LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 88





Arend membuka pintu ruangannya, ia melihat Meldy yang sudah berdiri di ruangannya menghadap jendela melihat pemandangan luaran sana, pusat kota.



Meldy pun lekas berbalik saat mendengar suara pintu di buka. Ia sempat kaget, takut jika Zid yang datang, dan ia bisa bernafas lega ketika mendapati Arend lah yang masuk.



"Aaaahhh, Tuan CEO.?"



Seru Meldy berhambur kearah Arend dengan suaranya yang melengking membuat Arend memejamkan mata menahan telinganya yang terganggu.



Arend masuk lalu menutup pintu. Ia duduk di kursinya. membuka laptopnya. Meldy langsung duduk di kursi depan meja Arend.



"Ada apa.?" Tanya Arend sambil memainkan Laptopnya. Sebenarnya Arend sudah mempunyai firasat dengan apa tujuan Meldy datang menemuinya. Wanita ini juga pintar, hanya kurang skill saja karna pengalamannya yang belum luas.



"I need your help.!" Ucap Meldy cepat. Sebenarnya ia gugup, takut-takut jika Zid tiba-tiba datang.



Arend berhenti sejenak, tapi ia kembali fokus dengan laptopnya.



"What can I do for you.?"



"Sandi.!"



"Apa.?"



"Cara mengetahui sandi apartemen seseorang.!"



"Jangan sembarangan, itu melanggar hukum.!" Arend kurang setuju. Dan itu sedikit rumit.



"Ayolah...? Aku belum pernah meminta bantuan apa pun selama ini pada mu, Tuan CEO, tapi aku selalu bisa menyelesaikan tugas yang kau berikan dengan baik padaku. Ayolah,,, Hanya sekali ini saja. Tolong bantu aku?!"



"Apa yang sedang kau lakukan, Mel.?"



Kini Arend berhenti memainkan Laptopnya, menatap Meldy dengan benar. Wanita di depannya sangat berisik mengganggu pendengaran Arend. Dan Arend tidak suka itu.



"Aku mencurigai Zid. Aku melihatnya keluar dari restoran bersama Zizi semalam. Dia bilang ada pertemuan bisnis. Bisnis apa yang di lakukan dengan Zizi berdua di restoran.?"



Arend menghela nafas kasar, ia lantas bersandar. Mencoba merilekskan tubuhnya yang terasa tegang tiba-tiba.



Arend masih diam, menatap Meldy dingin, tatapan yang sulit untuk bisa di artikan.



"Apa kau sudah mengetahui tentang hal itu, Tuan CEO.?"



Meldy Asal menebak. Arend tak memberikannya reaksi.



"Aku sedang sibuk.!"



"Aaahhh.?" Meldy marah dan meraih Laptop Arend. Ia tengah gundah gulana. Dan Bos nya yang dingin ini yang ia harapkan bisa membantu, justru mengabaikannya.



Meldy diam, sambil mengangkat laptop Arend tinggi seakan ia hendak membantingnya. Nafasnya terengah.



Jika ini tidak berurusan dengan hati yang tersakiti, pasti Arend sudah sangat marah dengan sikap Meldy yang kelewatan. Tapi Arend bisa mengerti, wanita bisa bersikap diluar kendali ketika berurusan dengan cinta.



Bayangan Ineke kembali datang.



"Kau ingin mengetahui apa.?"



Meldy kembali duduk dan menaruh laptop Arend setelah CEO nya itu bicara dengan benar padanya.



"Aku ingin bisa masuk ke apartemen Zizi tanpa sepengetahuannya. Aku ingin menaruh mini kamera untuk mengintai gerak-geriknya. Aku curiga Zid menemuinya di sana.!"



Suara Meldy melemah, meski dengan nadanya yang tetap manja dan intonasi cepat.



Arend terdiam. Ia tengah berpikir. Lalu Arend kembali membuang nafas kasar.



"Aku antar kau nanti malam.!"



"Sungguh.!"



Arend mengangguk dan ia kembali fokus pada laptopnya.



Pintu ruangan Arend di buka. Sontak Arend dan Meldy menoleh bersama. Zid datang.



"Selamat pagi.!" Zid menyapa keduanya.



Arend kembali fokus dengan laptopnya tanpa membalas sapaan dari Zid. Sedangkan Meldy terlihat gugup, sangat sulit baginya untuk bisa bersikap normal saat ini.



"Baiklah, Tuan CEO, saya harus kembali ke ruangan saya sekarang.!"




Namun tangannya di cekal oleh Zid. Zid menghentikan gerak Meldy yang akan keluar.



Zid menatap Meldy dalam. Matanya mengernyit. Kenapa wanitanya bersikap tak seperti biasanya.? Yang selalu mencium dan berhambur kedalam pelukannya.



