LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Bab 18



Di saat kau tak bisa membedakan duri dan daging, suatu hal yang memberimu rupa yang terlihat sama.


"Ma.. panggil Aina sarapan," ucap pria paruh baya sambil menyeruput tehnya di meja makan.


"Tunggu aja Pah..bentar lagi juga turun." kata wanita tua itu yang tak lain adalah orang tua angkat Aina.


Dari jauh terdengar derap kaki seorang gadis menyusuri anak tangga. Bawah matanya yang sedikit menghitam dari hari biasa. Tampak wajah cantik itu sangat lesu dengan pandangan yang terus mengarah ke buku di tangannya.


"Tuh.. Ainanya udah ada." Ucap wanita tua itu sembari menunjuk gadis yang menghampiri mereka.


"Pagi Ma.. Pa..." sapa Aina sambil tersenyum.


"Pagi juga..." jawab mereka bersamaan.


"Yah Tuhan... nak matamu kenapa?Ucap Mamanya panik sambil memegang muka Aina.


"Gak papa mah..." jawab Aina sambil tersenyum.


"Pasti kamu gak tidur kan semalam?sahut papanya.


Aina hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaan pria paruh baya di hadapannya itu.


"Na... kamu mikirin apa nak.?Ucap mamanya sembari mengambilkan sehelai roti untuk anaknya.


"Gak ada kok Mah... cuma semalem aku begadang karena belajar kan mau ujian." Jawab gadis cantik itu.


Kedua orang tua Aina hanya tersenyum mendengar pengakuan putrinya itu. Mereka pun melanjutkan sarapannya dengan keadaan hening.


"Aina... kamu udah lama berteman dengan Natasha.?tanya papanya memecah suasana.


Sontak saja pertanyaan itu menghentikan aktivitas makan Aina. Ia heran dari mana papahnya tau tentang sahabatnya Natasya.


"Emmm.... udah Pah. Emang kenapa Pah.? Jawab Aina.


"Gak papa cuman nanya ajah." Ucap Papanya.


Selang beberapa menit gadis cantik itu pun berlalu meninggalkan orang tuanya. Ia bergegas menaiki mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya tersebut. Ya tidak seperti hari biasa. Hari ini Aina terpaksa menaiki mobil itu menuju sekolahnya karena perintah dari papanya.


Dalam perjalanan Aina hanya terdiam menyandarkan kepalanya di kaca mobil. Matanya melihat tiap tetesan hujan yang terus tumpah. Suatu hal yang mengingatkan diri gadis itu tentang kelam masa lalu bersama keluarga kandungnya dahulu.


"Non, nanti pulangnya saya jemput ya.Soalnya ini perintah tuan besar." Ucap sopir itu membangunkan Aina dari lamunannya.


"Mmm... gak usah mang." Kata Aina dengan raut wajah masam.


"Tapi nanti aku bilang apa ke tuan besar." ucap Sopir tersebut.


"Entar aku yang telpon papa,jadi mamang gak usah khawatir".ujar Aina kepada sopirnya itu.


"Oke non".sambung sopir tersebut.


Aina hanya terdiam mendengar hal itu. Ia lebih memilih untuk menatap ke jendela memikirkan masa lalu nya. Mobil mewah yang membawa gadis cantik itu pun terhentih di depan sebuah sekolah.


Gadis itu pun melangkahkan kakinya itu menuju gerbang sekolah.


Tampak semua pelajar di depan matanya itu sibuk dengan bukunya masing-masing. Tak terasa langkah mereka di sekolah itu akan segera berakhir. Sudah beribu banyak kenangan yang hadir di sela canda tawa maupun luka di antara mereka.


Hari ini adalah hari pertama dimana semua sekolah termasuk SMA Jaya Putra mengadakan ujian kelulusan. Perasaan gugup tentu saja hadir di antara mereka.


Dari jauh Aina melihat sahabatnya berjalan dengan sangat santai. Ya lain dari pelajar lainnya gadis manis itu memang sangat cuek terlebih perihal ujian. Ia tak selalu mengangagap serius hal tersebut.


"Natasha..." teriak Aina memanggil sahabatnya itu.


"Gimana persiapan kamu.?"tanya Aina.


"Emm... biasa ajah Na. Gue ke toilet dulu ya. " jawab Natasha sembari berlalu meninggalkan sahabatnya itu.


