LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 37





Arend berdiri di halaman depan Perusahaan *N~A Cell*, Ia bersiap untuk melakukan meeting dengan salah satu kolega bisnisnya.



Meeting itu di adakan di sebuah hotel ternama di pusat kota. Mobil yang di kendarai Zid datang. Kali ini Zid akan ikut serta terjun langsung ke lapangan.



Arend membuka pintu, duduk di sebelah Zid yang tengah duduk di jok kemudi. Zid menginjak gas melajukan mobil menuju ke tempat tujuan.



"Apa kau sudah menyelesaikannya?"



Arend bertanya pada Zid.



"Sudah, Tuan.!"



"Bagaimana dengan data tentang perusahaan Papah.?"



Arend ternyata juga meminta Zid untuk mempelajari perusahaan Aryan.



"Sudah, Tuan.!"



Arend mengangguk.



Mobil melaju kencang, kondisi jalan lumayan lengang.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Kamu dimana, Ra.?"



Bim sedang panik, ia tengah berada di lokasi, sedangkan Syeira belum juga datang, ia terlambat karna larut dalam kesedihan saat makan siang tadi bersama Zico dan Cellin.



"Satu lantai lagi."



Jawab Syeira lewat sambungan telepon dengan suara seperti berteriak namun tertahan. Syeira berjuang menaiki tangga darurat menuju tempat yang sudah di beritahukan Bim padanya tadi.



Syeira telah sampai di lantai yang di tuju. Bim sudah stand by dengan kameranya. Banyak juga para wartawan yang berasal dari Channel lain.



Sosok yang di tunggu telah datang dengan kawalan ketat para bodyguard. Ini adalah acara konferensi pers yang di lakukan oleh Penyanyi Senior Miyuri untuk meluruskan berita-berita yang simpang siur belakangan ini.



"*Nona Miyuri, Tolong jawab pertanyaan kami*."



Wanita yang masih tetap cantik di usianya yang sudah tak lagi muda itu tersenyum manis kepada para awak media mendengar celotehan pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkan kepadanya. Ia terlihat sangat tenang, kaca mata hitamnya bisa menutup kejujuran sorot matanya yang mungkin saja menyimpan kebohongan.



"*Nona Miyuri, tolong jelaskan, apa hubungan anda dengan DK sebenarnya*.?"



"*Benarkah kalian telah menjalin hubungan*?"



"*Benarkah kalian adalah sepasang kekasih*.?"



Penyanyi Senior Miyuri menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para awak media jika mereka sebenarnya sedang mengerjakan projek album duet baru bersama. Hal yang di rahasiakan yang akan di jadikan kejutan pada publik di akhir tahun harus di beberkan sekarang karna pertemuan mereka yang terkuak di media.



Beberapa waktu berlalu, Konferensi pers itu telah selesai. Semua sudah membubarkan diri. Saat Bim dan Syeira hendak meninggalkan hotel, perut Syeira terasa mulas tiba-tiba. Syeira pun meminta Bim untuk menunggunya di mobil, dan Syeira lari ke toilet terlebih dulu.



Syeira telah selesai dengan hajatnya. Ia hendak keluar, namun langkahnya terhenti mendengar suara wanita yang di kenal tengah berdebat dengan seorang pria.



"Kenapa kamu mengatakan itu kepada media.? Kita tidak sedang mengerjakan album apapun bersama." Suara berat seorang pria.



"Lantas apa yang harus aku katakan.? Haruskah aku mengatakan kepada mereka tentang hubungan kita.?" Suara Miyuri terdengar sangat tenang, lantang dan tegas.



Syeira yang mendengar perdebatan mereka membulatkan mata.



'*Apakah itu Miyuri yang tengah berbicara pada DK*.?'



Miyuri keluar setelah berdebat dengan pria muda itu. Syeira masih panik mencari kamera atau apa saja dari dalam tasnya. Sialnya ponsel Syeira justru berdering, Bim menghubungi karna harus segera pergi lebih dulu.



Pria muda yang masih berada di ruang toilet perempuan itu mendengar dering ponsel Syeira, ia lantas langsung mengetuk pintu. Meminta orang yang berada di dalamnya untuk segera keluar.



"Cep\_pat Keluar.!" Teriak pemuda itu sambil terus menggedor pintu toilet yang di gunakan Syeira.



