LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 77





Rain memutuskan untuk pergi ke desa mengunjungi makam Ineke sebelum akhirnya ia akan kembali terbang ke Brazil.



Arend. sebenarnya ingin ikut, tapi Rain melarangnya, ia dan Syeira harus beristirahat. Syeira butuh waktu setelah hari-hari kemarin yang menegangkan dan menguras tenaga serta emosinya.



Dan pagi tadi Rain sudah berpamitan pada Arend dan Syeira.



...----------------...



Setelah melalui rundingan bersama, gadis-gadis itu di pulangkan ke rumahnya masing-masing oleh orang-orang Arend dan Rain. Tapi Zizi masih bersama Zid, ia meminta pekerjaan pada Arend, dan Arend memberinya pekerjaan sebagai OB di perusahaan *N~A Cell*. Zizi tinggal bersama Zid dan Meldy untuk sementara waktu, sampai ia memiliki tempat tinggal yang baru.



Tak ada media yang mengendus mereka. Itu permintaan Rain. Akan lebih baik jika dirinya jauh dari media, apalagi petugas berseragam.



Beberapa berita ledakan dan kebakaran yang terjadi di area industri mati dan pembunuhan di Candy Bar yang meskipun masuk dan di muat di beberapa channel, tak dapat menyangkut pautkannya pada Arend. Semuanya Clear.



...----------------...



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Apa dokter sudah mengizinkannya.?"



Arend tengah berbicara lewat sambungan video call dengan Zico. Zico dan Cellin tengah mempersiapkan penerbangannya untuk kembali ke Indonesia, keadaan Cellin membaik.



"Iya, Tuan CEO.? Adik ipar-mu ini sudah semakin sehat. Kami akan pulang.!" Jawab Zico yang berdiri menunduk di belakang Cellin yang duduk di kursi roda, mereka sudah berada di bandara. Zico memeluk Cellin dari belakang.



Arend dan Syeira berbaring di ranjang sambil berpelukan.



"Zico, kamu harus menjaga Cellin. Bawa dia kerumah dengan selamat. Kami menunggu!" Seru Syeira yang di balas senyuman oleh Cellin dan Zico.



"Tenang saja itik Bar-Bar.? Tunggu saja kami di rumah, dan siapkan makanan lezat sebagai penyambutan.!" jawab Zico antusias dengan senyumnya yang terus mengembang.



Sedangkan Arend sudah tak lagi begitu mendengarkan obrolan mereka, Arend sudah pada rasa nya yang lain. Ia terus mengecup leher Syeira dengan nakal, membuat Syeira bergerak tidak nyaman karna kegelian.



"Hentikan.?" Ucap Syeira pada Arend.



"Sudah tutup telponnya.?" Gerutu Arend yang sudah berada di ujung n4f$u.



"Ha ha ha ha .? Brengsek kau Tuan CEO.? Berc!nta di depan adik-adikmu, apa kau tidak tahu malu? Hah.?" Zico berteriak. Membuat Cellin tertawa.



Zico sendiri sudah berpuasa entah berapa lama. Sejak ia memutuskan berubah dan menikah dengan Cellin, Zico belum pernah bisa menuntaskan ha$rat nya, bayangkan saja. Seorang Cassanova tak lagi berc!nta untuk waktu yang cukup lama. Seperti apa penderitaannya.



"Kita harus berangkat sekarang.!" Kakak Cellin datang.



"Baiklah, aku tutup dulu teleponnya. Kalian lanjutkan saja, ritual pembuatan Arend junior.!" Ucap Zico meledek.



"Iisshh.?" Syeira ingin membalas ucapan Zico, namun sambungan telepon sudah di tutup.



Arend pun segera bergerak menutup tubuh Syeira dengan tubuhnya.



Arend tak membiarkan Syeira melakukan perlawanan, tubuhnya sudah mengeras sempurna, bahkan bisa Syeira rasakan kerasnya itu di pahanya.



"My L.?" Gerutu Syeira yang justru terdengar seperti lirihan karna libidonya sendiri sudah terpancing dan naik seketika.



Arend memperlakukannya sangat lembut, bibir Arend terus mengeksplor wajah, leher dan dada Syeira.



Kedua tangannya meremas kedua tangan Syeira yang ia bentangkan.



Arend berhenti, ia dan Syeira saling menatap dalam.



"I Love You, My L.?" Ucap Arend penuh rasa kasih dan cinta.



"I Love you too My L.?" Jawab Syeira malu-malu.



Arend pun dengan gerakan pelan dan lembut mendekati wajah Syeira, ia menautkan bibirnya pada bibir Syeira, Syeira memejamkan mata merasakan kenikmatan yang Arend berikan padanya.




Arend menggerakkan lidahnya mengeksplor dalam mulut Syeira, saling tukar Saliva, Arend membelitkan lidahnya pada lidah Syeira.



