LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 64





Arend menatap Rain dengan tatapan tajam dan dalam. Rain pun memberikan tatapan yang sama pada Arend. Tatapan penuh makna yang seakan menyiratkan satu rasa yang sama. *Merindukan Ineke*.



Mata kedua pria sejati itu telah berkaca-kaca. Di masa dulu mereka tidak pernah akur, tapi di pertemuan kali ini, mereka memiliki sakit rindu yang sama yang bersemayam di dalam hati. Rain dan Arend sangat merindukan Ineke, rindu yang tak pernah terobati.



Dan kini ketika mereka kembali bertemu, seperti dua hati yang ingin saling berbagi, berbagi rasa perih yang menyiksa diri.



Rain melepas tangannya yang mencengkeram Mikaila. Ia lantas tidak begitu sadar mendorong tubuh Mikaila ke arah samping.



Mikaila yang tubuhnya tidak seimbang sempoyongan dan hampir menabrak Cen. Cen refleks menghindar, jangan sampai dia kontak fisik dengan wanita lain di depan mata Meghan. Atau perang dunia akan terjadi. Akibatnya tubuh Mikaila pun terjerembab jatuh kelantai dengan posisi pinggulnya yang membentur lantai terlebih dulu.



"Aauuwwh..!" Teriak Mikaila tanpa seorang pun merespon.



Syeira yang melihat Mikaila akan jatuh tadi sempat ingin menolongnya tapi geraknya seperti tercekat, hanya gerak kedua tangannya yang terangkat dengan mulutnya yang menganga lantas matanya terpejam saat tubuh Mikaila sempurna membentur lantai.



Rain dan Arend melangkah bersama, mereka saling memberikan pelukan satu sama lain. Seakan yang mereka peluk saat ini adalah Ineke. Rain memeluk Arend anak paling penting dan kebanggaan Ineke. Dan Arend memeluk Rain Orang yang sangat dicintai Aunty nya.



Mereka sedang mencoba mengobati kerinduan terdalam yang begitu lama bersemayam.



Cen hanya ber ekspresi datar. Matanya nanar melihat Arend dan Rain untuk pertama kalinya saling memeluk.



Syeira membuka matanya pelan. Melihat Mikaila yang masih terduduk di lantai dengan mengelus pinggulnya sendiri yang terasa sakit.



"Mikaila.?" Syeira melangkah cepat membantu Mikaila berdiri. Syeira sempat melirik ke arah Cen yang seakan tak peduli dengan keberadaan dirinya dan Mikaila yang jatuh. *Jangan sampai saja Cen melirik wanita lain dan Meghan melihatnya. Bisa habis dia*.



Mikaila berdiri dengan bantuan Syeira. Ia menatap ke arah Arend dan Rain yang tengah saling berpelukan. Mikaila mengernyitkan dahi tidak mengerti. Dia bingung, kenapa Arend malah berpelukan dengan orang yang ia duga telah membunuh Papahnya.



Syeira menyadari Mikaila yang terus menatap dalam pada Arend suaminya. Syeira pun melepas pegangan tangannya di bahu Mikaila karna merasa kesal.



Mikaila melangkah cepat, menarik lepas paksa kedua pria yang berpelukan haru itu.



"Arend.? Kenapa kamu memeluknya.? Dia adalah Pria yang telah membunuh Papah ku.?"



Mikaila berteriak pada Arend setelah tautan tubuh Arend dan Rain terlepas.



Rain dan Arend mengernyitkan kening. Rain menatap tajam pada Mikaila. Ia merasa semakin benci pada gadis ini. Lidahnya begitu licin saat berbicara. Tanpa mengetahui kebenarannya.



"Kau pasti salah paham Kei.?"



"Salah paham.? Tidak Arend.? Aku datang ke tempat markas para berandal yang telah menyerang kami waktu di Mall. Dan aku bertemu dengannya disana. Aku yakin, pasti dia yang telah membunuh Papah.!"



Mikaila berteriak penuh emosi. Ia dengan kasar mencengkeram kerah baju Rain, kakinya yang tanpa alas kaki menjinjit, Karna tinggi Rain jauh dari tinggi tubuhnya. Mikaila sampai harus mendongak untuk bisa menatap muka Rain.



Rain menatap tajam Mikaila. Rahangnya mengeras. Giginya beradu. Rain sedang dalam mode marah ON.



Arend memalingkan muka, memejamkan mata dan membukanya lagi secara kilat.



"Mikaila, Lepaskan.!" Ucap Arend tegas yang tak di dengar oleh Mikaila.



Syeira mendekat. Ia menyentuh lembut kedua bahu Mikaila.




