
Hari pernikahan Cellin telah tiba, Air matanya yang terus lolos membasahi pipi menyulitkan para perias mendandaninya.
'*Bisakah jika aku kabur sekarang*.?'
'*Bagaimana dengan Ayah, Kakak dan ibu jika aku pergi*.?'
'*Tapi bagaimana hidupku nanti jika aku meneruskan pernikahan ini*.?'
Cellin di Landa dilema. Andai saja ada keajaiban Tuhan yang bisa menghentikan ini semua.
Ponsel Cellin berdering, Cellin mengacuhkannya, hingga beberapa kali. Kakak iparnya meraih benda pipih yang tak di hiraukan adiknya itu.
"Lin.? Ini telepon dari Rumah Sakit, Lho.!"
Cellin menoleh, meraih ponsel nya yang di berikan oleh Kakak iparnya yang sudah di rias dan memakai kebaya seragam keluarga.
"Iya.?"
Cellin hanya diam, ia mendengar kan kabar yang ia terima dari Rumah Sakit atas hasil laporan Cellin memeriksakan pusing kepalanya Minggu lalu.
Cellin tersenyum tipis, namun air matanya berderai semakin deras. Cellin mengangguk.
"Tolong kirim datanya ke nomor saya. Saya akan mengambil laporannya besok."
Cellin kembali mengangguk mendengarkan penuturan orang di seberang sana.
"Iya, Terimakasih." Sambungan telepon di akhiri.
Cellin hanya terdiam. Tapi buliran jernih itu terus menetes dari sudut-sudut matanya.
"Lin, ada apa.?"
Kakak iparnya yang cemas bertanya. Cellin hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Sudah pukul 10 pagi, Syeira sudah berdandan untuk menghadiri pernikahan Cellin. Namun langkahnya serasa berat, Zico tengah di Landa duka, jika ia datang ke pernikahan Cellin, bukankah itu menambah lukanya.? Syeira bingung harus bagaimana.
Ia lantas keluar dari kamar, Arend yang duduk di meja makan melihat Syeira keluar dari Kamar, Arend tidak ke kantor, ia memikirkan suatu rencana. Niat yang tidak benar untuk suatu hal yang di anggapnya baik.
Syeira nampak sangat cantik dengan dress panjang yang membuat tubuhnya terlihat sangat seksi. Ada tali transparan yang menyangkut di bahunya, Arend membulatkan mata melihat istrinya dengan penampilan seperti itu.
Syeira melangkah ke kamar Zico. Arend mengikuti, Zico sudah bangun, ia duduk di tepi ranjang menutup mukanya yang kusut dengan kedua tangannya sendiri.
"Kau sudah bangun.? Apa kau baik-baik saja.?"
Syeira mendekat dan duduk berjongkok di depan Zico memegang lutut adik iparnya itu, Arend datang, ia tidak suka melihatnya, tapi Arend mendiamkannya, Zico sedang terluka, mungkin sedikit perhatian Syeira bisa mengurangi sedikit kesedihannya.
Zico membuka mata melihat Syeira. Penampilan Syeira sangat cantik dan rapi seperti akan datang ke sebuah pesta.
"Kau akan pergi kesana.?" Zico bertanya. Syeira menundukkan kepala.
"Pergilah, berikan dia doa dan restu, sampaikan salam dari ku, semoga dia selalu bahagia."
Zico mengucapkannya penuh rasa, hatinya sangat perih saat mengucapkan kalimat itu, bahkan air matanya mengiringi setiap kata-katanya.
Syeira pun ikut larut dalam kesedihan, ia begitu mengerti bagaimana sakitnya mencintai tanpa berbalas.
"Aku tidak pergi.!" Jawab Syeira sambil menangis.
"Dia sahabatmu, dia pasti membutuhkan dukungan mu, pergilah Syeira.!"
"Aku tidak mau.!"
Syeira masih menolak sambil menangis menutup mukanya dengan kedua tangannya. Air matanya membanjir mengiringi kesedihan hati Zico.
"Kita semua akan pergi. Kita akan datang ke pernikahan Cellin."
Arend sudah membuat keputusan. Ia akan mengesampingkan nama baik, rasa malu, hujatan atau pun ke viralan berita nantinya demi membantu Zico sang saudara kesayangan mendapatkan cintanya.
"Mak\_ sud\_ mu\_?"
Syeira bangkit berhadapan dengan suaminya yang sudah berdiri di belakangnya sejak tadi.
"Kita gagalkan pernikahannya."
Syeira membulatkan mata, menutup mulutnya yang menganga tak percaya. Zico semakin menangis lalu memeluk Arend dengan haru, dia benar-benar membutuhkan dukungan Arend untuk melangkah. Arend sudah membulatkan rencananya, semua demi kebahagiaan sang saudara tercinta.
...----------------...
**Wedding Operation di jalankan**.
Zico mandi kilat, tidak mungkin ia datang ke rumah Cellin dengan bau Alkohol yang menyengat di badannya. Syeira bahkan membantunya mematut diri. Arend melihatnya kesal sambil berdiri bersandar pada tembok dekat pintu.