Kini tangan kanan Arend bergerilya, membuka satu persatu kancing kemeja Syeira, dan tangannya memainkan d4. d.a. Syeira. Tanpa melepas tautan bibir mereka.



Tangan Arend turun kebawah, melakukan tugasnya. Hingga Syeira terbuka.



Satu jari Arend menyeruak masuk kedalam membuat Syeira men. d3$4h dan m.e.l3n9uh merasakan nikmat.



Kini Arend turun dan berbaring di samping menghadap Syeira yang terlentang. Arend menggerakkan jarinya, ia melepas tautan bibirnya pada bibir Syeira, Arend menatap sayu wajah Syeira yang sudah memejamkan mata sempurna menerima perlakuan dirinya yang membuat Syeira menggila.



Seluruh tubuh Syeira seperti tersengat aliran listrik yang dahsyat, gelanyar-gelanyar penuh g3l0r4 itu begitu hebat menyerang tubuhnya.



Arend masih terus menggerakkan jarinya dengan lembut, hingga Syeira semakin men93r4n9. Dan,\_\_.? Syeira banjir.



Nafas Syeira tersengal, ia telah sampai pada pelepasan yang pertama.



Arend bergerak. Ia kembali menjelajah wajah Syeira, turun keleher, meninggalkan jejak-jejak kepemilikan disana. Aroma yang membuat Arend candu dan begitu rindu.



Arend berhenti di d.4.da Syeira. Syeira men993l\_!nj4n9. Libidonya sudah kembali naik.



Arend sudah membuka dirinya, ia menutup tubuh Syeira. Membuka kakinya.



"Aku masuk, My L.?" Lirih Arend yang di balas anggukan oleh Syeira yang masih memejamkan matanya.



"Oouuhh.!"



Rasa itu seperti jutaan kupu-kupu yang terbang di sekujur tubuh, geli, ringan hangat, bahagia. *Kemepyar*.



Arend bergerak maju-mundur teratur, membuat tubuh Syeira ikut bergoyang seirama dengan tempo yang ia ciptakan.



Arend terus menggerakkan tubuhnya. Membuat Syeira terus men.d.3$4h. Arend sendiri pun terus mengeluarkan suara-suara beratnya yang saru namun candu di telinga Syeira.



Arend mengangkat kaki Syeira sebelah kanan ke atas pundaknya, membuat gerakan yang lebih, kedua tangan Syeira mencengkeram sprei menahan rasa yang terus menghujam kedalamannya.



Keringat membanjir membasahi tubuh keduanya.



Arend kembali mengubah posisi, Syeira yang berada di atas. terus bergerak ke atas dan kebawah, mata Arend merem melek. mulut Arend menganga dan terkadang mengigit sendiri bibir bawahnya.



Arend sudah merasa akan segera sampai. Ia kembali mengubah posisi, ia membalik tubuh Syeira dan tubuh Arend menutup Syeira. Mengangkat kedua kaki Syeira di kedua tangannya yang ia bentangkan. Dan Arend kembali memaju mundurkan dengan tempo yang keras, kasar, dan cepat. Hingga mereka sampai pada pelepasan secara bersamaan.



Suara lirih keduanya yang me.nd3$4h panjang mengiringi berakhirnya ritual pembuatan Arend junior sore itu.



Arend menjatuhkan tubuhnya, di iringi deru nafasnya yang tersengal bersahutan dengan deru nafas Syeira.



Mereka terlelap dalam lelah penuh cinta. Berharap Arend junior lekas hadir di tengah-tengah mereka.



*Bismillah*.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Zid dan Meldy tengah mandi bersama, mereka baru saja menyelesaikan sesi olahraga yang panas. Dan mereka akan keluar makan malam di luar, setelah beberapa hari yang terasa sangat melelahkan dan menegangkan. Kini saatnya mereka untuk balas dendam melepas kerinduan. Dan mereka melakukannya sekali lagi di kamar mandi.



Semenjak ada Zizi yang ikut tinggal bersama mereka, Meldy tidak bisa leluasa menunjukkan keagresifannya pada Zid. Hanya saat di kamar mandi lah mereka bisa berolahraga.



"You like it, Babe.?" Tanya Meldy setelah Zid sampai.



Seperti biasa, Zid hanya diam. Ia begitu pasif di tangan Meldy yang aktif.



Meldy mengecup leher, dada, wajah dan bibir Zid setelah mereka usai. Meldy sangat merindukan saat-saat seperti ini, dia memang sangat mencintai Zid, sepenuh hatinya, dengan segenap jiwa dan raganya, cinta Meldy yang begitu besar membuat Zid serasa kewalahan.



*Dan begitulah pria, ketika wanitanya memberikan seluruh cintanya. Maka pria itu tidak akan menghargainya. Lihat saja*.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...




