
"Jadikan aku istrimu seutuhnya. Sehingga aku mempunyai bukti telah melaksanakan kewajiban ku sebagai seorang istri yang telah melayani suaminya. Izinkan aku memperoleh pahala yang begitu besar dari nya. Hingga Kelak surga akan menjadi tempatku untuk tinggal dan menunggu kedatangan mu.?"
Air mata Zico dan Cellin mengalir semakin deras. Zico masih terdiam. Menatap Cellin dalam.
"Tidak, aku tidak mau, aku akan melakukannya nanti setelah kau sembuh, kau masih sakit, jika kita melakukannya. Aku takut tekanan darahmu akan naik, hal itu membuat tubuh manusia terasa tidak normal dan tidak bisa di kendalikan. Aku tidak mau menyakitimu. Lupakan tentang itu.!"
"Kau tidak mau melakukannya padaku.? Dan kau menjadikan sakitku sebagai alasanmu.?"
Cellin menggeser tubuhnya agak menjauh. Ia merajuk.
"Bukan begitu.?"
"Kalau begitu ayo. Ayo lakukan.?"
"?...?" Zico hanya terdiam. Ia tak bisa menjawab ucapan Cellin.
"Lakukan sesuatu. Aku tidak tahu bagaimana caranya.?"
Ucap Cellin polos pada Zico yang membawa mereka pada tangisan di sertai tawa, dan itu rasanya sama sakitnya. Cellin memang tidak pernah pacaran sebelumnya. Bahkan berc!um.an pun untuk pertama kalinya bersama Zico. Dan itu sangat kaku.
Mereka saling menatap begitu lama. Hingga Zico pun akhirnya bergerak. Ia mulai menautkan bibirnya pada bibir Cellin. Sangat lembut dan pelan.
Tangan Zico bergerilya di punggung Cellin. Membuka kaitan br4. Ia lantas bergerak menelusuri setiap inci tubuh Cellin yang lembut dan halus.
Zico berpindah memainkan tangannya di d.a.d.a Cellin. Cellin mend3$4h. Untuk pertama kalinya ia merasakan gelanyar begitu nikmat menyerang seluruh tubuhnya.
Zico membuka baju tidur yang Cellin kenakan. Cellin hanya diam. Tak melakukan apapun. Zico sendiri yang bergerak hingga kini mereka terlihat seperti dua bayi yang baru lahir.
Zico membaringkan tubuh Cellin pelan. Cellin terus menatap Zico dalam penuh perasaan.
Zico kembali membelai wajah Cellin lembut. Ia menatap wajah manis, ayu, imut, dengan sorot mata yang teduh itu begitu dalam.
Zico ragu untuk melanjutkan pergerakan.
"Kenapa hanya diam.? Itu sudah sangat keras, menyentuh pahaku. Seluruh tubuhku merasa aneh.!"
Lagi-lagi Cellin berucap polos membuat Zico tersenyum. Tubuh Zico sudah mengeras sejak tadi. Dan ia sudah mati-matian mencoba mengendalikan naf$uny.a, tapi gagal. Di bawah sana sudah sangat siap. Bahkan mata mereka sudah sama-sama terlihat sangat sayu.
Zico menautkan kembali bibirnya pada bibir Cellin. Cellin memejamkan mata menerima kelembutan suaminya.
Zico lantas bergerak menutup tubuh Cellin dengan tubuhnya.
'*Aku akan melakukannya dengan sangat pelan*.!'
Mereka saling menatap dalam. Jantung keduanya berdetak tak karuan.
Zico bergerak.
"Aaahh.?"
Cellin mengernyitkan keningnya. Tangannya yang memeluk tubuh Zico tak terasa mencengkeram punggung Zico. Beruntung kuku Cellin tak ada yang panjang.
Zico lantas membenamkan wajahnya di leher Cellin. Mengeksplor bagian itu, menyesap, mengecap, meninggalkan jejak-jejak kepemilikan disana.
Zico bergerak lagi sangat pelan. Dan Cellin semakin mengernyitkan kening. Menahan rasa sakit pada tubuhnya itu. Zico sendiri memejamkan mata dengan keningnya yang mengernyit, merasakan kelembutan dan kehangatan yang luar biasa nikmatnya. Membuat seluruh tubuh nya seakan terserang sengatan arus listrik dengan kekuatan beribu volt.
"Aaahh .?"
Zico berhenti sejenak. Ia mencoba menetralkan perasaannya. Dadanya bergerak bersahutan dengan dada Cellin. Nafas mereka berdua tersengal, dan mereka saling menarik nafas terengah.
Zico hanya diam didalam tubuh Cellin. Ia menatap dalam manik Cellin yang juga menatapnya berkaca-kaca.
Zico menautkan kembali bibirnya pada bibir Cellin. Dan cellin memejamkan mata. Zico akan menenangkan Cellin terlebih dulu.
Zico mulai bergerak. Maju mundur, naik turun. Cellin hanya bisa mengernyit dan mend3$4h merasakan yang di sebut sebagai surga dunia itu.
Zico terus melakukannya. Meski hanya dengan gaya monoton, mereka berdua benar-benar bisa merasakan kenikmatannya. Dan Zico terus melakukannya dengan sangat pelan. Suaranya yang meracau tak bisa ia kendalikan.
Ia tetap bergerak pelan meski ia serasa mau meledak. Zico berusaha sekuat tenaga dan menahan diri yang serasa ingin menggila agar tak menyakiti Cellin.
