LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 122





'***Doooorrr***.!'



"Perfect.!"



Mikaila tersenyum senang mendengar pujian yang Rain berikan padanya. Ia menatap manik Rain dengan cinta yang mengembang, sedangkan Rain melihat fokus pada papan tempat Mikaila melayangkan tembakannya. Tepat sasaran.



"Cukup untuk hari ini, kau belajar dengan sangat cepat dan baik.!"



Rain mengemasi barang-barang. Mikaila hanya tersenyum tanpa membalas ucapan Rain.



Mereka tengah berada di halaman belakang mension Aryan yang di ubah sebagai tempat pelatihan Mikaila.



"Kalian sudah selesai.?"



Ayla datang membawa camilan. Suaminya yang baru datang dari kantor mengekor.



Ayla meletakkan nampan berisi teh dan kopi serta makanan ringan lainnya di atas meja yang berada di tengah-tengah beberapa kursi yang memutar mengitarinya.



"Lihat Mama Ai.? Tembakan ku semuanya tepat pada sasaran yang Uncle Rain tunjukan.!" Mikaila berseru antusias.



"Kamu memang sangat pintar, sayang.?" Aryan mengecup kening Mikaila dan memujinya.



"Kita nikmati dulu teh nya.! Seharian hujan terus. Akhirnya sekarang reda juga.!"



Mereka semua pun duduk saling berhadapan di kursi yang melingkar. Menikmati sore yang tak menampakkan senja karna gulungan awan hitam mengusirnya.



"Teh hangat memang selalu menjadi teman terbaik saat Jawa dingin seperti ini.!" Ucap Aryan setelah ia menyeruput teh nya.



Cen datang tergesa.



"Tuan.?" Cen membungkukkan badan pada Rain.



"Cen.? Duduk lah, kita ngeteh bersama.!" Seru Ayla. Cen hanya mengangguk menanggapi.



"Tuan.? 2 Kapal kita di perbatasan di serang, kita harus segera kembali."



Cen melaporkan hal buruk yang terjadi pada Rain.



"Bagaimana dengan orang-orang kita.?" Hal yang selalu Rain tanyakan pertama kali adalah keselamatan anggotanya.



"Hampir semuanya di bunuh, beberapa dibawa sebagai sandera.!"



"Ada apa Rain.? Cen.?" Apa yang Cen dan Rain bicarakan jelas membuat Aryan, Ayla dan Mikaila khawatir.



"Bukan Maslah besar, Aryan. Hanya urusan pekerjaan. Para bandit yang ingin bermain-main padaku, Tapi mereka salah memilih lawan.!" Jawab Rain santai.



"Persiapkan keberangkatan kita, Cen. Kita akan kembali malam ini.!" Rain memberi perintah, dan Cen mengangguk lantas lekas pergi menjalankan tugasnya.



"Uncle akan pergi.?" Mikaila bertanya cemas. Beberapa waktu terakhir selalu mereka habiskan bersama.



Mikaila mengikat Rain dengan alasan untuk melatihnya. Tapi sekarang, Rain akan pergi sebelum Mikaila selesai dengan misinya. Misi cinta nya terhadap orang yang lagi-lagi salah.



"Aku harus pergi. Kalian tenang saja. Semuanya akan baik.!"



"Aku ikut.?" Kalimat yang Mikaila ucapkan sontak membuat Aryan dan Ayla kaget. Tapi Rain bersikap datar, ia sudah menebak jika Mikaila pasti akan mengatakannya.



"Aku tidak pergi ke Brazil, Kei.? Lantas kau mau pergi kemana mau ikut pergi bersamaku.?"



"Apa maksud Uncle.?"



Aryan dan Ayla masih memperhatikan mereka yang bicara.



"Aku akan ke Itali, dan mungkin juga akan menetap disana. Entah sampai kapan.!"



Mikaila merasakan ada yang sakit di dalam hatinya. Apa yang bisa ia jadikan alasan untuk mengikuti langkah Rain pergi ke Itali, bahkan Mikaila tak pernah mendatangi negara itu.



"Baiklah, aku harus segera siap-siap. Aku juga ingin menemui Arend sebelum aku pergi.!"



Aryan dan Ayla mengangguk, Rain sudah berdiri dan hendak pergi. Namun sejurus kemudian dengan cepat Mikaila meraih tangan Rain dan menghentikannya.



"Kau tidak boleh pergi meninggalkan ku, Uncle.? Aku ikut.!"



Mikaila tak tahu lagi harus mengatakan apa agar bisa menghentikan Rain yang sudah akan pergi meninggalkannya.



"Kei,? Apa yang kamu katakan.?" Aryan bersuara keras setengah membentak. Apa yang dilakukan Mikaila saat ini bukanlah satu hal yang benar.



"Sayang.? Apa maksud kamu.?" Ayla mendekat dan bicara lebih lembut.




"Aku mencintai mu Uncle Rain. Aku jatuh cinta pada mu.!" Mikaila mengungkapkan isi hatinya di depan semua orang dengan lantang.



"Apa.? Apa aku tidak salah dengar.?" Zico yang baru datang berteriak kaget, dan menyahuti kalimat Mikaila yang menyatakan cintanya pada Rain.



Setelah mengantar pulang Meldy, Zico memilih pulang ke mension Aryan yang lebih dekat, tubuh basahnya karna deraian air hujan yang mengguyurnya cukup lama membuat Zico merasakan dingin yang teramat sangat, dan dia memutuskan untuk pulang ke mension Aryan untuk mengganti pakaian.