Rain memutuskan untuk pergi ke desa mengunjungi makam Ineke sebelum akhirnya ia akan kembali terbang ke Brazil.



Arend. sebenarnya ingin ikut, tapi Rain melarangnya, ia dan Syeira harus beristirahat. Syeira butuh waktu setelah hari-hari kemarin yang menegangkan dan menguras tenaga serta emosinya.



Dan pagi tadi Rain sudah berpamitan pada Arend dan Syeira.



...----------------...



Setelah melalui rundingan bersama, gadis-gadis itu di pulangkan ke rumahnya masing-masing oleh orang-orang Arend dan Rain. Tapi Zizi masih bersama Zid, ia meminta pekerjaan pada Arend, dan Arend memberinya pekerjaan sebagai OB di perusahaan *N~A Cell*. Zizi tinggal bersama Zid dan Meldy untuk sementara waktu, sampai ia memiliki tempat tinggal yang baru.



Tak ada media yang mengendus mereka. Itu permintaan Rain. Akan lebih baik jika dirinya jauh dari media, apalagi petugas berseragam.



Beberapa berita ledakan dan kebakaran yang terjadi di area industri mati dan pembunuhan di Candy Bar yang meskipun masuk dan di muat di beberapa channel, tak dapat menyangkut pautkannya pada Arend. Semuanya Clear.



...----------------...



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Apa dokter sudah mengizinkannya.?"



Arend tengah berbicara lewat sambungan video call dengan Zico. Zico dan Cellin tengah mempersiapkan penerbangannya untuk kembali ke Indonesia, keadaan Cellin membaik.



"Iya, Tuan CEO.? Adik ipar-mu ini sudah semakin sehat. Kami akan pulang.!" Jawab Zico yang berdiri menunduk di belakang Cellin yang duduk di kursi roda, mereka sudah berada di bandara. Zico memeluk Cellin dari belakang.



Arend dan Syeira berbaring di ranjang sambil berpelukan.



"Zico, kamu harus menjaga Cellin. Bawa dia kerumah dengan selamat. Kami menunggu!" Seru Syeira yang di balas senyuman oleh Cellin dan Zico.



"Tenang saja itik Bar-Bar.? Tunggu saja kami di rumah, dan siapkan makanan lezat sebagai penyambutan.!" jawab Zico antusias dengan senyumnya yang terus mengembang.



Sedangkan Arend sudah tak lagi begitu mendengarkan obrolan mereka, Arend sudah pada rasa nya yang lain. Ia terus mengecup leher Syeira dengan nakal, membuat Syeira bergerak tidak nyaman karna kegelian.



"Hentikan.?" Ucap Syeira pada Arend.



"Sudah tutup telponnya.?" Gerutu Arend yang sudah berada di ujung n4f$u.



"Ha ha ha ha .? Brengsek kau Tuan CEO.? Berc!nta di depan adik-adikmu, apa kau tidak tahu malu? Hah.?" Zico berteriak. Membuat Cellin tertawa.



Zico sendiri sudah berpuasa entah berapa lama. Sejak ia memutuskan berubah dan menikah dengan Cellin, Zico belum pernah bisa menuntaskan ha$rat nya, bayangkan saja. Seorang Cassanova tak lagi berc!nta untuk waktu yang cukup lama. Seperti apa penderitaannya.



"Kita harus berangkat sekarang.!" Kakak Cellin datang.



"Baiklah, aku tutup dulu teleponnya. Kalian lanjutkan saja, ritual pembuatan Arend junior.!" Ucap Zico meledek.



"Iisshh.?" Syeira ingin membalas ucapan Zico, namun sambungan telepon sudah di tutup.



Arend pun segera bergerak menutup tubuh Syeira dengan tubuhnya.



Arend tak membiarkan Syeira melakukan perlawanan, tubuhnya sudah mengeras sempurna, bahkan bisa Syeira rasakan kerasnya itu di pahanya.



"My L.?" Gerutu Syeira yang justru terdengar seperti lirihan karna libidonya sendiri sudah terpancing dan naik seketika.



Arend memperlakukannya sangat lembut, bibir Arend terus mengeksplor wajah, leher dan dada Syeira.



Kedua tangannya meremas kedua tangan Syeira yang ia bentangkan.



Arend berhenti, ia dan Syeira saling menatap dalam.



"I Love You, My L.?" Ucap Arend penuh rasa kasih dan cinta.



"I Love you too My L.?" Jawab Syeira malu-malu.



Arend pun dengan gerakan pelan dan lembut mendekati wajah Syeira, ia menautkan bibirnya pada bibir Syeira, Syeira memejamkan mata merasakan kenikmatan yang Arend berikan padanya.




Arend menggerakkan lidahnya mengeksplor dalam mulut Syeira, saling tukar Saliva, Arend membelitkan lidahnya pada lidah Syeira.



