
Arend, Aryan dan para pengawal terus mencari Mikaila, mereka bahkan sudah menelusuri seluruh kawasan ini. Namun Mikaila tidak di temukan.
"Maaf Tuan.!"
Satu persatu para pengawal datang menggelengkan kepala. Bahkan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
"Dimana kamu Kei.?"
Arend memutuskan untuk kembali ke apartemen. Sebentar lagi pagi. Ia memerintahkan beberapa pengawal untuk tetap berjaga dan mengawasi kawasan ini, mereka harus selalu melaporkan apapun keadaan di tempat ini padanya nanti.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Pagi telah tiba. Cahaya sang Surya yang hangat masuk kedalam kamar bernuansa gelap melalui kaca jendela yang tirainya terbuka.
Mikaila membuka mata dengan perlahan, ia mengedarkan pandangan matanya melihat ke sekeliling. Mikaila memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing.
Karna syok yang berat membuatnya jatuh pingsan semalam, Mikaila kembali mengingat kejadian demi kejadian yang di alaminya semalam. Dan ia kini merasa panik. Takut jika pria-pria itu melakukan sesuatu yang buruk pada dirinya.
Mikaila menggerayangi tubuhnya sendiri, baju yang di pakainya masih lengkap. Mikaila bahkan menyentuh sendiri d4\_. d4 dan daerah ke wa. n!. ta. annya. Tidak ada yang salah. Semuanya terasa normal.
Mikaila bangun dan turun dari ranjang berukuran king size itu. Ia lantas membuka pintu berukuran raksasa untuk ukuran pintu kamar. Tidak terkunci.
Mikaila melangkah keluar, bergerak dengan tergesa. Ia bert3l4nj4n9 tanpa alas kaki.
Mikaila terus berjalan, sesekali ia menoleh kembali ke belakang, takut seseorang mengintainya.
Mension ini sangat besar dan luas. Dan semuanya bernuansa gelap. Semakin menambah ketakutan di hati Mikaila.
Ini kontras berbanding terbalik dengan diri Mikaila yang begitu sangat menyukai dengan kecerahan, nuansa terang, dan warna putih. Tempat ini sungguh menyeramkan.
Mikaila berjalan melewati lorong demi lorong, ia merasa sudah berjalan begitu lama. Tapi tak seorang pun ia temui sejak tadi. Sampai ia berhenti di suatu ruang yang sangat luas, beberapa sofa berukuran besar berada di tengahnya.
Seorang Pria berpawakan tinggi, gagah dan penuh wibawa berdiri di dekat jendela yang menjulang tinggi. Mension ini terdesigne seperti istana di negri dongeng.
Mikaila menatap tajam pria itu yang menghadap ke jendela menatap pemandangan luar memunggunginya. Seorang Pria berwajah sangar dengan bekas luka yang menyeramkan di wajahnya berdiri tidak jauh dari Pria yang berdiri di dekat jendela.
Itu adalah Rain dan Cen.
Cen melihat Mikaila yang datang, dan Rain menoleh setelah mendengar gerak langkah kaki Mikaila yang lembut.
Mikaila kembali jatuh pingsan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Aryan dan Ayla sangat gelisah. Menghilangnya Mikaila menambah beban hati Aryan. Ia merasa sudah gagal sejak awal. Kondisi kesehatan Aryan melemah, ia demam saat ini.
Arend berusaha untuk tetap tenang, ia begitu yakin jika Mikaila tidak akan kenapa-kenapa.
Arend menaruh curiga jika beberapa kejadian di akhir pasti ada hubungannya dengan Rain. Para berandal itu yang tewas mengenaskan di markasnya. Dan sebagian lagi menghilang tanpa jejak, semua itu Arend yakini pasti perbuatan Rain.
Mikaila telah datang ke daerah para berandal itu, dan kini ia menghilang tanpa jejak. Tidak mungkin jika para berandal yang membawa atau menyakiti Mikaila. Arend sangat yakin, jika beberapa orang Rain pasti ia perintahkan untuk menjaga daerah itu pasca kejadian.
Arend sibuk memainkan Laptopnya. Ia terus mencoba melacak keberadaan Rain di kota ini. Syeira terus berada di dekat sang suami tanpa berani bersuara. Ia melihat Arend dalam mode serius ON. Syeira hanya berharap agar semua ini bisa segera selesai dan mereka kembali ke tanah air. Menjalani kehidupan normal tanpa ketegangan.
Arend masih belum juga menemukan titik terang, ia melepas jari jemarinya yang memainkan keyboard laptop. Menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan kasar. Arend meraup kasar wajah dan rambutnya.
"Aaaaahhh.!" Ia merasa kesal dan lelah. Tak ada tanda-tanda sama sekali yang ia dapat dari semua pencariannya. Nama Rain Cosa. Klan Cosa. Nama Cen. Atau apapun yang berhubungan dengan mereka.