'*Dia bahkan tidak pernah melakukan itu padaku*,'
Syeira menyisir rambut Zico, memakaikan jam tangan, memasangkan dasi, menyemprot parfum berlebihan. Dan memakaikan sepatu Zico. Satu kata. Tampan.
Mereka bergegas. Ijab-kabul akan di laksanakan jam 1 siang. Sekarang baru jam 11. Masih ada waktu 2 jam. Lebih dari cukup untuk bisa sampai di rumah Cellin dengan waktu tempuh normal biasanya hanya 1 jam.
Zico melangkah keluar apartemen terlebih dulu, Syeira yang sangat antusias pun mengekor, namun Arend merengkuh pinggang Syeira hingga Syeira berbalik menghadap dirinya dan menghentikan langkahnya yang terburu-buru.
Syeira membulatkan mata menatap wajah Arend yang datar, dengan gerakan cepat Arend memakaikan jasnya yang sudah di lepas di kedua tangan Syeira, Syeira menoleh ke sisi kiri dan kanan. Ia baru sadar akan hal romantis yang di lakukan oleh suaminya.
Selesai, tubuh Syeira tak lagi terekspose, Arend lantas menarik menggandeng tangan Syeira yang hanya diam karna terbengong dengan perlakuan Arend yang dirasa sangat manis, dan itu tiba-tiba. Syeira tersenyum senang memikirkannya.
Arend mengambil posisi menyetir. Ia menancap gas mobil dengan kecepatan tinggi, mereka sudah semakin menjauh dari apartemen.
15 menit telah berlalu, sial. Ada perbaikan di jalur jembatan, kendaraan yang biasanya lewat berlainan arah dari jalur lain, kini melewati satu jalur yang sama, sehingga kondisi kendaraan yang padat bergerak merayap.
"Bagaimana ini Arend.? Kita bisa terlambat.?"
Zico berbicara dengan nada panik di jok belakang.
"Sabar Zico.? Masih ada satu jam lebih."
Syeira menoleh ke belakang mencoba menenangkan Zico yang semakin risau.
"$h!\_\_\_\_.\*\*." Arend mengumpat kesal, kondisi jalan yang macet cukup panjang, hingga membuang waktu cukup lama. Hampir setengah jam, akhirnya terlewati juga sampai jalanan kembali ramai lancar.
Syeira memainkan ponselnya mencoba mengubungi kontak Cellin, nomornya tidak aktif, Syeira pun semakin panik.
Waktu tersisa tinggal satu jam. Lampu merah, hampir saja Arend lepas kendali dan menerobos. Untung dia sigap dan dengan gerakan cepat menginjak rem hingga mobil sportnya berhenti sempurna.
Syeira yang tak bersiap pun terhuyung kedepan. Tapi Arend bergerak lebih cepat, ia sudah memahami kebiasaan istrinya itu saat ia menginjak rem mendadak, Arend mengarahkan tangannya menghalangi tubuh Syeira agar tidak mengalami benturan, tanpa di sengaja tangan Arend berada tepat di dada atas Syeira, hampir saja di kedua buah k3ny4l\_nya.
Syeira membulatkan mata, ia menelan saliva kasar, lalu menunduk tanpa banyak pergerakan melihat tangan Arend yang menyentuhnya hampir disana.
Arend masih menatap lurus kedepan, tapi ia menyadari jika ia melakukan kenakalan. Arend pun segera menarik tangannya sendiri. Syeira merasa sangat malu, ia lantas memalingkan muka melihat ke arah luar dari kaca pintu mobil.
Zico teringat dengan tempat ini, pertama kali ia melihat Cellin gadis berkerudung yang membantu anak-anak difabel menyeberang, membuatnya merasa terpesona, dan tuhan mengukir cinta semegah istana itu kini di hatinya.
Lampu hijau, Arend kembali melaju, jika mengikuti undangan, ini seharusnya belum terlambat, masih ada waktu setengah jam lagi.
Mobil yang di kendarai Arend memasuki gang luas menuju rumah Cellin. Kondisi jalan ramai, orang-orang yang berlalu lalang, ada yang menggunakan batik dan juga kebaya.
Mereka terlihat sibuk menumpuk kursi-kursi, mencopoti dekor pengantin, dan bahkan sebuah sound system' dan tenda terop pun sedang di rapikan.
Mobil tidak bisa semakin melaju kedepan, Arend menepikan mobilnya ke badan jalan. Mereka turun dengan perasaan gamang, takut jika acaranya telah usai. Tapi kenapa begitu cepat.? Lebih cepat dari jadwal yang di tulis dalam undangan.
Seorang ibu memakai kebaya datang menghampiri mereka.
"Neng sama Aden ini mau ke pernikahan Cellin, Ya.?" Tanya wanita itu langsung pada intinya, karna melihat penampilan Arend, Zico dan Syeira yang nampak sangat rapi.
"Iya, Bu. Saya temannya. Apa acaranya sudah dimulai ya Bu.?" Syeira menjawab sekaligus bertanya.
Ibu itu tersenyum sendu, sorot matanya sayu.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...