LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Bonus Bab 131





"Bawa dia ke kamarku, Cen!" Perintah Rain tegas. Cen menganggukkan kepala patuh dan lekas pergi.



"Kau bermain-main dengan orang yang salah, Don!"



Rain telah berhasil menaklukkan lawannya. Hampir dari mereka semua sudah Rain bunuh dan mayatnya di buang sembarangan ke lautan. Hanya pria bernama Don itu yang lolos dan berhasil kabur melarikan diri.



Ada satu hal yang masih menjadi misteri, sebuah teka-teki. Dimana berangkas itu berada. Satu berangkas penting yang menjadi pemicu semua ini bermula.



'*Klek*!'



Pintu di buka. Cen datang, tak butuh waktu lama baginya untuk mengerjakan tugasnya yang barusan Rain perintahkan padanya.



"Lep\_paskan aku?" Teriak seorang gadis muda yang kini berada dalam genggaman Cen.



"Dia adiknya, Tuan."



"Tinggalkan dia Cen! Kau boleh pergi." Rain bicara tanpa membalikkan badan. Ia masih berdiri gagah menghadap jendela kaca menatap pemandangan di luar sana. Hamparan laut luas di siang yang cerah.



Rain kini tengah berada di sebuah kapal boat setelah menyelesaikan urusannya.



"Aku tidak bersalah, aku tidak tahu apa-apa."



Gadis muda itu mulai merasa panik. Ia sudah melihat sendiri bagaimana Cen yang menghabisi orang-orang kakaknya lalu di buang ke lautan.



Rain tersenyum *Smirk*. Ia harus membalaskan dendamnya. Di tambah gairah tubuhnya saat ini tengah panas. Dan butuh penyaluran.



'*Brak brak brak brak*.'



"Buka pintunya?"



Gadis muda itu terus menggedor pintu dan berteriak. Rasa paniknya sudah berubah menjadi takut kala ia melihat Rain yang membuka kancing kemejanya meski tanpa menghadapnya dan masih memunggunginya.



Rain sudah melepas kemeja yang ia pakai. Ia membuangnya kesembarang tempat. Kini Rain membuka ikat pinggangnya, namun ia masih belum menariknya dari celana, Rain akan menggunakannya nanti saat perlu untuk dipakai.



Gadis itu semakin panik.



"Buka pintunya?"



"Apa kau tahu, jika yang kau lakukan itu hanyalah percuma? Sia-sia saja, lebih baik kau simpan tenagamu untuk mempersiapkan diri melayaniku."



Rain menuang minumannya ke dalam gelas. Lalu ia menenggaknya sekali teguk.



'*Glek*.'



"Apa yang kau inginkan?" Suara gadis itu terdengar bergetar. Ia takut melihat Rain dengan raut mukanya yang dingin dan sorot matanya yang tajam.



Rain melangkah, mendekat ke arah gadis itu yang kini terpojok bersandar pada dinding kapal yang dingin.



"Informasi." Jawab Rain santai.



"Aku tidak tahu apapun. Sungguh? Aku memang adiknya, tapi aku tidak tahu apa-apa, tolong percayalah? Lepaskan aku? *Hiks hiks hiks*." Gadis itu sudah menangis karna saking takutnya.



Rain tertawa terbahak-bahak. Bagaimana dia bisa percaya? Setelah ini semua? Setelah ia memberikan kepercayaan pada Don sebelumnya. Menganggapnya kawan yang ternyata berperan sebagai lawan?.



Gadis itu melihat sekeliling, menggunakan kesempatan untuk mencari senjata apa saja sebagai pertahanan. Rain sedang tertawa tanpa memperhatikannya.



'*Pistol*?'



Gadis muda itu melihat sebuah senjata api milik Rain yang tergeletak di atas nakas. Ia lekas bergerak cepat berlari kesana. Rain membulatkan mata. Ia kecolongan satu langkah.



"Berhenti? Atau aku sungguh akan menembakmu?" Gadis itu mengarahkan pistol yang ia pegang ke arah Rain. Bukannya takut, Rain malah kembali tertawa.



"Apa yang bisa kau lakukan?"



'***DOOOORR***'



Satu tembakan melesat mengenai dinding kapal. Untunglah Rain menghindar dengan cepat. Ia membulatkan mata seakan tak percaya.



'*Dia berani melakukannya? Aku salah telah menganggapnya sebagai gadis yang lemah*.'



Gadis itu hendak melakukan tembakan sekali lagi. Sampai akhirnya Rain terlebih dulu *men-sledding* kakinya, hingga gadis itu terjatuh dan tembakannya melesat ke langit-langit kamar.



"***DOOOORR***."



"Aaahhh?" Teriak gadis itu kaget saat terjatuh.