" Ya udah kalo gitu aku duluan ke ruangan." Kata Aina.


Tringgkkkk....!!!


"Hancorrrrrrr..." pekik semua siswa keluar dari salah satu ruang kelas.


Suara teriakan dan ocehan terus keluar dari mulut mereka. Perasaan penasaran terus bergejolak di pikiran mereka tentang jawaban ujian tersebut. Tidak terkecuali dengan Aina, gadis cantik itu sibuk membolak balik bukunya memastikan jawabannya sudah benar atau salah.


"Na... sibuk ajh ihh. Ayok pulang." Ucap Natasha menarik lengan sahabatnya itu.


"Akh... iyah Sha... aku pastiin dulu." Kata Aina yang masih sibuk dengan bukunya.


"Loh ya Na.. gak usah terlalu di pikirin kali.Gue yakin kok loh pasti lulus." Celoteh Natasya geram.


"Hehehe... iya dehh Sha." Jawab Aina.


"Ayok cepetan pulang akh." Ucap Natasha menarik keras lengan Aina.


"Iss sabar napa." Kata Aina.


Mereka pun berjalan menuju parkiran.


"Btw lo di jemput Devan yah.?tanya Natasha.


"Iya Sha Devan jemput gue".jawab Aina.


"Ooo begitu. Ya udah Na gue pulang duluan ya." Ucap Natasha tersenyum berjalan menuju mobilnya.


Aina pun melihat mobil sport sahabatnya itu keluar dari gerbang sekolah.


¤Think.


Aina langsung membuka hanphonenya mengecek notifikasi itu.


" Aku udah di depan nih, ntar kita singgah makan dulu. Aku rindu hehe."


Gadis bermata sipit tersebut langsung bergegas ketika melihat motor kesayangan kekasihnya itu singgah di depan gerbang sekolahnya.


"Makin cantik aja neng." Ucap Devan menggoda Aina yang menghampirinya.


"Apaan sih gombal mulu." Kata Aina.


"Haha di gombalin dikit pipi udah kayak kepiting rebus.Gak cocok kamu di gombalin Na." Celoteh Devan mengejek kekasihnya.


"Emm... ayok cepetan kalo gombal mulu aku pulang naik bis ajah nih." Ucap Aina kesal.


"Yaudah Ayok.Dekat sini aja ya Na." Kata Devan.


Gadis cantik itu hanya mengangguk mendengar ucapan kekasihnya.


Sekitar 10 menit perjalanan mereka pun tiba di salah satu restoran di dekat sekolah Aina.


"Silahkan duduk tuan putri." Ucap Devan menarikkan kursi untuk kekasihnya.


"Makasih Dev." Kata Aina.


"Mbak..." teriak Devan memanggil salah satu pelayan restoran tersebut.


"Mau pesan apa kamu Na?tanya Devan.


"Samain ajah Dev. Aku minta air putih aja segelas haus." Jawab gadis itu


"Ya udah... samain mbak pesanan saya sama dia dan air putih segelas juga." Ucap Devan kepada pelayan tersebut.


Tak lama kemuduan pesanan mereka pun tiba. Kedua pasangan itu menikmati santap siangnya dalam keadaan hening.


"Oh Ya Na... aku mau bilang sesuatu." Kata pria tampan itu memecah keheningan mereka.


Sontak saja gadis itu langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap tajam pria tampan bermata biru di hadapannya tersebut.


"Aku ada rencana , si Leon sama Arga juga udah ku kasih tau mereka setuju. Aku juga mau ajak kamu." Ucap Devan


"Rencana apa Dev?Tanya Aina heran.


"Liburan Na. Kan kita udah lulus. Rencana aku, kita ke kampung halamanku kota Makassar dan Toraja disana banyak banget destinasi menarik." Jelasnya.


"Emm aku mau lah Dev." Jawab gadis itu antusias.


"Iyah juga ya Na... gimana kalo kamu ajak Natasha." Kata Devan.


"Oh ya Natasha. Tunggu aku chat dia." Ucap Aina yang langsung mengambil handphonenya.


"Dia mau Dev. Katanya dia juga pengen tau daerah yang buat kamu dulu tinggalin dia." Kata Aina setelah mendapat balasan pesan sahabatnya itu.


"Hahaha bisa ajah. Padahal itu udah lama masih ajah dia ingat." Kata Devan.


