
Mikaila mengunci diri di kamar, jelas ia tengah bersedih saat ini, hatinya kembali patah begitu parah, lagi, ia harus menerima penolakan dari cintanya.
Zico sudah berdiri di depan pintu kamar Kei, setelah melalui perdebatan alot, Aryan dan Ayla memintanya untuk menemui Kei dan menemaninya, mengajaknya bicara dari hati ke hati.
'*Tok tok tok*.!'
"Kei? Boleh aku masuk?."
Tak ada jawaban, Kei bisa mendengar Zico yang beberapa kali mengetuk pintu dan memanggilnya, tapi hatinya begitu perih dan dirinya sangat malu untuk bertemu dengan orang lain saat ini.
"Kei? Aku mau bicara?."
Masih sama, hening.
Hari sudah gelap, waktu Maghrib telah lewat, Rain datang bersama Cen ke arah Zico berdiri. Mereka berdua sudah siap dan akan berangkat, sebelumnya Cen sudah menghubungi Arend dan ingin bertemu sebentar.
"Uncle?."
Rain memeluk Zico. Lalu bergantian Cen yang melakukan hal serupa.
"Kami harus pergi sekarang!."
Zico mengangguk. Ia mengerti jika ini memanglah bukan dunia Rain.
'*Tok tok tok*!'
Kali ini Rain yang mengetuk pintu Kei, bagaimanapun, ia harus berpamitan secara baik-baik dengan Mikaila.
"Uncle tahu kamu bisa mendengar Uncle, Kei. Uncle akan pergi sekarang. Jaga dirimu, dan selalu menurut dengan Mama Ai dan Papah Aryan. Kau bisa menghubungi Uncle jika kau mau!"
Setelah mengatakannya. Rain bergegas pergi dari sana. Dan Zico mengikuti langkah Rain turun ke bawah dan akan mengantar Rain Sampai halaman depan rumahnya.
Mikaila mengangkat kepalanya. Dia baru menyadari kesalahannya yang hanya berdiam diri saja.
"Tidak, Uncle Rain tidak boleh pergi. BODOH!. Kenapa aku diam saja?."
Mikaila lekas bangkit, turun dari ranjangnya dan berhambur lari keluar.
"Uncle Rain? Tunggu? Kei mau bicara? Uncle?"
Mikaila sudah berlari kencang menuju halaman utama mension Aryan, tapi kesempatannya telah hilang. Mobil yang Cen kendarai telah keluar dari gerbang utama membawa Rain pergi dari sana.
"Uncle? Uncle Rain?." Mikaila berteriak dan menjerit dalam tangis. Orang yang dicintanya telah pergi meninggalkannya.
"Kei?."
"Kei?."
Semua orang menoleh pada Mikaila yang datang dengan berlari begitu kencang hendak mengejar Rain yang telah pergi.
"Kei?." Zico berhasil meraih tubuh Mikaila dan ia lekas memeluk erat tubuh Mikaila yang meronta.
"Uncle? Uncle Rain?." Mikaila terus meneriaki namanya. Nama orang yang entah bagaimana tiba-tiba membuatnya jatuh kedalam rasa cinta.
'*Hiks hiks hiks,,, Uncle*?.'
Zico tetap memeluk erat tubuh Kei yang tadinya meronta, hingga tubuh Kei mulai melemas dan suaranya mulai terdengar lirih.
Langit malam yang sudah hitam semakin terlihat gelap karna gulungan awan hitam yang semakin mengumpul. Rintik hujan mulai kembali turun.
Mikaila menangis dalam pelukan Zico.
"Sayang? Bawa Mikaila masuk!." Ayla meminta Zico untuk membawa putri nya masuk. Dan Zico lekas mengangguk.
Seakan tanpa beban yang berarti, Zico mengangkat tubuh Kei membawanya kembali masuk kedalam rumah, Kei masih menangis dan tak melakukan perlawanan. Tubuhnya serasa tak bertenaga.
