
Syeira membawa Zizi turun. Tidak jauh dari bekas terminal kereta api itu ada sebuah warung kecil, Syeira membeli minuman dan makanan lalu mengajak Zizi duduk di sebuah bangku tidak jauh dari sana.
Zizi menerima dan memakan serta meminumnya.
Zizi mulai menceritakan pada Syeira. Bagaimana awal mula kisahnya hingga membawanya pada keadaan saat ini.
Zizi dan masih banyak lagi wanita seusianya, bahkan ada yang lebih muda seperti baru lulus SMA, di tawari pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan.
Mereka semua adalah gadis-gadis yang di rekrut dari berbagai daerah. Zizi tidak mengenal siapa-siapa.
Mereka di janjikan akan di pekerjakan diluar negri, dan harus melakukan pelatihan untuk bisa berbahasa internasional.
Mereka di tempatkan pada satu tempat tinggal yang jauh dari pemukiman warga lainnya, yang akhirnya Zizi ketahui itu adalah tempat tersembunyi, Dan mereka adalah orang-orang jahat.
Tidak ada yang akan dikirim menjadi TKW, mereka akan dibawa ke dunia malam di perdagangkan pada pria-pria hidung belang.
Zizi terus menceritakan kisahnya, hingga pada suatu malam, dia merencanakan untuk kabur, dan mengatur strategi bersama kawan-kawannya agar bisa keluar dari tempat terkunci itu.
Singkat cerita, Zizi dan kawan-kawannya berhasil keluar dari sana. Dan Zizi berhasil mengambil Chip yang berisi data nama-nama wanita yang menjadi korban, dengan atas nama satu pimpinan Bos mereka.
Ini adalah kejahatan perdagangan manusia taraf internasional.
Malam itu, Zizi dan Kawan-kawannya naik sebuah bis setelah berhasil keluar dari sana. Na'as nya. Para penjahat yang mengejar menemukan keberadaan mereka dan menyergap bis di tengah jalan sepi lengkap dengan senjata api mereka.
Zizi berhasil kabur hingga sejauh ini, dia tidak tahu lagi bagaimana nasib kawan-kawannya.
Zizi bahkan langsung mendatangi kantor petugas berseragam untuk mengajukan laporan. Tapi justru semuanya sia-sia, mereka juga terlibat di dalam permainan itu. Membuat Zizi sekali lagi tertangkap.
Dan dengan usahanya Zizi bisa kembali kabur dan bertemu dengan Syeira.
"Mereka pasti akan kembali mencariku. Mereka pasti akan menemukanku, dan mereka pasti akan membunuhku.!"
Suara Zizi bergetar karna takut, Syeira kembali memeluknya.
"Aku akan membantumu, aku adalah seorang reporter.!"
Zizi mendengarkan Syeira yang berbicara.
"Aku akan menyiarkan secara langsung beritamu, pemerintah pasti akan turun tangan. Kau pasti akan selamat, dan juga gadis-gadis itu.! Dan para penjahat itu, pasti akan mendapatkan hukumannya.!"
Syeira lekas mengambil ponselnya dari tas. Ia langsung menghubungi Bu Mela. Menceritakan semua kisah Zizi. Meminta Bu Mela untuk menyambungkan ponselnya dengan saluran Channel *Melavers* agar bisa segera menyiarkan secara langsung.
Tapi Bu Mela tidak percaya. Bahkan Bu Mela langsung menutup sambungan telepon Syeira.
'*Itu pasti hanya akal-akalannya saja agar bisa kembali bekerja di Melavers*.'
"Aaahh.!" Syeira berteriak kesal. Zizi melihat Syeira dengan panik.
'*Bagaimana sekarang*.?'
Syeira menatap Zizi yang terlihat panik dan takut. Zizi tidak bersedia untuk Syeira ajak pulang, dia tak bisa langsung percaya sama orang, meski Syeira terlihat tulus. Itu wajar, Zizi bahkan di kecewakan oknum petugas berseragam yang seharusnya melindungi dan mengayomi. Dan bagaimana hanya dengan orang biasa ini.?
Syeira kembali memainkan ponselnya, menghubungi Arend berkali-kali. Tapi tetap tak ada jawaban. Ada masalah seperti yang di katakan Zid kemarin. Dan Arend pasti sibuk sehingga mematikan ponselnya.
"Begini saja. Kau ceritakan ulang semuanya, dan aku akan merekamnya. Akan aku usahakan agar bisa langsung di muat di channel berita.!"
Zizi setuju,. Syeira memegang ponselnya, kamera on mengarah ke Zizi yang tengah duduk.