"Akan lebih baik, jika kita membicarakan semua dengan kepala dingin dan dengan hati yang tenang. Biarkan mereka menjelaskan, dan kita dengarkan.!"



Syeira kembali berbicara sangat lembut pada Mikaila. Ia membujuk gadis yang tengah dilanda duka dan dendam itu.



Syeira mengerti perasaan Mikaila yang kalut. Ia pernah berada di posisi itu, sangat sedih dan terpukul saat ibunya meninggal, dan itu di bunuh, bahkan oleh ayah kandungnya sendiri.



Jelas luka itu masih begitu menganga. Dan melihat Mikaila saat ini, Syeira seperti telah melihat bayangan dirinya sendiri, bahkan Syeira merasa kagum dengan Mikaila. Gadis ini tanpa memikirkan keselamatannya sendiri datang mencari tahu dan ingin membalas dendam. Sedangkan Syeira dulu hanya bisa menangis dan merutuki nasibnya. Hingga Arend datang sebagai pelipur lara.



Arend melangkah ke arah Cen. Cen membuka kedua tangannya lebar, mereka berpelukan secara jantan. Cen menepuk punggung Arend. Bocah kebanggaannya dulu kini telah dewasa sekarang.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Para Perawat mendorong ranjang roda Cellin memasuki kamar rawatnya kembali. 3 pemeriksaan awal yang harus di jalani telah selesai.



Zico dan Kakak terus menemani, saat ini Cellin tidak sadarkan diri karena efek obat yang di berikan Dokter.



2 hari lagi adalah waktu Cellin akan di Operasi. *Aneurisma* adalah penyakit yang mustahil bisa di sembuhkan. Pengobatan hanya bisa dilakukan sebagai pencegahan agar *Aneurisma* yang pecah tidak mengakibatkan perdarahan hingga masuk ke otak yang bisa mengakibatkan kelumpuhan, stroke, amnesia, koma, dan bahkan kematian.



Hasil pemeriksaan menyatakan jika *Aneurisma* yang di derita Cellin telah pecah. Dan harus segera di lakukan operasi.



Operasi itu akan di lakukan untuk menjepit pembuluh darah (neurosurgical clipping) atau memasang kumparan di lokasi aneurisma (endovascular coiling).



Dan, jika Operasi berhasil. Cellin masih harus menjalani serangkaian pengobatan Pasca Operasi seperti fisioterapi untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Dan sangat di harapkan *Aneurisma* tidak pecah lagi. Karna jika itu sampai terjadi, Dokter hanya bisa menyerahkannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.



Zico duduk di kursi dekat ranjang Cellin. Ia menggenggam tangan Cellin dengan kedua tangannya. Mengecupnya penuh kasih. Sekarang, Zico sang Cassanova itu telah berubah sepenuhnya, setiap harinya ia menangis memanjatkan doa pada Tuhan agar menyembuhkan gadis yang sangat dicintainya ini dari penyakitnya.



Zico lebih takut dari pada Cellin yang sudah sangat ikhlas dengan segala takdir yang Tuhan gariskan.



Saat Cellin bangun nanti, dia harus menjalani satu tahap awal sebelum operasi. Yaitu memangkas habis rambutnya.



Zico merasa sangat sedih membayangkannya. Bagaimana nanti perasaan Cellin mendapati rambut panjangnya yang indah harus di cukur habis dari kepalanya. Bukankah Cellin akan merasa sangat sedih.? Bukankah hatinya akan perih dan terluka.? Rambut adalah Mahkota bagi kaum wanita. Dan Cellin harus merelakannya.?



'*Kau harus sembuh, kita lewati ini semua bersama. Andai aku bisa memberikan kekuatanku, pasti akan aku berikan padamu, aku sangat mencintaimu. Cepatlah sembuh*.!'



Zico mengecup tangan Cellin yang di genggamnya berkali-kali.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Arend, Syeira, Rain dan Mikaila duduk bersama di halaman out door Mension megah nan luas Rain.



Syeira dan Mikaila bahkan tidak tahu pasti mereka tengah berada di titik sebelah mana. Tempat ini sangat besar dan luas.



Arend tengah berbicara lewat sambungan telepon dengan Ayla, ia harus langsung mengabarkan jika dia telah menemukan Mikaila.



Aryan meminta ponsel Ayla, ia ingin segera berbicara dengan Mikaila. Arend memberikan ponselnya pada Mikaila. Dan Mikaila berbicara lewat sambungan telepon dengan Aryan. Setelah selesai, Mikaila memberikan kembali ponselnya pada Arend. Dan dia duduk di kursinya, berdampingan dengan Syeira di sebelah kirin, dan Rain di sebelah kanannya.



Mereka tengah membicarakan hal yang serius.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...