Ayla dan Aryan mengikuti, Ayla lantas membukakan pintu kamar Kei. Mereka masuk bersama.
Zico membaringkan tubuh Kei di atas ranjang. Kei meringkuk menyamping memunggungi Zico, Aryan dan Ayla yang masih ada disana.
"Bicaralah dengannya, Zico. Kami tinggal dulu!."
Aryan meminta Zico untuk menemani Kei sementara. Dan dia mengajak Ayla untuk meninggalkan mereka berdua.
Zico membuang nafas kasar, ia sendiri bingung harus apa. Dulu, Mikaila adalah gadis pertama yang membuat Zico jatuh cinta. Dan saat ia tahu jika Mikaila mencintai Arend. Ia memilih mundur. Tapi kini, gadis ini dalam keadaan patah dan lemah dihadapannya.
"Kamu bisa pergi. Tinggalkan aku sendiri." Mikaila membuka suara, dengan tangisnya yang masih sesenggukan.
"Apa kamu benar-benar mencintai Uncle Rain?."
"Untuk apa aku berbohong soal perasaanku?."
Zico mengangguk.
"Kenapa tidak ada orang yang mencintaiku, Zico? Apa aku begitu buruk untuk dicintai? Apa aku tidak cantik? Apa kurang ku? *Hiks hiks hiks*!"
Mikaila kembali menangis. Dan Zico merasa kasihan dengan keadaanya.
"Siapa bilang? Itu karna kamu terlalu fokus pada apa yang menjadi keinginan mu, bukan pada apa yang menginginkanmu."
"Apa maksudmu?."
Mikaila bangun dan duduk. Berhadapan dengan Zico yang juga duduk di tepi ranjang tidurnya. Wajahnya terlihat sendu, tatapannya sayu, dan matanya membengkak. Ia terlalu banyak menangis.
"Yah? Em m maksud ku, pas\_ti ada pria yang mencintaimu, tapi kau tidak pernah memperhatikan mereka."
"Kau mengatakannya karna hanya ingin menghiburku, bukan?."
"Bukan!" Jawab Zico santai.
"Iiissh, sudahlah tinggalkan aku. Aku hanya ingin sendiri."
Mikaila kembali menjatuhkan tubuhnya, tengkurap, membenamkan wajahnya pada bantal.
"Pergilah!. Kau hanya mengganggu."
"Baiklah aku pergi, tapi kau harus berjanji akan baik-baik saja."
Zico sudah berdiri, ia hendak keluar dari kamar meninggalkan Mikaila.
"Tidak akan ada yang baik-baik saja dengan hatinya yang sedang patah."
Zico membulatkan mata, dan sontak terduduk kembali.
"Apa?." Mikaila bahkan kaget karna Zico yang duduk di ranjangnya dengan gerakan kasar dan tiba-tiba.
"Kenapa tidak jadi pergi?"
"Tidak akan!"
"Kenapa?." Mikaila bicara dengan suara bindengnya, sesekali ia masih sesenggukan.
"Kau bisa saja melakukan bunuh diri!."
"Apa? Apa kau pikir aku senekat itu?"
"Aku hanya tidak mau sesuatu yang buruk yang pernah terjadi pada keluarga ku bisa terulang kembali. Jangan bermain-main dengan trauma kami, karna kamu tidak pernah tahu bagaimana kerasnya perjuangan kami agar bisa move on dari semua itu?."
Zico mengungkapkan rasa takutnya, dan itu terdengar menggelikan di telinga Kei. Jika ia bisa melakukan hal seburuk itu, karna patah hati, pasti itu sudah Kei lakukan saat pertama kali patah hati karna Arend.
"Iiiihh, Keluar? *Bugh bugh bugh*!"
Mikaila memukuli Zico dengan bantalnya, mengusir teman sekaligus saudaranya itu.
"Iya iya iya iya." Zico pun langsung bangkit berjalan mundur menerima serangan bertubi-tubi dari Kei. Ia keluar dari kamar Mikaila dan meninggalkannya dalam kesendirian menikmati hatinya yang patah.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Rain dan Cen telah sampai di hotel tempat Arend dan Syeira kini berada, setelah mereka saling bicara lewat sambungan telepon tadinya.