"Mampus, bagaimana sekarang.? Hah,,,, aku harus keluar, kenapa takut.? Ini toilet cewek, dia yang salah masuk toilet ladies."



Syeira mempersiapkan diri dan mental, Ia berdehem lalu dengan ekspresi berani membuka pintu yang di gedor itu.



Pemuda itu mundur dan Syeira keluar dari Toilet dengan tenang.



"Khem,!" Sekali lagi Syeira berdehem bertingkah angkuh.



Syeira tidak berani menatap langsung ke arah pemuda itu, ia meluruskan pandangan melihat ke arah lain.



"Kau.?" Pemuda itu ternyata mengenali Syeira. Syeira pun akhirnya menoleh melihatnya.



'*Ternyata benar, dia adalah DK*.' Batin Syeira.



DK memperhatikan penampilan Syeira yang masih lengkap menggunakan jaket hitam yang berlogo channel *Melaver* di bagian dadanya.



'*Seorang* *Reporter*.' Ucap DK dalam hati.



Syeira masih diam. Dia tidak tahu harus bicara apa. Kepanikan membungkamnya.



"Apa kau lupa siapa aku.?" DK memulai percakapan.



Syeira bertingkah sok memperhatikannya, melihat DK dari ujung kaki hingga kepala.



"Ehmm.? Tentu saja aku mengenalmu, kau adalah penyanyi pria pendatang baru, yang memiliki hubungan tersembunyi dengan penyanyi senior Miyuri." Jawab Syeira mantap.



"Ha ha ha ha...." Tawa DK menggema di seluruh ruang Toilet.



"Kenapa tertawa.? Apa nya yang lucu.? Aku sudah mendengar semua pembicaraan kalian tadi."



DK terdiam. Dia mendekat semakin maju, Syeira membulatkan mata dan gugup, ia refleks mundur hingga tubuhnya mentok pada dinding. DK lantas mengangkat tangan kirinya bersandar pada dinding di dekat kepala Syeira. Syeira menelan saliva kasar, ia merasa tegang sekarang.



"Apa kau benar tidak mengingatku.?"



Syeira menggelengkan kepala cepat.



"Aku adalah supir taksi yang mengantarmu ke Club' \*\*\*\*\* waktu itu."




DK tersenyum licik melihat wajah cantik Syeira dari jarak sedekat ini.



"Jangan memuat berita apapun. Jika kau sendiri tidak ingin rahasia kehidupanmu terusik." Bisik DK.



"Apa maksudmu.?" Syeira berteriak sambil mendorong tubuh DK kasar hingga DK menjauh dari dirinya. Dan Syeira melangkah maju.



DK tersenyum licik. Bahkan tertawa sumbang.



"Kau mencari tahu rahasia orang lain demi pekerjaanmu, tapi kau sendiri merahasiakan hidupmu yang bisa menjadi berita utama untukmu. Kenapa tidak kau muat saja berita mu dengan CEO *N~A Cell*.?"



Syeira membulatkan mata mendengar pernyataan DK.



'*Dari mana dia bisa tahu*.?'



"Apa maksudmu.? Aku tidak mengerti yang kau bicarakan."



Syeira hendak meninggalkan tempat, jantungnya berdegup kencang dan dia semakin panik ketika DK menyebut nama CEO *N~A Cell*.



"Tunggu, Nona.?"



DK meraih tangan Syeira menghentikan langkahnya, lantas DK membaca name tag Syeira.



"Nona Syeira Malik.!"



Syeira menepis tangan DK kasar, dan DK melepaskannya.



"Kita sama-sama sembunyi dari dunia, Nona Syeira. Jangan saling mendorong teman pada masalah."



"Aku bukanlah teman anda, Tuan DK. Dan anda bukanlah teman saya."



Syeira lantas melangkah cepat membuka pintu toilet berlari keluar, DK masih belum puas, ia akhirnya ikut berlari mengejar Syeira.



Pagi tadi juga DK melihat Syeira makan di mobil saat berhenti di lampu merah, dan CEO *N~A Cell* lekas menutup kaca pintu mobilnya. DK merasa jika hubungan mereka menarik, dan dia merasa tertarik begitu saja pada Syeira.



Syeira sudah hampir sampai di loby utama, DK masih mengejarnya. Arend yang hendak keluar dari hotel itu bersama Zid melihat istrinya yang berlari dan seorang pria mengikuti.