Hingga 20 menit kemudian. Ia mencapai pada pelepasan di dalam tubuh Cellin.
"Aaahh.? Aaahh.? Aaahh.?? Aaahh ??"
Itu adalah sesi berc!nt4 paling lembut tapi yang paling nikmat yang pernah Zico rasakan. Belum pernah ia merasakan senikmat ini sebelumnya.
Nafas Zico masih terengah. Ia mencium kening Cellin. Deru nafas Cellin terasa hangat menyapu wajahnya.
Zico turun dari tubuh Cellin, ia lantas berbaring di samping Cellin, memeluk istri tercinta nya itu. Menarik selimut menyelimuti tubuh mereka berdua yang sama-sama polos tanpa sehelai benangpun. Zico masih mengecup lembut wajah Cellin, hingga ia merasakan kantuk yang menyapa.
"I love you, My Cellin.!"
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Ruangan kamar terang, lalu gelap, terang lagi, gelap lagi, terang lagi, gelap lagi.
Meldy memainkan saklar lampu yang ada di atas nakas dekat ranjang tidurnya di hotel. Ia menatap kosong pada titik yang tak pasti. Meldy merindukan Zid. Dan dia tak bisa melakukan apa-apa. Ia tak menangis. Tapi juga tidak tertawa. Tak ada ekspresi. Hanya tangannya yang terus bermain menyalakan dan mematikan saklar lampu.
Meldy teringat kembali bagaiman Ia yang harus membawa Zid kedalam pelukannya untuk menopang tubuhnya karna sakit. Zid yang menjatuhkan wajahnya di ceruk lehernya. Dan Zizi yang tiba-tiba datang lalu membawa Zid pergi.
'*Drrtt,,. ddrrtt,,, drrtt*.!'
Ponsel Meldy yang ada di atas nakas bergetar. Meldy sedikit kaget. Ia lantas membiarkan lampu di atas nakas itu menyala. Dan Meldy meraih ponselnya yang ada di atas nakas dekat lampu.
1 Pesan.
**DK**.
"*Turunlah. Temani aku makan. Atau aku yang akan naik dan menerobos masuk kedalam kamarmu*.!"
"Iiisshh'.?"
Meldy melihat jam yang ada di ponselnya. Sudah Jam 11 malam.
^^^"Tidak ada orang makan malam di jam segini.!"^^^
^^^✓✓^^^
Isi pesan balasan Meldy untuk DK.
'*Ting, tong*.?'
Meldy mendongakkan kepala. Bel pintu kamarnya berbunyi. Ia mengernyitkan kening.
'*Haaahh.? Apa dia benar-benar ada di sini.? Aaahh.?? Kurang ajar*.!'
Meldy pun bangkit, ia melangkah membuka pintu kamarnya. Dan dia sudah siap untuk mengomel.
'*Ceklek*.!' Pintu kamar Meldy terbuka.
"DK.? Kau ini.?"
Meldy sudah berteriak sebelum ia melihat dengan benar siapa yang datang.
Zid mendongakkan kepala. Menatap Meldy dengan tatapan yang nanar, hatinya sangat sakit kala Meldy membuka pintu dan dia langsung meneriakkan nama DK.
'*Apa itu artinya DK selalu datang menemuinya*.?'
"Zid. Zid.!" Zid berbicara dengan nada yang tegas. Ia menyebutkan namanya sendiri.
Zid mengulurkan tangannya, memberikan pada Meldy sebuah earphone nya yang tertinggal di jok mobilnya.
Benda itu memang tidak sengaja tertinggal. Seharusnya bisa saja Zid memberikan itu esok hari pada Meldy. Dan bahkan Meldy pun tidak mengingatnya, dan tidak menanyakannya. Tapi itu adalah kesempatan bagi Zid untuk bisa menemui Meldy. Sedikit menghapus rindu yang mengutuknya setiap malam hingga Zid tak bisa tidur.
Tapi ia mendapat sambutan yang luar biasa dari Meldy. Meldy justru menyebut nama pria lain. Yang mungkin sudah Meldy tunggu. Pikir Zid.
Meldy menerima benda miliknya itu dari tangan Zid. Ingin rasanya Meldy menanyakan keadaan Zid saat ini. Apa perutnya masih sakit atau sudah sembuh.? Tapi lidah Meldy serasa keluh. Mereka saling menatap dalam dengan pandangan mata yang nanar. Diam.
Zid pun membalikkan badan dan langsung berjalan. Melangkah meninggalkan tempat itu. Hatinya sangat nyeri. Ia tak lagi bisa menahan tangisnya. Air mata Zid menetes seraya langkah kakinya yang membawanya semakin menjauh dari sana.
Bibir Meldy bergetar, ia pun menangis melihat Zid yang semakin menjauh pergi dan akhirnya menghilang.
Jelas Zid memikirkan hal yang seperti itu. Ia berpikir jika Meldy pasti telah sudah berhubungan dengan DK. Mengingat bagaimana Meldy yang dulu begitu agresif dan dominan pada dirinya.
Hati Zid semakin sakit karna terus membayangkannya. Membayangkan Meldy yang menggila bersama DK.
...----------------...
*Drrttt' drrtt drrtt*
Panggilan masuk pada ponsel Meldy dari DK. Dan Meldy mengabaikannya. Ia berbaring di ranjangnya memegangi earphone nya yang di berikan Zid tadi padanya.
"*Zid.? Aku merindukanmu.? Hiks hiks hiks*.!"
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...