Syeira melihat Arend dengan tatapan nanar, ia hampir menangis namun berhasil ia tahan. Syeira membayangkan kehidupan Arend dan keluarganya yang begitu berat mereka jalani sejak dulu.
Syeira ingat tentang Arend yang pernah bercerita tentang kehidupannya dulu di masa kecil. Bagaimana papahnya mengurung mereka di dalam rumah. Karna keadaan mencekam yang mereka lalui memang sungguh nyata adanya. Dan kini Syeira turut serta merasakan itu. Syeira tiba-tiba teringat dengan satu nama yang selalu mereka sebut penuh makna. Aunty Ineke.
"Arend.?" Syeira memberanikan diri untuk membuka obrolan pada suaminya.
Arend yang terpejam dan bersandar sejak tadi membuka mata mendengar suara lembut sang istri.
Sesuai arahan yang Arend berikan, Syeira kini duduk di pangkuan Arend. Arend mendekap tubuhnya erat, dan ia mencium dalam aroma leher Syeira mencari ketenangan disana. Candu itu memang bisa menjadi obat yang mujarab untuk Arend.
Syeira merasa t3r4n9$4n9 tentu saja. Tapi ia harus menahannya. Ada sesuatu yang harus ia tanyakan pada Arend saat ini.
"Arend.?"
"Ehmm.? Bisakah kau merubah panggilan mu itu padaku.? Panggil aku dengan kata yang romantis.!" Rengek Arend yang sudah berselimut n4f$u yang memuncak.
Arend masih bermain nakal mengeksplor leher Syeira. Tangannya terus saja bergerilya menelusuri tubuh dan titik-titik sensitif Syeira.
Syeira menelan salivanya kasar, Arend memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan kata yang romantis. Bagaimana dia harus memanggilnya.? Otak Syeira nge-Bug. Ia merasa geli jika harus memanggil Arend dengan panggilan sayang.
"Em.?" Syeira masih berpikir. Ia tak memiliki ide.
Arend menghentikan aksi nakalnya, dan kini ia menatap Syeira dalam. Raut muka Syeira terlihat bingung. Sedang mata Arend sendiri sudah sangat sayu.
"Ada apa.?"
"Aku tidak tahu harus memanggilmu dengan sebutan apa, aku tidak mau jika memnaggilmu sayang, itu terdengar menggelikan.!" Seloroh Syeira manja.
Arend tersenyum melihat wajah Syeira yang terlihat lucu dan menggemaskan. Cinta memang begitu indah dan sangat manis.
Arend memencet hidung mancung Syeira. Membuat Syeira membulatkan mata dan mulutnya menganga lalu bibir mungil sensual itu kembali manyun, ekspresi wajah Syeira semakin terlihat imut di mata Arend.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau memanggilku dengan sebutan sayang. Panggil aku My L.!"
"My L.?"
"Iya. My L. My Love, and My Life.!"
"Iiihhh...!" Syeira menggelitik perut Arend membuatnya hampir tertawa lepas karna geli, untung Syeira dengan gerakan cepat menutup mulut suaminya. Biar bagaimanapun, Mamah dan Papahnya sedang berduka. Dan mereka kini berada di apartemen yang sama.
"Baiklah, ada apa.? Apa kau minta.? Itu.?" Tanya Arend sambil melirik ke titik sensitif Syeira.
"Iiihh, nakal banget sih.!" Syeira mencubit perut Arend yang terasa keras karna otot-otot sixpack nya.
"Aaauuwhh.!" Arend menahan geli, ia berlirih sambil tertawa kecil.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu.?"
"Apa.? Katakanlah.!"
Jawab Arend memeluk erat tubuh Syeira yang duduk di pangkuannya. Dan bibirnya kembali menelusuri aksen leher jenjang Syeira.
"Aunty I\_ne\_ke\_.!" Syeira dengan ragu menyebut nama itu.
Sontak itu membuat Arend menghentikan aksi g!l\_anya.
Syeira mencurahkan pada Arend tentang rasa keingin tahuannya mengenai aunty Ineke. Arend tidak sepenuhnya mendengar apa yang di ucapkan Syeira padanya. Namun Syeira yang menyebut nama aunty nya memberi satu ide cemerlang yang terlintas di kepala Arend.
"My L, Kamu turun dulu.!"
Arend dengan gerakan cepat mengangkat tubuh Syeira dan mendudukkan nya di sofa di dekatnya. Syeira mengernyitkan kening bingung.
Arend lantas meraih kembali laptopnya. Lalu mengetik satu nama di kolom pencarian.
'***Ineke Cosa***.'
"Dapat.!" Arend berseru tegas dengan wajah yang berbinar. Satu alamat yang akan membawanya pada Rain telah Arend dapatkan.
"Thank you My L.?!" Arend menghujani wajah Syeira dengan kecupan-kecupan cinta semangat 45. Tak lupa Arend menautkan kilat bibirnya pada bibir Syeira.
Syeira terbengong mengernyitkan kening semakin bingung tidak mengerti dengan apa yang di maksudkan Arend.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...