga cukup kaget dan bahkan takut karna ternyata orang yang akan menggunakan jasa nya adalah DK.



"Bravo. Bravo. Kalian terlihat sangat cocok. Mulai sekarang, kalian akan berlatih satu jam setiap hari sampai hari H tiba."



DK tersenyum *Smirk* menatap Zizi yang terlihat gugup dan hanya menunduk. DK tahu pasti bagaimana sepak terjangnya dulu di *N~A Cell*.



"Boleh aku tahu bagaimana kau bisa masuk ke dunia entertain, Zizi? Apa kau?"



"Jaga bicara anda, Tuan DK. Saya hanya lah penari biasa. Yang mengikuti audisi sebelum akhirnya berkesempatan sebagai pasangan anda. Berhenti berpikir jika saya adalah wanita murahan."



Zizi mengucapkannya sangat tegas. Ia lantas pergi meninggalkan DK yang terus menatapnya dengan tatapan yang seakan merendahkan.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...