
Rain tengah bermain dengan salah satu objek mainannya. Dia adalah Tuan Matteo. Otak di balik penyerangan yang terjadi pada Aryan dan Aaron di pusat perbelanjaan waktu itu.
"Tidak, Tuan.? Tolong jangan lakukan, ampuni saya.?"
Matteo terus memohon pada Rain, ia benar-benar merasa takut sekarang, ia sangat menyesali perbuatannya, karna telah berurusan dengan orang yang salah.
Rain tersenyum sinis melihat pria yang kini berlutut di lantai dengan tumpuan kedua lututnya. Tak ada baju yang menempel di tubuhnya, Matteo hanya mengenakan Bokser yang sudah penuh dengan noda darahnya sendiri.
Wajah Matteo sudah babak belur menerima pukulan demi pukulan dari Cen saat meringkusnya.
Kedua tangan Matteo terikat kebelakang dengan tali tambang yang sangat kuat.
Matteo keringat dingin. Ia berada di ujung kematian dengan segala macam bentuk siksaan yang ia dapatkan sebelum ajal datang.
Rain duduk di sebuah kursi dengan santai. Ia lantas mengambil sebatang rokok, Cen memantik kan api. Rain menyesap dalam menikmati asap nikotin itu, lalu Rain mengepulkan lagi asapnya ke atas.
Matteo menangis dan takut, pria tampan di depannya ini lebih mengerikan dari iblis.
Rain mengulurkan tangan pada Cen. Cen lantas memberinya sebuah silet kecil. Hanya silet, tapi benda itu sangat tajam.
Rain melangkah mendekat dengan senyuman yang lebar, wajah Matteo semakin takut. Keringat dingin sudah bercucuran di keningnya.
Rain mengarahkan silet itu ke bibir Matteo, dia ingin memotong lidah Matteo yang terus merengek padanya, telinga Rain terasa gatal setiap mendengar rengekannya.
Dua anak buah Rain yang bertubuh besar memegangi tubuh Matteo yang hendak berontak. Namun sia-sia. Tenaga mereka jauh lebih kuat dari pada tenaganya yang sudah lemah.
Matteo sampai mengompol.
"Tuan.?" Pria yang menyambut Arend tadi datang. Ia termasuk anak buah yang senior. Dan mempunyai keberanian untuk berbicara langsung pada Rain.
Cen menoleh ke arah pria yang baru saja datang membungkukkan badan.
Rain menghentikan aksinya. Ia lantas menoleh tajam kearah sumber suara. Pria yang sedang membungkuk itu kembali mengangkat kepalanya. Dan melapor.
"Tuan Muda Arend datang dengan seorang wanita.!"
Ucap Pria itu menundukkan kepala tanpa berani menatap langsung mata Rain. Jelas itu membuat Rain dan Cen membulatkan mata.
"*Arend*.?" Jantung Rain terasa berhenti berdetak. Semua yang berhubungan dengan Ineke selalu saja membuatnya lemah.
Ada perasaan senang di hati Cen. Ia sangat merindukan sahabat kecilnya itu. Bahkan tanpa sadar terukir senyuman di bibir Cen.
Bayangan Ineke kembali datang, Rain seperti melihat Ineke berlari di pantai dengan menggunakan dress putih yang cantik. Gelak tawanya yang khas membuat hati Rain bergetar. Begitu besar dan dalam cintanya pada sang istri.
"Tuan.?" Pria itu kembali memanggil Rain yang hanya terdiam.
Rain tersadar, ia lantas membuang siletnya. Dan melangkah keluar dari ruang gelap eksekusi itu. Meninggalkan Matteo yang ingin di jatuhi hukuman.
"Bawa dia kembali.!"
Cen memerintahkan para anak buah untuk membawa Matteo kembali kedalam Cell. Dan Cen mengikuti langkah Rain.
Untuk sesaat, Matteo bisa bernafas lega.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Mikaila sudah selesai mandi, ia juga sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian baru yang Meghan berikan.
Ia kini tengah makan setelah hampir 2 hari tidak makan. Mikaila terus berpikir, bagaiman caranya agar dia bisa lepas dari cengkraman wanita kejam yang menjaganya ini, dan mencari pria pembunuh papahnya.
Meghan terus menatap tajam pada Mikaila yang tengah makan dengan sangat pelan. Rasanya Meghan tak lagi bisa bersabar. Mikaila menyantap makanannya dalam waktu yang sangat lama.
Seorang pria datang, ia menyampaikan perintah yang di kirimkan oleh Cen. Cen meminta seseorang untuk membawa Mikaila ke ruang tamu dimana Arend berada. Arend datang kemari pasti karna ingin menjemput keluarganya ini. Cen sangat bangga dengan Arend yang bisa menemukan dan memasuki daerah terlarang Rain Cosa.
