
Ibu merupakan hadiah teristimewah yang di berikan oleh Tuhan kepada seluruh insan manusia.
Kring...kring...kring
Alarm berbunyi membangunkan seorang pria dari alam mimpinya.Ia membuka perlahan mata ciri khasnya berwarna biru lalu beranjak dari tempat tidurnya dan menuju balkon yang ada di kamarnya.Pria itu menghembuskan napasnya sesekali menikmati cuaca di pagi yang cerah ini.
Hari Minggu memang luar biasa dimana hari yang di nanti para siswa-siswi setelah melewati hari-hari mereka yang penuh dengan belajar.
Seorang Devan Syahputra Alinsky pria yang memiliki ketampananan yang luar biasa dan matanya yang berwarna biru membuat kaum hawa yang ada di luar sana tergila-gila dengannya,tapi satu gadis yang beruntung memikat hatinya Aina Khanza Leonardo.
Seseorang di luar sana terdengar memanggil pria tersebut.
"Tok..tok..tok,den Devan sudah bangun?"Suara paruh bayah itu terdengar sambil mengetuk pintu.Ya ia itu seorang pembantu rumah tangga di kediaman Alinsky Bibi Mina.
"Iya bi Devan sudah bangun"teriak Devan dari dalam kamarnya.Lalu ia pun beranjak membuka pintu kamarnya.
"Sarapannya udah siap den Devan,Tuan besar udah nunggu di bawah"jelas sang bibi.
Devan hanya mengangguk dan langsung turun ke bawah melewati beberapa anak tangga yang ada di rumahnya.
Ia pun langsung duduk dan menyantap sarapannya dalam keadaan hening.Ya salah satu peraturan di kediaman Alinsky,pada saat makan tidak ada yang boleh bicara dan itu peraturan yang sudah lama sejak Devan masih kecil,jadi menurut Devan ini udah biasa.
Setelah selesai makan....
"Devan"panggil papanya Renald Alinsky.
"Iya pah kenapa?"tanya Devan.
"Gimana hubungan kamu sama Aina?"tanya Renald
"Baik-baik aja kok pah"jawab devan sambil nonton tv.
Keadaan kembali hening
Sesekali Devan melirik papanya. Perasaanya campur aduk. Rasa kecewa selalu bergejolak dalam hatinya . Ia tak dapat menahan diri. Hatinya bergumam ingin meneriaki semua.
"Pa.. Ini apa?" tanya Devan kepada papanya sembari mengeluarkan 3 lembar foto.
Tangan Renald Alinsky bergerak cepat mengambil foto itu. Ekpresi mukanya berubah total dari biasa menjadi sangat datar. Ia hanya terdiam dengan perasaan dongkol dan merobek foto itu.
" Pa.. kenapa papa begini? Kapan pah? Kapan papa mau berubah?"sambung Devan dengan penuh kecewa.
" Dari mana kau mengambil foto ini ha !!??" tanya papanya geram.
" Pah...itu gak penting. Aku hanya mau papa berubah." Tegas Devan.
" Itu bukan urusan mu!." Bentak Renald kepada anaknya
Memang sedari dulu papa Devan sangat gemar bermain wanita. Terlebih setelah istrinya meninggal ia menganggap bahwa tak mempunyai lagi batasan.
" Itu urusan ku pah. Aku malu pah. Aku kecewa." Jawab Devan.
Prak!!!!
1 pukulan keras mendarat di pipi Devan. Emosi Renald Alinsky melonjak.
" Dasar kau anak tak tau diri. Apa lagi yang kau butuhkan?Aku sudah memenuhi semua kebutuhanmu kau masih saja membangkang ." Tegas papanya.
Air mata Devan tak tertahan untuk tumpah. Bukan karna pukulan papanya namun karena seseorang yang sudah pergi meninggalkannya. Ia merasa sangat kecewa kepada papanya.
"Pah... aku gak butuh uang. Aku gak butuh apapun. Aku hanya butuh mama. Aku mau mama tenang. Aku kecewa pah. Papa udah bikin mama meninggal karna hal ini. Aku mau papa berubah." Jelas Devan
Renald Alinsky hanya terdiam mendengar pernyataan yang keluar dari mulut anaknya.
Devan segera berlari menyusuri anak tangga kamarnya. Ia membanting pintu dengan sangat keras.
" ahhkggghkkkk..." teriak Devan berharap perasaan itu sedikit hilang.
Ia segera mengambil kunci mobil dan turun kembali untuk pergi.
" Devan ! Mau kemana kau?"tanya papanya meneriaki Devan
Devan hanya terdiam terus berjalan tak menghiraukan perkataan papanya. Ia merasa muak dengan semua sifat papanya.
Di perjalanan Devan sangat frustasi,kepalanya sedikit pusing mengingat kejadian tadi di rumahnya bersama papanya.Ia lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.Sesekali ia hampir menabrak orang.Tak peduli apa yang di katakan orang di luar sana karena saat ini pikirannya sangat kacau.
Tak lama itu ia sampai ke makam mamanya.Orang yang paling ia sayangi dan cintai.
Di sinilah Devan di hadapan makam mamanya,ia mengeluarkan semua yang ia rasakan sekarang ini sambil mencium batu nisan mamanya.
"Mah,maafin Devan yaa hikss...hikss..hikss.Devan belum bisa sadarin papa.Dia masih seperti dulu mah,sering mainin perempuan di luar sana.Aku sudah muak mah sama papa yang gak mau berubah..hikss..hikss.Apa yang harus aku lakukan mah?Aku sudah capek nasehatin papa.hikss..hiksss."
Devan terus mengeluarkan butiran-butiran air matanya.Ia sudah capek dengan hidupnya sekarang.