
***2 bulan berjuang tanpa hasil***.
*Meldy menemui Arend di ruangannya, ada Zid disana. Meldy sudah merencanakan semua ini*.
*Meldy menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Arend di depan Zid. Jelas Arend menolak, Arend begitu puas dengan kinerja Meldy yang aktif dan cekatan. Meski dia selalu berisik dan seenaknya. Tapi Arend sudah merasa cocok dengan Meldy yang menjadi assistannya*.
"*Kau tidak boleh keluar, lagi pula kenapa kau ingin berhenti.? Aku akan menaikkan gajimu, kembalilah bekerja*.!"
*Arend menolak surat pengunduran diri Meldy. Dan dia kembali fokus pada laptopnya*.
*Zid menatap Meldy dalam. Ini adalah pertama kalinya es batu itu melihat Meldy dengan cara benar, seakan ia ingin bertanya. Tapi Zid masih diam dengan gaya dinginnya*.
*Meldy sudah mengatur semua ini. Jika Zid tidak menghalanginya pergi, maka dia akan benar-benar keluar dari N~A Cell. Tapi jika Zid menghentikannya. Maka Zid harus menjadi pacarnya. Dan ini lah awal mula hati yang patah itu begitu parah*.
"*Saya harus pergi menjauh dari tempat ini, Tuan CEO. Hati saya begitu tersiksa setiap hari harus melihat orang yang saya cintai tapi tidak mencintai saya. Saya sudah tidak sanggup dengan sakit ini. Atau saya bisa jadi gila jika terus bertahan. Maafkan saya, Tuan CEO.! Saya tetap harus pergi*.!"
*Meldy membungkukkan badan berkali-kali. Arend menatapnya kesal. Orang seperti Meldy tidak mudah ia dapatkan untuk perusahaannya*.
*Meldy menunduk dan melangkah, matanya dengan licik melirik Zid yang masih diam tanpa gerakan*.
'*Ayo cegah aku, bodoh.? Atau aku akan benar-benar pergi*.?'
*Meldy berharap, ia akhirnya melewati tubuh Zid dan Zid tidak mencegahnya, Meldy memejamkan mata menahan kecewa sambil terus melangkah. Tapi sejurus kemudian tangannya di tarik oleh Zid. Dan Zid mendorongnya ke dinding*.
"*Kau tidak boleh pergi. Kau harus tetap disini*.!"
*Entah bagaimana cara untuk menjelaskan orang seperti Zid. Jika dia cinta kenapa tidak mengatakannya,? jika tidak cinta kenapa tidak melepaskannya*.?
"*Aku tidak bisa tetap ada disini, jika kau tidak mau menjadi kekasihku*.!"
*Jawaban Meldy sangat mantap. Zid terdiam. Mata mereka saling memandang dalam untuk pertama kalinya. Jantung Meldy sudah berdetak tidak karuan*.
*Arend memalingkan muka jengah, ini semua sudah di setting sedemikian rupa oleh Meldy. Demi mendapatkan Zid. Arend pun memilih kembali fokus pada laptopnya. Membiarkan 2 insan itu beradu dalam rasa mereka*.
*Zid hanya diam dan terus menatap dalam mata Meldy. Meldy sangat gugup menunggu jawaban Zid. Meldy menelan salivanya kasar beberapa kali*.
*Akhirnya Zid mengangguk*.
"*Okay, kita pacaran*.!"
*Ucap Zid yang seketika merubah raut muka Meldy menjadi mode on be happy*.
*Senyum Meldy melebar terukir di kedua ujung bibirnya*.
*Tanpa pikir panjang dengan gerakan cepat, Meldy langsung menubruk Zid. Menautkan bibirnya pada bibir Zid. Ia langsung menyerang dengan ganas pada titik yang sangat ia damba begitu lama. Bibir seorang Zid yang membuat Meldy tak bisa tidur pada setiap malam-malamnya*.
*Zid hanya bisa membulatkan mata kala salah satu bagian sensitif pada dirinya di sentuh dan di rampas paksa oleh Meldy, ini adalah ciuman pertama Zid*.
*Cintanya Meldy pada seorang Zid menghipnotis Meldy sebegitu gilanya. Zid adalah segalanya. Hanya dengan memejamkan mata, bayangan wajah Zid yang muncul sudah mampu membuat tenang hati Meldy yang sedang jatuh cinta. Atau justru sebaliknya, semakin meronta-ronta*.
