
"***BOOMM***.!"
Suara ledakan mengawali peperangan.
Strategi yang di rancang Cen berjalan baik sejauh ini, ledakan pada sebuah gedung bekas pabrik di area selatan langsung memancing perhatian anak buah Klan RG. Hingga mereka lengang dan membiarkan kosong area Utara.
"Maju.!"
Ucap Cen yang bisa di dengar oleh seluruh anggota Klan Cosa.
Setelah mereka berhasil memasuki area utama tanpa hambatan, mereka langsung menyebar ke sayap kiri dan kanan sesuai arahan Cen.
"Penyusup.?"
Teriak anak buah Klan RG yang berada di atas gedung dan ternyata letak berdirinya tersembunyi, tak tertangkap oleh kamera drone Cen.
Satu kesalahan dari Klan Cosa.
"*Door*.!"
Tembakan pertama dari Klan RG melesat tepat di samping Arend melewati bahunya dan jatuh di atas tanah. Jelas Arend sangat kaget, ia belum sepenuhnya siap.
"*Dooorr*.!"
Tembakan balasan dari Rain yang tepat mengenai dada menembus jantung anak buah RG yang berdiri di gedung lantai atas yang menembak Arend.
Rain menarik tangan Arend. Mereka berhenti di dekat tumpukan tong yang lumayan tinggi. Mereka berlindung disana. Suara tembakan demi tembakan antara Klan Cosa dan RG saling bersahutan.
Rain mengetuk tong-tong itu dengan tangannya.
"Cen, bahan bakar.!"
Ucap Rain memberitahu Cen isi dari tumpukan tong.
"Di mengerti.!" Balas Cen.
Zid berlari cepat menghindari tembakan beruntun dari senjata jenis *Revolver* yang di gunakan oleh anak buah RG.
"*Drededededet Drededededet Drededededet*..."
"Zid.?"
Arend berteriak tertahan. Rain menarik kuat baju Arend dari belakang agar Arend tak bergerak gegabah.
Peluruh-peluruh itu hanya mengenai tanah.
Zid selamat dan dia bahkan menembak sempurna pada pria yang menyerangnya. Satu nyawa melayang di tangan Zid.
"Dia lumayan, Arend.!" Ucap Rain memuji Zid, sambil kepalanya sedikit mendongak melihat situasi.
Arend seakan tak percaya. Zid mempunyai keahlian itu, dan Arend tidak tahu.
"Tuan Rain. Saya mendapatkan titik Ruang penyekapan.!" Cen berbicara lewat Clip on.
"Dimana.?"
"Arah jam 3."
Rain mengangguk setelah Cen mengatakannya.
"Kita harus segera mencapai Ruang itu, sebelum mereka membawa pergi para gadis, mungkin saja Syeira juga ada disana.!"
Rain berbicara pada Arend. Dan Arend mengangguk antusias kembali bersemangat setelah mendengar nama istrinya.
"Cen, aku akan bergerak, kau harus mencari tahu keberadaan Mr, RG. Atau tangan kanannya.!"
"Baik."
Cen menerbangkan satu lagi drone nya, ia mencari tahu keberadaan orang-orang yang di inginkan Tuan Rain.
Rain bergerak cepat menunduk di ikuti Arend di belakangnya. Rain terus menembak pada musuh sebelum mereka memiliki kesempatan untuk menyerang, entah sudah berapa jumlah orang yang tumbang. Hingga Rain mengganti senjatanya yang sudah ia pasang lengkap di tubuhnya.
Rain dan Arend memasuki lorong, itu adalah jalan terakhir menuju ruang penyekapan para gadis. Sepi dari arah depan. Rupanya para anak buah Klan RG baru kembali setelah tadi dari arah selatan. Dan kini Mereka ada di belakang Arend dan Rain.
Arend membulatkan mata, ia langsung peka jika dibelakangnya ada pergerakan.
"*Doorr*.!"
Anak buah Klan RG melesatkan tembakan. Untunglah Arend dengan gerakan cepat menarik tubuh Rain untuk menunduk dan berjongkok bersamanya hingga peluru itu menembus dinding di depan sana.
"*Doorr*.!"
Arend menembak pria yang tadi menembaknya tepat di lututnya, dan Rain dengan gagah kembali berdiri menembak mereka dengan membabi buta, hingga musuh tumbang tak tersisa.
Arend melihat ke arah belakang Rain, dan benar saja. Beberapa anak buah yang menjaga didalam Ruang penyekapan keluar ruangan setelah mendengar tembakan. Dan mereka siap menyerang.
'*Ya Allah.? Ampuni dosa hamba. Bismillah*.!'
Arend menutup mata 0.1 detik lalu kembali membukanya. Ia mengarahkan senjatanya dan menekan pemantiknya membayangkan ia hanyalah sedang mengetapel burung-burung waktu di desa.
"*Door, door ,door.. doorr*..!"
Rain membalikkan badan melihat Arend yang menyerang dengan gaya yang mirip dengannya, bahkan Arend bergerak maju, dan tembakannya tepat sasaran tanpa meleset.