Aina hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu.


Setelah makan, Devan pun langsung mengantar gadis cantik itu ke istana megahnya. Dia tidak sempat untuk singgah dan langsung berlalu meninggalkan rumah tersebut ketika melihat kekasihnya itu memasuki istana megahnya. Apalagi tugasnya di rumah sakit sebagai direktur utama sudah banyak menumpuk.


Sepulang sekolah Aina hanya sibuk dengan buku-bukunya. Ia tak ingin fokus dengan yang lain. Bagi dirinya ujian kelulusan adalah hal yang sangat penting dalam hidup gadis itu.


Sekitar hampir seminggu para murid berperang melawan diri mereka. Memberikan hasil yang terbaik dari apa yang mereka pelajari di sekolah. Perasaan gugup tentu saja hadir menjelang pengumuman kelulusan. Sebagian dari mereka tak mengambil pusing hal tersebut. Toh mereka mempunyai kedudukan dan kekuasaan. Tinggal uang saja yang memainkan perannya. Lain halnya dengan Aina meskipun orang tuanya adalah pemilik sekolah ia masih bersikeras mengasa otaknya untuk mendapatkan hasil yang terbaik.


"Yesss.... gue lulus huuuu..." teriak para siswa di depan papan pengumuman tersebut.


"Ihh minggirr woi... gue juga mau lihat." Sergah Natasha menerobos ke kerumunan temannya.


Aina hanya terdiam melihat kerumunan itu. Tampak ia mengigit kukunya dengan raut muka cemas.


"Aianaa... gue lulussss murni yessss..." teriak Natasha yang langsung menghambur diri memeluk sahabatnya itu.


"Ya Tuhan Sha..semua orang tau mah kalo loh itu pasti lulus,otak loh aja kek komputer lahh otak gue cuman pas-pas an." Ucap Aina dengan penuh tanya.


"Is apaan sih Na... loh juga lulus tuh." Ucap Natasha tersenyum.


"Aha... kok bisa ya.?Kata Aina heran.


"Bisa dong." Jawab Natasha.


*Pengumuman bagi semua siswa dan siswi SMA Jaya Putra saya sebagai kepala sekolah disini mengucapkan Selamat kepada kalian semua yang sudah lulus. Yang belum lulus silahkan gigit jari tapi jangan putus.


huuuu...."


Sorak semua siswa mendengar hal itu.


Di sore hari nampak seorang gadis cantik itu terduduk di tepi kolam rumahnya sambil merenungkan sesuatu.


"Melamun aja Na..." ucap seorang pria paruh baya menghampirinya.


"Eh.. papa.. gak lah pah. Aina cuman mikir hasil pengumuman kelulusan tadi." Kata Aina tersenyum.


"Alah Na...gak usah di pikirin yang pentingkan kamu udah lulus." Sahut Mamanya.


"Beberapa hari ini aku kepikiran terus mah tentang ini. Aku takut banget mah gak lulus soalnya otak aku nih pas-pas an" jawab Aina.


"Hee jangan ngomong gitu nak setiap manusia tuh di ciptakan punya kelebihan masing-masing." kata papanya.


"Hmm iya pah." Ucap gadis tersebut.


Aina hanya terseyum mendengar lontaran kalimat kedua orang tuanya itu.


"Ohh yah Na... nanti Papa mau undang detektif kepercayaan keluarga kita untuk makan malam. Sekalian Papa mau ngenalin kamu sama dia." Ucap Papanya


"Ohhh... si bagus ya Pah... yang papanya itu dokter." Sambung mamanya.


"Ihh mama... namanya Bagas Mah bukan bagus. Mama nih pikun juga ya. Padahal udah lama kenal hahaha." Jawab Papanya.


"Pikun tuh lumrah pah buat orang tua." Sahut Aina.


"Aina... mama kan belum tua tega kamu ya." Kata Mamanya dengan raut wajah cemberut.


Aina dan papanya hanya bisa tertawa melihat tingkah wanita paruh baya itu.


Sore berganti malam di kediaman keluarga Brahmana nampak semua anggota keluarganya menunggu seseorang. Mereka menggunakan pakaian formal lain dari hari biasanya.


"Papa kenapa sih pake baju formal begini kan yang datang cuman si bagus." Celoteh mamanya


"Mah... namanya bagas. Biar ajah lah sesekali pake baju begini. Lihat tuh anak kita , cantik kan." Ucap Papanya sambil menunjuk Aina yang berjalan di tangga.


