LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 101





Meldy membantu Zid memasuki gedung *N~A Cell*. Orang-orang yang melihatnya membulatkan mata. Mereka semua tahu bagaimana hubungan di antara mereka.



Meldy menekan tombol lift. 2 pira baru akan keluar dari alat ruang gerak itu.



"Pak.? Pak.? Tolong bantu saya membawa Pak Zid.? Dia sakit.?"



Meldy bersuara panik dan tertahan. Karna menopang berat badan Zid yang berada di pelukannya.



Zid menatap tajam kedua pria itu tanpa sepengetahuan Meldy. Kedua pria itu pun menggelengkan kepala cepat, mereka lantas berhambur keluar.



"Maaf Nona Meldy, kami sibuk dan terburu-buru.!"



"Apa.? Hey.? Hey.? Sialan kalian.? Kurang ajar.? Ada atasan lagi sakit di mintai tolong malah kabur?. Ku adukan kalian pada Tuan CEO.?"



Meldy berteriak kesal dan marah-marah. Membuat Zid tersenyum tipis menahan rasa sakitnya. Itulah Meldy nya dulu yang sangat Zid rindukan.



Meldy pun membawa Zid masuk kedalam lift dan lekas menekan tombol agar lift bergerak kelantai atas.



Selama didalam lift, Zid hanya diam. Selain karna menahan sakit, Zid juga tidak berani melakukan pergerakan. Meski aroma tubuh Meldy begitu menggoyah hatinya, membakar gelora n4f$unya. Tapi Zid tidak berani. Ia takut Meldy justru akan marah dan menjauh, bisa sedekat ini dan berada dalam pelukan Meldy seperti ini saja sudah cukup membuat Zid merasa begitu senang. Ia bahkan menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Meldy. Mencium aroma leher yang sangat ia rindu itu semakin dalam.



Gejolak kelelakiannya sudah tegang sejak tadi. Tapi Zid menahan. Ia sudah begitu lama tidak merasakan kelembutan wanita. Setelah terakhir ia mabuk berat dan melakukanya pada Zizi yang ia kira adalah Meldy. Zid tak pernah lagi berhubungan badan dengan Zizi. Ia tak bisa melakukannya. Meski Zizi datang dan memulai pergerakan. Zid selalu menghindar. Ia hanya memenuhi kebutuhan Zizi secara finansial. Bahkan ia hampir tak lagi menemui Zizi di apartemennya. Kecuali Zizi yang datang menemuinya di tempat tinggalnya di *N~A Cell*.



Perubahan Zid membawa hubungan mereka tak lagi harmonis. Tapi Zizi tak mau berpisah dan kehilangan Zid. Dan Zid yang sudah merasa bersalah padanya pun akhirnya tetap harus menjalani hubungan menyiksa tanpa cinta itu dengan Zizi.



'*Ting*.?'



Pintu lift terbuka. Meldy dan Zid yang berada di pelukannya melangkah bersama, keluar dari lift. Tapi langkah mereka terhenti. Zizi berdiri disana. Tepat dihadapan mereka.



"Zid.?" Zizi menyerukan nama Zid panik.



Meldy lekas mendorong tubuh Zid agar tak begitu menempel padanya. Zid mendongakkan kepala, melihat Zizi yang memanggil namanya.



"Zid.?"



Zizi lekas berhambur. Meldy melepaskan tangan Zid yang merangkul pundaknya. Dan Zizi mengambil alih.



"Zid kau kenapa.?" Zizi bertanya panik, kini Zid sudah beralih pada Zizi, dan Meldy merapikan bajunya. Ia mencoba menetralisir perasannya yang menggebu. Jantungnya berdetak cepat. Ia gugup. Tapi Meldy berusaha bersikap biasa.



"Perutku sakit.!" Lirih Zid menjawab pertanyaan Zizi.



"Bawa aku pulang.!" Zid benar-benar merasa sakit, ia sudah tidak tahan lagi.



"Iya, iya.!" Zizi mengangguk cepat.



"Terimakasih Nona Meldy.?" Zizi berterimakasih pada Meldy sebelum ia membawa pergi Zid.



'*Apa.? Dia berterimakasih.? Dasar perempuan sialan, tidak tahu malu*.!'



Meldy merasa sakit hati dengan ucapan terimakasih dari Zizi. Ingin rasanya ia membantai wanita yang telah merebut kekasih yang sangat dicintainya itu. Tapi Meldy menjaga wibawanya.



"He em.?" Meldy mengangguk. Ia melihat Zid yang kini dibawa pergi oleh Zizi. Meldy tak tahu pasti bagaimana ia seharusnya bersikap. Ia merasa kasihan melihat Zid yang menahan rasa sakit. Itu karna cintanya yang masih singgah begitu megah dalam hati nya yang hancur.



'*Cepatlah sembuh*.'



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



\***MALAM**



"Apa aku boleh meminta sesuatu padamu,?"



Cellin berbaring di atas ranjang, tubuhnya di peluk oleh Zico dari samping yang setengah berbaring setengah duduk.




Zico menjawab sambil memainkan jari jemari Cellin yang tangannya sedikit terangkat oleh tumpuan tangan Zico.



