
DK mengantar Meldy untuk pulang, sudah ada Zid disana yang menemani dan menjaga Zizi. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka. Tanpa ikut campur dari orang lain.
Meldy hanya diam sepanjang jalan. Ia tak ingin mengatakan apapun. Pandangan matanya selalu kosong, Meldy tenggelam dalam lamunannya sendiri.
'*Kenapa aku masih merasakan sakit itu begitu sangat? Aku sudah bertekad untuk melepaskannya. Jadi, jika sekarang mereka kembali bersama, biarkan saja*.'
"Kau mau langsung pulang? Atau kita makan dulu? Baru jam 10." Ucap DK pada Meldy yang sukses membuyarkannya dari lamunan.
"Ah? Aku pulang saja." Jawab Meldy santai. Ia berusaha menutupi kalut hatinya. Ia tak ingin lagi terlihat lemah.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu untuk langsung pulang, cepatlah istirahat. Kau baik-baik saja kan?"
"He em." Meldy menganggukkan kepala. Ia pun menyunggingkan senyumnya yang kaku.
Mobil yang DK kendarai telah sampai di halaman depan gedung apartemen Meldy.
"Terimakasih." Ucap DK. Sebenarnya, dia ingin sekali mendaratkan kecupan di kening Meldy. Tapi Meldy hanya mengangguk dan langsung berjalan masuk kedalam.
DK pun berdecah dan menancap gas meninggalkan tempat itu.
Meldy berdiri mematung di depan lift. Orang-orang yang keluar dari sana melihatnya kagum karna kecantikan dan keseksiannya. Tapi Meldy tidak perduli. Ia hanya diam. Ada yang kembali terasa sangat perih di hatinya.
'*Apa yang akan aku lakukan dikamar? Aku hanya akan berdiam diri. Atau menangis? Aku lelah terus saja begini*.'
Meldy membalikan badan dan berjalan melangkah keluar dari gedung apartemennya. Ia tak ingin terjebak dalam kesepian dan kesendirian. Meldy kembali keluar. Ia terus melangkahkan kakinya. Menapaki trotoar jalan. Tanpa arah tujuan.
Sudah 2 jam dia berjalan. Hingga ia sudah berada sangat jauh dari gedung apartemennya. Ia tak tahu mau kemana. Ia tak ingin ke Club'. Tapi juga tak ingin berdiam diri di kamar.
Meldy menenteng kedua sepatu hak nya di tangan. Kakinya bahkan sudah lecet karena ia berjalan terlalu jauh menggunakan sepatu berhak tinggi itu.
Meldy tidak peduli dengan rasa pegal di kaki dan lelah pada tubuhnya. Ia hanya ingin terus berjalan. Tak ada air mata yang menetes. Raut mukanya hanya datar, dan terus menunduk sejak tadi.
Jam sudah menunjukkan tengah malam. Ia tak begitu menyadari dengan apa yang dilakukannya. Meldy hanya ingin mengurangi beban di hatinya. Dadanya yang terasa sangat sesak. Dan tak enak. Dan cara ini nyatanya lumayan ampuh untuk menghibur kesendirian dan kesedihannya.
"Hai cantik? Mau kemana? sendirian saja? Boleh Abang temani?" Beberapa pria yang begajulan yang masih nongkrong di trotoar jalan menggoda Meldy yang lewat.
Meldy tersenyum, ia tak merasa takut. Dia bahkan menjawab ucapan mereka dengan nada suara yang ia lengkokkan dan dibuat-buat. Seperti seorang banc!.
"Kau mau menemani ku, Abang? Tapi setelah pukul 12 lewat, aku bukan lagi sebagai Yanti, tapi aku akan menjadi Yanto.?" Ucap Meldy santai.
"Busyeeet? Ketipu casing dong? Ha ha ha ha?"
Para pria itu tertawa mendengar penuturan Meldy. Mereka percaya jika Meldy bukanlah wanita tulen. Dan Meldy hanya tersenyum lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka.
