LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 89





**Jam pulang kantor**.



"Apa kau ada acara nanti malam.?"



Arend berbicara pada Zid, mereka tengah berada di ruangan Arend saat ini.



"Apa ada yang harus aku kerjakan.?"



Zid kembali bertanya sebagai balasan dari pertanyaan Arend.



"Tidak.!"



Jawab Arend singkat. Ia sudah selesai dengan pekerjaannya hari ini, dan akan segera pulang.



Zid menundukkan kepala. Ia lantas mengikuti gerak langkah Arend yang keluar dari ruangannya.



Meldy berada di cafe dekat perusahaan *N~A Cell*, Arend mengatakan akan menemuinya disana sepulang kerja. Mereka harus membicarakan rencana mereka untuk mencari tahu kebenaran hubungan antara Zid dan Zizi.



Setelah menunggu hampir setengah jam. Meldy melihat Arend yang memasuki Cafe. Ia pun melambaikan tangan agar Arend melihat posisinya.



"Bagaimana Tuan CEO.?"



Meldy langsung menyambut kedatangan Arend yang baru saja duduk dengan sebuah pertanyaan.



"Kau pastikan dulu, apa Zid akan di rumah saja atau dia akan keluar malam ini.!"



"Dia sudah mengatakan padaku tadi siang jika dia akan bertemu dengan seorang teman lama.!"



"Dimana.?"



Meldy bingung, ia memang tak pernah menanyakan hal seperti itu pada Zid sebelumnya. Ia sangat percaya pada kekasihnya itu.



Dirinya yang harus berusaha dengan gigih dan mati-matian untuk bisa mendapatkan Zid. Meldy berpikir jika tidak mungkin Zid akan mudah berpaling darinya. Jika ada wanita yang ingin mendapatkannya, paling tidak usahanya harus lebih ekstra darinya. Begitulah jalan pikiran Meldy, sehingga ia tak pernah memiliki pikiran buruk pada Zid yang dingin.



"Kau tidak tahu dimana Zid akan bertemu dengan temannya.?"



Arend memalingkan muka. Meldy yang smart ketika di hadapkan dengan pekerjaan pun bisa menjadi Meldy yang bodoh ketika dihadapkan dengan cinta.



"Kalau begitu, kita harus mengetahui dimana Zizi nanti malam. Jika dia di rumah, kau bisa bertamu secara baik-baik, lalu menaruh kamera ini diam-diam.!"



Arend mengulurkan tangan, meletakkan satu benda kecil di atas meja.



"Itu memiliki perekat otomatis. Kau bisa menempelkannya dimana saja. Akan lebih baik jika kau bisa menaruhnya di kamar dan menghadap ranjang.!"



Arend mengucapkan kalimatnya dengan sangat santai, ia tak begitu memikirkan perasaan Meldy. Yang langsung memberi respon dengan membulatkan matanya penuh emosi. Bahkan hati Meldy langsung nyeri karna kalimat yang Arend katakan.



"Jika Zizi tidak ada di apartemennya.?"



"Itu akan menjadi tugasku untuk membuka pintu nya, dan kau bisa masuk untuk menaruh kamera mu.!"



"Lantas bagaimana aku bisa mengetahui apakah Zizi akan ada di apartemennya atau dia sedang keluar, Tuan CEO.? Bahkan aku saja belum tahu mereka ada di apartemen lantai berapa.? Nomor berapa.!"



"Itu masalahmu, yang harus kau pecahkan.!"



Arend bangkit, ia hendak meninggalkan Meldy yang masih bingung sambil membolak-balik kamera yang Arend berikan padanya.



Arend sudah melangkah, Meldy terus berpikir.



'*Bagaimana caranya.? Bagaimana*.? ***Syeira***.?'



"Tuan CEO.?"



Meldy berlari mengikuti langkah Arend yang sudah keluar dari Cafe.



Melalui perdebatan, Meldy pun akan ikut arend untuk pulang ke apartemennya, dia harus bertemu dengan Syeira, Syeira pasti bisa membantunya untuk menyelesaikan masalahnya ini.



Jelas Arend tidak setuju, ia tidak ingin jika Syeira sampai mengetahui masalah yang dialami oleh mereka. Arend tak ingin Syeira terlibat.



Tapi Meldy tetaplah Meldy, ia tak ingin mendengar penolakan Arend terhadap dirinya, Meldy pun lekas masuk kedalam mobil Arend. Dan dengan terpaksa Arend membawa wanita yang sangat berisik ini untuk ikut bersamanya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Arend yang di ikuti Meldy telah sampai di apartemennya. Rasanya Arend ingin menyeret Meldy untuk menjauh darinya. Tapi Arend tidak tega. Lagi-lagi bayangan aunty nya yang rapuh hingga mengakhiri hidupnya karna cinta kembali terbayang di benak Arend. Dan dia harus lebih bersabar sekarang menghadapi sikap Meldy.