Arend membuka pintu ketika seseorang datang membunyikan bel.
"Uncle? Masuklah!"
Arend dan Cen masuk, mereka duduk di sebuah sofa panjang. Syeira masih di kamar mandi.
"Jadi kau benar sudah mendapatkan kembali ingatanmu?"
Arend tersenyum, lucu rasanya ia harus menjadi pasien amnesia kemarin.
"Beberapa memory sering kembali muncul. Tapi kurasa belum semuanya!"
Rain menganggukkan kepala.
"Dan ketika mengingatnya, kau langsung menikmatinya. Mengajaknya bermain di hotel. Dasar Biawak.!"
'*Ha ha ha ha ha*'
Ucapan Cen sempurna mengundang gelak tawa mereka.
"Kenapa kalian sudah mau pergi? Kenapa tidak tinggal disini saja? Menjadi satu keluarga."
"Tidak peduli dimana pun kita berada, terpisah oleh jarak dan waktu, kita memang keluarga."
"Uncle Rain? Uncle Cen?" Syeira berseru antusias ketika melihat Rain dan Cen yang datang, Ia memang tak tahu menahu kedatangan mereka, Arend menerima telpon dari Cen saat Syeira berada di kamar mandi.
Ketiga pria itu sontak menoleh ke arah Syeira yang memanggil. Arend membulatkan mata melihat penampilan istrinya, memakai baju handuk, dan mengibas-ngibaskan rambut basahnya.
Arend lekas berdiri dan menarik tangan Syeira kembali masuk ke kamar mandi. Membuat Rain dan Cen tersenyum dan bahkan menahan tawa.
"Dasar posesif."
"Ganti baju mu dulu, tidak boleh keluar sebelum memakai baju." Ucap Arend tegas pada Syeira. Arend memberikan tas paper bag pada Syeira yang berisi baju ganti yang ia minta dari Resepsionis hotel untuk membelikannya tadi.
Arend kembali duduk di sofa bersama Rain dan Cen. Sedangkan Syeira memakai bajunya.
"Semoga selalu bersama dalam bahagia." Rain memanjatkan doa untuk keponakannya.
"Amin."
"Kami harus pergi sekarang, tapi ada yang ingin aku berikan dan juga bicarakan sebelum aku pergi."
"Apa Uncle?."
Cen bergerak, membuka sebuah tas berkode yang ternyata berisi senjata.
"Ini adalah senjata berizin. Cen sudah mengurusnya untuk mu, Kau harus berjanji, akan terus membawanya kemanapun kau pergi, dan kau akan menggunakannya saat memang dibutuhkan."
Syeira berdiri di belakang Arend, mematung mendengarkan penuturan Rain, ia terperangah dan kaget.
"Ada baiknya jika kau mengajari juga Syeira cara menggunakannya. Atau berikan pengawalan ketat dan terbaik untuknya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan kita hadapi."
"Tidak? Kurasa tidak perlu, aku akan selalu berada di dekat suamiku, dia akan selalu menjagaku, aku tidak bisa memakainya."
Syeira berbicara gugup memberikan alasan, ia lantas duduk di dekat Arend. Dan Arend memeluk tubuh Syeira menyambut kedatangannya.
"Aku menerima pemberian Uncle, dan aku akan turuti apa kata Uncle. Terimakasih."
"Baiklah, kita harus pergi sekarang, jangan lupa hubungi kami jika kabar baik telah datang.!"
Arend tertunduk malu dan tersenyum mengembang. Sedangkan Syeira tiba-tiba otaknya sedikit lemot, tak langsung memahami arti dari kalimat terakhir Rain.
Rain dan Cen pun keluar dari kamar hotel Arend dan Syeira, mereka saling berpeluk hangat sebagai ungkapan kasih perpisahan mereka.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*...