
*Bukan balas dendam, Arend menyebutnya adalah sebuah pembelajaran. Balas dendam adalah satu hal yang tidak baik, sedangkan mengajarkan seseorang pada kebenaran adalah hal yang sangat baik. Itulah yang akan dilakukan Arend pada DK*.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Proses syuting di mulai. DK begitu luwes memperagakan diri menjadi model mengiklankan *Produk N~A Cell*.
Arend memperhatikannya, duduk di sebuah kursi dengan gaya angkuhnya, ia menyilang kan kaki kirinya di atas kaki kanannya, Terlihat sangat tampan, Zid berada di sampingnya dengan sebuah Laptop yang sudah ia siapkan.
Setelah 3 jam berjalan, proses shooting hampir selesai, tinggal satu take terakhir. Make up artist sedang men touch up Wajah DK. Dan seorang staf mengarahkan pada DK adegan selanjutnya.
Arend berdiri dan mendekat, orang-orang yang berada di sekitaran DK menyingkir dengan sendirinya.
DK sungguh merasa tidak senang melihat kehadiran Arend, Ia memalingkan muka untuk menunjukkannya, DK sangat tidak menyukai Arend tanpa harus memiliki alasan yang pasti.
Arend duduk dengan penuh wibawa. Zid berdiri dengan gagah di sampingnya.
"Ada yang ingin anda katakan.? Tuan CEO.?" DK merasa tidak nyaman dengan datangnya Arend yang hanya diam menatapnya dalam di sertai senyuman yang sinis.
Arend menggerakkan satu jari, dan Zid segera bertindak. Zid menganggukkan kepala sekali, lantas membuka laptop menunjukkan sesuatu pada DK di layar laptopnya.
DK hampir saja berdiri, namun Zid menahan bahunya. Mata DK membulat sempurna, DK menatap tajam pada Arend yang justru tersenyum sinis melihatnya.
"Apa yang kau inginkan.?" DK bersuara pelan hampir berbisik, namun itu sangat tegas dan penuh penekanan.
Orang-orang yang melihat dari kejauhan saling berbisik dan membicarakan Arend dan DK yang kini terlihat tegang.
"Haaaa\_\_hh." Arend membuang nafas dalam.
"Berikan pernyataan yang benar, jangan lupa untuk meminta maaf, atau semua itu akan segera tersebar."
Arend lantas bangkit, ia berdiri dengan gagah melihat sekeliling yang sudah terlihat berbeda, tak ada yang berani mengangkat kepala. Semua orang seakan sibuk dengan urusannya.
Arend tersenyum penuh kemenangan, ia lantas melangkah. Zid segera menutup kembali laptopnya, DK menatap Arend dengan raut muka penuh kekesalan.
Tiba-tiba para wartawan datang, ini semua sudah di setting oleh Zid, dan para penjaga membiarkan para pemburu berita itu untuk meliput situasi saat ini.
Arend berdiri menghadap para wartawan, Zid menyentuh bahu DK, DK menatap Zid tajam, tapi dia tidak memiliki pilihan, ia harus tunduk pada permainan lawannya saat ini.
Zid dan DK melangkah, DK berdiri di sebelah Arend.
"*Jadi, apa sebenarnya hubungan kalian.? Apa ini semua murni hanyalah sebatas urusan bisnis*.?"
Seorang wartawan bertanya. Arend tersenyum cerah, sedangkan DK hanya menatap kosong pada tanah.
"Seperti yang kalian lihat, Tuan DK adalah model iklan *N~A Cell*. Dan pertemuan kami di hotel waktu itu, adalah pertemuan kerja sama."
Arend menjawab pertanyaan dengan santai. Sebuah karangan narasi yang ia ucapkan begitu lancar.
"*Tuan DK,.? Bagaimana dengan gadis reporter yang waktu itu Anda nyatakan sebagai kekasih anda.? Apa itu benar.? Lantas kenapa dia malah lari meninggalkan anda*.?"
Kini pertanyaan di berikan oleh wartawan pada DK.
