
Listrik sudah menyala, hujan pun sudah reda, tinggal rintikan gerimis yang masih setia menemani malam yang terasa sangat dingin.
Mobil yang Zico kendarai sudah sampai di Rumah Kasih. Meski suasana malam, Arend masih bisa mengingat tempat ini. Ia memperhatikan halaman depan Rumah Panti dan juga pohon mangga yang berada di tengah halaman.
Zico sudah terlebih dulu turun dan dengan antusias dia berlari menuju pintu utama, ia mengetuk pintu kayu itu.
Arend mengikuti langkah Zico. Tapi pandangan Arend terus tertuju pada pohon mangga yang berada di tengah halaman.
"Nak Zico.? Nak Arend?" Ibu panti yang membuka pintu.
Zico tersenyum ramah, Arend menoleh memperhatikan Ibu panti. Tak ada memory tentang wanita paruh baya di depannya ini. Dan Ibu Panti juga sudah mendapat informasi dari Syeira atas hilangnya sebagian ingatan Arend karna benturan keras yang terjadi di kepalanya.
"Syeira nya ada Bu.?" Zico yang bertanya. Arend hanya diam dan matanya terus menelisik lingkungan sekitar sana.
"Ada..Dia sudah bersiap tadi. Katanya mau pesan taksi onlin, eh, malah kalian sudah datang.!"
"Zico.? My L"
Syeira datang dari dalam sambil memakai tas Selempang nya.
"Nah ini anaknya.?"
"Kami ajak Syeira pulang dulu ya Bu.?" Kembali Zico yang bersuara.
Setelah saling berpamitan, Syeira pun pergi dari sana.
Selama perjalanan hanya ada keheningan. Zico yang mengemudi, Syeira dan Arend hanya diam di jok belakang.
Zico menghentikan mobil di sebuah resto makanan.
"Aku turun dulu beli makanan. Kalian tunggu saja disini.!"
Zico pergi meninggalkan Syeira dan Arend yang sama-sama diam.
"Ceritakan tentang dirimu.!"
Arend membuka suara. Syeira yang sedari tadi melihat ke kaca mobil menoleh melihat Arend yang hanya menatap datar lurus kedepan.
"Apa yang ingin kau tahu.?"
"Semuanya.!" Jawab Arend singkat.
"Di mulai dari mana.? Setiap fase hidupku berbeda.!"
"Sejak kamu kecil. Sampai kamu menikah dengan ku.!"
Syeira menelan salivanya kasar. Ia tak tahu bagaimana perasaannya saat ini.
"Kau mungkin akan lebih membenciku lagi setelah mendengar tentang hidupku.!"
"Tugas mu hanya bercerita. Penilaian ku itu urusanku.!"
"Baik, aku adalah seorang gadis yang terlahir di keluarga yang sangat miskin. Ayahku pecandu alkohol, dan dia suka berjudi, suatu hari karna dia marah, kalah judi dan mabuk, Ayahku yang bertengkar hebat dengan ibuku, dia lantas membunuh Ibuku, Ayah di tahan dan di beri hukuman mati. Saat itu usia ku baru menginjak ABG. Dan aku tinggal di rumah kasih sejak saat itu."
Syeira berhenti bercerita, ia mengingat Arend yang memberinya cincin hitam waktu kecil. Membuat Syeira rasanya ingin menangis namun ia tahan.
'*Deg*.!'
Arend mengingat masa kecilnya dulu saat ia bertemu dengan Meira lalu memberikannya sebuah cincin hitam.
'*Apa itu dia*.?'
"Kau memiliki cincin nya.?" Arend langsung bertanya pada intinya.
Syeira lekas menoleh, menatap Arend dengan mata nanar.
"Kau mengingatnya.?"
"Aku ingat gadis yang bernama Meira. Cerita masa kecilnya sama dengan yang kau ceritakan.!" Kini Arend juga menatap dalam pada Syeira.
Syeira memalingkan muka. Menunduk dan mendongak lagi, ia gugup. Hatinya nyeri.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau kah gadis itu"
Syeira lantas bergerak. Ia mengeluarkan kalung nya yang berbandul kan cincin pemberian Arend.
"Aku menjadikannya bandul kalung, ini tidak bisa lagi ku pakai di jari.!"
Arend melihatnya. Syeira memalingkan muka. Membiarkan bandul cincin itu tergantung di d.a.da. nya.
'*Benar, itu cincinku*.'
"Jadi bagaimana kita bisa menikah.?" Arend menanyakan apa yang selalu mengganjal di hatinya.
Syeira menarik nafas dalam. Lantas menghembuskannya.
