LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 86





Arend tengah mencuci piring setelah mereka makan malam bersama, Syeira ikut menemani dan membantu menata. Pasangan Suami-istri itu terlihat sangat serasi dan kompak. Bahkan Syeira terus menatap Arend dengan sorot mata penuh kekaguman, ia merasa sangat bahagia dan menjadi wanita paling beruntung di dunia.



Arend menyadari jika Syeira terus menatapnya sambil senyum-senyum sejak tadi. Kini ia sendiri merasa ingin tersenyum karna bahagia yang sama seperti yang Syeira rasakan.



Dengan jahil Arend menjentikkan jari-jarinya yang basah ke wajah Syeira sehingga Syeira kaget karna rintikan air yang menyerang dirinya.



"My L.?"



Syeira membalas. Arend tertawa, mereka malah jadi bermain air. Gelak tawa mereka menggema. Betapa bahagianya cinta yang bersambut dan terjaga.



"Enough.!" Ucap Arend yang sudah kewalahan. Tapi Syeira masih menyerangnya dengan gelak tawanya.



Hingga Arend menangkap tangan Syeira, mendorong tubuhnya hingga setengah berbaring di atas meja makan dan tubuh Arend menutup tubuhnya sempurna.



Arend dan Syeira diam tanpa pergerakan, mereka saling menatap dalam diam. Dan deru nafas keduanya tersengal bukan karna lelah, tapi gelanyar yang datang secara tiba-tiba. Adik Arend di bawah sana sudah tumbuh dan berkembang. Syeira bisa merasakan tubuh Arend yang mengeras dan menekan di paha dalamnya.



"Oouuhh.. $h!.t.t!"



Zico yang baru keluar dari kamar melihat pemandangan itu lekas berbalik dan berteriak mengumpat.



Arend dan Syeira lekas bangkit dan merapikan diri kembali, Syeira sangat gugup.



"Bisakah kalian memakai kamar.? Kenapa kalian suka sekali melakukannya di ruang terbuka.?" Teriak Zico kesal tanpa menoleh pada Arend dan Syeira. Ia masih berdiri memunggungi.



"Ada apa..?" Cellin keluar dari kamar setelah mendengar Zico yang berteriak. Ia sudah tak lagi memaki kursi roda. Cellin merasa tubuhnya sudah mampu untuk bergerak sendiri.



Syeira semakin gugup, panik dan malu kala Cellin ikut datang, Syeira pun langsung berhambur masuk kedalam kamar, melewati Zico yang masih berdiri kesal.



"Permisi, selamat malam.!" Ucap Syeira cepat pada Zico dan Cellin. Ia lekas masuk lalu menutup pintu.



Arend kembali ke dapur tanpa kata. Dapur yang di bersihkan tadi justru semakin berantakan.



Cellin mengernyitkan kening. Ia tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.



Zico tersenyum pada istrinya yang masih berdiri dalam kebingungan.



"Masuklah, aku isi air minum dulu.!"



Zico melangkah ke dapur dan mengisi botol airnya. Cellin kembali ke kamar.



"Kau tahu.? Aku sedang berpuasa. Jadi jangan bertingkah seolah kau meng-iming-imingi ku.?"



Zico bicara pada Arend dengan mulutnya yang di buat bergerak-gerak lenje. Ia kesal lagi-lagi harus menonton adegan live. Sedangkan ia sudah begitu lama tak pernah melakukannya. Dan harus dengan sekuat tenaga menahan gejolaknya.



"Apa dokter tidak memperbolehkan kalian melakukannya.?"



Arend berbicara sambil mengelap meja dapur. Ia telah usai bersih-bersih.



Zico tampak berpikir. Mengingat kembali apa yang di katakan dokter.



"Tidak juga, Dokter hanya mengingatkan, jika tekanan darah Cellin harus selalu rendah, tidak boleh sampai naik. Itu akan sangat berbahaya. Dan bukankah jika aku melakukannya nanti, Tekanan darah, jantung, bahkan emosi Cellin akan naik semuanya secara bersamaan.? Tidak tidak tidak tidak tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Aku lebih baik menunggu. Iya aku akan sabar menunggu. Aku menunggu. Aku menunggu.!"



Zico melangkah menuju kamar dengan terus mengucapkan kalimat nya yang terakhir, *Aku menunggu, Aku menunggu*.



Arend rasanya ingin tertawa. Tapi ia menahannya. Ia merasa sedikit kasihan pada adiknya sang mantan Cassanova. Entah apa yang sudah di lakukan Cellin, gadis itu bahkan tak pernah melakukan apa pun pada Zico. Tapi bagaimana dia bisa membuat Zico menjadi setakluk itu.?



