LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 79





Zizi menautkan bibirnya pada bibir Zid, dan Zid menerima bahkan membalas tautan bibir Zizi. Mereka terus melakukannya, saling mengecup dan mengecap, membelit, dan mengeksplor semakin dalam.



Zid merengkuh tubuh Zizi untuk menempel pada tubuhnya, sambil terus saling bertaut, hingga suara pintu di buka tiba-tiba.



Zid melepas tautan bibirnya pada Zizi, ia bahkan menjauh segera, Zizi pun sama halnya, ia langsung berdiri di tepian ranjang. Mereka kaget secara bersamaan.



"Babe.?" Lirih Meldy yang masuk dan terus melangkah sampai ke tengah dimana posisi ranjang itu berada.



Meldy seperti merasa ada yang aneh, Zizi berdiri gugup dan menunduk di tepian ranjang, Zid duduk di tepi ranjang menatap Meldy dengan raut muka yang sama gugupnya.



Meldy mengernyitkan kening, matanya menyipit melihat Zid yang tidak memakai baju. Lalu Meldy tersenyum genit, khas gaya centilnya.



"Babe.?" Lirih Meldy menjatuhkan tubuhnya menutup tubuh Zid. Mata Meldy terlihat sayu, dan aromanya bau alkohol. Meldy mabuk, tak begitu sadar.



"I Miss You.?" Lirih Meldy sambil membenamkan wajahnya di dada Zid yang ia t!nd!h. Meldy terlelap.



Zizi menatap mereka dengan perasaan canggung. Sedangkan Zid, jantungnya serasa mau lompat keluar, benar-benar menegangkan. Ia telah mencurangi Meldy.



Zid merapikan posisi Meldy dengan benar di ranjang, melepas Highheels nya, lalu menyelimuti tubuh Meldy yang sudah lelap dalam tidur.



Zizi masih berdiri di sana. Zid melihatnya sejenak, lalu ia memalingkan pandangannya dan hendak melangkah ke sofa.



"Zid.?" Suara Zizi menghentikan langkah Zid.



"Tidurlah. Besok aku Carikan tempat tinggal untukmu.!"



Zid melangkah meninggalkan Zizi setelah mengatakannya. Ia membaringkan tubuhnya di sofa. Membiarkan Zizi yang masih berdiri mematung di tepi ranjang.



Zizi berbaring di samping Meldy, ia menghadap ke arah sofa di mana Zid berada, membelakangi Meldy.



'*Aku mencintaimu, Zid. Aku pun tak ingin, aku tahu kau sudah memiliki Meldy dalam hidupmu, tapi aku tak bisa menepis perasaan ini, Zid. Aku mencintaimu*.'



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Jadi, kalian akan ke rumah Cellin dulu.?"



Syeira tengah melakukan panggilan video dengan Zico yang sudah sampai di tanah air. Ia berbaring di ranjang kamarnya seorang diri.



"Iya, keluarga, tetangga, dan para kerabat sudah menunggu kedatangan Cellin, mereka ingin melihat kondisi kesayangannya ini, serta memanjatkan doa bersama untuk kesehatan dan kesembuhan Cellin.!"



Zico berbicara sambil memeluk tubuh Cellin yang duduk di sampingnya, mereka sedang melakukan perjalanan di dalam mobil menuju rumah Cellin.



"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu di rumah. Cepatlah datang, dan terus jaga Cellin, Okay.?"



"Siap Nyonya CEO.?"



"Ha ha ha ha,.? Ada panggilan baru.?"



Zico dan Cellin ikut tersenyum.



"Jangan panggil aku Nyonya CEO, Tuan CEO nya saja masih belum mengakui aku sebagai istrinya di depan publik.!" Gerutu Syeira. Yang semakin membuat gelak tawa Zico semakin pecah.



"Tuan CEO dimana.?"



"Masih kerja, belum pulang.!"



"Dan kau hanya rebahan saja seharian.?"



Syeira membalas ucapan Zico dengan cengir kuda.



"Haaaaaahhh\_\_\_.? Enak sekali hidupmu,? Harus nya aku yang berada di posisi itu.?"



"Iiisshhh, kau ini.??"



Zico dan Syeira terus mengobrol, bercanda, berdebat, saling meledek, menghujat, dan itulah yang membuat hubungan mereka sangat akrab dan seru.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Zid berjalan cepat memasuki gedung perusahaan *N~A Cell*. Ia berpapasan dengan Zizi yang mengelap kaca di loby utama.



"Zid.?" Zizi menyapa Zid yang baru datang. Beberapa orang yang melihatnya lantas berkasak-kusuk. Tidak ada yang memanggil Zid dengan sebutan namanya begitu saja di perusahaan. Paling tidak orang-orang memanggilnya Pak.



Zid berjalan mendekati Zizi.



"Aku sudah mendapatkan tempat tinggalmu yang baru, akan aku antar kau pindah nanti malam.!" Zid mengatakannya dengan tegas. Zizi menunduk, air matanya berdesakan. Hatinya terasa sesak dan sakit. Zid melanjutkan langkahnya meninggalkan Zizi setelah ia mengatakan itu.



Zid sampai di ruangan Arend. Ia membuka pintu, dan langsung mendapat sambutan dari Meldy yang melihatnya datang.



Meldy menyambar Zid, memeluk dan menautkan bibirnya pada bibir Zid.



'*Aaahhh, Ck*.!'



Arend berdecah kesal melihat adegan saru itu di depannya. Membuat Arend merasa iri karna harus merindukan Syeira sekarang, dan Syeira tak ada di sampingnya. Ini semua gara-gara Meldy. Wanita itu selalu saja bertingkah sembarangan ketika bersama Zid.