Zizi mulai berbicara. Namun tiba-tiba, mereka datang.
"Dia disana.?"
Teriak seorang pria bervisualkan preman menunjuk ke arah Zizi dan Syeira.
"Syeira, mereka datang.!"
"Kita pergi.!"
"Berhenti.!"
Beberapa pria itu terus mengejar. Mereka tidak akan melepaskan Zizi karna Zizi membawa barang bukti kuat.
Syeira dan Zizi terus berlari bergandengan tangan, mereka kini memasuki daerah bekas terminal, banyak kereta api bekas yang sudah rusak dan tak terpakai.
"Temukan dia.! Aku tidak peduli, hidup atau mati.!"
Para penjahat itu berpencar. Mereka cukup banyak, sekitar 10 orang.
Syeira dan Zizi bersembunyi di sebuah gerbong. Duduk di bawah deretan bangku, berharap para penjahat itu tidak menemukan mereka. Jelas mereka berdua sangat ketakutan.
Tangan Zizi menutup mulutnya sendiri agar tidak bersuara, karna Zizi sudah menangis dan sesenggukan.
Keringat mengalir dari dahi Syeira dan Zizi. Membasahi wajah mereka.
Kamera ponsel Syeira masih menyala dan merekam semua aksi mereka yang berlari. Syeira baru menyadarinya saat melihat ponselnya.
"Cepat.? Temukan mereka.?"
Teriak seorang pria yang membuat Syeira dan Zizi kaget bersama.
Zizi sangat takut, dia memejamkan mata begitu kuat. Syeira terus memainkan ponselnya, menghubungi Arend yang tak kunjung tersambung.
"Mereka disini.!"
Teriak seorang pria yang berdiri di depan pintu gerbong. Syeira dan Zizi lekas berdiri dan kembali berlari menuju pintu satunya, pria itu mengejar. Syeira dan Zizi berhasil keluar dari kereta.
Mereka terus berlari, kini mereka hampir keluar dari daerah itu menuju jalanan naik ke jalan raya.
Namun Syeira jatuh dan kakinya terkilir ketika sudah berada di jalan naik dekat jalan raya.
"Aaaahh.?" Teriak Syeira menahan sakit pada kakinya.
"Syeira.?" Zizi menyentuh bahu Syeira mencoba membangunkannya, tapi kaki Syeira yang terkilir sangat sakit, hingga ia tak mampu berdiri.
Syeira memberikan tas dan hape nya pada Zizi.
"Cepat pergi, bawa ini bersama mu.!"
Syeira berteriak disertai tangisan meminta Zizi untuk segera menyelamatkan diri.
"Dengar,! Jika kau tidak pergi, aku akan menyesali perbuatanku karna telah menolongmu. Jika kita berdua sama-sama tertangkap. Mereka akan membunuh kita berdua. Dan perjuangan kamu selama ini akan sia-sia. Pergi. Masih ada kemungkinan untuk menyelamatkan gadis-gadis itu dan menangkap para penjahat itu. Kau membawa bukti yang kuat.!"
Syeira mendorong tubuh Zizi untuk segera pergi meninggalkannya. Memberikan tas dan ponsel nya pada Zizi.
"Cepatlah datang ke Perusahaan *N~A Cell*. Temui suamiku, yang bernama Tuan Narendra. Cepat pergi.!"
Syeira berteriak sambil menangis. Ia menahan rasa takut dan rasa sakit di kakinya.
Zizi mundur sambil menangis.
"Itu dia.!" Teriak para penjahat yang melihat Syeira dan Zizi.
"PERGI\_\_..!" Syeira kembali berteriak. Dan Zizi lari meninggalkan Syeira disana. Para pejahat berlari menuju jalan naik dimana Syeira terduduk disana dan menangis.
Zizi terus berlari. Ia mencapai jalan raya sebelum para penjahat itu berhasil menangkapnya. Ia terus berlari, sampai ada sebuah taksi dan Zizi menyetopnya.
Satu nama dan tempat yang harus ia tuju saat ini. Perusahaan *N~A Cell*. Zizi pergi kesana.
Zizi menyesali sikap nya yang tak bersedia Syeira ajak pergi tadi, karna rasa takutnya yang akan kembali bertemu dengan orang yang salah. Namun Pikiran Zizi lah yang salah, Syeira benar orang yang baik, dan dia bahkan berkorban untuknya.
"Gadis yang baru.!"
Ucap salah satu penjahat yang berjongkok di depan Syeira sambil mengelus wajah Syeira, ia terkagum dengan kecantikan Syeira yang alami.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...