"Apa aku datang mencarimu.? Lalu aku menyatakan cinta.? Dan kita menikah? Apa benar seperti itu.? Tapi aku tidak akan percaya jika ceritanya seperti itu. Aku bahkan tidak pernah mengingatmu lagi setelah hari itu. Aku memberikanmu cincin itu hanya agar sebagai pelipur laramu. Tak ada hal yang lain.!" Ucap Arend.
"Tentu saja tidak, aku tahu kau tidak mencintaiku, dan kau tidak pernah mengingatku. Dan bahkan sekarang kau benar-benar melupakanku.!"
Setetes air mata Syeira menetes mengiringi ucapannya pada Arend. Dan Syeira lekas mengusapnya cepat. Arend melihatnya. Syeira sudah menangis namun ia tahan. Dan Syeira terus menoleh ke arah kaca mobil.
"Lalu bagaimana kita bisa menikah.?" Arend kembali bertanya. Ia harus mendapatkan jawaban dari kegundahannya.
Arend tak dapat mengingat memory apapun tentang Syeira. Tapi hatinya juga merasa dekat pada gadis itu.
"Lupakan. Untuk apa di bahas. Percuma. Kalau kau memang tidak mencintaiku. Maka.?"
Syeira menghentikan ucapannya, Zico tiba-tiba datang. Dan Arend pun langsung memalingkan muka menghadap ke kaca pintu mobilnya.
"Syeira.?" Meldy berteriak menyerukan nama Syeira saat ia memasuki mobil dan duduk di jok samping jok kemudi.
"Meldy.?"
Arend menoleh, Zico tidak balik seorang diri. Ada Meldy si berisik dan centil itu yang ikut bersamanya.
"Kamu.? Kalian.?" Syeira merasa bingung.
"Dia lagi makan malam sama Zid. Malah minta baliknya sama aku, alasannya mau ketemu kamu lagi.? DASAR?" Zico yang menjawab.
"*Iiiihh*."
"Aauuw.?"
Meldy memukul kepala Zico dengan tasnya, karna Meldy merasa malu dengan apa yang di katakan Zico.
Arend memalingkan muka. Jengah dengan semua yang terjadi.
'*Bagaimana Zid bisa menyukai wanita seperti dia*.?'
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Flash back on**.
"Bagaimana hubunganmu dengan DK.?"
Zid bertanya pada Meldy, mereka tengah makan malam bersama di sebuah restoran setelah saling bertemu dengan tidak sengaja.
"Baik.!" Jawab Meldy singkat. Ia membiarkan kebohongan itu terus berlarut.
"Apa tidak ada kesempatan untuk ku bisa kembali lagi padamu, Mel.?"
"Tidak.!" Jawab Meldy singkat. Sampai saat ini, meski rasa cinta nya pada Zid masih bersemayam. Tapi luka dari pengkhiatan Zid dan Zizi bahkan tak pernah membiarkan Meldy dapat tertidur dengan tenang.
"Tapi aku masih mencintaimu, Mel? Aku sangat merindukanmu.?"
"Benarkah.? Dimana cinta itu.? Dimana rindu itu.? Aku tidak pernah melihatnya, tidak pernah Zid. Benar-benar tak pernah melihatnya. Aku yang jatuh cinta padamu. Bukan kamu yang mencintaiku.!"
Meldy sudah berdiri. Ia mulai tak menyukai arah pembicaraan ini, membuat Meldy kembali mengingat semua hal lalu yang ingin ia lupakan.
"Mel.? Biar ku antar.!"
"Tidak perlu.! Aku bisa sendiri.!"
"Mel.?"
"Lep\_paskan Aku, Zid.?"
Mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung resto.
"Meldy.? Zid.?" Zico yang habis membeli makanan tak sengaja melihat mereka, yang sedikit terdengar ribut.
"Zico.?"
"Zico.?"
"Kalian makan malam bersama.? Apa kalian sudah balikan.?" Zico berseru antusias.
"That's impossible.!" Jawab Meldy.
Zico mengernyitkan kening menatap Meldy.
"Apa aku boleh ikut pulang.? Maksudku, aku ingin main ke tempat Syeira.!"
Meldy hanya berusaha bisa lepas dan meninggalkan Zid. Sedalam apa pun Meldy mencintai Zid. Luka yang Zid tancapkan di hati Meldy jauh lebih dalam.
Zico menatap mereka berdua satu persatu. Zico menangkap ekspresi yang tak biasa di wajah Meldy.
"Tentu.!" Jawab Zico santai. Memperbolehkan Meldy ikut bersamanya.
Dan Zid hanya bisa diam. Meldy dengan terang-terangan menolaknya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...