Meldy berhenti pada trotoar jalan yang sepi. Ia menghadap kearah laut lepas. Tangannya mengelus sendiri bahunya yang terbuka. Udara dingin menusuk tulang mulai ia rasakan.
"Gila, aku jalan udah sejauh ini. Mana ini tengah malam lagi. Haaaa? Apa yang sedang aku pikirkan? Hhhaaahhh!" Meldy menghembuskan nafasnya panjang. Kini ia merasakan lelah di tubuhnya dan pegal di kakinya.
Meldy terduduk. Ia melihat kakinya yang terdapat luka lecet. Perih. Ia pun menggosok-gosok hidungnya yang terasa gatal. Meldy kedinginan.
Sebuah mobil terlihat dari arah kejauhan yang semakin mendekat dan berjalan pelan.
"Meldy? Ngapain dia disini? malam-malam gini?"
Dia adalah Zico. Yang baru saja akan pulang ke apartemen Arend setelah mengantar Mikaila ke Mension Aryan.
"Aaahh? Apa yang harus kulakukan? Aku sangat malas jika harus kembali berurusan dengannya. Cewek stres."
Zico pun kembali menginjak gas mobil yang tadi sempat ia pelankan. Ia tak ingin mempedulikan Meldy yang terlihat murung seorang diri di trotoar jalan malam-malam begini. Dan Meldy juga tidak melihat jika ada Zico yang lewat barusan.
Zico sudah melewati Meldy. Mobilnya sudah semakin menjauh, tapi ia malah kepikiran.
"Apa yang sebenarnya Meldy lakukan disana? Ini sudah sangat malam. Kenapa dia ada disana? Bukankah tadi dia pergi dan Zid juga mengikutinya? Aaahh? Kenapa aku merasa tidak tega?"
'*Ccciit*?'
Zico menginjak rem, menghentikan laju mobilnya. Ia lantas menghubungi Zid.
"Kau dimana?" Tanpa basa-basi Zico langsung melayangkan pertanyaan pada Zid.
"*Aku sedang di Rumah Sakit*."
"Rumah Sakit?"
Zid menjelaskan keadaannya. Semuanya. Juga tentang Zizi yang sekarang di operasi karna kehamilannya yang mengalami kontraksi dini hingga pendarahan akibat menari.
Zico terperangah. Sulit untuknya bisa percaya. Semuanya seperti sebuah drama yang tak ada habisnya. Ia kembali teringat akan Meldy setelah Zid selesai bercerita.
"Lalu Meldy?"
"*Dia pulang bersama dengan DK*."
Zico menutup sambungan teleponnya pada Zid. Ia lantas menyalakan mesin dan memutar kemudi kembali ke tempat Meldy tadi berada.
Saat Zico masih dalam perjalanan. Meldy yang sudah merasa sangat kedinginan akhirnya ia kembali berdiri dan berjalan berbalik. Ia harus kembali ke apartemen sekarang. Tubuhnya ingin segera ia rebahkan.
Konyol memang. Apa yang dilakukannya justru menyakiti dan menyusahkan dirinya sendiri.
Meldy meneteskan air mata. Apa yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga.
"Aku tidak sekuat itu. Ha ha ha?" Meldy menertawakan dirinya sendiri.
"Bodoh. Sial. Kadal. Kecoa." Meldy mengumpat asal. Terus berjalan gontai dengan malas. Rambut panjangnya yang ia gerai ikut bergoyang karna semilir angin malam yang menerjang.
'*Breemm.. Ciitt*?'
Sebuah mobil berhenti di sampingnya. Meldy mendongak. Ia melihat ke arah mobil yang berhenti.
Meldy mengernyitkan kening dan menyipitkan mata. Memberikan ketajaman pada pandangannya. Ia mengenali itu adalah mobil sport Zico.