"Mau kah kamu mencintaiku karna Allah.? Seperti yang ada di film itu.? Cintai aku karna Allah.?"



Tawa Cellin renyah mengiringi ucapannya pada Zico.



"Memangnya, mencintai itu beda-beda.? Maksudku. Bukankah kalau cinta ya cinta saja.?"



Zico kurang memahami makna kalimat Cellin.



"Tidak sayang.? Orang mencintai itu tidak sama, ada yang mencintai karna rupa, cantik, tampan, ada yang mencintai karna harta, karna dia kaya, ada yang mencintai karna kepridaiannya, ada yang mencintai karna nafsunya. Setiap mencintai itu berbeda-beda. Dan yang terbaik dari mencintai adalah mencintai karna Allah.!"



Zico bangkit, ia duduk dengan benar, Cellin pun ikut duduk. Zico menatap mata Cellin tajam.



"Terus kamu mencintai aku karna apa.?"



Zico bertanya antusias. Cellin tersenyum manis. Ia mendekatkan wajahnya lalu mengecup hangat kening suaminya.



"Aku mencintai kamu karna Allah, Suamiku. Karna Allah yang telah menumbuhkan rasa cinta ini di hatiku, karna Allah yang telah menyatukan kita dalam ikatan suci pernikahan ini.!"



Mata Cellin berkaca-kaca saat mengatakannya, ia mengucapkan setiap kalimatnya penuh ketulusan.



"Lantas, kenapa kamu tidak bertanya padaku dulu, aku mencintaimu karna apa.? Kenapa tiba-tiba kamu menyuruhku untuk mencintaimu karna Allah, apa kamu berpikir kalau aku mencintaimu karna sesuatu yang lain.?"



Mata Zico menelisik. Cellin kembali tersenyum semakin lebar.



"Jangan berpikir kalau aku mencintaimu karna kecantikanmu, banyak wanita diluar sana yang bahkan lebih cantik, tapi karna memang hatiku saja yang mencintaimu.? Kamu juga tidak kaya. Jadi aku juga tidak mungkin mencintaimu karna harta mu. Aku ini Zico Putra Aryan. Sang pria tampan yang sempurna dan memiliki segalanya. Itu artinya aku juga mencintaimu karna Allah. Karna Allah yang menumbuhkan rasa cinta di hatiku ini padamu. Dan bahkan tanpa alasan.!"



Zico kembali berbaring setengah duduk, lalu menarik tubuh Cellin kembali kedalam pelukannya dari belakang. Zico mengatakan kalimatnya dengan nada nyolot, ia merasa Permintaan Cellin yang memintanya untuk mencintai karna Allah seakan meragukan cinta nya yang sangat tulus itu pada Cellin.



"Baiklah, kamu memang benar, kalau begitu berjanjilah. Jika suatu saat nanti, Allah memanggilku lebih dulu.?"



Belum sempat Cellin menyelesaikan ucapannya Zico sudah menyela dengan nada suara yang keras hampir teriak.



"Jangan bicara sembarangan. Kau akan sembuh. Tidak akan ada yang saling meninggalkan. Kita akan terus bersama.!"



Zico memeluk tubuh Cellin, dan Cellin melepaskan diri dari pelukan Zico secara perlahan. Mata Cellin sudah berkaca-kaca. Ia menatap Zico dalam dengan tatapan matanya yang nanar.



"Dengar, setiap yang hidup, pasti akan mati, setiap pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Aku juga merasa takut, tapi aku akan tenang, jika kamu mau mengikhlaskan.?"



"Apa yang kamu katakan, Cellin.? Berhenti membual.!"



"Zico, Zico. Zico suamiku.?"



Cellin menolehkan muka Zico yang berusaha memalingkan mukanya dari hadapan Cellin, Zico sudah menangis. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini.



"Dengar, aku sakit.? Sangat sakit.? Terkadang bahkan aku merasa tidak kuat, dan berharap agar semuanya cepat selesai, meski dengan cara aku harus pergi dari dunia ini. *Hiks hiks hiks*.!"



Zico menunduk. Suami-Istri itu menangis bersama. Membicarakan hal yang pasti menyakiti hati mereka.



"Berjanjilah, saat aku tiada nanti. Kau hanya boleh menangis sehari. Hanya satu hari. Kau tidak boleh meratapi kepergian ku, karna aku pergi atas panggilan Allah, doa kan aku agar mendapat tempat terindah di sisinya. Kenang aku sebagai wanita yang baik. Karna itu aku memintamu untuk mencintaiku karna Allah. Sehingga meski nanti kita berpisah. Itu karna Allah yang sudah mentakdirkannya.! Dan kamu harus mengikhlaskan ku."



"Bagaimana kamu bisa mengatakan itu Cellin.? Bagaimana aku bisa melepaskanmu dengan mudah.? Bahkan untuk membayangkannya saja aku tidak mampu."



Cellin mendekatkan wajahnya pada wajah Zico. Ia bergerak lebih dulu menautkan bibirnya pada bibir Zico. Ini adalah pertama kalinya Zico bwec!um.an di iringi tangisan. Rasanya tak bisa di gambarkan. Sakit.



"Jadikan aku istrimu seutuhnya.!"



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...