
"Wanita adalah makhluk perasa, sedikit kebaikan yang ia terima dari seorang pria, sudah mampu menarik hatinya, itulah kenapa banyak kasus wanita yang jatuh cinta pada teman pria nya yang hanya sekedar mengajaknya pulang kerja bersama, atau mendengarkan ceritanya. Dan hal-hal kecil lainnya. Karna memang seperti itu lah wanita. Itulah yang di rasakan Syeira pada saat menerima kebaikan Arend di masa kecil dulu."
Semenjak Syeira mengetahui jika Tuan CEO Narendra adalah anak laki-laki yang ia cintai dari kecil dulu, yang selalu ia nantikan, yang selalu ia rindukan. Syeira jadi bersikap lebih lembut pada Arend, lebih perhatian, dan dengan berbagai cara berusaha menunjukkan cinta kasihnya itu lewat perbuatan-perbuatan.
Syeira ingin agar Arend melihatnya layak. Meski selalu timbul perasaan takut di hatinya, jika nanti Arend akan memintanya pergi setelah semua sandiwaranya selesai. Karna Syeira juga menyadari apa statusnya saat ini, hanyalah seorang istri pembayar hutang.
Arend merasakan perubahan itu selama beberapa hari ini, Syeira bangun lebih pagi, meski tak sepagi dirinya, bangun jam 6 itu sudah lah merupakan kemajuan yang luar biasa. Sedangkan Arend terbiasa bangun jam 4 atau setengah 5.
Syeira juga jadi sering masuk ke dapur mencoba membantu Arend yang memasak, meski seringkali justru membuat semuanya malah semakin berantakan.
Mengambilkan sepatu dan jas Arend. Syeira juga sering menyiapkan baju Arend. Mengambilnya di lemari, menaruhnya di atas ranjang, dan Arend yang melihatnya akan membawa baju itu ke kamar Zico untuk di kenakan.
Arend merasa bingung dengan perubahan-perubahan Syeira yang signifikan, ia bahkan tidak pernah lagi membantah, berbicara lembut, dan yang paling membuat Arend berpikir terlalu dalam adalah tatapan mata Syeira kepada dirinya. '*Apakah? Dia jatuh cinta padaku*.?'
Siang ini Syeira berniat untuk menemui Arend di kantornya, Syeira baru saja menyelesaikan tugas mewawancara artis yang video \+ nya tersebar di sosial media. Setelah hampir seminggu, akhirnya selesai juga.
Syeira memasuki gedung *N~A Cell* dengan hati yang ceria, ia ingin mengajak Arend makan siang bersama, ini adalah pertama kalinya Syeira melakukannya, hatinya terasa deg-degan. '*Semoga dia bersedia*.' Tahukan rasanya bagaimana orang yang sedang jatuh cinta.? Selalu ingin berada di dekatnya, selalu ingin bersamanya, dan itulah yang di rasakan Syeira.
Syeira berhenti di depan lift, ia ragu. Trauma itu masih ada.
"Syeira.? Kamu disini.?"
"Hei.?"
Cellin menyapanya dari belakang.
"Wah, lama banget gak ketemu, gimana kabar kamu.?"
Mereka berdua berbasa-basi, saling tukar nomor. Dan juga bercanda ringan.
"Oh ya, kamu mau ketemu siapa.? Zico atau Tuan CEO.?"
"Eh.?"
Syeira nampak berpikir saat Cellin menanyakannya, jika ia menjawab ingin bertemu Tuan Narendra, bukankah itu memalukan.?
"Zico, aku ingin menemuinya, dimana si bandel itu.?"
Cellin tertawa renyah mendengar Syeira yang menyebut Zico si bandel.
"Dia lagi bersihin kaca di lantai atas. Kok manggilnya si bandel, sih.? Ada-ada aja.!"
Syeira tersenyum kecut.
"Yaudah, naik aja ke lantai atas, kalau gak salah tadi aku lihat dia lagi di lantai ruangan CEO."
Syeira mengangguk dan tersenyum. Cellin hendak melangkah pergi, namun tiba-tiba tubuhnya seperti terhuyung, dan tangannya menyentuh kepalanya sendiri, keningnya mengernyit, matanya terpejam, seakan menahan sakit yang Ter amat yang datang tiba-tiba.
Syeira dengan cepat memegangi tubuhnya.
"Cellin?. Kau kenapa.?"
"Ah.?" Cellin menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing, aku belum ngopi, yasudah aku ke pantry dulu ya"
Cellin melangkah pergi menuju pantry, tangannya masih memegangi kepalanya. Syeira pun kembali menatap lift, dan dia berbalik memilih untuk melewati tangga.
Kaki Syeira terasa pegal, berjuang menapaki anak tangga ke satu lantai menuju lantai berikutnya. Tapi mau bagaimana? Rasa takut itu belum juga sirna. Apa lagi jika harus naik di lift sendirian. Dia tidak berani melakukan itu.
Syeira telah sampai di lantai atas yang terdapat ruangan CEO. Sangat sepi dan lengang, Syeira melihat jam di pergelangan tangannya. Pasti semua karyawan sedang turun untuk makan siang. Bahkan Zico yang kata Cellin di lantai sini pun sudah tidak ada.
Syeira melangkah menuju ruangan Arend. Ia berhenti di depan pintu, sangat ragu untuk mengetuknya. '*Apa dia masih di dalam ya.? Atau dia sudah keluar*.?'