Arend menyipitkan mata memperhatikan semakin jelas, ia lantas berhenti, melangkah cepat meraih tangan Syeira hingga Syeira jatuh kedalam pelukannya. Kepala Syeira tepat bersandar pada dada bidang Arend.



DK yang telah sampai menghentikan langkahnya. Ia dan Arend saling menatap beehadapan.



Tatapan DK sangat ringan dengan senyum tipisnya. Sedangkan Arend menatapnya tajam seperti ingin membunuh, raut mukanya jelas terlihat jika ia marah.



Syeira yang kaget mendongakkan kepala pelan, mengenal parfum dan aroma pemilik tubuh yang memeluknya.



"Tuan" Lirih Syeira setelah berhasil mendongak dan melihat Arend yang menatap lurus dengan pandangan dingin ke arah DK.



"*Itu, DK*.?" Seru seorang Reporter yang ternyata masih ada disana.



"*Ada Tuan CEO N~A Cell juga*." Seru wartawan lainnya.



Zid segera datang.



"Cepat ke mobil. Akan aku halau mereka."



Arend segera menggandeng tangan Syeira berlari keluar dari hotel dengan cepat Syeira terus menunduk menyembunyikan kepala dan wajahnya di balik jas Arend menyandar pada dada bidang suaminya.



"*Tuan Narendra*.?" Teriak para Reporter yang sudah tak lagi bisa mengejar Arend dan Syeira yang sudah keluar dari hotel, masuk ke mobil dan mobil itu lekas melaju dengan kencang.



Kini para Reporter teralihkan dengan DK yang masih berdiri disana dengan senyum tipisnya yang terlihat sinis.



Para wartawan mencerca pertanyaan demi pertanyaan pada DK yang tak mendapat tanggapan apapun dari Pria muda tampan itu. Dia hanya diam tak bergeming.



Zid segera keluar dan pergi dari sana. Keamanan Bos nya telah terjaga.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Arend mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, emosi dan amarah kembali menguasainya. Membuat Syeira merasa sangat takut.



Sorot mata Arend menjelaskan semuanya.



"Tu\_ Tu,, Tuan.?"



Syeira membuka suara. Arend menginjak rem tiba-tiba.



"Aaahh." Syeira kaget.



Sedangkan Arend masih menatap lurus ke depan dengan tatapan dingin dan tajam.



Syeira kembali terdiam, lidahnya keluh tiba-tiba. Ia tahu jika Arend paling tidak suka melihat dia berdekatan dengan pria siapapun, pria manapun selama hubungan ini berjalan.



Arend menoleh ke arah Syeira yang menatapnya takut, bahkan air mata Syeira sudah lolos. Syeira takut jika Arend sampai marah dan mereka kembali diam-diaman. Syeira merasa tidak akan kuat, dia sudah terlanjur mencintai Arend hingga ke akar hatinya. Bahkan ia tengah berjuang membuat Arend agar jatuh cinta padanya.



"Kami tidak sengaja bertemu, dia mengejarku, karna aku mengetahui rahasia skandalnya."



Suara Syeira terdengar bergetar saat menjelaskannya. Syeira sangat takut.



Arend menarik nafas dalam lalu menghembuskannya, ia mencoba mengendalikan emosinya. Raut mukanya mulai berubah, menjadi datar sedatar buku gambar, seperti biasa.



Arend bersikap dingin dan seakan tidak peduli, ia kembali menatap jalan di depan. Ia lantas menginjak gas dan melajukan kembali mobilnya.



Syeira mengernyitkan kening merasa bingung.



'*Bukanakh tadi dia marah.? Atau hanya perasaanku saja*.?' Tidak begitu mudah bagi Syeira dapat memahami sikap suaminya ini.



Sedangkan Arend, ia ingin tersenyum namun ia tahan. Paling tidak, batinnya sudah merasa tenang setelah Syeira menjelaskannya.



Tapi Pria itu, jelas Arend menandainya, Arend tidak akan melepaskannya. Dia mengingat jelas wajah pria tadi. Saat pertama kali melihatnya di Club malam itu, melihat Syeira dengan intens di lampu merah, dan dengan tidak sopan dia telah mengejar Syeira istrinya.



'*Dia harus di hentikan. Dan harus di beri pelajaran*.'



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...