Gadis itu sangat cantik dan anggun menggunakan dres bewarna merah yang membalut tubuhnya. Ukiran senyum yang selalu terpancar di wajahnya memberi kesan lebih kepada orang yang melihatnya.


"Ya Tuhan... Anak Mama cantik sekali." Ucap Mamanya.


"Iyah dong kan papa yang pilihin baju." Sahut papanya.


"Hehe biasa aja kok mah." Kata Aina.


Selang beberapa menit menunggu terdengar mobil memasuki parkiran rumah mewah itu. Kaki panjangnya melangkah menuju pintu rumah tersebut. Semua penjaga maupun pelayan di rumah itu pasti mengenali lelaki tampan tersebut.


"Silahkan masuk Tuan Bagas... Tuan besar sudah menunggu di meja makan." Ucap Salah seorang pelayan yang membukakan pintu.


"Iyah... makasih." Jawabnya sambil tersenyum.


Dari jauh matanya menangkap punggung gadis berbalut busana merah terduduk di kursi depan meja makan.


Dalam hatinya menerka mungkin itu adalah anak Tuan Brahmana yang ingin dikenalkan kepadanya.


"Ehh... itu si bagus udah datang emm maksud mama bagas." Ucap Mama Aina menunjuk ke arah lelaki tampan itu.


"Is tante ya.. dari dulu selalu ubah nama aku. Potongin kambing dulu dong baru bisa ganti nama aku." Celoteh lelaki itu yang tak lain adalah Bagas Wijaya.


"Hahah kamu nih Gas bisa aja. Tante lihat muka mu makin ganteng ajh semenjak pulang dari luar negeri." Ucap Mama Aina.


"Iyah dong Tante. Bagas ini kan model internasional." Ucap Bagas.


"Model ember bocor kamu gas hahah." Sahut Papa Aina.


"Ayokk Duduk dulu Gas.. oh iyah sesuai janji om. Ini anak om namanya Aina Khanza Brahmana. Nah Aina.. ini si Bagas yang papa ceritain tadi sore." Sambung papanya.


Aina langsung bangkit dari duduknya dan membalikkan tubuhnya.


"Saya Aina." Ucapnya sembari menyodorkan tangganya.


Bagas hanya terdiam bagaikan patung. Ia sangat terpesona melihat kecantikan gadis di hadapannya itu.


"Gas... melamun ajah. Cantikkan anak Tante." Ucap Mama Aina memecah lamunannya.


"Ahaha... iyah saya Bagas" katanya menyambut tangan Aina.


"Iyah tante. Anak tante nih cantik banget udah cocok jadi model internasional nih." sambungnya.


"Bisa aja kamu Bagas. Kalo Aina itu cocoknya jadi bidadari internasional." Ucap Papa Aina yang langsung menarik tangan anak gadisnya itu.


"Emang ada Pah hahah." Kata Aina dengan penuh tawa.


"Adalah. Ayok akh. Nangis tuh nasi ngak di makan." jawab Papanya.


"Bukan Nasi yang nangis tapi perut Papa Hahaha." Kata Mama Aina.


Mereka pun menikmati makan malam itu dengan penuh tawa. Bagi setiap orang yang baru menemuinya. Bagas adalah orang yang sangat ramah. Terlebih wajah tampan dan sifat humoris yang ia miliki membuat banyak pasang mata terseyum melihatnya.


Selepas makan malam merekapun menikmati malam di luar rumah dengan canda tawa.


"Emm om aku pamit pulang ya. Ini masih banyak yang mau di kerjain." Ucap Bagas kepada kepala keluarga itu.


"Alah Gas... udah malam kalik. Istirahatlah dulu. Kau itu kayak kerbau aja gak ada berhentinya." Celoteh Papa Aina tersebut.


"Hehe kan aku orang sibuk om.


Eh btw Aina boleh gak minta nomornya? Kata Bagas menyodorkan handphonenya.


"Boleh..." jawab Aina yang langsung mengetikkan nomornya di handphone pria tampan itu.


Setelah mendapat handphonennya kembali Bagas langsung bergegas meninggalkan rumah mewah itu.


Sesekali ia membalikkan tubuhnya merekam wajah gadis cantik di belakangnya itu.