
Mereka berkata ini itu.Tapi aku tak pernah berkata ini itu.Sudahlah mereka tak akan mengerti arti sebuah pengorbanan.Cukup Tuhan yang tau.
* Flashback*
Malam hari itu seorang gadis mungil dengan ciri khas matanya yang sipit terbangun dari tidurnya.Ia mendengar ada keributan di luar sana.entah itu apa.Lalu gadis itu bergegas ke sumber keributan tersebut.Ia melihat perselisihan keluarganya.
"Yah bu,tunggakan ku di kampus udah banyak.Gimana kalo aku di keluarin dari kampus,aku gak mau.Pokoknya ayah sama ibu harus bayar secepatnya."kata seorang remaja laki-laki
"Ayah juga pusing nak,keuangan keluarga kita menipis.Ayah gak punya uang buat bayar kuliahmu"ujar sang ayah pada anaknya.
"Ini semua gara-gara anak pembawa sial itu,seandainya dia gak lahir didunia ini pasti keluarga kita baik-baik aja kayak dulu."jelas si remaja laki-laki tersebut dengan geram
"Maafin ibu sama ayah ya nak karena kamu harus menanggung semua beban ini,dan soal anak pembawa sial itu nanti kita pikirkan gimana cara menyingkirkannya dari dunia ini."jelas sang ibu kepada putranya
"Arggghhh pokoknya yah bu,aku tidak peduli yang jelas ayah sama ibu harus tetap bayar uang kampus aku gimana pun caranya."teriak si remaja laki-laki penuh amarah.
Gadis itu menahan tangisnya setelah mendengar semua percakapan keluarganya.Kata menyingkirkannya di dunia ini?Apa dirinya sesial itu di mata keluarganya?Ia merasa bersalah dengan dirinya sendiri karena keluarganya bisa hancur seperti ini.
Dia keluarga Leonardo dan gadis itu Aina Khanza Leonardo.
Sekarang gadis itu hanya duduk termenung,sorot matanya terlihat ada banyak pikiran di dalam sana.Kamar yang biasanya terang benderang kini hanya gelap.Sama seperti hatinya,sama seperti hidupnya sekarang ini yang kehilangan cahaya petunjuk arah.
Hatinya begitu hancur mendengar perkataan keluarganya sendiri.Segitu kejam dunia pada dirinya?Mengapa ia harus hidup?toh tidak ada yang menginginkannya di bumi ini,lalu untuk apa ia ada di sini?Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu.Hanya kelelahan,kepedihan,kepahitan hidup yang ia rasakan.Gadis itu berpikir apa ia harus mengakhiri hidupnya sekarang?.Argghhh pikiran gadis itu kacau,ia mengacak-ngacak rambutnya dengan geram.Apa yang harus aku lakukan Tuhan hingga keluargaku menerimaku,memberikan kasih sayang,cinta yang belum pernah aku rasakan sekalipun.
Gadis itu terus mengeluarkan air mata yang membasahi pipinya,hanya kelelahan yang ia rasakan saat ini.Matanya pun terpejam,ia ingin mengistirahatkan pikirannya yang begitu kacau-balau.
Pagi yang cerah ini,sang mentari telah menampakkan cahayanya.Menerangi dunia ini dan membuat para penghuni bumi menyambut kehadiran hari dengan suka cita.
Pukul 05.30
Gadis mungil itu sudah bersiap-siap ingin mengurangi beban dan pikirannya dengan melakukan joging di pagi hari,mungkin ini cukup buat menenangkan pikirannya.Ia pun bergegas keluar dari sebuah rumah yang minimalis dan cukup sederhana.Rumah yang belum pernah memberikan kebahagiaan untuknya.
Gadis itupun berlari sepanjang kompleks sambil memakai heardphone di telinganya.Mata sipitnya tertuju pada kertas yang tertempel di pohon.Ia pun berhenti,lalu membacanya.
Dibutuhkan donor ginjal
Imbalan 500 juta
Hubungi 081xxxxxxxxxx
Entah apa yang terlintas dalam pikiran gadis itu.Ia merasa mungkin ini jalan satu-satunya membantu kakakya dan mangurangi beban ekonomi keluarganya.Tanpa berpikir panjang gadis itu lansung menelpon nomor tersebut.
"Halo mba,nama saya Aina ingin mendonorkan ginjal saya".
"Oke mba nanti saya shareloc rumah sakitnya dan mba bisa langsung ke sini saja".
Gadis itu mematikan telponnya.Ia mendapatkan notifikasi lokasi rumah sakit tersebut.Ia pun langsung bergegas menuju rumah sakit itu dengan menggunakan angkutan umum.