DK mengatur emosinya, ia harus pandai berakting, hingga kini wajahnya yang tampan sudah dihiasi dengan senyuman yang manis dan menawan.
"Maafkan saya, itu tidak benar, saya hanya asal, hanya bercanda, bahkan saya tidak mengenalnya, tolong jangan di anggap serius. Maafkan saya.!"
DK membungkukkan badan berkali-kali. Ia telah kalah. Bahkan satu rahasia besarnya kini berada di tangan Arend. '*Bagaimana dia bisa mengetahuinya*.?'
Pertanyaan wartawan beralih pada produk *N~A Cell* yang kini di bintangi oleh DK. Dan kesuksesan Arend serta kesuksesan DK.
Berita itu menjadi sangat Viral, dan di banjiri oleh komentar positif dari para netizen. 2 Pria yang menjadi idola di bidang nya masing-masing, menutup berita-berita sebelumnya yang kurang enak untuk di baca maupun di dengarkan.
Syeira tidak mengetahui apa pun yang sedang terjadi dibawah. Dia tertidur di sofa ruang kerja Arend.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Arend masuk dan mendapati istri cantiknya sudah terlelap disana. Ia lantas mendekat memperhatikan wajah cantik sang istri yang sedang tertidur. Lagi, Arend mengeluarkan ponselnya, mengambil gambar Syeira yang terlelap. Arend menjadikanya wallpaper, mengganti wallpaper yang lama, dimana gambar yang sama, yakni Syeira yang sedang tidur waktu di kamar apartment.
Arend tersenyum senang, dia merasa puas dengan semua yang terjadi hari ini.
Arend duduk di kursi kebesarannya, membiarkan Syeira yang asyik dalam mimpi. Hari sudah sangat sore, para karyawan sudah mulai pulang, tapi Arend tidak membangunkan Syeira, membiarkannya tetap tertidur. Sampai waktu Maghrib tiba.
Arend memutuskan untuk shalat di ruangannya. Ia melakukan shalat di lantai berkarpet yang tidak jauh berada di belakang kursinya. Itu memang tempat Arend biasa mengerjakan ibadahnya sebagai seorang muslim kala di kantor.
Syeira menggeliatkan tubuh, ia terbangun setelah hampir tidur dari tadi Siang.
Syeira merasa malu melihatnya, serta rasa sedih yang muncul di hati tiba-tiba, ia masih menatap Arend yang kini sudah selesai dan tengah memanjatkan doa pada yang maha kuasa. Mata Syeira sampai berkaca-kaca melihatnya, lihatlah, betapa sempurnanya Tuhan menciptakan Laki-laki seperti Arend.? Yang kini menjadi milik seorang gadis panti yang sangat nakal, Syeira Malik.
Arend berdiri, melihat Syeira yang menatapnya dalam, namun lekas memalingkan muka kala Arend menoleh padanya. Membuat Arend tersenyum tipis dengan tingkah Syeira. Arend mendekat.
"Kita pulang.?"
"Apa aku tidur terlalu lama.?"
"Tidak juga, Ini baru jam 6 sore." Jawab Arend santai.
"Apa.?" Syeira kaget, perasaan tadi masih jam 1 siang saat dia masuk kedalam ruangan Arend. Hingga ia tertidur di sofa.
Arend hanya diam. Sebenarnya ia sedang menahan tawa. Muka Syeira terlihat sangat menggemaskan.
Mereka pun akhirnya turun, dan keluar dari perusahaan, mengendarai mobil menuju apartment untuk pulang.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Jam 5 Sore di depan rumah Cellin**.
Zico masih berdiri di halaman depan Rumah Cellin. Cellin yang sudah berusaha keras mengusirnya tak mampu membuat Zico untuk pergi dari sana. Zico sudah berdiri selama satu jam.
Ibu nya Cellin duduk di kursi kayu di teras depan rumah, melihat Zico dengan perasaan iba. Ia bahkan sudah meminta Zico untuk masuk dan duduk. Tapi Zico berkeras kepala tidak akan bergerak sampai Cellin yang memintanya. Zico sangat yakin jika Cellin juga sebenarnya mencintainya. Hanya saja ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu terus saja menolaknya.