'*Cuupp, Ummuuach*.'



Meldy berhenti menservice Zid, ia kini menatap Zid sambil tersenyum centil dengan mata genitnya, ciri khas seorang Meldy.




Suara Arend menyadarkan kembali Meldy, Meldy lantas melepas tangannya yang melingkar di leher Zid, lalu mundur.



"Selesai.!" Ucap Zid singkat menjawab pertanyaan Arend.



"Ada apa.?" Meldy bertanya karna bingung.



"Akan ada party.!" Zid menjawab lalu mengecup kilat bibir Meldy, ini adalah pertama kalinya Zid memulai gerakan.



"Hey.? Kau menc!umku lebih dulu.?"



Seru Meldy begitu senang mendapat kecupan pertamanya dari Zid.



Zid merasa jengah dan malu, ia menghindar kembali keluar, dan Meldy tak menghiraukan Arend yang masih memeriksa laporan yang dibawanya. Meldy justru lari ikut meninggalkan Arend seorang diri di ruangannya.



"Aaaiiiiisshh,,, dasar kupret.!" Arend mengumpat, seumur-umur baru kali ini mengumpat seperti layaknya manusia normal, gunung es itu mulai mencair dengan cintanya Syeira yang begitu hangat seperti di musim semi. Indah sekali.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Jadi Zizi akan pindah.?"



Meldy berteriak antusias, terlihat jelas di raut mukanya dia sangat senang mendengar Zid yang mengatakan padanya jika Zizi akan tinggal di tempatnya sendiri.



Senyum Meldy sangat lebar menampakkan deretan giginya yang rapi dengan bibir sensual yang berwarna merah menyala.



Zid hanya mengangguk sebagai jawaban.



"Yeeeyyy.?!" Meldy mengekspresikan kebahagiaannya, ia langsung memeluk Zid. Sangat erat.



Zid tersenyum, wanitanya ini begitu pandai menjaga hati, hingga meski ia sebenarnya begitu tak menyukai Zizi yang harus tinggal bersama nya kemarin, Meldy hanya diam dan tak mengatakan apa-apa.



'*Maaf kan aku, Babe. Aku khilaf kemarin*.'



Zid merasa bersalah dalam hatinya karna telah berciuman dengan Zizi kemarin malam.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Hari sudah malam, jam 19:00.



Arend baru pulang.



"Terlambat.?"



Syeira sudah berdiri di dekat sofa dengan kedua tangannya berkacak pinggang. Membuat Arend kaget saat baru melangkah memasuki rumah.



"Aaahh..?? Nyonya.? Ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan tadi.?"



Suara Arend mendayu mencoba merayu sang istri, Ia langsung menyadari kesalahannya yang pulang malam. Setelah tadi pagi ia yang lumayan alot mendapat izin dari Syeira untuk pergi bekerja meninggalkan Syeira seorang diri di rumah.



"Kau tetap di hukum.!" Syeira menatap tajam pada Arend, Jari telunjuknya menunjuk Arend tajam.



Arend hanya bisa mengernyitkan kening.



"Aaiisshh.?"



Syeira menggandeng lengan Arend. Ia lantas mendudukkan suaminya di meja makan. Ada makanan yang sudah tersaji di atas meja. Dan tertutup.



"Taraaaa.!" Teriak Syeira sambil membuka penutup makanan yang ada di hadapan Arend.



Syeira telah memasak makanannya untuk pertama kali. Belajar menjadi istri yang baik, dengan menyambut suami yang baru pulang kerja dengan makanan masakannya yang dimasak dengan penuh cinta.



Wajah Syeira sangat sumringah, senyumnya mengembang sempurna. Bahkan sorot matanya berbinar seperti anak kecil yang mendapat hadiah eskrim.



Arend tersenyum cengir kuda. Ia merasa bahagia. Dan.? Entahlah. Ia tiba-tiba merasa menjadi kelinci percobaan.



Syeira duduk antusias di dekat Arend. Ia lantas menarik mangkuk berisi bubur ayam ala buatan nya itu tepat di depan Arend.



"Makanlah, My L.? Kau pasti sangat lelah seharian bekerja." Kalimat itu sudah Syeira hafalkan sejak tadi sore. Ia hanya ingin belajar menjadi istri yang baik dan seutuhnya.



Arend pun tersenyum kaku. Meraih sendok, mengaduk, lalu memasukkan bubur ayam ala sang istri ke dalam mulutnya.



'*YACKK.? wat de fak men*.?'



Arend terdiam, matanya mendelik sempurna. Tapi melihat Syeira yang tersenyum manis disampingnya. Membuat Arend menormalkan kembali raut mukanya. Dan dengan usaha keras, Arend pun berhasil menelan bubur buatan Syeira itu.



"Bagaimana.? Enak.?" Syeira bertanya penuh harap. Ia sudah bekerja sangat keras untuk membuatnya sejak sore tadi.



Arend kembali tersenyum, dan mengangguk.



"Aaahh.?? Kalau begitu makan lagi.?" Syeira mengambil alih sendoknya, lalu ia menyuapi Arend hingga mangkuk bubur itu bersih tak bersisa.



Jangan tanya keadaan Arend bagaimana. Ingin rasanya ia memanggil dokter lambung sekarang juga.



Kasihan dia, cinta membuatnya bodoh, seperti yang Uncle Rain pernah katakan.



Dan buat para istri, *Ayolah.? Kalau memasak Jagan pakai cinta, tapi pakai bumbu yang benar*.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...