LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 121





*Rindu yang paling berat adalah merindukan mereka yang tak kan pernah lagi bisa kita temui, rindu yang paling menyiksa adalah merindukan mereka yang telah jauh pergi dan tak kan pernah kembali*.



Zico berdiri di trotoar jalan berpegangan pada pembatas besi menghadap lautan.



Air hujan yang turun deras mengguyur tubuhnya yang terbelenggu oleh rindu yang tak kan pernah berujung temu.



Zico sangat merindukan mendiang Cellin sang istri tercinta. Air matanya berbaur dengan air hujan. Menutupi kesedihannya yang selama ini ia simpan sendirian. Zico tak ingin membagi rasa perih yang ia rasa seorang diri.



Pesan Cellin yang tak boleh menangisinya setelah kepergiannya, membuat Zico selalu berusaha keras untuk tetap tegar meski hatinya *ambyar*. Ia tak bisa menunjukkan kesedihannya meski tatapan matanya sering kali terlihat nanar.



"Aku merindukanmu.! Apa kau bisa menengarku.?"



Zico tak memiliki kalimat lain sebagai ungkapan kemelut di hatinya. *Kenapa rindu itu terasa begitu menyiksa*?



Sebuah mobil taksi tiba-tiba berhenti tidak jauh dari mobil Zico yang terparkir di badan jalan. Supir taksi keluar memeriksa, rupanya salah satu ban nya telah kempes.



"Maaf Nona.! Ban nya bocor.?" Ucap Supir taksi pada penumpang wanitanya setelah ia kembali masuk dan duduk di jok kemudi.



"Yaahh.? Masih jauh lagi pak.?" Meldy menyahuti pak supir yang bicara.



"Ya sudah pak. Saya turun saja. Tapi numpang bentar ya pak.? Saya pesan taksi lain dulu.!"



Saat Meldy hendak meraih tas untuk mengambil ponselnya. Meldy tidak sengaja melihat Zico yang tengah berdiri di trotoar jalan menghadap lautan.



"Zico.?" Meldy mengernyitkan kening menyipitkan mata menajamkan penglihatannya.



Meldy pun membuka kaca pintu mobil. Dan dia berteriak setelah yakin jika itu memanglah Zico.



"Zico.?"



Teriakan Meldy yang sangat lantang lekas terdengar dalam pendengaran Zico, dan ia pun menoleh ke arah sumber suara.



"Meldy.?" Lirih Zico.



Meldy tersenyum lebar, ia melambaikan tangan. Zico mengusap air matanya yang bercampur dengan air hujan. Ia lantas menghampiri Meldy yang melambai seakan memanggilnya.



"Aku ikut pulang ya.? Ban taksinya bocor.?"



Zico mengangguk. Ia sempat merasa aneh dengan penampilan Meldy yang tak seperti biasa. Tapi Zico tak berkomentar.



Rambut panjang Meldy yang biasa ia gulung ke atas menampakkan leher jenjang nya kali ini ia biarkan tergerai. Wajah cantiknya terlihat alami tanpa goresan make up sama sekali. Meldy terlihat lebih segar dan fresh.



Meldy memberikan uang pada supir taksi. Ia lantas lekas keluar sambil berlari menghindari hujan yang masih deras. Masuk kedalam mobil Zico.



'*Brack*.'



Pintu mobil tertutup. Meldy mengibaskan rambutnya yang lumayan basah.



"Kamu ngapain hujan-hujanan sendirian.? Kangen Cellin ya.?"



Meldy yang cerewet langsung menyerang Zico dengan pertanyaan sadisnya dan melontarkan tebakan tanpa memikirkan perasaan Zico yang menahan lara.



"Diam, gak usah cerewet. Atau aku suruh kamu turun.!" Zico menyalakan mesin, menginjak gas melajukan mobilnya membelah jalan yang tergenang air menuju apartemen Meldy. Ia akan mengantar wanita berisik ini pulang terlebih dahulu.



"Aiiiisshh.!" Meldy nyengir kesal dengan kalimat Zico.



Beberapa waktu mereka terjebak dalam keheningan. Hati Zico yang belum netral membuat nya terdiam. Begitupun Meldy yang kepikiran dengan kebersamaannya dengan Zid barusan.




"Kamu bawa handuk.?" Tanya Meldy. Zico menggeleng.



"Mungkin kalau kamu lepas jas kamu yang basah bisa sedikit mengurangi badanmu yang kedinginan.!" Meldy memberikan ide. Bibir Zico yang biasanya berwarna pink sudah terlihat membiru.



Zico mencoba melepas jasnya sambil menyetir. Sedikit susah. Dan Meldy pun akhirny bergerak membantunya.