Sekitar 15 menit perjalanannya gadis itu sampai dirumah sakit.Ia menatap datar Rumah Sakit The Alinsky.Rumah sakit yang megah.
Gadis itu langsung bergegas masuk dan menuju ke ruangan yang di arahkan kepadanya.
Ya di depan ruangan Dokter Ali Wijaya ia berdiri. Seorang gadis yang penuh dengan tekad yang tak ingin berpikir terlalu panjang. Badannya gemetar kedinginan, namun hatinya bergumam untuk selalu tegar.
Ia langsung menarik gagang pintu ruangan itu. Pemandangan yang terlihat jelas di matanya. Seorang Dokter dan pria yang berumur sekitar 50-an serta gadis yang mungkin sebaya dengannya.
"Em.. permisi, saya Aina yang tadi menelpon untuk mendonorkan ginjal". Ucap gadis itu dengan penuh canggung.
Mereka yang mendengar hal itu menatap tajam Aina dengan penuh harapan. Terlebih seorang gadis yang langsung menghambur diri memeluk Aina.
Raut senduh bercampur lega terpancar di wajah gadis itu.
Dokter Ali pun menyarankan agar Aina melakukan tes terlebih dahulu serta menjelaskan tentang prosedur yang harus di lakukan sebelum operasi berlangsung.
"Ini cek dan berkas yang harus kamu tanda tangani" ucap pria tua tersebut sembari mengeluarkan berkas dari dalam kopernya.
Aina menatap kosong ke arah kertas itu. Tangannya bergetar mengangkat kertas tersebut lalu membacanya. Tanpa pikir panjang jari mungil gadis itu langsung bergerak mencoret berkas tersebut.
" Saya akan menanggung biaya perawatan kamu selepas operasi. Tapi setelah itu kau tak boleh menuntut apapun. " sambung pria tua itu yang ternyata adalah suami orang yang akan ia donorkan ginjalnya.
Pukul 20.00
Malam itu hujan turun dengan derasnya,seperti air mata yang terus tumpah.
Seorang gadis manis menatap ke ranjang rumah sakit. Ia memperhatikan gadis cantik sebayanya yang sedang terbaring di hadapannya.
Terbesit tanya di hati gadis manis itu. Mengapa ada yang senekad dia?
Gadis cantik itu mulai membuka matanya perlahan. Rasa sakit yang timbul karena bius yang sudah habis mulai ia rasakan.
Matanya menangkap gadis manis yang tengah terduduk di sampingnya.
"Aaahhhkk..." rintih aina sembari mencoba untuk bangun
"Jangan bangun dulu, kondisi mu belum stabil. Kalo mau minta apa-apa tanya gue aja" tegas gadis itu.
" Sebentar ya gue panggil dokter dulu."sambungnya
Aina hanya terdiam mendengar pernyataan itu. Ia melihat gadis manis itu berlalu meninggalkan ruangan nya. Pikirannya hanya satu bagaimana ia bisa cepat pulang?.
Tak lama kemudian gadis manis itu datang bersama seorang dokter .
" Jadi Nona Aina, anda sebaiknya harus di rawat di rumah sakit ini dulu, setidaknya sampai kondisi anda pulih kembali". Kata dokter Ali kepada Aina.
" Maaf Dok. Saya harus pulang". Ucap Aina sembari mencoba untuk bangun.
Aina tak dapat menahan diri untuk terus tinggal. Ia ingin segera pulang. Ia tak ingin menambah masalah lagi
"Ya udah gimana kalo gue yang antar. Di luar juga hujan". Ucap gadis manis itu
"Gak papa. Aku bisa sendiri". Ucap Aina
"Tapi kan ...". Ucap gadis itu mencoba membantu aina berdiri.
"Gak usah aku bisa kok" kata Aina sembari tersenyum.
“Setidaknya kalo loh gak mau di rawat biarin gue antar loh pulang" sambungnya.
Aina sebenarnya sangat tidak enak hati menolak penawaran gadis baik yang ada di hadapannya. Tapi Aina tak ingin ada kecurigaan yang muncul.
"Gak usah gue bisa sendiri".jawab Aina
"Oiya Nama kamu siapa?"sambungnya.
"Natasha.Kalo Kamu?"tanya balik gadis itu.
"Gue Aina".jawab Aina.
" Aina. Gue sangat berterima kasih sama loh. Gue gak tau mau balas loh pake apa. Gue mohon izinin gue jadi sahabat loh" pintah Natasha.
" iya gue mau " kata Aina
Natasha melihat gadis cantik yang penuh dengan tekad itu berlalu. Badan yang lemah tapi terlalu kuat terlihat jelas di matanya.