*Hari dimana Zid menjadikan Meldy sebagai pacarnya adalah hari bersejarah yang paling indah. Dan saking senangnya, Meldy sampai mentraktir makan siang seluruh karyawan N~A Cell selama satu Minggu. Menghabiskan gajinya selama satu bulan. (Hanya perumpamaan*.)
***Flash back Off***
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Syeira hanya berdiri sambil menangis, ia tak berani bergerak atau pun bersuara.
"Kau tidurlah seranjang dengan Meldy, aku akan tidur di sofa.!"
Arend berbicara pada Syeira. Dan Syeira mengangguk.
"Tinggalkan aku sendiri, Ra.?"
Lirih Meldy sangat pelan. Ia terus menangis tanpa suara. Meldy berbicara dengan suara serak dan tanpa menoleh pada Syeira.
"Kami tidak akan pergi meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, Mel.!" Arend yang menjawab tegas.
Meldy bangun dan duduk di tepian ranjang, tubuhnya terhuyung-huyung seperti orang yang tengah sakit parah.
"Aku ingin sendiri, Tuan CEO.!"
Arend mendekat, lalu berjongkok di depan Meldy menatapnya tajam. Syeira ikut mendekat duduk di samping Meldy sambil merangkul bahunya yang terus bergerak seirama dengan tubuhnya yang terhuyung.
"Lalu apa yang akan kau lakukan.? Kau akan bunuh diri.? Kau akan mengakhiri hidupmu karna kau merasa tak ingin lagi hidup.? Kau ingin menghindari masalahmu dengan cara mati.?"
Arend berteriak pada Meldy yang hanya diam menatap kosong pada lantai. Yang sebenarnya adalah, semua ingatan tentang aunty nya kembali muncul di benak Arend. Menggores dalam luka lama itu.
Meldy menggeleng pelan.
"Aku tidak se naif itu, aku memang bodoh karna cintaku, tapi aku tidak akan melakukannya. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Aku ingin menenangkan diri.!" Meldy bicara di sertai tangisnya yang sesenggukan. Dadanya kembali sangat sesak.
"Aku tidak percaya.!" Sangkal Arend. Poin yang Arend pelajari adalah, jangan pernah meninggalkan orang yang sedang dalam keadaan depresi seorang diri. Karna mereka tak bisa berpikir jernih.
'*Ting*,,,,?'
Bel berbunyi, menghentikan perdebatan mereka, Arend bergerak membuka pintu. Dokter yang di panggil Syeira datang.
Meldy mendongakkan kepala saat melihat Seorang Dokter datang. Syeira berdiri. Lalu membaringkan tubuh Meldy, Meldy menurut. Ia sendiri merasakan fisiknya yang tiba-tiba lemah tanpa tenaga.
Dokter lekas memeriksa. Setelah beberapa menit.
"Dia mengalami syok yang sangat berat, tekanan darahnya sangat rendah. Saya akan resepkan beberapa obat. Anda bisa menebusnya di apotek.!"
Arend mengangguk, Dokter menulis resep dan di berikan pada Arend. Lalu Dokter itu pun pamit. Arend menunduk berterimakasih. Arend memainkan ponselnya untuk membayar jasa Pak Dokter.
"Kalian istirahatlah. Aku pergi dulu ke apotek.!"
"Tidak perlu Tuan, CEO. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan luka hati yang telah di khianati. Tidak ada obatnya.!"
Suara Meldy bergetar saat mengucapkan kalimatnya. Air matanya terus mengalir dan ia kembali meringkuk.
Arend tak mempedulikannya. Ia lekas pergi keluar untuk segera menebus obat di apotek.
Syeira mengelus rambut Meldy lembut. '*Kasihan dia*.!' Syeira lantas menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Meldy.
Malam ini akan menjadi malam yang panjang. Malam yang kelam. Meldy tak kan dapat memejamkan matanya. Ia tak mampu menetralkan rasanya.
Di depan matanya ia melihat sendiri bagaimana Zid sang kekasih yang sangat ia cintai mend3$4h nikmat di bawah tubuh wanita lain. Suara 3r4n9an Zid yang bersahutan dengan d3$4han Zizi terus menggema dalam telinganya.
Meldy lekas menutup telinganya kuat sampai kepalanya bergetar dengan giginya yang gemeretak saling beradu. Dia trauma.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...