"Biar ku bantu.!" Meldy memposisikan dirinya duduk menghadap Zico. Dan badannya bahkan bergerak condong ke depan untuk menarik jas Zico dari lengannya yang kanan.



Zico adalah pria dewas normal, sang mantan Cassanova yang telah berpuasa menahan hasrat nya begitu lama.



Mendapat perlakuan demikian intens dari Meldy yanh cantik dan seksi membuat dada Zico berdebar. Apalagi cara berpakaian Meldy yang selalu menantang seperti saat ini.



Meldy memakai mini dress polos yang ketat melekat membentuk lekuk tubuhnya. Belahan dadanya yang rendah menyembulkan keduanya terpampang menantang di depan mata Zico.



Aroma tubuh Meldy yang bersih setelah mandi tanpa parfum dan tanpa wewangian apapun justru membangkitkan kelelakian Zico dengan cepat. Di bawah sana sudah berdiri tegak. Zico menelan salivanya kasar.



Meldy menjatuhkan kembali tubuhnya duduk dengan benar di kursinya. Ia melempar jas Zico ke jok belakang.



Gelanyar hasrat yang datang menyerang mampu menaikkan suhu badan Zico yang tadi kedinginan. Dan itu sangat menyiksa. Kelelakiannya bangun disaat waktu yang tidak tepat, dan pada orang yang tidak tepat pula.



"*Oouuhhh,, $h!.t.t*.!" Desis Zico yang terdengar jelas di pendengaran Meldy.



"Kau mengumpat.? Kau mengumpat padaku.?" Meldy berteriak. Ia salah mengartikan umpatan Zico yang barusan di lontarkan.



Zico hanya diam. Ia enggan menanggapi, ada hasrat yang harus mati-matian ia redam sekarang juga. Berdiri di situasi seperti saat ini bukanlah hal yang mudah tuk di hadapi, Zico tidak baik-baik saja.



"Berhenti. Turunkan aku disini.? Kau menyebalkan. Aku hanya menumpang dan kau memberikan umpatan.? Dasar tak punya hati.!" Meldy masih sibuk dengan persepsinya sendiri.



"Kenapa kau hanya diam saja, hah.? Apa kau tidak mendengarku.? Atau kau tidak menganggap ku.? Aku tidak akan pernah lagi meminta tolong padamu.?" Meldy semakin kehilangan kendalinya. Ia sangat marah karna Zico yang mengumpat dan kini mengabaikannya.



"Hentikan Mobilnya Zico breng$3k.?" Meldy terus berteriak.



"Hentikan.? Aku mau turun.?"



Zico membanting setir kasar ke kiri jalan dan menginjak rem dengan cepat.



'*Kriiittt*.!'



"Aaaahhh.?" Tubuh Meldy terhuyung kedepan lalu kembali terhempas kebelakang.



Deru nafas keduanya memburu, Zico yang menahan hawa naf$u, dan Meldy yang merasa takut.



"Zicoooo.?" Meldy berteriak sambil mengangkat tangannya hendak memukul Zico. Dengan cekatan Zico menangkap tangan Meldy dan malah mendorong tubuh Meldy kebelakang hingga Meldy bersandar pada pintu mobil dan Zico berada di atasnya. Mereka berhadapan sempurna. Saling menatap tajam dalam kecanggungan.



"Berhenti membuat keributan. Kau memancing kelelakianku.!" Pungkas Zico yang berkata sebenarnya.



Meldy membulatkan mata saat Zico mengatakannya. Ia menelan salivanya kasar. Meldy tak pernah mengira jika hal itu bisa terjadi pada Zico dan itu karna dirinya. Dan kini justru jantung Meldy yang rasanya mau lompat keluar, entah kenapa hatinya berdebar, posisi mereka tidak saling menguntungkan.



Zico melepaskan tangannya yang mencengkeram tangan Meldy. Ia kembali duduk dan menghadap depan dengan tenang. Zico menarik nafas dalam. Mencoba menetralkan jagoannya dibawah sana agar bisa kembali tidur. Tak ada lagi hawa dingin yang Zico rasakan. Gelanyar aneh menyerang seluruh sendi-sendi dalam tubuhnya.



"Sorry, aku gak bermaksud.!" Ucap Zico dengan suara nya yang terdengar berat. Meldy mengangguk cepat. Pipinya bersemu merah. Malu. Hanya itu yang saat ini ia rasa.



Zico kembali menginjak gas melajukan mobilnya. Tak ada lagi percakapan apalagi perdebatan di antara mereka. Hanya keheningan yang menemani mereka sepanjang jalan.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...