Rain lekas membekuk dan mengambil alih senjata yang gadis itu pegang. Ia duduk di atas tubuh gadis itu yang kini terlentang di lantai.



'*Plaaakk*'



"Aaahh?"




"Kau salah mengambil tindakan."



'*Plaaakk*!'



Lagi, Rain menamparnya.



Rain merasa sangat kesal. Ia sudah berada pada puncak batas kesabarannya.



Dengan sangat kasar Rain menarik dress gadis itu hingga kini terbelah di bagian depannya.



'*Ssraaakk*'



Rain mencekik leher gadis itu. Tubuhnya melengking ke atas menahan sakit akibat cekikan yang Rain berikan.



"Lep\_pas-kan a-aku?" Suaranya tertahan dan terbata. Kedua tangannya memegangi tangan kanan Rain yang mencekik kuat lehernya. Gadis itu berusaha melepaskan, namun nihil hasilnya. Tenaganya jelas tak cukup untuk mengimbangi tenaga Rain.



Rain menatapnya dengan penuh kemarahan. Matanya merah, rahangnya mengeras. Gigi-giginya beradu.



"Kau akan menerima hukumanmu."



Rain melepas tangannya.



'*Uhuk uhuk uhuk*.'



Belum sempat gadis itu bernafas lega. Rain sudah menarik rambutnya hingga ia terbangun dari lantai. Rain mendorongnya ke atas ranjang.



"Aaahh?"



Bagian depan gadis itu sudah terekspose sempurna. Meski dressnya masih menempal pada tubuh mungilnya, tapi aksi brutal Rain yang merobeknya hingga kini menampakkan keindahan sang pemilik raga bagian depan.



Gadis itu menangis dan mencoba menutupi tubuhnya. Ia terus mundur berharap bisa menjauh dari jangkauan Rain.



'*Cih*.' Rain menganggap dia hanyalah gadis murahan sama halnya seperti gadis-gadis dari dunia nya.



"Tolong lepaskan aku, Tuan? Aku sungguh tidak tahu apa-apa? Ampuni aku?"



'*Plaakk*?' Satu lagi tamparan Rain berikan padanya. Rain benar-benar sudah sangat kesal. Ia tak lagi dapat mentolerir semua kesalahan.



Gadis itu berusaha turun dari ranjang, namun Rain menariknya dengan cepat, hingga ia kembali terjerembab di atas ranjang. Gadis itu kembali mundur. Tubuhnya mentok pada dipan.



Rain menarik gesper di pinggang yang sedari tadi sudah ia buka. Ia lantas menggenggam kedua tangan gadis itu hanya dengan menggunakan satu tangannya.



"Lep\_paskan?" Jeritan gadis itu melengking memenuhi gendang telinga Rain. Dan satu lagi tamparan sebagai balasan.



'*Hiks hiks hiks*.'



Gadis itu hanya bisa menangis. Seluruh badannya terasa sakit, tangan yang tadi di cengkram kini telah terikat di dipan ranjang.



"Tidak? Jangan lakukan?"



Rain membuka celananya. Gadis itu memalingkan muka.



"Lihat aku saat bermain, sayang? Aku tidak suka di acuhkan. Ini adalah hukuman yang harus kau terima atas kesalahan Kakakmu."



Rain mengarahkan dirinya. Menerobos masuk dengan paksa. Hingga gadis itu menjerit lirih menahan sakit yang teramat sangat di bagian bawah tubuhnya. Tubuhnya melengking keatas.



Rain membelalakkan mata. Ia berhenti saat tubuhnya sudah memasuki gadis itu.



"You're a Virgin?" Rain merasa bersalah. Ia menatap lekat pada gadis yang kini berada di bawah kungkungannya. Gadis itu hanya memejamkan mata mengernyitkan kening, dengan buliran-buliran bening menetes melalui sudut-sudut matanya.



Rain merasa tidak tega. Tapi semua sudah kepalang tanggung. Miliknya di bawah sana sudah meminta hak nya. Untuk segera di puaskan.



"$h!.t.t!"



Dalam hati Rain ingin berhenti, namun tubuhnya justru bergerak. Pinggulnya mulai maju-mundur dengan tempo yang kasar. Seluruh kenikmatan menjalar ke setiap sendi tubuhnya. Rain sangat menikmati.



Tapi gadis malang itu, ia hanya menjerit lirih menahan sakit yang teramat sangat. Ia tak ingin menikmati, dan ia tak mau menerima.



Rain mend3$a.h merasakan nikmatnya. Ia terus bergerak. Memompa semakin cepat. Ganas. Brutal. Nakal. Hingga ia merasa telah sampai pada batasnya.



Rain lekas mencabut miliknya. Dan menyemburkannya di atas perut gadis itu.



"Aaaahhh aahhh!"



'*Hiks hiks hiks*'



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...