"Assalamualaikum.!"



Ruang tamu terlihat sepi. Meldy langsung nyelonong masuk mendahului Arend yang baru membuka pintu. Arend menahan kekesalannya. Mulutnya hampir saja mengeluarkan kata-kata mutiara. Bahkan tangannya sudah mengepal seakan ingin memukul Meldy yang se enaknya saja.



'*Wanita ini*.?'



"Syeira.?"




"Sssuuttt.!"



Arend meminta Meldy untuk diam dan tidak berisik.



"Sssuutt.!"



Meldy justru dengan lucunya mengikuti gerak Arend menutup mulut dengan jari telunjuknya sendiri agar diam.



"Kenapa kau menyuruhku diam.?"



"Mungkin saja Cellin sedang tidur, dan Syeira menemaninya. Kau ini.?"



"Oohw.!"



Meldy mengangguk di iringi bibirnya yang manyun mengucap kata O.



Benar saja, Syeira keluar dari kamar Zico, dan dia menutup pintu dengan sangat pelan.



"My L.? Kau sudah pulang.?"



Syeira terlihat senang dengan kedatangan Arend. Ia langsung berhambur kedalam pelukan suaminya yang selalu ia rindu. Arend mengecup kening Syeira sebagai balasan.



"Meldy.?"



Meldy tersenyum cengir kuda.



"Kau datang.? Sendiri.? Dimana Zid.?"



Syeira mendongakkan kepala melihat belakang mereka yang sudah tidak ada siapa-siapa.



"Apa Cellin tidur.?"



Arend mengalihkan perhatian Syeira, ia menanyakan Cellin.



"Iya, tadi kepalanya terasa sakit. Sudah minum obat, dan dia istirahat sekarang.!"



Arend mengangguk.



"Aku mandi dulu, kau bicaralah dulu sama Meldy, dia ingin bertemu dan bicara sama kamu.?"



Syeira terlihat bingung.



"Mau bertemu aku.? Ada apa Mel.?"



Arend melangkah menuju kamar meninggalkan dua wanita itu.



Meldy menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi saat ini. Syeira menatap kasihan pada nya, gadis ini meskipun gayanya centil, manja dan suka seenaknya. Tapi cintanya pada Zid memang sangat tulus. Dan sangat besar, jika sampai Zid benar-benar mencuranginya. Syeira juga pasti akan sangat marah pada Zid. Apa lagi itu karna Zizi.



Syeira lah yang membawa Zizi ke tengah kehidupan mereka. Meski begitu, Syeira tak boleh menyesali apa yang sudah terjadi, selain tentang Zizi. Ada begitu banyak hidup gadis yang sudah terselamatkan kemarin.



"Kau bisa membantuku.?"



Meldy kembali bertanya.



"Gimana caranya..?"



"Dia mempunyai ponsel baru, kau memiliki nomornya.?"



Syeira mengangguk. Bahkan Zizi dulu yang mengirim pesan singkat padanya setelah Zizi meminta nomor Syeira dari Zid. Zizi masih mengucapkan terimakasih pada Syeira yang telah menolongnya.



"Kau hubungi dia, tanyakan bagaimana kabarnya, basa-basi sedikit, dan kau bilang saja, tidak sengaja melihat nya di gedung apartemen SA City. Kau ingin mampir tapi tidak tahu dimana apartemennya. Jadi kau bisa meminta dia mengatakan nomor apartemennya. Setelah itu kau bilang lain kali akan mampir. Dan kau tanyakan, apakah dia saat ini di rumah, atau tidak.? Jika di rumah, kau bilang saja mau main.!"



Syeira terus mengangguk mendengarkan Meldy yang menjelaskan dengan nada cepat secepat kereta ekspres.



Jiwa reporter Syeira seakan kembali bangkit dengan misi yang di berikan Meldy padanya.



"Apa yang harus kulakukan.?"



Syeira kembali ragu. Ia tak yakin.



"*Ckk*.!" Meldy berdecak kesal.



"Buruan.? Ini sudah mau malam.?"



Meldy meminta Syeira untuk lekas menghubungi Zizi.



"Aku Maghrib dulu.!"



Meldy terbengong, ia tak bisa lagi mencegah Syeira yang sudah berhambur pergi. Kewajibannya sebagai muslim memanglah yang utama. Meldy harus bersabar.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...