Mikaila tidak mau membuang kesempatan. Meghan sedang tidak memperhatikannya. Ia pun segera memasukkan garpu di balik bajunya. Lantas berdiri dengan tenang.
"Aku sudah selesai.!" Ucap Mikaila.
Meghan melihatnya, pria yang memberinya informasi tadi juga masih berdiri disana.
"Ikut aku.!" Perintah Meghan.
Mikaila mengikuti langkah Meghan, ia pikir Meghan akan membawanya pulang. Mikaila sudah menyiapkan mental. Tidak peduli jika pun nanti dia harus terluka. Mikaila akan memberikan perlawanan. Dia ingin membalaskan dendamnya dulu pada Rain yang dia kira Rain adalah Pria yang membunuh Papahnya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Arend tengah berdiri di dekat sebuah meja, ada sesuatu yang menarik perhatiannya, satu hal yang mengingatkan-Nya pada Aunty, di atas meja kaca itu terdapat gambar bandul giok berwarna hijau, berbentuk bulan sabit. Itu sama persis dengan Kalung milik aunty nya dulu yang di berikan oleh Tuan Rain sebagai hadiah kecil. Yang di beli ketika liburan di Seoul Korea.
Syeira terus membuntut pada Arend. Arend menyentuh meja kaca itu mengelus gambar bandul giok berwarna hijau berbentuk bulan sabit. Seutas senyum dan tatapan nanar terlihat di wajah Arend.
Syeira terus memperhatikannya.
"Apa itu sesuatu yang berhubungan dengan aunty.?" Syeira bertanya.
Rain dan Cen telah sampai di ruang tamu. Mereka menghentikan langkah ketika melihat Arend yang berdiri dengan seorang gadis di sampingnya menghadap meja mengelus gambar bandul giok.
"Iya. Ini adalah gambar bandul kalungnya Aunty.!"
Rain mendengar apa yang di ucapakan Arend. Dadanya semakin sesak. Ingin rasanya Rain menangis.
Meghan dan Mikaila yang di ikuti beberapa anak buah juga datang dari arah lain, itu berhadapan dengan arah kedatangan Rain dan Cen. Ruang tamu ini memang sangat luas.
Arend dan Syeira mendongak ketika Meghan datang, dan melihat Mikaila di belakangnya. Tapi Arend dan Syeira belum menyadari kedatangan Rain dan Cen yang berada di belakang mereka.
Pandangan Mikaila tertuju pada Rain yang berdiri disana tepat satu garis dengannya. Mikaila tidak menyadari adanya Arend dan Syeira, ia gelap mata karna rasa sakit hati dan ingin balas dendam.
Tanpa pikir panjang, Mikaila berlari sekencang mungkin menyerobot Meghan membuat semua orang membulatkan mata melihatnya yang berlari kearah Tuan Rain dengan sebuah garpu yang ia angkat di tangan kanannya.
Arend dan Syeira akhirnya baru menyadari Jika Tuan Rain dan Cen berdiri sedikit jauh dari mereka.
"Aaaahhhh.??" Teriak Mikaila mengeluarkan seluruh amarahnya.
Rain siap dengan serangan itu, ia hanya berdiri dengan tenang, dan saat Mikaila sudah siap untuk menusukkan garpu itu ke dada Rain. Rain menangkap tangan Mikaila, menariknya kuat, memutar tubuh Mikaila, hingga kini Mikaila berada dalam pelukan Rain.
Punggung Mikaila menempel sempurna dengan tubuh Rain. Tangan Rain menggenggam tangan Mikaila yang kini berada di lehernya Mikaila. Dan garpu itu menyentuh kulit leher Mikaila.
Mikaila hendak memukul Rain dengan tangan yang satunya. Namun lagi, Rain menangkap tangan Mikaila membekuknya kebelakang tubuhnya sendiri. Jelas Mikaila bukanlah lawan yang sebanding, dia hanya seperti boneka Barbie yang kecil bagi Rain. Mikaila menggerakkan badannya ingin melawan. Tapi itu hanya terasa seperti gerakan bulu kucing di tubuh Rain.
"Tuan Rain.?" Arend berteriak. Mikaila melihat Arend dan Syeira yang berdiri disana.
"Arend.? Tolong aku.?" Mikaila menangis memanggil nama Arend. Hatinya merasa sangat senang tiba-tiba. Pria yang sangat dicintainya sejak kecil berada di hadapannya.
Syeira melihatnya kurang suka, dia cemburu.
Arend tidak sepenuhnya memperhatikan Mikaila yang meneriaki namanya. Ia justru fokus pada Rain dan Cen yang masih dengan Visual yang hampir tak berubah. Masih terlihat sama. Hanya sedikit lebih Tua.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...