Syeira nampak ragu, tangan kanannya sudah mengepal dan Ter angkat, namun itu sangat kaku untuk di gerakkan sekedar mengetuk pintu. *Apakah cinta se rumit itu*.?
"Kenapa tidak jadi di ketuk.?"
Suara bariton Arend yang berat mengagetkan Syeira. Arend baru datang, ia sudah dari bawah, di tangannya ada kantong dari brand makanan ternama. Ia baru saja membeli makanan dari luar.
"Aaahh.? He he."
Syeira panik dan kaget, ia hanya bisa tertawa saru. Arend mendekat lalu membuka pintu, mempersilahkan Syeira untuk melangkah lebih dulu. Syeira mengangguk dan masuk. Hatinya bergemuruh, '*Hei hati, tenanglah, kenapa kau seperti anak ABG*.?'
"Kau sudah makan.?" Arend bertanya sambil menaruh kantong makanan yang di bawanya di atas meja sofa.
Syeira menggeleng sambil tersenyum sebagai jawaban.
"Kemari, duduklah. Kita makan bersama."
Arend sudah duduk di sofa dan membuka kantong makanannya. ada 2 porsi.
Syeira bertanya ragu.
"Iya, satunya untuk Zico, kau tidak bilang kalau akan datang."
"Ah.? Kalau begitu, kau makan saja dulu, aku beli nanti saja di bawah."
"Kau membantah.?" Arend mendongakkan kepala menatap Syeira tajam, menghentikan kesibukannya membuka makanan sejak tadi.
"Ahh.? Tidak.!" Syeira menggeleng dan lekas mendekat, duduk di sebelah Arend.
Arend sudah mulai melahap makanannya. Dan Syeira pun melakukan hal yang sama.
"*Apakah aku harus menanyakannya sekarang,? Apa aku harus menanyakan bagaimana perasaannya terhadap Meira.? Bagaimana memulainya.? Tuan, apakah kau mencintai Meira.? Ah,, tidak. Itu terdengar aneh. Tuan.? Kenapa kau tida pernah datang lagi ke rumah panti.? Dan tidak pernah menemui Meira.? Apa sepeti itu.? Oh, Tuhan... Bagaimana caraku menanyakannya*.?"
Syeira melamun, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Syeira berpikir keras, menyusun kalimat yang pas untuk ia tanyakan pada Arend perihal Meira dan perasaannya.
Arend telah selesai dengan makanannya, ia melihat Syeira yang justru melamun mendiamkan makanannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan..?"
Suara berat dan tegas Arend yang bertanya padanya menyadarkan Syeira.?
"Aah.? he he he, tidak, Tidak ada, Tuan.!"
"Kau belum mengatakan tujuanmu datang kemari."
Arend berbicara sambil bangkit dari duduknya. Menuju meja berkas dan mengambil satu berkas lalu membukanya.
'*Ya tuhan.? Apa dia harus menanyakan itu sekarang.? Aku harus jawab apa.? Dia bahkan sudah membeli makanan tadi. Itu artinya tidak ada kesempatan untuk mengajaknya makan bersama tadi. Aaahhh*.?'
Pintu tiba-tiba di buka. Zico datang.
"Aaahh,,, aku lelah sekali..!"
Zico berseloroh. Lalu duduk di samping Syeira. Untunglah dia datang, Syeira tak perlu lagi harus menjawab pertanyaan dari Arend.
"Aku lapar.!"
Zico membuka kantong makanan di atas meja. Sudah tidak ada kotak yang tersisa.
"Mana makananku, Arend.?"
Zico berteriak.
"Beli sendiri." Jawab Arend santai.
"Tadi kan aku sudah minta di belikan sekalian..?"
Zico merengek. Syeira menyunggingkan senyum cengir kuda, Zico menatapnya lalu menganggukkan kepala.
"Kau memakan makananku.?" Zico bertanya dengan nada pelan namun terdengar horor.
Syeira lagi-lagi hanya nyengir kuda. Zico melihat kotak makannya yang baru dimakan sedikit, dan masih ada banyak di dalamnya.
"Kau tidak menghabiskannya.? Aku sungguh sangat lapar."
Syeira menatap makananya.
"Kau mau.?"
Zico mengangguk. Syeira pun menyendok kan makanannya. Lalu menyuapkannya pada Zico seperti seorang ibu yang menyuapi bayinya.
"Aaaaakk?"
Syeira menyuruh Zico membuka mulutnya. Dan Zico melakukannya. Satu sendok nasi itu berhasil disuapkan Syeira ke mulut Zico.
"Enak.?" Tanya Syeira. Zico mengangguk antusias.
"Makan dari tangan orang lain rasanya selalu lebih nikmat. Suapi lagi, sampai habis." Jawab Zico yang menarik perhatian Arend.
Arend menatap mereka berdua yang justru terlihat romantis.
"Aaakk.?" Lagi, Syeira menyuapkan se sendok nasi ke mulut Zico.
Arend menaruh kasar map yang di pegangnya di atas meja. Lalu ia melangkah dengan cepat, menarik tangan Syeira kasar, hingga Syeira berdiri berhadapan dengannya.
'*Deegg*.'
Mata Arend menatap tajam Syeira yang hanya bisa membulatkan mata tanpa pergerakan maupun kata.