"Kei.? Apa yang kamu katakan.?" Aryan kembali bertanya. Ia tak pernah menyangka putrinya akan mencintai pria yang seusia dengan papahnya.



"Kenapa Uncle Rain diam.? Aku sudah mengatakannya begitu jelas. Aku mencintaimu, Uncle. Aku ingin ikut dan hidup bersamamu.!"



"Kei.?" Tangan Aryan terangkat seakan ingin menampar Mikaila yang di anggap lancang, namun tangan itu hanya mengambang di Awang, Ayla dan Zico sudah sangat kaget. Hingga Aryan kembali menurunkan tangannya menghempaskan dengan kasar.



"Kau mungkin hanya mengagumi ku, Kei. Kau mungkin telah salah mengartikan perasaanmu. Berhenti membuat masalah.?"



Ucapan Rain terasa sangat menyakitkan di hati Mikaila. Bukan itu jawaban yang ia inginkan.



"Kenapa.? Apa kau tidak mencintaiku, Uncle.?"



"**TIDAK**.!"



Jawab Rain singkat, sorot matanya menatap tajam Mikaila seakan memperjelas kalimatnya.



Mikaila melepas tangan Rain yang sedari tadi ia genggam. Ia mundur. Sekali lagi, hatinya hancur karna jatuh cinta pada orang yang tak mencintainya. Dan itu sangat sakit rasanya.



Rain melangkah meninggalkan semua orang. Zico terperangah seakan tak percaya. Ia mengingat saat dulu Mikaila yang juga menyatakan cintanya pada Arend secara terang-terangan di depannya dan Arend yang juga langsung menolaknya. Seperti dejavu. Hal yang sama telah kembali terjadi.



Aryan dan Ayla terdiam. Sulit bagi mereka untuk memberi pengertian pada Mikaila saat ini. Mikaila pun menangis dan berlari memasuki rumah menuju kamarnya. Ia butuh waktu untuk sendiri. Sakit, sedih, Malu dan marah, semua rasa yang sama itu kembali menggunung di dalam hatinya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Meldy tengkurap di atas ranjang tidurnya, saat matanya terpejam, bayangan Zico yang berada tepat di hadapannya mengatakan tentang kelelakiannya yang berdiri karna dirinya membuat Meldy terus kepikiran.



"Aaaahhh.?? Dasar Zico keledaiiiii.?" Meldy berteriak kesal. Ia merasa malu dan di permalukan.



"Kenapa tadi aku diam saja.? Kenapa aku tidak menendang saja tit nya sekalian.? Aaahhh.? Br3n9$3k.!"



Meldy heboh seorang diri dalam kamarnya. Menarik selimut menutup seluruh tubuhnya, membukanya lagi dan menutupnya lagi.



Hubungannya dengan Zico yang tak pernah akur membawa suasana yang aneh saat tadi mereka berada pada jarak sedekat itu dan pembicaraan yang saru.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Jadi, katakan padaku, bagaimana akhirnya kamu bisa mengingat semuanya.?"



Syeira berbaring di depan tubuh Arend yang berbaring di belakangnya. Arend bersandar pada dipan ranjang, keduanya masih belum berpakaian. Selimut tebal sebagai penutup tubuh polos mereka.



Arend dan Syeira menikmati makanan yang Arend pesan.



"Semuanya.? Aku tidak bilang kalau aku sudah mengingat semuanya.!"



"Apa maksudmu.?" Syeira bangun dan duduk berbalik menghadap Arend. Tangannya memegang selimut di atas d.a.da nya.



Arend tersenyum lalu mengecup kilat bibir sensual Syeira. Ia lantas kembali merengkuh tubuh Syeira agar istrinya itu kembali pada posisi semula.



"Selama berhari-hari aku bermimpi tentang hal yang sama.!"



"Mimpi apa.?"



"Malam pertama kita. Aku pikir itu terjadi karena aku yang tidur satu ranjang denganmu, sampai seringkali pada tengah malam aku memilih pindah keluar dan tidur di sofa. *Kau tahu.? Tubuh Ku selalu mengeras saat berada di dekatmu. Seperti sekarang ini*.!"



Bisik Arend di telinga Syeira. Membuat Syeira membulatkan mata, ia juga bisa merasakan jika punya Arend yang berada di bawah sana sudah siap kembali. Mengeras. Tegang dan panjang.



"Jangan My L.? Punyaku terasa sakit, dan perih.!" Rengek Syeira yang sukses menghadirkan gelak tawa di mulut Arend.



"Iiiiihh.? Aku serius.?" Lirih Syeira manja.



"Iya, maaf ya.? Aku tidak bisa mengendalikan diri.! *Cup*.!" Arend mengecup pucuk kepala Syeira. Mereka berkali-kali melakukannya dengan berbagai gaya dan cukup kasar dengan tempo yang selalu cepat. Arend seperti tak pernah puas.



"Aku belum begitu bisa mengingat semuanya, My L.? Bahkan aku masih tidak tahu kenapa kamu memanggilku My L, tapi beberapa kenangan kebersamaan kita mulai bermunculan dan berkelebat tadi. Maafkan aku ya.? Karna telah melupakanmu. Aku akan berusaha agar bisa mengingat semuanya lebih baik.!"



Syeira tersenyum senang, ia lantas memeluk tubuh Arend. Membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang sang suami yang harum, dan aroma itu menjadi candu dalam penciuman hidungnya.



Tak ada yang bisa di salahkan. Dan tak ada yang perlu dimaafkan. Kecelakaan itu terjadi tanpa di inginkan. Semua itu adalah garis tangan yang sudah tergambar.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...