Kini tangan kanan Arend bergerilya, membuka satu persatu kancing kemeja Syeira, dan tangannya memainkan d4. d.a. Syeira. Tanpa melepas tautan bibir mereka.



Tangan Arend turun kebawah, melakukan tugasnya. Hingga Syeira terbuka.



Satu jari Arend menyeruak masuk kedalam membuat Syeira men. d3$4h dan m.e.l3n9uh merasakan nikmat.



Kini Arend turun dan berbaring di samping menghadap Syeira yang terlentang. Arend menggerakkan jarinya, ia melepas tautan bibirnya pada bibir Syeira, Arend menatap sayu wajah Syeira yang sudah memejamkan mata sempurna menerima perlakuan dirinya yang membuat Syeira menggila.



Seluruh tubuh Syeira seperti tersengat aliran listrik yang dahsyat, gelanyar-gelanyar penuh g3l0r4 itu begitu hebat menyerang tubuhnya.



Arend masih terus menggerakkan jarinya dengan lembut, hingga Syeira semakin men93r4n9. Dan,\_\_.? Syeira banjir.



Nafas Syeira tersengal, ia telah sampai pada pelepasan yang pertama.



Arend bergerak. Ia kembali menjelajah wajah Syeira, turun keleher, meninggalkan jejak-jejak kepemilikan disana. Aroma yang membuat Arend candu dan begitu rindu.



Arend berhenti di d.4.da Syeira. Syeira men993l\_!nj4n9. Libidonya sudah kembali naik.



Arend sudah membuka dirinya, ia menutup tubuh Syeira. Membuka kakinya.



"Aku masuk, My L.?" Lirih Arend yang di balas anggukan oleh Syeira yang masih memejamkan matanya.



"Oouuhh.!"



Rasa itu seperti jutaan kupu-kupu yang terbang di sekujur tubuh, geli, ringan hangat, bahagia. *Kemepyar*.



Arend bergerak maju-mundur teratur, membuat tubuh Syeira ikut bergoyang seirama dengan tempo yang ia ciptakan.



Arend terus menggerakkan tubuhnya. Membuat Syeira terus men.d.3$4h. Arend sendiri pun terus mengeluarkan suara-suara beratnya yang saru namun candu di telinga Syeira.



Arend mengangkat kaki Syeira sebelah kanan ke atas pundaknya, membuat gerakan yang lebih, kedua tangan Syeira mencengkeram sprei menahan rasa yang terus menghujam kedalamannya.



Keringat membanjir membasahi tubuh keduanya.



Arend kembali mengubah posisi, Syeira yang berada di atas. terus bergerak ke atas dan kebawah, mata Arend merem melek. mulut Arend menganga dan terkadang mengigit sendiri bibir bawahnya.



Arend sudah merasa akan segera sampai. Ia kembali mengubah posisi, ia membalik tubuh Syeira dan tubuh Arend menutup Syeira. Mengangkat kedua kaki Syeira di kedua tangannya yang ia bentangkan. Dan Arend kembali memaju mundurkan dengan tempo yang keras, kasar, dan cepat. Hingga mereka sampai pada pelepasan secara bersamaan.



Suara lirih keduanya yang me.nd3$4h panjang mengiringi berakhirnya ritual pembuatan Arend junior sore itu.



Arend menjatuhkan tubuhnya, di iringi deru nafasnya yang tersengal bersahutan dengan deru nafas Syeira.



Mereka terlelap dalam lelah penuh cinta. Berharap Arend junior lekas hadir di tengah-tengah mereka.



*Bismillah*.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Zid dan Meldy tengah mandi bersama, mereka baru saja menyelesaikan sesi olahraga yang panas. Dan mereka akan keluar makan malam di luar, setelah beberapa hari yang terasa sangat melelahkan dan menegangkan. Kini saatnya mereka untuk balas dendam melepas kerinduan. Dan mereka melakukannya sekali lagi di kamar mandi.



Semenjak ada Zizi yang ikut tinggal bersama mereka, Meldy tidak bisa leluasa menunjukkan keagresifannya pada Zid. Hanya saat di kamar mandi lah mereka bisa berolahraga.



"You like it, Babe.?" Tanya Meldy setelah Zid sampai.



Seperti biasa, Zid hanya diam. Ia begitu pasif di tangan Meldy yang aktif.



Meldy mengecup leher, dada, wajah dan bibir Zid setelah mereka usai. Meldy sangat merindukan saat-saat seperti ini, dia memang sangat mencintai Zid, sepenuh hatinya, dengan segenap jiwa dan raganya, cinta Meldy yang begitu besar membuat Zid serasa kewalahan.



*Dan begitulah pria, ketika wanitanya memberikan seluruh cintanya. Maka pria itu tidak akan menghargainya. Lihat saja*.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...