"Clear.!" Ucap Arend pada Rain yang dibalas anggukan.
Arend dan Rain pun lekas memasuki ruangan yang sudah bersih dari penjagaan anak buah Klan RG.
Para gadis-gadis itu berteriak kala Arend dan Rain masuk kesana. Mereka semua mengangkat tangan dan menunduk. Terlihat jelas jika mereka takut.
Arend dan Rain terus memperhatikan, tak ada Syeira disana.
"Dimana istriku.? Dimana Syeira.?"
Arend berteriak, ia mulai kehilangan kontrol emosinya. Istrinya tidak ada di tempat yang ia duga berada disana.
"Tuan Rain, Maafkan aku, aku tak menemukan titik keberadaan Tuan RG, maupun kaki tangannya.!" Cen melapor.
"Abaikan.!" Balas Rain.
"Tuan.? Apa kau adalah suami Nona Syeira.?"
Seorang gadis memberanikan diri untuk bertanya, ia adalah salah satu gadis yang tadi sempat diajak Syeira bicara sebelum akhirnya Leon membawanya.
"Kau tahu dimana istriku.?"
Arend mendekat, matanya merah, ia sudah sangat emosi.
"Tadi dia disini bersama kami. Nona Syeira bilang jika pasti akan ada orang-orang yang menyelamatkan kami. Dia bilang jika suaminya pasti akan datang menyelamatkannya.!"
"Dimana dia sekarang.?" Suara Arend semakin bergetar. Dadanya bergemuruh.
"Leon membawanya, Tuan. Kami tidak tahu, kemana Dia membawa Nona Syeira.!" Jawab gadis itu dengan penuh ketakutan.
"Leon.? Siapa dia.?"
"Kita harus cepat Arend. Kita bawa mereka keluar, Istrimu tidak ada disini. Mereka sudah membawanya pergi. Kita pikirkan rencana selanjutnya. Tapi kita harus pergi sekarang.!"
Air mata Arend terjatuh, ia begitu rapuh mendapati kenyataan cinta nya yang ia cari tak ada di sini.
Pasukan Klan Cosa datang, membantu para gadis untuk cepat keluar menuju mobil yang sudah disiapkan.
Jumlah anak buah Cosa tidak cukup untuk melawan mereka semua. Ini adalah markas mereka. Dan tentu jumlah mereka lebih banyak.
"Cen, bagaimana.?" Rain berteriak pada Cen dari Clip on.
"Segera keluar dari area utama Tuan Rain. Drone kedua saya akan saya jatuhkan di area utama Utara, menutup pergerakan mereka..!"
Jawab Cen yang juga berteriak.
"Berapa lama.?"
"7 detik. Mereka sudah begitu dekat.!"
Cen melihat di layar komputernya, jika para pasukan Klan RG yang berlari dari area selatan sudah mendekat.
"Semuanya.? Keluar.? Mundur.?"
Teriak Rain pada pasukannya.
'*Tiga, dua, satu*.!'
Cen menutup matanya saat menekan tombol lepas kendali atas drone nya. Dan\_\_\_
"***BOOOMM***.!"
Drone yang Cen jatuhkan meledak sempurna di tumpukan tong yang tadi Rain gunakan bersembunyi. Itu adalah tumpukan tong yang berisi bahan bakar ilegal Klan RG. Menambah dahsyatnya ledakan yang membakar seluruh bagian depan area jalur Utara.
Cen membuka mata perlahan, ia begitu takut, waktunya sangat mepet, dan tadi Rain belum mengatakan padanya jika dia sudah siap keluar.
Cen melihat layar laptopnya.
"Yeaahh.!" Teriak Cen penuh semangat melihat Rain dan Arend yang berlari bergandengan tangan.
Nampak dibelakang Arend dan Rain Api yang menyala-nyala hingga begitu tinggi dan luas membentang, memblokade jalan anggota Klan RG, dan tak lagi bisa bergerak mengejar mereka.
Cen sampai menangis, air matanya menetes mengiringi senyumnya yang terasa haru, untuk sesaat tadi Cen begitu takut Rain dan Arend tidak selamat.
Cen memutar tombol kontrol drone nya yang terakhir. Ia menjatuhkannya kembali tepat di tengah gedung utama. Mengakhiri semua permainan hari ini.
Mobil yang membawa para gadis sudah melaju terlebih dulu, mereka akan dibawa ke Markas Cosa yang terdekat untuk diselamatkan, sebelum akhirnya mereka di pulangkan, atau harus memberitahu pemerintah atas semua yang terjadi. Entahlah, belum ada rencana kedepannya. Yang terpenting saat ini adalah para gadis itu selamat, dan seluruh anggota Klan Cosa selamat tanpa luka yang berarti.
Arend dan Rain membuka pintu mobil, masuk kedalam, dan duduk menyandarkan punggung mereka, ada rasa lega, meski misi mereka belum selesai sepenuhnya. Karna Syeira masih belum mereka temukan.
"Dimana Zid.?" Cen bertanya.
Sontak Arend dan Rain membulatkan mata bersama dan saling menatap, mereka melupakan satu anggota inti.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...