Arend menggelengkan kepala, lalu ia pun masuk ke dalam kamar.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Mobil yang di kendarai Zid memasuki halaman Sebuah gedung apartemen. Darren dan Meldy masih berada di belakang mereka, mengikuti.



Zid dan Zizi sudah keluar dari mobil, dan mereka masuk kedalam gedung mewah tinggi menjulang itu.



Mobil yang di kendarai Darren baru berhenti. Tanpa basa-basi, Meldy lekas berhambur memasuki gedung itu. Tapi sial. Ia tak lagi mendapati Zid maupun Zizi disana.



Darren mengikuti Meldy yang sudah berlari dan masuk.



Meldy mendekat ke meja resepsionis. Ia menanyakan kamar atas nama Zid maupun Zizi. Tapi sayangnya itu termasuk privasi Customer yang harus di jaga.




"Hey, Hey.? Stop it. Bukan begini caranya.!"



Darren menghentikan Meldy yang marah-marah pada Resepsionis apartemen.



Meldy menepis tangan Darren yang menyentuh tangannya. Mata Meldy sudah sangat merah, ia terus menahan agar tak terlihat lemah dan menangis di tempat umum.



"Aku harus mencari mereka.!"



Meldy bergegas, ia ingin masuk kedalam lift, dan sekali lagi, Darren menahannya.



"Wait, wait, wait.!"



Darren menarik tangan Meldy. Hati Meldy terasa sangat sesak. Ia yakin, pasti terjadi sesuatu antara Zid dan Zizi. Meldy menatap kearah lain, kepalanya terus bergerak menjelas kan suasana hatinya yang gundah.



"Kamu mau ngapain? Hah.? Kamu mau cari dia.? Dengan cara apa.? Oh,,\_\_? Apa kamu akan mengetuk satu persatu pintu seluruh ruang di gedung ini.? It's the f.u.ck.!n9 plan.!"



Apa yang di katakan Darren memang benar, bagaimana Meldy bisa mencari mereka tanpa ia tahu dimana kamar mereka berada.?



"Kita balik dulu, lalu pikirkan cara selanjutnya.!"



Darren sangat mengerti situasi Meldi saat ini, wanita centil di depannya ini telah di duakan oleh kekasihnya. Dan itu pasti sakit.



Darren menggandeng tangan Meldy yang hanya diam mematung untuk ikut pergi bersamanya. Dan Darren pun mengantar Meldy pulang.



"Kamu tinggal di gedung *N~A Cell*.?"



Darren bertanya setelah mereka sampai di halaman depan perusahaan Arend itu.



Meldy menggeleng.



"Terus kenapa kesini.?"



"Aku hanya numpang sementara.!" Jawab Meldy, suaranya sangat berat, ia menahan emosi di dadanya yang terasa begitu sesak.



"Kalau kamu mau nangis, nangis aja. Aku gak akan lihat.!"



"Kamu pikir aku cengeng, apa.?"



Meldy keluar dari mobil Darren, ia lekas menutup kembali pintunya setelah ia sudah berdiri di luar.



Darren pun ikut keluar.



"Thank's.!"



"Bayarannya.?"



Meldy membuang nafas kasar, ia membuka tasnya, hendak mengambil uang.



"Sorry, aku punya banyak nominal angka di rekeningku.!"



Pernyataan Darren sontak menghentikan aksi Meldy yang membuka tasnya. Dan dia menunggu kalimat Darren selanjutnya.



"Datang ke konser ku. Minggu depan. Tidak ada penolakan.!"



Ucap Darren, lalu ia lekas masuk kembali, menginjak gas melajukan mobilnya meninggalkan Meldy seorang diri disana.



Meldy melihat mobil Darren yang semakin menjauh dengan tatapan nanar.



Kini ia tak lagi bisa menahan air mata yang sudah sangat berdesakan sedari tadi.



Meldy menangis seorang diri dalam sepi, hatinya sangat sakit, nyeri dan perih.



Pikiran-pikirannya bekerja membayangkan apa yang sudah di lakukan Zid dengan Zizi.



Apakah Zid berselingkuh.? Apa kah Zid menduakan cintanya dengan Zizi.? Bagaimana jika Zid meninggalkannya dan lebih memilih Zizi.? Bagaiman Meldy bisa menerima kenyataan itu jika memang itulah nantinya yang terjadi.?



Meldy masuk ke kamar, menjatuhkan tubuhnya di ranjang, berbaring tengkurap sambil menangis begitu kencang, ia merasa sakit hati yang teramat perih. Ia juga takut. Meldy takut ia tak kan sanggup jika harus kehilangan Zid yang sangat ia cintai.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...