"Lin, kamu gak kasian apa.? Dia kayaknya beneran cinta deh Lin, sama kamu.? Kenapa sih kamu gak mau Nerima dia.?"
Kakak ipar Membujuk Cellin yang hanya berbaring meringkuk menutup seluruh tubuh dengan selimut di atas ranjang. Cellin tidak bersuara, juga tidak bergerak.
Zico kini bahkan sudah menjadi tontonan para tetangga Cellin yang sebagian besar masih sanak dan kerabat dari kedua orang Tuanya.
Sebagain dari mereka mengingat Zico yang waktu itu datang di hari pernikahan Cellin.
"Hei.? Apa Kau sedang mengemis Cinta, Tuan bule.?"
Teriak seorang anak laki-laki yang rumahnya berada dekat dengan rumah Cellin. Nada suaranya sangat jelas terdengar seperti sedang mengejek.
Arend menajamkan mata melihat ke arahnya, namun justru di sambut dengan gelak tawa para tetangga. Ini suatu pertunjukan yang sangat menghibur bagi mereka.
"Huusss, diam kamu.!" Ibu Cellin berdiri meminta anak itu untuk tidak mengganggu Zico.
Ibu Cellin lantas turun, berbicara pada Zico.
"Nak Zico sebaiknya pulang dulu, mungkin Cellin masih trauma, karna pernikahannya kemarin yang dibatalkan sepihak oleh keluarga mempelai pria. Nak Zico harus bersabar jika ingin mendapatkan hati Cellin, nanti ibu bantu untuk bicara dari hati ke hati sama Cellin. Sekarang nak Zico pulang dulu ya.?"
Ibu Cellin berbicara dengan sangat lembut, ia merasa sangat kasihan dengan Zico. Pria tampan yang kaya raya itu tengah berjuang mendapatkan hati putrinya yang keras kepala.
"Budhe.? Mungkin Kak Cellin tidak menerima cintanya karna dia takut dengan rambut Tuan Bule.?" Kembali anak laki-laki tadi berteriak memancing gelak tawa orang-orang disana.
Zico sangat kesal, cintanya telah di jadikan bahan candaan. Ia akhirnya melangkah dengan kesal ke arah anak laki-laki itu. Semua orang terdiam, bahkan bocah nakal itu kini membatu, ia juga merasa takut.
"Dasar anak nakal." Ucap Zico pelan. Anak itu mendongakkan kepala melihat Zico yang berdiri menjulang di hadapannya.
Zico mengeluarkan dompet, ia lantas mengeluarkan 1 lembaran merah dan di berikan pada anak itu.
"Jika kau bisa membuat Kak Cellin menerima cintaku, aku akan menambah 10 lembar lagi."
Zico melakukan Money Politic untuk berbisnis pada anak kecil ini, senyum Zico menyeringai.
Mendapat satu lembaran merah yang sangat berharga, jelas saja anak itu putar arah menjadi pendukung setia.
"Iya, tentu saja.!" Jawabnya antusias, lalu mencium aroma uang itu.
"Waaahh,,, wangi sekali.!" Ucap anak itu lagi setelah mencium aroma uangnya.
"Anda juga sangat wangi, Tuan. Pasti Kak Cellin akan segera jatuh cinta dan menerima anda.!" Seru bocah itu mengundang kembali gelak tawa para tetangga.
Kakak ipar yang melihat kejadian diluar dari jendela kamar Cellin sampai terpingkal, membuat Cellin yang meringkuk berdiam diri di dalam selimut merasa penasaran. '*Ada apa di luar*.?'
Hari sudah petang, Adzan magrib berkumandang, Zico akhirnya berpamitan. Paling tidak, restu dari ibu Cellin dan bahkan para kerabat dan tetangga sudah ia dapatkan.
Hanya jawaban "ya" dari Cellin yang masih harus Zico perjuangkan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...