"Hey.?"



Zid mendorong tubuh Meldy hingga menabrak pada dinding, tangan Zid mencengkeram kedua tangan Meldy yang ia bentangkan pada tembok.



Arend meliriknya sekilas, tapi ia kembali seakan tak peduli, jika mereka ada masalah, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri.



Meldy memalingkan muka menatap lantai, ia serasa tak sanggup untuk menatap mata Zid saat ini. Hatinya berdetak cepat tak karuan. Meldy sangat gugup.



"Are you okay.?" Zid menelisik.



"Haaa\_\_h.?? Iya, aku baik-baik saja. Apa yang kau lakukan.? Cepat lepaskan. Nanti Tuan CEO marah.?"



"Kau berubah, Babe.?"



"A\_ a\_ aku berubah.?"



Zid mengangguk.



"Maksudmu apa.?"



"Kau pergi tanpa membangunkan ku tadi pagi, kita biasa berangkat bersama kan.? Dan ini, apa.? Kau tak memberikan ku c!um.a.n mu, dan malah seakan menghindar.!"



"Itu pasti perasaanmu saja.!"



Meldy semakin gugup. Zid mendekatkan wajahnya pada wajah Meldy dengan gerakan pelan, ia akan menautkan bibir nya pada bibir Meldy. Sebelum akhirnya Meldy membuka suara dan Zid menghentikan aksi nakalnya.



"Kau juga berubah, Babe.? Kau bersikap lebih hangat sekarang. Apa ada yang kau sembunyikan.?"



Meldy menatap manik Zid dalam, ia mencari sebuah jawaban, sebuah kejujuran.



Zid kembali mundur, ia melepas tangan Meldy yang di cengkramnya di dinding. Zid bertingkah aneh, menghela nafas kasar, mengusap tengkuknya. Dan melihat ke arah sana-sini tanpa titik yang jelas.



"Tidak ada yang berubah. Aku hanya ingin menunjukkan rasa sayang ku sama kamu.!"



Ucap Zid berusaha tenang, ia menatap mata Meldy lalu tersenyum, dan mengecup kening Meldy. Lalu melangkah ke arah meja Arend.



Meldy merasa semakin yakin jika pasti ada yang Zid sembunyikan dari nya.



Meldy keluar dari ruangan Arend. Ia ingin turun kelantai bawah di ruangannya. Saat lift terbuka. Meldy melihat sosok Zizi yang berada di dalam lift, Zizi akan membersihkan ruangan dilantai atas ini. Dia pun melangkah keluar dari lift.



Zizi menundukkan kepala, ia merasa tidak nyaman bertatapan dengan Meldy. Ada rasa di dalam hatinya yang membuatnya merasa bersalah, canggung, tapi rasa iri lebih mendominasi. Cinta membuatnya tak dapat membedakan yang benar dan salah.



"Bagaimana kabar mu, Zi.?"



Meldy bertanya, menghentikan langkah Zizi yang sudah hampir melewatinya.



"Baik, Nona Meldy.!"



Meldy yang menatap lurus kedepan sedari tadi kini menghadap Zizi yang berdiri di sampingnya yang juga menghadap ke arah berlawanan.



"Apa kau kesepian di tempat baru mu.?"



Zizi mendongakkan kepalanya yang menunduk sedari tadi.



"Ti\_ ti\_ tidak Nona Meldy. Saya baik-baik saja.!"



Jawab Zizi terbata. Meldy menyunggingkan senyum sinisnya, ingin rasanya dia menjambak rambut Zizi dan mencakar wajah polosnya yang sudah keluar makan malam bersama dengan Zid kekasihnya tadi malam. Dan tidak satupun dari keduanya yang mengatakan apa-apa. Seakan itu memang harus di sembunyikan.



Meldy memalingkan muka cepat, lalu ia masuk kedalam lift, pintu lift menutup, Zizi masih berdiri saat Meldy terakhir melihatnya, hingga lift itu bergerak membawanya kelantai bawah.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



\**Kenapa seseorang mampu berkhianat dari pasangannya yang sudah begitu sangat mencintainya dengan segenap jiwa dan raganya*.?



*Kenapa seseorang bisa begitu egois dengan tetap mempertahankan yang lama jika ia telah menghadirkan yang baru*.?



*Kenapa cinta di permainkan layaknya opera demi kepuasan jiwa. Jiwa yang mana yang akan terpuaskan tanpa adanya rasa syukur atas apa yang sudah ia miliki*.?



*Dan kenapa seseorang masih tetap mencintai meski telah di sakiti.? Adilkah cinta yang terjalin rumit seperti ini*\*.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...