Kaca pintu mobil di turunkan. Zico menatap datar ke arah depan. Meldy memalingkan muka. Mereka berdua masih belum bisa Sepenuhnya akur.
"Masuklah. Biar ku antar kau pulang." Zico berbicara sangat dingin. Bukan karna dia yang benar-benar tak peduli pada Meldy. Tapi Meldy adalah sebuah ancaman untuk kelelakiannya, Boy nya di bawah sana tak pernah mau tenang saat dekat dengan Meldy.
Meldy memutar bola mata jengah. Ia tak menghiraukan Zico. Dan kembali melangkah.
'*Sudah cukup kelelahanku hari ini. Tolong jangan tambah lagi dengan berdebat dengannya*.'
Zico membelalakkan mata. Meldy tak menghiraukannya dan bahkan dia sudah kembali melangkah.
'*Breemm*.!'
Mobil Zico berjalan mundur dan kembali berhenti di dekat Meldy.
"Apa kau tidak mendengarku? Bukankah aku menyuruhmu untuk masuk?" Zico marah, ia merasa niat baiknya diabaikan begitu saja oleh Meldy.
Meldy menarik nafas dalam lalu membuangnya.
"Apa aku memintamu untuk memberikanku tumpangan? Tinggalkan saja aku. Aku tidak mau naik ke mobilmu."
'*Cih*.'
"Kau sengaja?. Memakai pakaian seperti itu di pinggir jalan. Memamerkan tubuhmu. Hingga ada orang yang akan menawarmu dengan harga tinggi?" Zico tak lagi bisa menahan kata-katanya yang sengaja merendahkan.
"Jaga mulutmu, Zico. Kau sudah keterlaluan!"
Tiba-tiba beberapa motor datang, mereka adalah pria-pria yang tadi sempat menggoda Meldy.
"Hei Nona? Kenapa kau membohongi kami? Kau bahkan masuk ke dalam acar tivi malam ini? Ayolah ikut bersenang-senang bersama kami?"
"Iya Nona? Ayolah? Kami akan memuaskanmu?"
"Huuu?"
Meldy membulatkan mata. Ia merasa takut sekarang. Tangan Zico sudah bergerak. Banyak pelajaran hidup yang sudah Zico jadikan acuan selama ini.
Zico membuka dashboard mobilnya. Ada sebuah senjata disana. Sama halnya seperti Arend. Rain juga memberikan senjata api pada Zico sebagai pengamanan.
'*Jika mereka melakukan sesuatu, aku terpaksa menggunakan ini*.'
Tapi sebelum sesuatu terjadi. Meldy langsung membuka pintu yang memang sudah tidak di kunci oleh Zico. Ia lekas naik dan masuk kedalam mobil Zico.
"Hei Nona? Kau memilih pergi dengan pria kaya ini dari pada kami?" Salah seorang pria yang masih duduk di atas motor meneriaki Meldy.
Zico menyunggingkan senyum sinisnya. Dan dia lekas menginjak gas. Memutar kemudi. Membawa Meldy pergi.
"Apa mereka mengikuti?"
Meldy masih merasa takut, dia menoleh kembali kebelakang memeriksa dengan pasti.
"Jika mereka berani, maka keluarganya harus menyiapkan kuburan esok hari." Zico berbicara pelan. Namun masih bisa di dengar oleh Meldy.
Meldy menatap Zico dalam.
'*Ia tak seperti Zico yang kukenal. Dia terlihat berubah*.'
Zico hanya diam dengan pandangan lurus kedepan dan raut muka yang sepertinya kesal.
Bukan berubah, beberapa orang menyembunyikan kesedihannya dibalik dinding ketegaran yang ia ciptakan. Dan itu seringkali terkesan jika ia berbeda. Nyatanya. Zico hanya sedang berlindung dari rasa sedih dan sakitnya. Dari balik keangkuhannya.
Hanya keheningan yang menemani mereka sampai ke pelataran gedung apartemen Meldy.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...